Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Emosi


__ADS_3

Stefani kembali menemui Ara setelah dia menemui Abi. Kembalinya Stefani bukannya senang malah membawa suasana yang sangat tak sedap. 


"Kenapa sih datang-datang udah bad mood gitu? Bukannya harusnya senang udah ketemu teman lama?" tanya Ara kebingungan. 


Dia sadari tadi hanya menunggu dan ketika Stefani datang, gadis itu justru malah terlihat marah. 


"Gue gak apa-apa!!" Stefani mengataka dirinya tidak apa-apa tapi dengan nada yang menandakan jika memang ada apa-apa dengan dirinya. 


"Lah, kenapa lo jadi marah sama gue?!" Ara ikut berteriak karena dia tak merasa bersalah dan tak terima diperlakukan seperti itu. 


"Sorry!! Kita pulang aja," ucapnya masih dengan nada emosinya. 


Bukan hanya menaikan nada bicaranya pada Ara, Stefani juga meninggalkan Ara di kantin dengan segala rasa bingungnya. 


"Tuh anak kayanya lagi PMS," ucapnya sebelum kemudian dia mengikuti langkah Stefani menuju parkiran. 


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam satu sama lain. Ara yang bingung harus mulai pembicaraan dari mana karena takut Stefani kembali marah. Dan Stefani yang enggan membuka suaranya walau dia ingin. 


"Dan, lo kenapa sih? Gue ada salah?" tanya Ara sudah tidak tahan dengan suasana mereka di dalam mobil. 


"Gue mau ngomong sama lo, tapi gue tahu lo gak bakal dengerin gue. Jadi lo diam aja," jawabnya. 


Dia takut hubungannya dengan Ara menjadi seperti Rachel dan Ara. 


"Apaan? Jangan bikin gue penasaran deh. Mau ngomong apa?" Ara kembali bertanya. 


Karena tak ingin menyetir dengan kondisi pikirannya yang tak fokus, akhirnya Stefani menepikan mobilnya sebelum akhirnya dia menghela nafas dalam. 


"Aarghhh, kenapa harus gue yang tahu!!" marahnya sambil memukul stir dengan cukup kuat. 


Setelah mengatakan itu, Stefani perlahan memandang pada Ara yang memundurkan badannya memojok pada pintu mobil. 


"A-apa? L-lo kenapa sih?! Jangan bikin gue takut, gila!!" Ara sudah kehabisan kesabaran. 


"Dengerin gue baik-baik karena gak akan ada pengulangan. Dan setelah ini gua gak perduli bahkan kalau persahabatan kita harus hancur," ucapnya yang membuat Ara semakin takut mendengarnya. 


Ara diam sebagai pertanda jika dia setuju dengan  apa yang diucapkan oleh Stefani. 

__ADS_1


"Pertama, waktu kita mau makan dan gue bilang gak usah makan di sana terus kita pindah ke tempat makan lain, gue lihat Abi sama cewek. Kedua, gue udah ngomong baik-baik sama Abi nyuruh dia putusin cewek itu karena dia udah punya lo, dia bilang mau putus. Ketiga alasan kenapa waktu gue ke rumah lo beberapa hari yang lalu dan gue pergi tiba-tiba setelah lo ngasih tunjuk gue foto yang kata lo mirip Abi, gue labrak tuh cewek. Yang keempat, ceweknya sama-sama go*lok!! Dia gak mau putusin Abi. Dan yang terakhir, gue tadi bukan ketemu sama teman lama gue. Gue ketemu sama pacar lo, Abi. Dan lo tahu dia bilang apa?" tanya Stefani menghentikan ucapannya. 


Ara hanya bisa menggeleng masih berusaha memproses semua yang diucapkan oleh Stefani. 


"Dia bilang punya pacar dua itu suatu hal yang wajar. Dia bilang gak apa-apa selama lo gak tahu kalau dia punya cewek lain." Akhirnya Stefani mengakhiri ucapannya. 


"Gimana? Lo mau benci gue juga kaya lo benci Rachel? Ternyata selama ini Rachel benar Ra. Abi emang gak baik buat lo," ucap Stefani. 


"Dan gue nyesel pernah sepercaya itu sama dia," sambungnya. 


"Lo yakin sama semua itu?" tanya Ara masih tak percaya dengan semua yang telah dikatakan oleh Stefani. 


Sebenarnya apa yang dikatakan oleh temannya itu memang masuk akal. Tapi dia belum bisa menerimanya selama dia tak melihatnya dengan langsung. 


"Kalau lo masih belum percaya, lo bisa temuin anak itu sekarang, selingkuhannya Abi maksud gue," jawabnya. 


"Di mana gue bisa temuin dia?" Ara menjadi sangat penasaran dengan hal ini. Kenapa semua orang sepertinya sangat memojokan Abi? 


"Biar gue yang hubungin dia dan bikin janji. Nanti kita pergi bareng dan buktiin semuanya," ucap Stefani dengan percaya diri. 


"Oke. Kapan?" 


"Jadi dari tadi lo misuh-misuh karena ini?" tanya Ara penasaran. Stefani mengangguk dengan  pasti. 


"Lain kali gak usah pakai misuh-misuh. Gak suka gue," ucap Ara sambil menampol bagian belakang kepala temannya itu. 


"Aww," ringisnya sambil memegangi kepalanya. 


"Ya lagian bikin orang bingung aja!"


"Gue belajar dari Rachel ya. Dia jelek-jelekin Abi dan lo udah gak mau ngomong lagi sama dia. Kalau gue lakuin hal yang sama, mungkin lo juga bakal lakuin hal yang sama ke gue."


"Gue benci sama Rachel karena dia cuma ngejelek-jelekin Abi tanpa tanpa kasih gue bukti," jawab Ara. 


"Gue juga sekarang belum kasih lo bukti. Tapi kenapa lo percaya sama gue?"


"Siapa bilang gue percaya sama lo?" Ara malah membalikan pertanyaan. 

__ADS_1


"Gue cuma bilang kalau gue setuju kita ketemu sama cewek itu. Selebihnya kita lihat nanti aja," jawab Ara yang langsung membuat Stefani bungkam. 


Nyatanya Ara memang bukan tipe orang yang akan percaya sebelum dia melihatnya sendiri. 


"Oke kita lihat besok." 


Stefani kembali melakukan mobilnya setelah dia merasa tenang karena telah mengungkapkan yang sebenarnya pada Ara. 


"Lo ada niatan apa buat besok? Gue pengen banget lihat muka panik Abi," ucap Stefani. 


Setelah berbicara dengan Abi tadi, emosi Stefani menjadi meningkat. Bisa-bisanya pria itu berkata seperti itu dengan tenang, sementara di sini ada dua hati yang berpotensi akan merasakan sakit. 


"Lihat besok aja. Gue gak bisa pastiin sekarang," jawab Ara. 


Stefani mengangguk. Sisa perjalanan mereka hanya diam. Tiba di rumah Ara Stefani sama sekali tak turun dari mobilnya. 


"Gak mau mampir dulu?" tanya Ara. Biasanya temannya itu mengacau atau menghabiskan stok kue yang dibuat oleh Bundanya. 


"Enggak ah. Langsung pulang aja, capek banget gue," jawabnya. 


"Ya udah. Thank's ya!" Stefani mengangguk menjawab Ara. 


Ara masuk ke dalam setelah dia memastikan Stefani pergi dari sana. 


"Udah pulang Ra?" Bundanya datang menyambut. 


"Iya Bun."


"Kamu gak kenapa-kenapa kan di kampus?" tanya Bundanya khawatir. 


"Enggak. Ara baik-baik aja," jawab Ara sambil memperlihatkan tubuhnya yang terlihat sangat segar. 


"Ya udah. Mandi sana, Bunda udah siapin air hangat."


Bundanya memang sangat perhatian apalagi ketika Ara jatuh sakit. 


"Makasih Bunda." Setelah berterima kasih kepada Bundanya, Ara langsung berlalu ke kamarnya untuk segera mandi. 

__ADS_1


Sementara itu Bundanya hanya bisa terkekeh di tempat melihat kelakuan sangat putri. "Dasar dia itu," kekehnya. 


Bunda kembali melanjutkan aktifitas yang barusan terganggu. Menonton serial televisi di sore hari memang sangat cocok dan sangat menyenangkan. Itulah kenapa Bunda Ara tak mau ketinggalan bahkan satu episode pun. 


__ADS_2