
Menjadi anak bungsu yang belum menikah atau setidaknya memiliki seorang kekasih memang membuatnya kadang merasa sepi.
Seperti sekarang, Stefani sedang misuh-misuh sendiri karena di rumahnya tak ada orang. Bundanya yang sibuk pergi dengan Ayahnya dan kedua saudaranya yang memang sudah memiliki kehidupan sendiri membuat Stefani ditinggalkan sendiri di rumah.
“Aduh, bosen banget,” ucapnya. Entah sudah kali kebarapa dia mengatakan hal itu.
“Giliran gue yang sepi gini dia malah pergi sama si cowok brengsek itu,” ucapnya yang dia tujukan pada Abi.
Stefani tadi sudah mencoba untuk menelpon Ara dan memintanya datang ke rumah. Tapi dengan jelas gadis itu menolaknya dan mengatakan akan pergi dengan Abi.
Stefani juga tak bisa memaksa jika sudah seperti itu. “Gue harus ajak siapa lagi?” tanyanya kebingungan.
“Shaka.”Tiba-tiba saja dia teringat pria itu. Biasanya Shaka akan mengiyakan dan menuruti apapun yang dia inginkan. Jadi dia akan mencobanya.
Tak ingin berlama-lama, Stefani menekan tombol hijau untuk memanggil pria itu.
“Halo, lo di mana?” tanya Stefani tanpa basa-basi.
“Di rumah, kenapa?”
“Main ke rumah gue. Bosen banget gue di rumah,” pinta Stefani.
“Gak bisa. Gue mau pergi sama teman gue. Lo telat,” tolaknya. Dia memang telah memiliki janji dengan temannya dari malam. Jika saja Stefani mengajaknya lebih cepat mungkin dia akan memilih gadis itu.
“Aaaa gue bosen di rumah sendiri,” rengeknya.
“Mau ikut?” tawar Shaka karena kasihan membiarkan Stefani berdiam diri di rumahnya sendiri.
“Boleh?” Stefani memastikan jika dia boleh ikut dengan pria itu.
“Siap-siap sekarang, bentar lagi gue jemput,” ucap Shaka setelah itu dia mematikan sambungan telponnya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Shaka, Stefani segera berlari menuju kamarnya untuk memakai pakaian terbaiknya.
Dia tak peduli apakah nanti dia bisa beradaptasi dengan teman Shaka atau tidak, yang penting sekarang dia tidak kesepian dan juga tidak bosan.
“Yang ini?” tanyanya sambil mencoba mempadu-padankan bajunya.
Akhirnya pilihannya jatuh pada jeans hitam dipadukan dengan kaos putih polos. Dia juga menggunakan jaket kulit hitam agak crop untuk outernya.
__ADS_1
“Oke dah siap,” ujarnya saat dia puas dengan setelan miliknya. Setelah siap dengan persiapannya, dia kembali ke bawah untuk menunggu Shaka.
Entah pria itu akan membawanya ke mana. Dia akan menanyakannya nanti. “Sekarang tinggal kirim pesan ke Bunda buat izin.”
Dia mengeluarkan ponselnya sebelum kemudian mengirim pesan pada Bundanya bahwa dia akan pergi keluar dengan Shaka.
Sekitar lima belas menit Stefani menunggu pria itu akhirnya datang dengan motornya. Motor besar berwarna hitam itu sekarang terparkir di halaman rumah Stefani.
Sang pemilik membuka helm full face-nya dan memanggil Stefani. “Ih kok ngikutin sih?” tanya Stefani begitu dia keluar dari rumahnya.
Pasalnya sekarang mereka seperti memakai baju couple. Yang membedakan hanya model jaket mereka saja.
“Apaan, gue yang duluan pakai baju ya.” Shaka tak teriman mendengar penuturan Stefani barusan.
“Ya udah gue gak peduli. Ayo berangkat.” Stefani memakai helm dan buru-buru naik ke motor Shaka setelah dia mengunci rumahnya.
Shaka hanya bisa tersenyum simpul. Tak menyangka jika penampilan mereka sekarang seperti seorang pasangan.
Mereka melaju dengan kecepatan sedang karena memang jadwal main Shaka dengan temannya masih dua puluh menit lagi.
“Main ke mana emangnya?” tanya Stefani dengan sedikit berteriak.
“Teman kampus, kan?” Stefani kembali bertanya dan dia berharap jika Shaka akan mengiyakan ucapannya. Dengan begitu dia akan lebih tenang berinteraksi dengan mereka karena sudah sering bertemu di kampus.
“Bukan. Mereka teman tongkrongan motor gue,” jawabnya yang membuat Stefani dia sesaat.
Habislah dia bakal tak punya topik pembicaraan karena mereka tak kenal dan juga hobi mereka berbeda.
Tibalah mereka di sebuah kafe. Tapi rasanya agak berbeda karena pengunjung di sini hampir semua menggunakan motor yang sama seperti yang digunakan oleh Shaka.
“Kok yang datang...” ucap Stefani sambil membuka helm-nya.
“Iya. Ini emang kafe khusus punya kita. Yang punya juga anak tongkrongan gue.” Shaka menjawab kebingungan Stefani.
“Ka bentar deh. Gue pulang aja deh. Mereka seram-seram banget.” Nyalinya menciut setelah melihat teman-teman Shaka.
“Gak apa-apa. Mereka gak gigit,” jawabnya. Sekarang Stefani sudah berlindung di balik badan Shaka setelah melihat semuanya.
“Ayo masuk!” ajaknya. Stefani tak menolak. Dia masih mengikuti Shaka dan masih bersembunyi di balik badan pria itu.
__ADS_1
“Wih, siapa nih?” tanya seseorang dengan rambut gondrong. Stefani mengakui jika mereka tampan di atas rata-rata. Tapi melihat mereka bergerombol seperti ini cukup membuat Stefani kelabakan.
“Teman gue. Stefani,” jawab Shaka. Ketika pria itu memperkenalkan dirinya pada teman-temannya, Stefani muncul sedikit untuk menyapa dan tersenyum takut.
“Gak usah takut. Kita bukan orang jahat,” timpal yang lainnya.
“Sini deh.” Shaka menarik Stefani agar tak berdiam diri di belakangnya melainkan di sampingnya.
“Gue gak percaya kalau kalian teman. Baju kalian aja couple.”
“Diem deh Al!” sentak Shaka. Namanya Alvaro, begitu dia sering dipanggil.
“Kenalin deh, gue Felix.” Ternyaa orang dengan rambut gondrong itu bernama Felix. “Gue Azka.”
“Gue Airlangga.” Dan begitulah seterusnya satu persatu dari mereka memperkenalkan dirinya pada Stefani.
Mereka mempersilahkan Stefani duduk dan tentu saja dia berada di samping Shaka. “Wih, kayanya gue bukan satu-satunya cewek lagi nih.” Tiba-tiba seorang gadis datang.
Shaka merotasikan matanya ketika gadis itu datang. “Gue Gaby, lo?” tanya gadis itu pada Stefani.
“Stefani,” ucapnya sambil mengulurkan tangan. Tapi uluran tangan itu ditolak mentah-mentah oleh Gaby.
“Lo boleh geser dikit? Ini tempat gue,” ucap Gaby ingin mengmbil alih bangku di sebelah Shaka.
Karena Stefani orang baru di sana dan memang bukan siapa-siapa, akhirnya dia mengalah dan bergeser.
Shaka juga tak bisa menolak karena dia tahu bagaimana perangai Gaby. Stefani semakin tak betah ada di sana. Bukan karena mereka tak menyenangkan atau topik pembicaraan yang tak dimengerti oleh Stefani, tapi karena tatapan tajam dari Gaby.
“Sorry, boleh gue ikut ke toilet?” tanya Stefani. Mungkin di sana dia bisa bernafas sejenak sebelum dia kembali ke kerumunan itu.
“Oh iya, di belakang sana nanti lo ke kiri aja. Atau perlu gue antar?” tanya Felix.
“Ah gak usah gue bisa sendiri.” Stefani pergi ke toilet sendirian. Tiba di sana dia benar-benar menghela nafasnya dalam.
Rasanya sangat sesak setelah ditatap begitu tajam oleh wanita bernama Gaby itu. “Gak takut keluar apa tuh mana?” tanyanya kesal.
Stefani mencuci wajahnya dan kembali mengoleskan beberapa make up di sana. Dia sudah siap kembali sebelum kemudian orang yang sangat tak ingin dia temui itu datang.
“Lo siapanya Shaka?”
__ADS_1