Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Dia Datang


__ADS_3

"Nggak mungkin, kan?" ujar Ara. Mungkin matanya salah mengenali orang. 


"Lagipula siapa cewek ini kalau  cowoknya emang Abi?" 


Ya, yang Ara lihat adalah seseorang yang terlihat seperti Abi. Tapi sayang dalam foto itu mereka membelakangi hingga Ara tak bisa melihat dengan jelas orang itu. 


Saat sedang fokus untuk mengenali orang yang ada di ponselnya, pintu kamarnya kembali terbuka dan menampilkan sosok Abi. 


"Kok cepet banget," ujar Ara sambil menyimpan ponselnya. 


"Hmm aku cuma beli bubur di depan komplek," jawab Abi. 


Ah Ara sudah berharap Abi membelikan makanan lain untuknya. Kalau hanya bubur Mang Mamat, Ara sudah hatam dengan rasanya. 


Walau rasanya memang enak, tapi bukankah itu membosankan?


"Aku udah sering makan bubur Mang Mamat," ucap Ara kecewa. 


"Ohh jadi kamu suka beli bubur di saja juga?" tanya Abi yang diangguki oleh Ara. 


"Bagus dong, itu berarti aku gak salah pilih. Kalau kamu sering makan di sana, pasti rasanya enak."


Tidak, apa yang dikatakan Abi tidak ada yang salah. Semuanya betul, sangat betul. Tapi seharusnya pria itu lebih peka kalau Ara sedang tak ingin makan itu. 


"Kata orang sakit aja aku dibeliin bubur," cicitnya. 


"Loh, kamu kan emang sakit," jawab Abi. 


Ara terdiam dan mencoba untuk bangun dari posisi tidurnya. 


"Jadi, kamu gak akan makan buburnya?" tanya Abi. 


"Terus kamu pikir aku harus makan bubur ini dari plastiknya langsung?" tanya Ara. Walau dia tak menginginkannya, dia ingin menghargai usaha Abi yang sudah membelikannya. 


"Ah, kenapa aku bisa lupa. Bentar." Abi beranjak untuk mengambilkan mangkuk dan minum dari dapur. 


"Kalau bukan pacar udah gue tendang dia dari sini," ucap Ara saking kesalnya pada sang pacar. 


Abi kembali dengan alat makannya dan memenghidangkannya. "Mau aku suapin sekalian?" tanya Abi. 


"Enggak. Aku bisa makan sendiri." Abi memberikan makanan itu pada Ara sementara dia hanya memperhatikan kekasihnya yang sedang makan. 


"Kamu belum makan, kan?" tanya Ara saat dia ingat jika Abi datang ke rumahnya pagi buta dan pasti pria itu belum memakan sesuatu. 


Celengan Abi menjawab pertanyaan Ara. "Kenapa gak beli dua?" tanyanya. 

__ADS_1


Belum sempat Abi menjawab, Ara sudah menyodorkan suapan bubur pada Abi. 


"Makan, kamu juga harus makan." Senyum Abi mengembang sebelum kemudian dia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Ara. 


"Kayanya rencana aku berhasil," ucap Abi. 


"Rencana apa?" Ara bertanya kebingungan. 


"Aku beli satu karena mau disuapin sama pacar," kekehnya. 


Hal itu juga membuat Ara terkekeh. Akhirnya mereka makan satu mangkuk berdua. 


"Kurang gak? Kalau kurang, aku beli lagi ke depan," tanya Abi. 


"Aku kenyang. Kalau kamu masih mau, kamu beli aja buat kamu," jawab Ara. Namun Abi juga menggeleng. 


"Aku juga udah kenyang," jawab Abi. 


"Sekarang kamu mau langsung pulang?" Ara masih tak rela jika Abi akan pergi dari sana. 


"Hmm. Aku pulang buat mandi sama simpan baju kotor aja, abis itu harus ke kampus lagi," jawabnya. 


Ara merengut. "Gak apa-apa deh kalau kamu gak sempat ke sini. Asal jaga kesehatan kamu, jangan sampai sakit karena kelelahan," ujar Ara. 


"Beneran?" tanya Ara memastikan jika Abi tak akan berbohong. 


"Hmm. Jadi sekarang kamu harus sembuh."


"Bi," panggil Ara. Setelah beberapa saat lalu dia merasa lega dan ada sedikit kebahagiaan, dia kembali teringat pada Rachel. 


"Rachel gimana ya?" tanya gadis itu dengan wajah sendu. 


"Ra, dengerin aku. Kamu gak salah, dia yang mutusin buat nolong kamu. Kamu juga udah berusaha buat jenguk dia, tapi Maminya ngelarang. Jadi jangan terlalu dipikirin. Nanti kita coba datang ke sana lagi dan berusaha buat bujuk Maminya supaya kamu bisa ketemu langsung sama Rachel, oke?" 


Abi berusaha memberikan pemahaman pada kekasihnya. 


Ara terdiam. Dia masih ragu dan masih selalu menyalahkan diri dalam hatinya. 


"Ra, kamu paham?" Abi kembali bertanya karena Ara malah diam saja. 


Akhirnya setelah Abi kembali bertanya, Ara mengangguk walau Abi yakin jika anggukan dari Ara itu tak sepenuhnya kebenaran. 


"Bagus. Sekarang kamu istirahat biar cepat pulih, biar kita bisa jalan-jalan dan kita bisa segera ketemu sama Rachel. Itu yang kamu mau, kan?" 


"Hmm," jawab Ara. 

__ADS_1


"Aku pulang dulu. Kalau ada waktu luang dari kampus, aku ke sini lagi," pamitnya. 


"Jangan terlalu lelah. Kalau ada waktu luang, kamu pakai buat istirahat aja alih-alih jenguk aku," pintanya yang kemudian diangguki oleh Abi. 


"Aku mau antar kamu ke depan, boleh ya," sambungnya. 


Kalau hanya sampai ke depan rumah, Abi akan mengizinkannya. Itu sebabnya dia mengangguk. 


Tapi Abi tetap menggandeng Ara untuk jaga-jaga. 


"Bunda di mana ya?" Abi melihat sekeliling ketika mereka telah ada di lantai dasar. 


Tak lama setelah Abi berkata seperti itu, Bundanya datang dengan sebuah paper bag. 


"Udah mau pulang?" tanya Bunda pada Abi yang melihat pria itu sepertinya akan pergi. 


"Iya Bun. Abi masih ada perlu di kampus. Pulang cuma mau bersih-bersih aja," jawab Abi. 


"Ya sudah. Hati-hati di jalan ya. Ini Bunda buat cake dari resep baru. Semoga enak ya, salam juga buat Ibu kamu," ujar Bunda sambil memberikan paper bag yang dia bawa yang ternyata berisi cake. 


"Bunda, Abi malah repotin ya pake dikasih cake segala," ujarnya merasa tak enak. 


"Enggak kok. Kebetulan aja Bunda lagi coba resep baru dan Bunda buat banyak."


Abi tersenyum. "Makasih Bun. Abi pamit dulu ya." Mereka mengangguk dan memperhatikan kepergian pria itu. 


Bunda yang melihat senyum Ara tak luntur setelah kedatangan Abi membuatnya yakin jika Abi adalah sumber kebahagiaan Ara. 


"Anak Bunda kayanya berbunga-bunga banget pagi buta gini," godanya. 


"Gimana kalau langsung nikah aja biar pagi, siang, malam bisa ketemu terus," sambungnya. 


Ara menoleh dengan pipi yang bersemu merah.


"Ihh Bunda apaan sih?" Itu dia katakan untuk menutupi rasa salah tingkahnya setelah di goda oleh sang Bunda. 


"Bunda gak salah, kan?"


"Ara mau lulus kuliah dulu, mau kerja dulu, mau punya banyak uang, mau banggain Bunda dulu sebelum nikah. Jadi simpan dulu harapan Bunda buat lihat Ara nikah cepat," jelasnya masih dengan candaan. 


"Ahahahha iya iya. Yuk ke kamar lagi, istirahat. Atau mau di sini?" Bundanya paham jika Ara merasa bosan berada di kamar. 


"Di sini dulu aja Bun. Ara bosan di kamar terus," jawabnya. 


"Ya udah. Mending kamu temenin Bunda di dapur. Bunda masih buat cake, nanti kamu coba ya," pinta Bundanya yang diangguki dengan semangat oleh Ara. 

__ADS_1


__ADS_2