
“Apa yang lo bilang tadi beneran?” tanya Rachel. Walau tadi dia masih ada di dunia mimpinya, dia mendengar semua yang dikatakan oleh Ara.
Dari mulai Ara mengatakan jika Abi adalah orang yang seperti itu sampai mantan Abi yang sekarang telah kembali.
Ara mengangguk. “Gue harus gimana?” tanya Ara bingung.
“Ikutin kata hati lo. Mau nyerah sekarang pun udah terlanjur karena lo udah sayang banget sama dia, kan?” Apa yang diucapkan Rachel benar. Dia sudah jatuh sejatuh-jatuhnya pada pria bernama Abiseka Bagaskara itu.
“Tadi gue pergi sama Abi. Baru aja dia cerita semuanya dan sekarang gue gak tahu dia di mana karena gue minta dia buat turunin gue di tengah jalan,” ucapnya.
“Lo gila?!” pekik Rachel.
“Gimana kalau terjadi sesuatu sama lo?” sambung Rachel. Ara terkekeh mendengar itu. Ternyata Rachel masih sangat peduli padanya.
“Ini buktinya gue masih di sini dan baik-baik aja,” jawab Ara sembari memperlihatkan badannya yang baik-baik saja.
“Terserah lo. Lo itu keras kepala.” Ara tak akan menyangkal hal tersebut karena memang iya dan itu sudah terbukti.
“Pulang sekarang. Temuin dia, gimana kalau dia khawati sama lo?” tanya Rachel.
“Dia gak bakal ingat sama gue kalau di sana ada mantannya.” Menyesal Rachel berkata seperti itu jika akhirnya akan membuat Ara sakit.
“Masih banyak yang mau gue ceritain ke lo, tapi gak sekarang. Sekarang lo harus istirahat. Gue temenin lo di sini sampai nyokap lo datang,” ucap Ara yang langsung diangguki oleh Rachel. Lagipula entah kenapa dia merasa mengantuk sekarang, mungkin karena efek obat yang diberikan dokter tadi.
Tak memerlukan waktu lama akhirnya Rachel tertidur dan Maminya datang. “Siang Tan,” sapa Ara.
“Ngapain kamu di sini?!” Seperti biasa, Ara akan mendapatkan bentakan jika ddia bertemu dengan Maminya Rachel.
“Ara nemuin Rachel sebentar, Tan. Abis ini mau langsung pulang kok. Permisi.”
Enggan berurusan lebih lama dengan Maminya Rachel, Ara memilih untuk segera pergi dari sana.
Dia akan mencari waktu lagi untuk datang ke sana ketika Maminya tidak ada di sana.
"Ke mana sekarang?" tanya Ara. Dia bahkan tak membawa dompetnya. Dia meninggalkannya di kampus karena tadi Abi yang langsung mengajaknya pergi. Masih baik dia membawa ponselnya.
Akhirnya dia memutuskan untuk menelpon Stefani. Dia bahkan sampai pingsan tadi hanya karena berjalan setengah jam, apalagi dia harus berjalan ke kampus yang kurang lebih harus menghabiskan waktu satu jam jika berjalan.
__ADS_1
"Lo di mana?!" Ara menjauhkan ponselnya saat orang di seberang sana berteriak dengan kencang.
"Aduh, apaan sih berisik tau gak?!" Ara ikut menyentak Stefani karena gadis itu yang memulai duluan.
"Abisnya lo ilang gitu aja. Ini pacar lo di sini nyariin!!"
Ara kembali terdiam mendengar hal itu. Dia sedang tak ingin bertemu dengan Abi. Tapi jika dia ke kampus sekarang, dia pasti akan bertemu dengan Abi.
"Gue mau pulang. Tapi barang-barang gue semua di sana. Bisa bawain sekalian jemput gue gak? Jangan bilang sama Abi, gue males ketemu dia," ucap Ara.
Tanpa menjawab ucapan Ara, Stefani memutus sambungan telpon begitu saja.
"Ih kok dimatiin sih? Jadi dia jemput atau enggak?" Tanpa berpikir panjang, Ara langsung saja mengirimkan lokasinya. Jika sampai satu jam Stefani tak kunjung datang, berarti dia memang harus pulang sendiri.
Ara menunggu di sebuah minimarket. Dia hanya bisa duduk tanpa membeli apapun karena dia tak membawa uang.
Sudah bosan Ara menunggu. Seharusnya Stefani sudah datang setengah jam lalu jika hanya berangkat dari kampus.
Sekarang sudah tepat satu jam dan gadis itu masih belum juga menampakkan batang hidungnya.
Tin tin
Baru saja dua langkah, sebuah mobil datang. Ara yakin itu adalah Stefani karena dia sangat mengenali mobil yang sudah sering dia tumpangi itu.
"Masuk!" Stefani bahkan tak turun dari mobilnya. Gadis itu hanya menurunkan kaca jendelanya dan meminta Ara untuk masuk.
Ara masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Dari mana aja lo?" tanya Stefani dingin.
"Rumah sakit," jawab Ara. Stefani masih belum melajukan mobilnya.
"Hah rumah sakit? Lo kenapa? Lo gak apa-apa, kan?" Stefani membolak-balikan badan Ara untuk memeriksa apakah ada luka pada gadis itu atau tidak.
"Gue gak apa-apa elah. Habis jenguk Rachel," jawabnya. Akhirnya Stefani bisa menghela nafas lega setelah mendapatkan jawaban dari Ara.
Setelah Ara menjawabnya, Stefani memukul lengan gadis itu beberapa kali.
__ADS_1
"Lo ngeselin banget tau gak sih?! Jangan bikin orang khawatir bisa gak? Lo nggak tahu gimana gilanya gue waktu Abi bilang lo pergi sendirian?" Akhirnya apa yang ada di dalam hati Stefani terungkapkan.
"Ya sorry gue kan nggak tahu. Lagian gue lagi nggak mau ngomong sama Abi. Lo tau apa yang dia bilang sama gue. Cewek yang jalan berdua sama dia tadi mantan dia."
Mata Stefani terbelalak saat mengetahui kenyataan itu. Bahkan Abi tak mengatakan yang satu itu padanya. Pacarnya juga menghilang ketika situasi seperti ini.
"Kan, lo juga pasti nggak nyangka. Sama gue juga nggak nyangka. Baru aja kemarin rasanya gue selesaiin masalah sama dia dan sekarang ada lagi masalah baru."
"Lo nggak salah dengar, kan? Lo tahu dari mana kalau dia mantan Abi?" tanya Stefani.
"Abi sendiri yang bilang sama gue. Dia udah dua tahun pacaran sama cewek itu dan harus putus karena ada hal lain. Tapi dia gak bilang itu sama gue. Yang pasti mereka putus bukan karena udah gak saling sayang." Ara mencoba menjelaskan perasaannya pada Stefani, berharap temannya itu bisa mengerti apa yang dia rasakan.
"Lo takut?" pertanyaan Stefani sangat sesuai dengan apa yang dia rasakan saat ini.
"Hmm, baru kemarin gue kasih dia kesempatan kedua. Apa sekarang harus terulang lagi?" tanya Ara.
Pandangannya kosong dengan pikiran yang berkecamuk.
"Lo udah coba ngomong sama Abi?" Ara kembali mengangguk.
"Udah. Dia bilang gue nggak perlu khawatir kalau dia bakal balik sama mantannya. Karena sekarang dia udah milik gue. Tapi nggak bisa gue pungkiri, kalau sekarang gue ngerasa takut."
Stefani tak bisa menyalahkan Ara. Dia paham rasa takut yang dimaksud Ara.
"Sekarang coba buat percaya sama dia dulu. Kalau dia udah lakuin hal yang berlebihan, baru lo bisa maju."
Ara setuju dengan apa yang dikatakan oleh Stefani. Tapi untuk saat ini dia tidak ingin bertemu dengan Abi. Mungkin besok dia akan merasa lebih baik dan kembali berinteraksi dengan pria itu.
"Oke buat sekarang kita pulang?" Stefani bertanya sambil mulai menginjak pedal gasnya.
"Pulang. Gue capek."
Ketika mereka dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Stefani mengingat apa yang dikatakan oleh Ara.
"Tunggu dulu, tadi lo bilang habis jenguk Rachel? Gimana keadaan dia?" tanya Stefani.
"Dia udah sadar. Mukjizat datang saat gue tadi ngomong sama dia. gue minta maaf atas semua yang gue lakuin sama dia. gue juga minta pendapat dia tentang masalah gue. Sekarang dia bilang gue harus ngikutin kata hati gue, karena sekarang udah terlanjur gue sayang sama Abi."
__ADS_1