
“Ngapain kamu kemarin sama Dion?” tanya Abi. Ara yang mendengar pertanyaan yang dianjukan oleh Abi hanya merotasikan bola matanya.
“Bukannya dari waktu itu aku udah bilang sama kamu kalau awalnya aku mau pergi sama Stefani? Tapi karena dia juga bantu acara kita di kampus, jadi dia minta bantuan sama Dion.” Pada akhirnya Ara harus menjelaskan kembali apa yang terjadi.
Kemudian Abi mencoba mengingat hari di mana dia melihat Ara bersama dengan Dion. Dia ingat jika saat itu Stefani meminta bantuannya, tapi dia menolak karena sedang ada acara.
"Emang Fani gak minta tolong sama kamu waktu itu?" Pertanyaan dari Ara membuat Abi sontak terdiam.
Dia tak bisa menjawab pertanyaan gadis itu karena memang Stefani sempat meminta bantuannya.
"Udah lah gak usah dibahas. Yang penting sekarang adalah kamu udah maafin aku," ucap Abi berusaha memutus topik pembicaraan yang menurutnya sensitif itu.
Mereka saling diam setelahnya. "Kemana aja kamu kemarin?" tanya Ara.
Sudah beberapa hari dia menunggu kedatangan Abi, tapi baru sekarang pria itu menampakan batang hidungnya.
"Aku juga butuh tenangin hati aku setelah aku melihat kamu berduaan sama Dion." Kali ini Abi menjawabnya dengan jujur.
Ara Kembali terdiam setelah abi menjawab pertanyaannya. Cukup lama mereka saling hingga pintu dibuka secara tiba-tiba oleh seseorang.
"Ra!!" teriak orang itu. Siapa lagi kalau bukan Stefani.
Gadis yang baru saja berteriak itu segera mendekati Ara yang masih duduk di brankarnya.
"Apa sih teriak-teriak?" ucap Ara. Setelah Stefani masuk dengan segala kehebohannya, tak lama dia disusul oleh Shaka dan juga Kris.
"Kenapa lo gak bilang sama gue kalau lo sakit?" ucap Stefani tak terima.
"Kan gue sakit, gimana cara gue buat kasih tahu lo? Jangankan kasih tahu lo, ponsel gue aja sampai sekarang gue gak tahu ada di mana," jawab Ara.
"Udahlah Fan. Ara lagi sakit, jangan bikin dia mikir terlalu banyak," timpal Abi yang gemas dengan tingkah Stefani yang berlebihan.
"Diem lo. Ini bukan urusan lo." Abi memilih bungkam setelahnya karena dia tahu dia tak akan menang jika melawan Stefani.
"Gimana keadaan lo sekarang?" Stefani kembali bertanya dengan khawatir.
"Mendingan. Kalau dokter ngizinin, besok udah bisa pulang," jawab Ara.
Semoga saja ucapannya itu menjadi do'a karena jujur saja, dia sangat tak suka berada di sini. Apalagi tak ada makanan enak di rumah sakit. Semua makanannya hambar.
"Syukur deh. Gue kira belakangan ini lo gak ke kampus karena masalah itu," ucap Stefani menyindir Abi.
Abi sangat peka dengan sindiran itu, tapi dia tak akan melawan Stefani karena itu tak ada gunanya.
"Enggak. Ya kali cuma masalah sepele sampai gak ke kampus," kekeh Ara.
__ADS_1
"Eh Bunda kemana?" Stefani melihat ke sekitar ruangan untuk menemukan wanita paruh baya itu, tapi dia tidak menemukannya.
"Gak ada. Dia udah pulang sebelum lo tadi ke sini," jawab Ara.
"Yah, padahal udah lama banget gue gak ketemu Bunda," ucapnya sedih.
"Main ke rumah aja nanti kalau gue udah balik," timpal Ara.
"Tuh orang ngapain datang bareng lo?" Ara menunjuk dua orang yang kini berdiri di belakang Stefani.
Stefani melirik dua orang yang saat ini memang sedang berada di belakangnya.
"Gak tau. Mereka tiba-tiba datang ke rumah gue," jawab Stefani.
Padahal Stefani sedang sangat nyaman menikmati hari liburnya di kamar.
Tapi dengan tiba-tiba Shaka datang ke rumahnya dan tak lama kemudian Kris juga datang.
"Ngapain lo berdua ngikutin gue?" Stefani bertanya dengan sinis.
"Gue ke sini juga mau jenguk Ara kali." Shaka dengan mudah mencari alasan lain.
"G-gue… " Berbeda dengan Shaka, Kris kesulitan karena dia memang tidak begitu dekat dengan Ara.
Shaka yang melihat itu sangat puas karena Kris kalah telak darinya.
"Orang gak dikenal gak diundang," sindir Shaka dengan senyum kemenangannya.
Kris hanya terdiam. Tak perduli dengan apa yang akan dikatakan oleh Shaka, dia sudah terlanjur malu, jadi dia hanya akan diam di sana sampai Stefani pergi.
"Duduk sana. Kaki kalian gak pegel?" ucap Ara. Dia masih mempunyai hati nurani untuk menerima siapa saja yang ingin menjenguknya.
Mereka pada akhirnya berkumpul di sana hingga tak terasa waktu sudah mulai siang.
"Permisi." Seorang suster masuk dengan nampan di tangannya. Ya, ini adalah waktunya Ara makan dan minum obat.
"Iya Sus." Suster itu mendekati Ara.
"Makan dulu ya, Mbak. Ini obatnya untuk siang hari." Suster itu memberikannya pada Ara sebelum kemudian dia pergi dari sana.
"Mau aku suapin gak?" Abi mendekatkan kursinya dan menawarkan untuk menyuapi Ara.
"Enggak. Apaan sih kamu," ucap Ara merasa risih karena di sana banyak orang.
Berbeda cerita jika di sana hanya ada mereka berdua saja.
__ADS_1
"Siapa tahu kan kamu mau disuapin," cicit Abi.
"Enggak. Aku bisa makan sendiri," jawab Ara sebelum kemudian dia menyuapkan makanannya ke dalam mulut.
Seperti yang sudah dia duga, rasanya hambar. Dia ingin pulang dan menyeduh mie instan yang rasanya seratus kali lebih enak dari ini.
"Aku gak mau makan," ujar Ara sambil menyimpan kembali sendok yang dia gunakan di dalam mangkok makannya.
"Kenapa?" tanya Abi.
"Gak enak," jawab Ara.
"Gak, kamu harus makan. Kan mau minum obat," bujuk Abi.
"Gak ada rasanya, Bi," rengeknya.
"Ya wajar lah, kan namanya juga di rumah sakit. Nanti kalau udah sembuh baru bisa makan enak lagi," jawab Abi.
"Yuk makan lagi. Nih, aku suapin." Abi mengambil alih sendok yang semula dipegang Ara.
Sementara itu orang lain yang memperhatikan mereka hanya memandang pemandangan di hadapannya dengan ngeri.
"Gue sih kalau punya pacar gak sudi kaya gitu," ujar Shaka ketika melihat Abi dan Ara.
"Banyak ngomong. Lagian siapa yang mau sama lo?" Stefani menimpali ucapan Shaka.
"Jangan sembarangan lo, banyak yang mau sama gue. Cuma guenya aja yang belum mau punya pacar." Shaka tak mau kalah.
Stefani kembali terdiam dan pandangan mereka kembali kepada Abi dan Ara.
Terlihat Abi sedang menyuapi makanan pada Ara dan gadis itu sekarang tidak lagi menolak.
Dia hanya membuka mulutnya untuk memakan makanan itu.
Dia tak bohong ketika mengatakan makananya hambar, tapi dia memang juga harus memakannya karena dia harus minum obat.
"Nah gitu, pinter banget." Abi tersenyum dan mengelus kepala Ara dengan lembut.
"Diem Bi. Ada mereka," protes Ara sambil menunjuk Stefani dan yang lainnya.
"Berarti kalau gak ada mereka, boleh?" goda Abi yang langsung mendapat pukulan ringan di lengannya dari Ara.
"Ngaco kamu!"
Abi hanya terkekeh melihat Ara yang sepertinya salah tingkah.
__ADS_1