Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Yang Sebenarnya


__ADS_3

“Ra, gue mohon ya, ikut gue bentar aja. Gue janji gak macam-macam kok,” lirih Klara yang sudah mulai ketakutan.


“Tapi ke mana?” tanya Ara masih sedikit heran karena dia merasa tak pernah punya masalah atau hubungan apapun dengan Klara selain hanya teman. Itupun untuk saling menyapa saja mereka jarang melakukannya.


Akhirnya karena sudah melihat jika Klara akan menangis dan Ara tak ingin memiliki masalah lagi dengan terlihat buruk di mata teman-temannya, akhirnya dia megikuti keinginan Klara.


Ara ikut dengan Klara ke depan kelas di mana di sana ada tempat terbuka yang tentunyaa ada cukup banyak orang.


“Hei gue mau gomong sesuatu!” teriak Klara. Semua orang yang ada di sana sontak mengalihkan perhatiannya pada Klara yang berteriak termasuk Alda dan Abi yang sedang berada di kelas gadis itu.


Mereka ikut kelua karena mendengar ada keramaian. “Ra, lo mau apa?” Ara mulai panik saat Klara membuat semua orang menatap mereka.


“Gue mau bikin pengakuan!! Pengakuan tentang rekaman suara Ara san Stefani yang kemarin ramaai!” Ara semakin panik karena Klara akan kembali membahas hal itu.


Stefani datang dengan cepat menghampiri Klara hendak menghentikan gadis itu sebelum kemudian tangannya dicekal oleh Dion. Pria itu mengangguk pada Stefani meminta temannya itu untuk percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


“Gue adalah orang yang udah ngambil rekaman suara dia!!” Seketika suara menjadi ricuh. Ara yang mendengar hal itu akhirnya mematung dan terkejut dengan pengakuan yang dilakukan oleh Klara.


“Kenapa lo lakuin itu?” tanya Ara lirih bahkan hampir tak terdengar.


“Maaf Ra. Gue minta maaf sama lo karena udah lakuin ini!!” teriaknya sehingga permintaan maafnya itu kini didengar oleh semua orang.


“Gue minta maaf karena diam-diam udah rekam suara lo. Tapi demi Tuhan!!” Klara kembali berteriak dan menjeda ucapannya.


“Demi Tuhan kalau rekaman yang gue ambil, sama rekaman suara yang kemarin kesebar itu beda!!” Seketika orang-orang kembali ricuh. Saling desas-desus dan saling berbisik dengan teman yang ada di sebelahnya. Menduga-duga apa yang sedang terjadi.


Tangis Ara pecah saat Klara mengatakan hal itu. Hanya dengan penjelasan dan pengakuan Klara yang sampai sana juga berhasil membuat Ara lega dan sedikit mengembalikan nama baiknya.

__ADS_1


“Demi Tuhan gue pastikan kalau rekaman suara yang kesebar itu hasil manipulasi!! Ara gak bilang kalau Alda kaya gitu karena Ibunya Alda juga kaya gitu. Dia sama sekali gak bilang itu! Yang Ara bilang, kalau Alda bersikap sepert itu karena keturunan. Dan gue yakin kalau keturunan yang dia bilang di sini bukan mengarah kepada Alda yang suka mendekatpi pacar orang, melainkan sifat Alda yang selalu ingin diprioritaskan dan dimanja!!” jelasnya dengan panjang lebar.


Klara juga sampai menjelaskaan hal ini karena tugasnya harus membersihka nama Ara di depan semua teman-temannya. Maka dari itu dia menjelaskan sampai sedetail itu.


Dion yang mendengar hal itu tentu saja tersenyum miring. Tugasnya berhasil, dia melakukan ini tak hanya untuk Ara, tapi untuk Abi dan juga memberikan sedikit pelajaran pada Alda.


Sementara Abi yang sekarang tengah berdiri di samping Alda sudah mengeryitkan keningnya. Dia mulai kebingungan dengan penjelasan yang diberikan oleh Karin.


Dan Alda sejak tadi dia sudah mengepalkan tangannya. Dia tak menyangka jika Karin akan melakukan ini.


“Dan asal kalian tau kenapa rekaman ini bisa kesebar. Awalnya gue cuma kasih rekaman ini sama satu orang. Niat awalnya, gue cuma mau kasih informasi tentang Ara sama orang itu. Tapi gue gak nyangka dia nyebarin rekaman itu bahkan dalam bentuk rekaman yang dimanipulasi!!”


“Siapa orangnya?”


“Siapa dia. Tega banget lakuin ini sama orang.”


“Iya sampai Ara sama Abi ribut karena hal ini.” Itulah beberapa desas-desus yang terdengar ketika Karin mengatakan hal yang sebenarnya.


“Alda!! Lo kan orang yang udah nyebar dan manipulasi suara Ara?!!” teriak Karin yang membuat perhatian semua orang teralihkan pada gadis itu termasuk Abi. 


Badannya mematung saat dia mendengar hal itu. “I-itu kamu?” tanya Abi gagap.


Untuk sejenak Alda mematung sebelum akhirnya dia bisa kembali bersikap normal. Senyum di wajahnya terbit dan gadis itu berjalan ke tengah kerumunan tepatnya ke depan Karin.


Plak


Dengan keras, Alda menampar Karin. “Berani-beraninya lo tuduh gue?” ucapnya dengan pelan. Matanya memandang Karin dengan nyalang.

__ADS_1


“Cih, gue gak nuduh lo!! Tapi emang itu keberannya!” Karin tak ingin kalah hanya dengan orang baru di kampu dia. Dia harus menang apapun yang terjadi.


“Mana buktinya kalau lo bilang gue yang manipulasi dan gue yang nyebar itu?” Alda sudah sangat percaya diri jika Karin tak memiliki bukti. Benar saja karena sekarang Karin hanya bisa diam tanpa menjawab pertanyaannya.


“Sorry, tapi bukan Karin yang bakal kasih bukti itu melainkan gue,” ucap seseorang yang tiba-tiba juga masuk ikut ke tengah kerumunan.


“Ini yang lo mau, atau mungkin....” Orang itu memanggil satu orang lagi yang sudah dia siapkan.


“Sini!” panggilnya.


“Yon, lo apa-apaan sih?” Bukan Alda yang berteriak, tapi Abi. Dia juga menghampiri orang-orang yang ada di tengah setelah Dion ikut bergabung dengan mereka.


“Apa? Lo mau bela dia?” tanya Dion meremehkan Alda. “Bela aja sesuka hati lo, tapi sekarang dia gak bisa ngelak karena bukti juga udah ada.


“Jadi gimana?” Dion bertanya pada orang yang dia panggil tadi.


“G-gu yang manipulasi rekaman itu atas suruhan Alda!!!” teriaknya sambil menahan rasa takut.


“See? Cewek yang lo bela itu ternyata seburuk itu, lo mau apa sekarang?” tanya Dion puas. Setelah kemarin dia berhasil membujuk Klara, dia juga tak diam sampai di sana. Dia mencari bukti lain dengan mencari orang yang telah memaipulasinya.


“Kurang ajar lo!” ucap Abi.


“Gue kurang ajar? Bukannya cewek lo ini yang kurang ajar?” tanya Dion sambil menunjuk Alda yang hanya bisa diam di sana.


“Sekarang di sini gue mau minta maaf yang sebesar-besarnya sama Ara!! Ra gue minta maaf sama lo, tolong jangan laporin gue ke polisi!!” Karin melanjutkan permintaan maafnya.


Ara yang mendengar Karin membawa nama polisi tentu saja sedikit terkejut. Pasalnya dia tak ada niatan sedikitpun untuk melanjutkan kasus ini ke jalur hukum.

__ADS_1


“Ra, jadi lo maafin gue gak?” Karin belum tenang selama Ara belum memaafkannya.


“O-oke gue maafin lo,” cicit Ara. Karin tersenyum senang setelah kalimat itu keluar dari mulut Ara.


__ADS_2