
Setelah berkonsultasi dengan dokter kemarin, akhirnya Ara diperbolehkan untuk pulang. Dengan catatan gadis itu tidak diperbolehkan untuk melakukan kegiatan yang terlalu melelahkan.
Ara dan keluarganya setuju itulah alasan mengapa sekarang banyak sekali orang di ruangannya.
"Kalian ngapain pada ke sini? kan semalam udah dibilang nggak usah pada ke sini," ujar Ara.
Bukan apa-apa, pasalnya hari ini hanya hari kepulangannya dari rumah sakit. Tapi kenapa teman-temannya sangat berlebihan?
Bukan hanya Abi yang ada di sana tetapi Stefani, Shaka, Rangga dan kris juga ada di sana.
"Ya bagus dong itu tandanya kita semua sayang sama lo," jawab Stefani.
"Nggak gitu juga." Ara merotasikan bola matanya karena tidak habis pikir dengan teman-temannya.
"Ra Bunda duluan ya. Kamu mau sama Abi, kan?" Percakapan mereka terpotong oleh Bundanya Ara yang sudah selesai membereskan barang-barang Ara.
"Iya Bun duluan aja," jawab Ara.
Sementara itu Abangnya Ara tidak datang karena dia ada rapat di kantornya. Dan Raisa ada di rumah untuk membereskan kamar Ara.
"Bunda nggak apa-apa sendiri?" tanya Ara.
Bundanya memang bisa mengendarai mobil. Tapi tetap saja dia selalu merasa khawatir jika Bundanya menyetir sendiri.
"Iya Bunda bisa kok." Bundanya tersenyum pada Ara.
"Bunda sama Rangga aja ya. Kebetulan banget mobilnya Shaka sempit," kekehnya.
Bunda Ara tertawa kala Rangga berkata demikian.
"Boleh. Yuk!" Dan pada akhirnya Bunda kembali ke rumah bersama Rangga.
"Jadi, kalian serius mau ke rumah gue?" Ara kembali bertanya ketika Bundanya sudah pergi dari sana.
"Emang kita kelihatan kayak tukang tipu?" Kali ini Shaka yang menjawab.
Ara menghela nafasnya dengan berat. Akhirnya dia mengalah dan membiarkan teman-temannya ikut mengantarkannya ke rumah.
"Ya udah yuk!!" Mereka mulai membagi orang untuk ikut dengan mobil siapa. Tentu saja Ara pergi dengan abi hanya berdua. Sementara yang lainnya di mobil Shaka.
****
Mereka tiba di rumah Ara. Ara memperhatikan teman-temannya yang hanya tersenyum tak bersalah ketika mereka sudah tiba di sana.
"Nah, terus sekarang kalian mau pada ngapain?" tanya Ara.
Semuanya saling berpandangan saat Ara mengajukan pertanyaan seperti itu karena mereka juga tak tahu apa yang harus mereka lakukan sekarang.
"Gimana kalau kita makan-makan aja. Sekalian buat rayain kepulangan Ara." Tiba-tiba Stefani mengeluarkan idenya.
__ADS_1
Ara tercengang. Stefani sudah gila jika dia mengatakan akan makan-makan di rumah Ara.
"Fan," panggil Ara dengan sedikit berbisik.
"Tenang aja. Gue yang minta izin sama Bunda." Seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran Ara, Stefani langsung menjawabnya.
Ara tak bisa lagi berkata-kata. Dia sudah pasrah jika nanti Bundanya akan memarahinya.
"Boleh tuh. Kayanya seru, apalagi kalau kita masak sendiri," timpal Rangga.
"Oke. Bentar." Stefani pergi dari sana untuk meminta izin pada Bunda.
Cukup lama mereka menunggu Stefani hingga gadis itu kemudian kembali dengan wajah yang berseri.
"Ayo mulai!!" Mata Ara terbelalak saat mendengar Stefani mengatakan itu.
Apakah memang iya Bundanya memberikan izin?
"Siapa yang mau belanja?" Stefani bertanya untuk membagi tugas mereka.
"Gue deh!" Rangga yang pertama mengangkat tangannya. Pria itu memang paling tahu jika urusan makanan dan masakan.
"Oke Rangga sama gue kita belanja!!" Ketika mendengar itu, Shaka langsung menoleh pada Stefani.
"Kok gitu sih?" ucapnya terkesan tak Terima dengan keputusan Stefani.
Namun gadis itu tak menggubris dan lebih memilih untuk melanjutkan ucapannya.
"Gue sama dia?" Shaka kembali bertanya untuk memastikan jika dia tak salah.
"Iya. Kalian tuh mesti dibiasakan bareng biar gak ribut mulu." Stefani sengaja meminta Shaka dan Kris pergi bersama.
"Terus kita?" tanya Ara.
"Lo diam aja. Abi lo jaga Ara." Tentu saja Abi akan melakukannya dengan senang hati.
"Yuk berangkat!!" Stefani menarik tangan Rangga untuk segera berangkat.
Sementara itu, Shaka melemparkan kunci mobilnya pada Kris. "Lo yang numpang, berarti lo yang nyetir," ucapnya sambil berlalu meninggalkan pria itu.
Kris tak bisa lagi berkutik karena dia memang menumpang.
Ara hanya menggelengkan kepala melihat tingkah teman-temannya itu.
"Kamu kalau mau tidur, tidur aja. Nanti kalau udah selesai aku bangunin," ucap Abi.
"Enggak. Aku belum ngantuk," jawab Ara.
"Jadi, selama beberapa hari ini kamu kemana aja?" tanya Ara.
__ADS_1
Rasanya sudah sangat lama dia tidak bertemu dengan Abi.
"Kalau gak ke kampus aku di rumah aja. Aku gak pergi kemana-mana lagi," ucapnya.
Ara mengangguk percaya dengan apa yang diucapkan Abi.
"Ra, kamarnya udah bersih ya. Kalau mau tidur bisa langsung naik." Mbak Raisa turun dari kamar Ara.
"Iya Mbak. Makasih ya. Maaf Ara jadi ngerepotin," jawab Ara menyesal telah membuat keluarganya kesulitan.
"Enggak. Kamu ini apaan sih. Mbak tinggal dulu ya." Ara mengangguk.
"Kangen banget aku sama kamu," ujar Abi sambil menggenggam tangan Ara.
Tatapan pria itu sangat dalam jatuh ke dalam mata Ara.
"Aku juga." Ara membalasnya dengan senyuman.
"Ra," panggil Abi dengan lembut.
"Hmm?" Ara menunggu pria itu untuk melanjutkan ucapannya.
"Kenapa ya aku gak suka kalau lihat kamu sama Dion?" tanya pria itu tiba-tiba.
Ara menatap Abi dengan dalam. "Mungkin karena kamu sayang sama aku?" kekeh Ara.
"Kok kamu malah ketawa sih?" Abi protes saat Ara malah terkekeh, padahal dia berbicara seperti itu dengan serius.
"Enggak. Lucu aja liat kamu cemburu," jawab Ara.
"Aku serius Ra." Abi mencoba mengubah raut wajahnya menjadi seserius mungkin.
"Iya iya. Aku usahain buat gak deket sama dia lagi. Lagipula aku dekat sama dia kan demi kamu," ucap Ara.
"Iya aku minta maaf. Kalau tau dia bakal minta kamu buat jagain dia, gak bakal aku bikin tangannya patah." Abi berkata seolah dia sangat kesal dengan Dion.
"Kamu tuh sebenarnya ada masalah apa sih sama dia sampai kayanya benci banget?" Akhirnya Ara menanyakan hal ini.
"Aku belum mau bahas soal ini gak apa-apa?" tanya Abi. Dia kesal ketika membicarakan Dion dan masa lalu mereka.
Ara mengangguk mengerti dan tidak akan memaksa Abi untuk mengatakan semuanya jika pria itu belum siap.
"Tangan dia juga udah sembuh, jadi gak ada alasan lagi buat dia temuin aku."
"Bagus deh kalau gitu. Baru kali ini aku do'a buat kesembuhan dia hanya karena aku gak rela kalau kamu dekat-dekat sama dia." Ara kembali terkekeh mendengarnya.
"Bagus dong, pahala kamu juga nambah kalau kamu do'ain orang."
"Ikhlas gak ikhlas sebenarnya do'ain dia."
__ADS_1
"Hus, gak boleh gitu."
Itulah percakapan kecil mereka sambil menunggu teman-temannya kembali.