Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Bertemu Anna


__ADS_3

“Ck, sialan!!” umpatnya sambil menendang udara kosong di hadapannya. Dia berpikir sebentar sebelum dia memutuskan untuk mendatangi orang itu. Orang yang sudah membuat hubungannya dengan Ara menjadi seperti ini.


Dia membuka ponselnya dan mengirim pesan pada orang itu bahwa dia akan datang ke rumahnya.


Abi segera melajukan motornya menuju ke rumah gadis itu. Mumpung hari belum malam, jadi dia masih memiliki waktu untuk pergi ke sana karena rumahnya juga tak jauh.


Dari sini, Abi sudah bisa melihat rumah itu dan seorang gadis berdiri di depan rumahnya sudah siap.


“Udah siap?” tanya Abi saat dia sudah tiba di hadapan gadis itu. Tak mungkin juga Abi akan berbicara dengan gadis itu di rumahnya karena dia sangat tahu bagaimana Mami dari gadis itu.


Mereka berlalu menuju tempat yang sudah Abi rencanakan. Sebuah taman di pinggir sungai.


“Kenapa kita ke sini?” tanya gadis itu masih dengan senyuman yang tersemat di bibirnya.


“Ada yang mau gue omongin dan lo harus jawab jujur,” jawab Abi. Gadis itu mengangguk dengan semangat. Dia terlalu yakin jika Abi mengajaknya ke sana untuk berkencan.


“Na, sebenarnya lo sakit?” tanya Abi sarkas karena tak habis pikir dengan apa yang di-posting gadis itu di Twitter.


“Maksud kamu apa?” Gadis yang dipanggil Anna itu bertanya karena dia semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan Abi.


“Jangan pura-pura bego. Selama ini lo up foto kita dulu di Twitter, kan?” tanya Abi yang membuat Anna membelalakkan matanya.


“Kamu tau dari mana?” tanya Anna terkejut bukan main. Pasalnya setau dia, selama ini Abi tak bermain aplikasi itu. Jadi, Abi tahu dari mana jika dirinya mengunggah foto mereka di Twitter.


“Lo gak perlu tau gue tau dari mana. Yang gue butuhin sekarang adalah lo jawab jujur semua pertanyaan gue,” ujar Abi.


“T-tapi, itu kan cuma foto, Bi. Apa salahnya sih?” tanya Anna berusaha membela diri.


Abi merotasikan bola matanya tak menyangka jika Anna bisa sampai sejauh ini.


“Hubungan kita udah lama putus, Na. Sekarang di antara kita udah gak ada apa-apa lagi.” Sebenarnya Abi sudah beberapa kali mengatakan ini pada Anna, tapi sepertinya gadis itu tak juga mengerti.


“Iya gue tau. Lo udah bilang ini puluhan kali ke gue. Tapi selama ini lo sadar gak?”


Abi tak menjawabnya. Dia masih menunggu Anna melanjutkan kalimatnya.


“Lo tau gak kalau sikap lo sama gue gak mencerminkan seorang mantan pacar? Saat gue butuh lo ada, kemarin lo nemenin gue beli kado dan sikap lainnya yang lo kasih ke gue itu seakan lo kasih harapan ke gue,” jelas Anna dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


“Gue gak ada maksud apapun. Gue emang kaya gini ke semua orang.” Abi tentu saja juga tak ingin kalah dari gadis di hadapannya itu.


“Gue minta lo hapus postingan lo di Twitter yang berhubungan sama gue,” lanjut Abi.


“Kenapa?” tanya Anna terlihat kecewa.


“Lo masih nanya? Orang-orang salah paham sama kita gara-gara postingan lo itu, Na!” Abi sedikit meninggikan nada bicaranya karena geram.


“Kalau gue gak mau?” Anna seolah menantang Abi.


“Gue bakal bocorin semua rahasia lo,” jawab Abi dengan mudah. Hal itu membuat tubuh Anna menegang sempurna.


“Gue tunggu sampai nanti malam. Kalau lo belum hapus foto itu, gue sebar semua aib lo yang ada sama gue.” Setelah mengatakan itu, Abi segera beranjak dari sana.


Dia meninggalkan Anna yang masih mematung di tempatnya. Dia tak peduli lagi Anna akan pulang dengan siapa.


Sementara itu, Anna mengepalkan tangannya dengan erat saat dia mendengar ucapan Abi. Dia sangat kesal sekarang.


“Sialan!” umpatnya pelan. Wajahnya memerah karena amarah.


**** 


“Sekali lagi, masih ada waktu sebelum jam sembilan,” ucap Abi. Bukannya pulang ke rumah, Abi malah kembali ke rumah Ara.


Dia sudah ada di depan rumah gadis itu, tapi terlihat sepi, mungkin karena hari sudah mulai malam.


“Permisi,” sapa Abi sambil mengetuk pintu.


Tak lama pintu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita yang terlihat sedikit lebih tua dari Ara dan Abi tahu jika wanita itu adalah Mbak-nya Ara.


“Malam, Mbak. Maaf ganggu malam-malam. Ara-nya Ada?” tanya Abi pada wanita itu.


Raisa mengangguk dan tersenyum. “Temannya Ara ya?” tanya Raisa yang diangguki oleh Abi.


“Ara-nya ada di kamar. Sini masuk dulu biar Mbak panggilin,” ucap Raisa. Abi hanya menuruti apa yang dikatakan Raisa.


“Duduk dulu ya,” ucap Raisa. 

__ADS_1


“Makasih, Mbak.” Raisa segera naik ke lantai atas di mana kamar Ara berada. Sementara itu, Abi masih diam di sana dan memperhatikan seisi rumah.


“Teman Ara?” tanya seorang pria yang dia kenal sebagai Abangnya Ara.


“Iya Bang. Mau ngomong sebentar,” jawab Abi.


“Udah ada Ara-nya?” tanyanya. Maksudnya, jika belum, dia akan memanggilnya.


“Tadi Mbak Raisa lagi panggil.” Abang Ara mengangguk. “Ya udah tunggu aja di sini, saya ke belakang dulu.” Abang Ara pamit meninggalkan Abi sendiri di sana.


Tak lama, Raisa kembali turun dengan Ara yang berada di belakangnya. Gadis yang dia tunggu itu terlihat terkejut ketika melakukan kontak mata dengan Abi.


“Tuh temannya. Maaf, tadi Mbak belum tau namanya,” ucap Raisa terkekeh.


Karena sudah terlanjur turun, mau tak mau Ara harus kembali menghadapi Abi.


“Mbak tinggal dulu ya. Jangan macam-macam.” Keduanya mengangguk sebelum kemudian Raisa pergi menyusul suaminya ke belakang.


“Apa lagi?” tanya Ara kesal.


“Yang tadi masih kurang?” lanjutnya.


“Gue udah ketemu sama cewek yang up foto itu,” ucap Abi. Ara menaikan sebelah alisnya.


“Terus apa urusannya sama gue?” tanyanya.


“Lo bikin postingan itu karena liat Twitt itu kan? Jadi gue udah beresin itu. Lo salah paham.”


“Oke, dia emang mantan gue. Tapi sekarang kita gak lebih dari sekedar teman. Foto yang dia post itu benar-benar khayalan dia, itu foto lama gue sama dia. Dan dia sekarang khayal kalau kita masih pacaran, padahal udah enggak.” Abi menjelaskan semua kesalahan pahaman ini.


“Dengan dia hapus foto itu juga gak akan beresin ini, Bi. Ini semua bukan cuma tentang foto itu. Tapi kepercayaan gue udah berkurang,” ucap Ara yang membuat Abi menegang.


“Ra, jangan gini dong. Kalau lo mau, kita bisa pacaran sekarang,” ucap Abi dengan terburu-buru karena takut Ara akan mengakhiri percakapan ini.


Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Abi. Abi sangat terkejut karena tiba-tiba mendapatkan hal itu. Pipinya mulai memerah dan terasa panas.

__ADS_1


__ADS_2