Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Akhirnya Aku Bahagia


__ADS_3

Setelah Karin berhasil mendapatkan kata maaf dari Ara, akhirnya dia merasa lega dan spontan memeluk gadis itu. Ara yang dipeluk hanya bisa diam.


Stefani yang juga baru tahu kebenaran ini akhirnya bisa bernafas dengan lega. Setelah ini mungkin Ara bisa lebih tenang dan tidak terlalu khawatir.


“Lo yang cari tau semuanya?” tanya Stefani pada Dion yang berdiri di sana dengan senyum bangga.


“Hmm, gimanapun kebenaran harus ditegakkan, kan?” tanyanya dengan sangat keren.


Stefani mengangguk dan tersenyum. “Eh, lo gak ada niatan buat minta maaf sama Ara?” Stefani bertanya pada pria yang berdiri kaku dan sepertinya masih tak menyangka dengan kebenaran yang baru saja diungkap.


Alda yang mendengar hal itu spontan lari dari sana. Hal itu dia lakukan untuk menarik perhatian Abi agar tak meminta maaf seperti yang dikatakan oleh Stefani.


Terbukti, setelah Alda berlari dari sana Abi juga ikut mengejar gadis itu. Diaa bahkan tak sempat meminta maaf pada Ara.


Ara yang melihat Abi pergi dari sana akhirnya ikut berlari untuk mengejar Abi. “Bisa lo lihat gimaa dia bahkan setelah Abi nyakitin dia, dia masih terus kejar cowok berengsek itu,” ucap Stefani miris.


“Mungkin itu yang disebut cinta.”


Semua orang di sana bubar setelah mereka tahu kebenarannya. Sekarang nama baik Ara telah kembali.


“Makasih buat bantuan lo, setelah ini lo aman,” ucap Dion sambil mengulurkan tangan pada Karin mengajak gadis itu untuk bersalaman.


Karena telah merasa lega, akhirnya gadis itu bisa tersenyum. Dia mengangguk dan membalas jabatan tangan Dion.


Sementara itu kini Abi sudah bisa mencekal tangan Alda. “Al, mau ke mana?” tanya Abi ketika berhasil mencekal tangan gadis itu.


“Kamu gak akan peduli ke manapun aku pergi, iya kan?” tanya Alda dramatis.


“Kalau aku gak peduli, aku gak bakal ada di sini sekarang.”

__ADS_1


Alda terdiam menunduk ketika Abi berkata seperti itu. “Apa mau kamu sekarang? Kamu percaya kan sama mereka?” 


“Justru itu, aku mau nanya gimana pendapat kamu sama kebenaran yang merek ungkap tadi. Itu beneran?” Masih sempat-sempatnya Abi bertanya pada Alda. Tentu saja gadis itu tak akan mengaku. Maling mana yang mengaku maling.


Tak jauh dari sana, ada Ara yang membicarakan percakapan mereka. “Sama dia kamu masih bisa nanya baik-baik, Bi. Kenapa sama aku kamu jahat banget?” lirihnya. Kehidupan percintaannya sangat miris bukan?


Kembali kepada Abi dan Alda, gadis itu terdiam tak menjawab apa yang ditanyakan oleh Abi. “Kamu cuma tinggal jawab, mau percaya aku atau orang-orang gak jelas itu?” Ketika Alda mengajukan pertanyaan seperti itu, Ara muncul dengan pelan di hadapan mereka.


Hal itu membuat Abi menatap Ara dengan sendu. Kemarin dia mengingat dengan jelas bagaimana dia memarahi Ara. Padahal dia belum tahu kebenarannya pada saat itu.


“Kamu bisa Bi nanya baik-baik sama dia. Padahal bukti udah ada. Secinta itu kamu sama dia?” Ara bertanya tapi tidak memandang Abi melainkan memandang Alda.


“Sementara sama aku, kepercayaan kamu tipis banget ya,” kekehnya. Namun sangat terdengar dengan jelas jika nada bicaranya itu sangat menyedihkan.


Saat Ara berbicara seperti itu, Stefani dan teman Ara yang lainnya datang. Namun mereka tak berani mengganggu. Mereka hanya berani sekedar melihat saja.


“Sekarang kamu pilih aja, aku atau dia?” Bukan Ara yang mengajukan pertanyaan itu melainkan Alda.


“Aku...” Abi menjeda ucapannya, tapi pandangannya mengarah kepada Ara. Alda yang merasa Abi tidak akan memilihnya akhirnya memilih lari dari sana. Gadis itu hendak menyebrang jalan sebelum suara klakson truk memekakkan telinga.


“Al!!!” Abi yang melihat itu membelalakan matanya. Dia hendak menolong tapi kakinya terlalu berat untuk dilangkahkan. Ara sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaanya. Abi memilih Alda.


Namun, Ara sudah terlebih dahulu berlari. Dia pernah berjanji jika dia akan melakukan apapun demi kebahagiaan Abi. Dan jika kebahagiaan Abi ada pada Alda, maka dia ikhlas.


Tepat sebelum kepala truk itu menghantam tubuh Alda, Ara telah lebih dulu sampai di sana untuk mendorong tubuh Alda.


“Ra!!!” Bukan hanya Abi yang berteriak, tapi Stefani, Dion, Shaka dan Rangga juga hanya bisa berteriak karena jarak mereka yang jauh.


Brak

__ADS_1


Tubuh Alda tersungkur akibat dorongan dari Ara. Sementara tubuh Ara terpental beberapa meter dari tempat kejadian. Abi yang melihat itu bediri kaku. Lututnya lemas seketika, air matanya luruh membasahi pipinya.


“Ra,” lirihnya sebelum kemudian dia memaksakan berlari ke sana. Di mana Ara terbaring dengan bersimbah darah.


“Ra, Ra.” Abi memangku gadis itu dengan dia yang terduduk di aspal.


“Bi,” lirih Ara. Nafas gadis itu tersenggal. Darah di mana-mana, keluar darah juga dari kepala gadis itu.


Ara mencoba untuk meraih wajah Abi yang terlihat sangat tampan. Semua temannya berlari mengerubungi Ara termasuk Stefani yang sudah menangis tak karuan.


“Aku sayang kamu. Jaga diri kamu baik-baik ya. Jangan sakit, jangan nakal.” Ara berbicara dengan tersenggal. Dia masih berusaha menahan agar nafasnya tetap ada sebelum dia mengatakan semuanya pada Abi dan teman-temannya.


“Sstt jangan bicara dulu ya, kita ke rumah sakit,” ucap Abi dengan lirih. Dia juga sudah menangis melihat kondisi Ara yang mengenaskan.


Namun Ara menggeleng. “Gak usah. Aku gak apa-apa. Aku sayang kamu.”


“Kalian, makasih udah selalu ada buat gue. Makasih selalu dukung gue. Gue titip Abi sama kalian ya, jangan sakitin dia.” Nafas Ara semakin pendek.


“Panggil Ambulans!!!” Abi sudah hilang akal. Dia tak bisa melihat Ara kesakitan seperti ini.


“Ra jangan ngomong gitu, ya. Kita jaga Abi bareng-bareng. Lo harus bangun, jangan tidur, okay.” Stefani mengatakan itu dengan dirinya yang juga sangat panik saat ini.


Ara menggelengkan kepalanya, sebelum kemudian nafasnya tersendat dan dia memejamkan matanya dengan tangan yang terkulai.


“Enggak, Ra. Ra bangun!!!” Abi menggoyangkan tubuh Ara dan menepuk pipi gadis itu dengan pelan.


Tapi percuma karena tak ada pergerakan dari gadis itu. Dion yang paling tenang di antara mereka memeriksa nafas Ara dan juga denyut nadinya sebelum kemudian dia menggeleng dengan mata yang berair.


“Raaaa!!! Aarrgghhh!!” Abi meraung sambil memeluk tubuh gadis itu yang berlumuran darah. Dia tak punya kesempatan lagi untuk dicintai gadis itu.

__ADS_1


Semua rasa sesalnya kini berkumpul di hatinya. “Kamu harus tahu Ra, kalau tadi aku mau bilang, Aku pilih kamu, bukan Alda,” lirih Abi. Sungguh dia terlambat mengatakan hal itu karena perhatiannya tadi tealihkan oleh Alda yang tiba-tiba berlari.


__ADS_2