Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Sia-sia


__ADS_3

Sia-sia seharian kemarin Stefani memberikan wejangan kepada Ara dan sekarang gadis itu malah kembali bersama dengan Abi.


Beginilah nasib menjadi sahabat dari orang bucin. Entah Ara yang bodoh atau dirinya yang terlalu memaksakan kehendak.


“Sampai berbusa mulut gue kemarin ngomong sama lo. Benar-benar gak dihargain banget gue,” ucapnya.


Stefani terus saja mengomel sepanjang perjalanan pulang yang tentu saja didengarkan oleh Ara. Dia benar-benar menghargai saran dari Stefani tapi mau bagaimana lagi jika perasaannya pada Abi masih sama. Hanya saja kepercayaannya yang berkurang.


“Ya sorry, habisnya mau gimana lagi,” jawab Ara dengan menyesal.


“Udah lah gak usah ngomong sama gue.” Setelah Stefani berkata demikian, Ara diam membisu hingga mereka tiba di rumah Ara.


Sebelum Ara keluar dari mobil, Stefani telah lebih dulu berbicara hingga hal itu menghentikan Ara yang hendak pergi.


“Awas aja kalau sampai ada drama lagi kaya kemarin, gue gak bakal maafin Abi dan jangan harap lo bisa nangis bombay di kamar gue lagi,” ancamnya yang membuat Ara merengek sedih.


“Yah, jangan gitu dong. Terus kalau gitu gue mau nangis di mana lagi?” tanya Ara dengan wajah sedihnya.


“Gue gak perduli mau lo nangis di manapun, asal jangan cari gue.” Saking kesalnya Stefani sampai berkata seperti itu.


“Ih lo jahat banget!” Ara ikut kesal dengan ucapan Stefani.


“Apa lagi lo? Terus apa gunanya kemarin kita main labrak tuh cewek kalau akhirnya tetap aja sama? Lo percaya sama si bajingan itu?”


Mereka diam untuk beberapa saat hingga akhirnya Stefani mengakhiri perdebatan mereka. “Udah lah, sana lo keluar. Gue cape, mau balik,” ucapnya acuh.


“Jangan lama-lama marahnya. Makasih udah antar gue,” ucap Ara sebelum kemudian dia turun dari mobil Stefani saat Ara sama sekali tak mendapatkan jawaban dari sabahabatnya itu.


Bahkan Stefani pergi dari sana tanpaberpamitan dengan Bundanya, atau bahkan dengannya yang masih setia berdiri menunggu Stefani pergi.


“Kenapa jadi marah sih?” tanyanya. Dia memang melakukan kesalahan dengan kembali pada Abi yang sudah tahu sikapnya seperti itu.

__ADS_1


Tapi, bukankah semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua? Dan sekarang ada sedang memberikan kesempatan itu kepada Abi.


Tanpa ingin memikirkannya lagi, Ara melenggang masuk ke dalam rumahnya dengan pikiran baru yaitu bagaimana cara membuat Stefani agar tak lagi marah padanya.


Ara memasuki rumahnya dengan raut wajah yang kebingungan. Sangat terlihat jelas di wajahnya dan tentu saja itu menjadi pertanyaan bagi Bundanya yang baru saja keluar dari kamarnya.


“Kenapa Ra?” tanya Bundanya sambil mengikat rambutnya.


“Bunda.” Bukannya menjawab pertanyaan sang Bunda, Ara malah merengek sembari memeluk wanita paruh baya itu dengan erat.


Bundanya yang mengerti hanya bisa balas memeluk putrinya dan membiarkan gadis itu tenang dalam pelukannya sebelum nanti dia kembali bertanya.


Cukup lama itu terjadi hingga Bunda Ara berusaha mengurai pelukan mereka dan kembali bertanya. Setelah pertanyaan kedua itu, barulah Ara menceritakan apa yang terjadi pada Bundanya. Tapi tentu saja dia melewati bagian di mana Abi berselingkuh darinya. Dia hanya mengatakan jika mereka bertengkar biasa.


Bundanya tentu saja bisa melarangnya untuk kembali bersama Abi jika saja dia tahu apa yang dilakukan oleh pria yang menyandang status sebagai kekasihnya itu.


“Ya udah nanti kamu coba minta maaf lagi sama dia. Siapa tahu tadi dia lagi emosi banget. Temuin dia lagi kalau suasananya udah lebih tenang,” saran Bundanya.


“Bunda yakin Fani bukan orang kaya gitu. Kamu coba aja dulu ya.” Ara mengangguk. Baiklah, dia akan mencobanya lagi besok ketika suasana hati Stefani telah lebih dingin.


“Ara ke kamar dulu, Bunda. Makasih udah dengerin curhat Ara,” ucapnya yang kemudian diangguki oleh Bunda Ara.


Ara berlalu menuju kamarnya untuk istirahat.


****


Seusai berbicara dengan Ara tadi, Abi tak langsung pulang karena dia baru mengingat bahwa ada panggilan dari Unit Kegiatan Mahasiswa Futsal. Jadi dia berkumpul dulu di sekretariat Futsal untuk mendengarkan acara apa yang bakal mereka hadapi.


“Udah kumpul semua?” tanya sang ketua yang siap dengan buku catatannya.


“Udah kayanya,” jawab yang lainnya. Tak ingin berlama-lama lagi, akhirnya mereka memulainya.

__ADS_1


“Malam minggu nanti kita ada pertandingan sama kampus sebelah. Tanding persahabatan sih, jadi gak terlalu serius. Tapi gue harap kalian semua bisa datang tanpa terkecuali,” ucap ketua.


“Kita yang cadangan?” tanya yang lainnya.


“Yang cadangan juga ikut. Abis main nanti kita nongkrong bareng mereka. Lumayan lah nambah teman.” Mereka mengangguk.


Selain membicarakan hal itu, mereka juga membicarakan pertandingan lain yang akan mereka lakukan dalam waktu dekat.


Banyak sekali dan itu pasti sanga menguras tenaga mereka. “Perhatiin kesehatan sama kebugaran kalian ya. Jangan sampai pas waktunya tanding kalian malah jatuh sakit.”


“Siap!!”


Mereka keluar dari ruangan setelah mereka selesai dengan pertemuan mereka. Abi kembali bertemu dengan Shaka yang juga mengikuti Futsal.


Shaka memandangnya masih dengan marah. “Kenapa lo harus marah? Ara juga maafin dan terima gue lagi,” sindir Abi. Dia sama sekali tak malu, padahal di sana banyak sekali orang.


Shaka yang merasa hal itu tak pantas di bicarakan di depan umum akhirnya menarik Abi untuk menjauh dari kerumunan.


“Bi, lo tuh ketua BEM. Lo juga udah dewasa, bisa gak sih bedain mana yang konsumsi publik dan mana yang privat?” tanya Shaka kesal.


“Loh biarin dong. Biar semua tau kalau Ara pacar gue.”


Shak merotasikan bola matanya. “Gue gak peduli mau Ara pacar lo atau bukan. Yang jelas, kalau aja tadi gue gak narik tangan lo buat menjauh dari sana, mungkin lo udah bilang kalau cewek yang udah lo selingkuhin nerima lo balik.”


“Dan lo bangga kalau Ara nerima lo lagi?” tanya Shaka sambil terkekeh.


“Iya dong. Itu berarti kan dia gak bisa kehilangan gue,” jawab Abi dengan percaya diri.


“Demi Tuhan ya Bi, kalau gue jadi lo, gue malu banget tahu gak udah nyakitin hati cewek kaya Ara. Lo bisa pikirin gak gimana tulusnya dia sayang sama lo sampai kesalahan besar yang lo buat kaya gini aja dia masih bisa maafin lo dan lebih parahnya dia masih bisa terima lo. Harusnya lo bersyukur di kasih cewek sebaik Ara, bukannya malah nyari yang baru buat cadangan lo!” sentak Shaka mulai merasa kesal.


“Itu hal gue dong. Lagian Ara-nya aja yang terlalu lugu buat nerima gue lagi.” Abi membuat seakan Ara terlihaat bodoh dengan menerima dirinya kembali.

__ADS_1


“Terserah lo Bi. Ingat aja, karma selalu ada!”


__ADS_2