
Benar saja, pagi harinya Shaka datang dengan motornya. Pria itu benar-benar menepati janjinya untuk menjemput Stefani.
"Permisi," sapanya setelah turun dari motor. Shaka sama sekali tak melihat orang di depan rumah Stefani.
Namun, akhirnya setelah dia memanggil beberapa kali, seseorang keluar dari dalam rumah.
"Cari siapa?" tanya seorang gadis yang sepertinya usianya tak terpaut jauh darinya.
"Saya cari Stefani," jawab Shaka agak malu. Pasalnya dia tak tahu siapa wanita yang saat ini ada di hadapannya karena Stefani belum pernah mengajaknya main ke rumah dan memperkenalkannya ke orang rumahnya.
"Ohh. Temannya ya?" tanya orang itu yang langsung diangguki oleh Shaka.
"Bentar ya dipanggil dulu. Duduk dulu sini," ajak orang itu dengan senyum ramahnya.
"Iya terima kasih." Tanpa menunggu diperintahkan lagi, Shaka segera duduk mencari posisi nyamannya.
Sementara itu, orang yang baru saja mempersilahkannya duduk pergi ke dalam.
"Ngapain lo di sini?" Benar saja, tak lama Stefani keluar dan bertanya padanya.
"Kan kemarin gue udah bilang mau jemput lo," jawab Shaka.
Stefani sangat mengingatnya. Tapi dia kira apa yang dikatakan Shaka kemarin hanya sebuah bualan saja. Dia tak menyangka jika Shaka benar-benar menjemputnya.
"Ya udah tunggu bentar. Gue siap-siap dulu," ucap Stefani yang diangguki oleh Shaka.
Stefani kembali masuk ke dalam rumahnya sebelum orang baru kembali datang menemuinya. Shaka bertanya-tanya dalam hati, siapa lagi kali ini.
"Temannya Fani ya?" tanya wanita paruh baya itu. Jika Shaka tak salah tebak, maka wanita yang satu ini adalah Bundanya Stefani.
"Iya …" Shaka masih bingung dengan panggilan apa dia harus menyapa orang ini.
"Panggil Bunda aja," ucap wanita paruh baya itu yang langsung diangguki oleh Shaka.
"Ahh iya Bunda. Saya temannya Fani," jawab Shaka.
"Tunggu bentar ya. Kayanya Fani lagi siap-siap. Nih minum dulu." Bunda Stefani menawarkan minuman pada Shaka.
"Makasih banyak, Bun," ucap Shaka.
Mereka banyak berbincang sambil menunggu Stefani selesai dengan urusannya. Bahkan sekarang Shaka sudah tahu siapa wanita yang menyapanya di awak tadi. Wanita itu adalah Kakaknya Stefani.
"Yuk!" Stefani keluar dari dalam rumah dengan penampilan yang sudah lebih rapi daripada tadi.
__ADS_1
"Bunda. Berangkat dulu ya," pamit Stefani sambil menyalami tangan Bundanya.
Shaka juga ikut melakukan apa yang Stefani lakukan.
"Hmm, hati-hati di jalan ya. Jaga anak Bunda," ucapnya pada Shaka. Shaka tentu saja mengangguk. Tanpa Bunda Stefani minta, dia juga pasti akan menjaga gadis itu.
Mereka pergi dari sana setelah berpamitan pada Bundanya.
"Gue kira lo bohong pas bilang mau jemput gue," ucap Stefani agak berteriak karena takut Shaka tak akan mendengar suaranya.
"Gue gak pernah ingkar sama janji gue karena cowok itu yang dipegang omongannya." Shaka membalas ucapan Stefani dengan teriakan juga.
Stefani terdiam saat mendengar ucapan Shaka. Rupanya pria itu juga memiliki sisi dewasa seperti ini.
Mereka saling diam selama perjalanan hingga mereka tiba di kampus kesayangan mereka.
"Tunggu, bukannya Lo gak masih jam siang ya?" tanya Stefani baru sadar jika jadwal kuliah Shaka dengannya berbeda.
Stefani memiliki jadwal di siang hari dan pria itu pagi hari.
"Berarti tadi lo jemput gue dari sini?" Stefani kembali bertanya.
"Iya, kelas gue udah selesai," jawab Shaka dengan tenang.
"Udah, gak apa-apa. Lagian kan gue juga yang mau," jawab Shaka.
Stefani akhirnya terdiam. "Ya udah deh. Makasih ya, gue ke kelas dulu," pamitnya pada Shaka.
"Bentar." Shaka menahan Stefani yang hendak pergi dari hadapannya.
"Kalau udah selesai, kabarin gue. Gue ada di kantin," ujarnya dan entah setan penggoda dari mana yang berhasil membuat Stefani menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Shaka.
Setelah kepergian Stefani ke kelasnya, akhirnya Shaka juga pergi ke kantin. Dia tebak pasti tak ada Abi dan Rangga di sana karena dua orang itu sedang sibuk membicarakan acara mereka di sekretariat.
Sengaja Shaka tak pergi ke sana karena dia sedang malas memikirkan acara itu. Dia lebih memilih menunggu Stefani di kantin dan meminum secangkir kopi yang dia pesan di kafetaria.
Benar saja dugaannya, hampir tak ada laki-laki di sana. Hanya ada beberapa gadis yang sedang mengisi perut mereka sebelum mereka belajar.
Shaka memilih mengeluarkan ponselnya dan memainkan game online di sana.
****
"Wihh tumben udah nyampe jam segini. Padahal masih ada dua puluh menit lagi kelas mulai," sindir Ara yang sudah lebih dulu datang.
__ADS_1
"Diem lo!" sentak Stefani yang tak ingin diejek Ara.
"Jadi, lo berangkat sama siapa?" Ara kembali bertanya namun kali ini dengan sungguh-sungguh.
"Sama Shaka, puas lo?" kesalnya karena temannya itu tak henti-henti menggodanya.
"Ya udah sih biasa aja." Sebenarnya Ara sudah tahu jika temannya itu berangkat dengan Shaka karena tadi dia tak sengaja melihat Stefani turun dari motor Shaka.
Itulah kenapa dia menggoda Stefani sekarang.
"Jadi, apa status kalian?" Pertanyaan yang baru saja keluar dari bibir Ara berhasil membuat Stefani yang sedang menulis menghentikan gerakannya.
Dengan pelan gadis itu menoleh ke arah Ara.
"Apa maksud lo?" tanyanya tak mengerti dengan apa yang dikatakan Ara. Tentu saja sejauh ini status mereka hanya teman. Memang apa lagi yang harus mereka harapkan?
"Gemes gue sama kalian. Kenapa gak ada kemajuan sih?" ucap Ara.
"Kalau ngomong tuh yang benar. Gue gak ngerti lo ngomong apa," ujar Stefani.
"Kayanya Shaka suka sama lo, Fan. Kemarin dia nanya ke gue, lo udah punya pacar apa belum," jelas Ara.
Kalau ini pembahasan Ara mulai agak menarik di mata Stefani.
"Terus lo jawab apa?" tanya Stefani penasaran dengan apa yang dikatakan Ara pada Shaka.
"Gue bilang gak tau," jawab Ara yang membuat Stefani spontan menurunkan bahunya kecewa.
"Kenapa lo jawab gitu?" tanya Stefani lemas.
"Lah, kan emang gue gak tau. Lo aja gak pernah cerita tentang cowok sama gue," ucap Ara.
"Nah itu lo tau. Dengan gue gak pernah cerita tentang cowok sama lo, harusnya lo udah tau apa gue punya pacar atau enggak," ucap Stefani.
Entah mengapa temannya yang satu ini selalu bego disaat seperti ini.
"Iya ya. Kenapa gue gak kepikiran," kekeh Ara tak sedikitpun merasa bersalah.
Sementara itu Stefani menjatuhkan kepalanya ke meja di depannya karena ulah Ara.
"Udah gak ada gunanya lo nyesal sekarang," ucap Stefani.
"Kenapa gak lo aja sih yang bilang sama Shaka kalau lo gak punya pacar." Ara benci dibuat pusing oleh dua temannya itu.
__ADS_1