Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Curhat Lagi


__ADS_3

“Kenapa tiba-tiba mau menginap?” tanya Bunda Ara. Bukah hanya karena Ara yang mengatakan akan menginap di rumah Stefani dan lagi Ara juga pulang agak cepat hari ini.


“Iya Bun. Lagi mau aja, sekalian curhat.” Ara berusaha mati-matian untuk menyembunyikan wajah sedihnya agar Bundanya bisa memberikannya izin.


“Ya udah boleh. Satu malam doang kan?” tanya Bundanya yang diangguki oleh Ara.


Setelah berhasil mendapatkan izin dari Bunda, Ara akhirnya mengemasi barangnya hanya untuk satu malam dengan bantuan Stefani.


“Lihat kan? Gak susah dapat izin dari Bunda,” ucap Ara.


“Gue tahu emang gak susah dapat izin dari dia. Yang gue gak mau itu bohong sama nyokap lo.” Ara terdiam saat mendengar itu. Dia mengerti.


Selesai dengan pakaian dan berbagai macam keperluan Ara, akhirnya mereka kembali berpamitan pada Bunda untuk berangkat.


“Mau berangkat sekarang? Bunda kira malam nanti,” ujar Bundanya.


“Sekarang Bun. Sekalian mau kerjain tugas dulu habis itu baru sesi curhat,” candanya yang membuat Bundanya terkekeh.


Bunda Ara mengangguk. “Jangan aneh-aneh ya. Hati-hati di jalan.” Dua gadis itu mengangguk dan segera berlalu dari sana.


“Main dulu boleh gak? Mau jalan-jalan,” ujar Ara.


Stefani mengangguk. Untuk hari ini saja dia akan mengabulkan semua permintaan Ara karena suasana hati gadis itu yang sedang tidak baik-baik saja.


“Fan, lo tau gak? Padahal dulu gue sama sekali gak suka sama Abi,” ujarnya. Pikirannya melayang ke masa di mana dia baru masuk organisasi yang diketuai oleh Abi.


“Hmm gue tau. Bahkan dulu gue yang agak suka sama dia karena menurut gue dia itu keren.” Ara mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Stefani.


“Menurut lo gue salah gak kalau akhirnya gue jatuh cinta sama dia setelah apa yang selama ini dia lakuin ke gue? Maksud gue sebelum kita jadian,” tanyanya.

__ADS_1


“Lo gak salah. Gue bisa lihat sendiri kalau dia yang perlakuin lo lebih. Maksud gue, perhatian dia ke lo sama perhatian dia ke anggota lain tuh beda,” jawab Stefani.


“Benar kan? Gue juga mikir gitu, makanya gue ngira kalau dia suka sama gue. Tapi mungkin gue juga yang salah. Waktu kita jadian itu kesannya gue yang maksa, mungkin sebenarnya dia emang gak suka sama gue,” ujar Ara.


Saat itu dia melakukan itu karena Abi seperti tarik ulur. Pria itu selalu memberikan harapan lalu menjatuhkannya. Di saat Ara mulai menjauh, pria itu kembali mendekat dan bersikap seolah dia sangat mencintai Ara.


“Lo gak salah Ra. Waktu gue ngobrol sama dia, dia juga bilang kok kalau dia sayang sama lo.” Ucapan Stefani membuat Ara menoleh pada sahabatnya itu.


“Kayanya dia salah. Kalau dia sayang, dia gak akan lakuin ini sama gue. Kalau dia sayang gue, dia gak akan cari cewek lain,” ujar Ara.


Stefani sempat kebingungan. Yang dikatakan Ara tidak sepenuhnya salah, tapi ketika mendengar Abi berbicara, dia juga bisa menangkap jika Abi menyayangi Ara dengan bukti dia tak bisa melepaskan Ara atau setidaknya memilih salah satu di antara mereka.


“Gue dengar sendiri kalau dia sayang sama lo. Dari tatapan matanya juga dia kayanya gak bisa kehilangan lo. Tapi gue juga gak bisa membenarkan pilihan dia buat macarin dua cewek sekaligus,” ucap Stefani.


Ara mengangguk. Rasa sakit di hatinya masih ada, hanya saja dia tak mau menampakan itu di depan siapapun. Dia sadar jika rasa sakit yang lebih dalam dari ini pernah dia alami, jadi untuk apa dia terlalu berlarut?


“Kita lihat aja nanti. Gimana cara dia bicara sama lo. Apa dia akan pilih lo atau cewek itu?” ucap Stefani.


“Gue gak yakin.”


“Pas gue lihat lagi foto yang lagi di pantai itu, kayanya itu barengan sama kejadian kecelakaan Rachel gak sih?” Stefani mengubah topik pembicaraan karena dia penasaran.


“Kenapa lo bisa bilang gitu?” tanya Ara. Dia sama sekali tak sadar dengan hal itu.


“Lo ingat gak di foto itu dia pakai baju yang mana?” tanya Stefani. 


“Kaos putih sama kemeja?” Ara juga tak yakin dengan hal itu tapi setidaknya itu yang ada dalam ingatannya.


“Hmm. Dia datang ke rumah sakit juga pakai baju itu.” Ara terdiam.

__ADS_1


“Terus maksud lo?” Ara bertanya dengan pernyataan dari Stefani.


“Lo ingat gak pas dia datang ke rumah sakit, gak lama dia pergi lagi, kan?” Stefani berusaha mengingatkan Ara tentang hal itu.


“Terus?”


“Kalau gue hubungin sama foto yang ada di ig Nabila, kayanya Abi pergi ke tempat itu lagi buat nemuin Nabila,” tebak Stefani. Dia juga tak yakin, tapi begitulah menurutnya.


Ara dibuat terdiam dengan ucapan Stefani. “Jadi dia bela-belain nemuin Nabila di sana sementara gue di sini lagi sedih dan berusaha lawan rasa takut gue sendirian?” tanya Ara yang kemudian diangguki oleh Stefani.


Ara semakin merasa marah jika memang itu kebenarannya. “Gue bakal tanya hal ini juga besok sama dia,” jawab Ara yang diangguki oleh Stefani.


Cukup lama mereka terdiam hingga akhirnya Ara mengingat sesuatu. Jika dirinya terus bertemu dengan Abi setelah semua yang terjadi, bukannya luka di hatinya tak akan cepat sembuh?


“Menurut lo gue harus keluar dari organisasi?” tanya Ara tiba-tiba. Hal ini tentu saja jauh dari dugaan Stefani.


“Maksud lo?”


“Gue gak yakin bisa lupain dia kalau kita masih sering ketemu kaya gini. Jadi bukannya lebih baik menghindar dan keluar?” Ara kembali meminta pendapat Stefani.


“Benar juga. Tapi gue pernah dengar kalau ada yang keluar dari organisasi mereka bakal dapat konsekuensinya. Katanya sampai ada kasus kakak tingkat yang susah lulus karena dia keluar dari organisasi di tengah jalan,” jelas Stefani.


Ara kembali kehilangan harapannya. Lalu jika sudah seperti ini apa yang harus dia lakukan kedepannya?


“Bertahan aja, waktu kita juga paling tinggal sembilan bulan lagi,” ujar Stefani.


“Sembilan bulan itu lama, Fan.” Stefani tak memberatkan, dia juga merasa begitu. Tapi mau bagaimana lagi?


“Bertahan. Kalau lo keluar, justru dia malah senang dan mikir kalau lo kalah. Tetap bertahan dan buktiin sama dia kalau lo baik-baik aja setelah apa yang terjadi. Bikin dia nyesel udah perlakuin lo kaya gini,” saran Stefani.

__ADS_1


Ada benarnya juga apa yang dikatakan Stefani. Ara mengangguk mengiyakan apa yang diucapkan oleh temannya itu.


“Gue bakal coba buat bertahan dan buktiin sama dia kalau dia sama sekali gak berharga buat gue,” tekadnya.


__ADS_2