Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Pendusta


__ADS_3

"Kak, sorry bisa langsung aja? Gue sama sekali gak ngerti sama apa yang lo ucapin," ujar Nabila.


"Oke kalau lu mau gue ngomong langsung Abi itu udah punya pacar namanya arabella dan Ara adalah sahabat gue lo cuma dijadiin abi buat selingkuhannya," ucap Stefani to the point.


Tentu saja hal itu membuat Nabila tertegun dan mematung. Dia hampir tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Stefani sebelum gadis itu memperlihatkan sebuah foto padanya.


"Kalau bisa lihat sendiri gimana kedekatan mereka dan kalau lo nggak percaya lo bisa tanya langsung sama pacar lo itu dia itu cowok brengsek." Emosi Stephanie sudah berada di ubun-ubun.


"Kalau dia emang cowok brengsek, kenapa nggak suruh sahabat lo aja yang putus sama Abi? Kenapa lo malah nyamperin Gue dan bilang kalau Abi udah punya pacar. Dengan gitu, bukannya lo udah dirumusin sahabat lo sama cowok brengsek itu?"


Stephanie terkekeh mendengar ucapan Nabila. "Lo Bener. Apa yang lo bilang semuanya benar, tapi sayangnya sahabat gue itu cinta mati sama cowok brengsek kayak dia, makanya gue nggak bisa jauhin dia dari cowok itu," jawabnya. Dia juga sangat kesal dengan Ara yang sangat menyayangi Abi.


"Terus sekarang dengan lo nemuin gue, lo berharap apa? Lo berharap gue putus sama Abi?"


"Kenapa gue ngomong gitu? Kalau lo emang cewek waras, lo bakal langsung temuin dia dan mutusin dia. Tapi kalau lo bukan cewek yang waras, gue gak yakin lo bakal lakuin itu," ucap Stefani.


Nabila hanya terdiam mendengar penuturan Stefani. Ada yang mau lo omongin lagi?" tanya Nabila.


"Oke. Gue rasa udah cukup, gue juga masih ada kepentingan. Gue pergi sekarang. Thank's sudah mau dengerin gue dan keputusan ada di tangan lo." Stephanie beranjak dari duduknya, mengambil tasnya sebelum kemudian dia berlalu dari sana.


Sepeninggalan Stefani, Nabila masih setia duduk di sana. Pikirannya melayang kepada Abi yang ternyata selama ini sudah membohonginya. 


Tak terasa air matanya menetes begitu saja. Sebenarnya sudah sejak tadi dia menahan agar air matanya tetap tidak keluar tapi sepertinya dia gagal.


Cukup lama Nabila menangis di sana hingga dia puas. Dia segera menghapus air matanya dan beranjak untuk pergi.


Sebelum benar-benar pergi dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang untuk meminta bertemu.


"Kenapa gak diangkat?" ucapnya frustasi. 


"Oke kalau itu mau kamu," lanjutnya. 


Gadis itu memutuskan untuk menemui orang itu secara langsung. Semalam dia mengatakan jika dirinya sedang sibuk di kampus. 


"Pasti sekarang dia ada di kampus," ucapnya sambil berlalu dari sana. 

__ADS_1


Mobil yang dia kendarai melaju dengan cukup cepat di tengah keramaian kota. Sudah lama rasanya dia tak membawa mobil secepat ini. 


"Pakai macet lagi!" kesalnya. Terjebak macet adalah hal yang sangat mengesalkan bagi siapapun itu termasuk Nabila. 


Lama dia terjebak hingga akhirnya jalanan mulai kembali lancar. 


Setibanya di kampus, dia memarkirkan mobilnya dan keluar setelahnya. 


"Kalau dipikir-pikir, gue gak pernah datang ke kampusnya dia. Jadi gak tahu fakultasnya di mana," ujarnya. 


"Bil," panggil seseorang yang baru saja turun dari motornya. 


Nabila yang merasa namanya dipanggil segera menoleh ke arah asal suara. 


"Ahh untung ketemu kamu di sini. Aku gak tahu Fakultas kamu di mana," ucapnya lega. 


Ya, dia datang ke kampus Abi untuk menemui pria itu. 


"Ngapain kamu di sini?" Dengan segera, Abi menghampiri gadis itu dan bertanya dengan bisikan. 


"Kenapa mesti nyusul ke kampus? Aku kan udah bilang kalau aku lagi sibuk. Kenapa kamu gak ngerti?" tanya Abi frustasi. 


"Aku gak minta waktu lama. Sepuluh menit udah cukup," jawab Nabila. 


"Ikut aku!" Abi membawa Nabila ke tempat lain setelah dia memastikan jika tak ada orang yang melihat mereka. 


Kafe di depan kampus adalah satu-satunya yang ada di pikiran Abi. Sebenarnya dia ingin membawa Nabila ke tempat yang lebih jauh dari itu, tapi sayang dia tak punya cukup waktu untuk itu. 


"Jadi mau apa?" tanya Abi masih dengan nada kesalnya. 


"Kamu punya pacar selain aku?" Karena dia cuma punya waktu sepuluh menit, dia tak punya pilihan selain menyampaikan langsung apa yang ingin dia sampaikan. 


Tubuh Abi menegang ketika mendengar itu sebelum dia kembali menormalkannya. 


"Apa maksud kamu?" Abi mulai bertanya dengan tenang karena tak ingin gadis itu semakin curiga. 

__ADS_1


"Kamu tinggal jawab doang apa yang tadi aku tanyain. Katanya kamu gak punya banyak waktu." Nabila membalik ucapan yang tadi dikatakan Abi. 


"Bil, di jadwal aku yang sesibuk ini, kamu pikir aku punya waktu luang buat nemuin dua pacar aku? Punya kamu aja aku udah gak sempat tengok kamu kalau aku lagi sibuk kaya gini. Apalagi dua," jawabnya dengan tenang. 


"Kamu yakin?" 


"Astaga. Apa yang harus aku lakuin biar kamu percaya kalau pacar aku itu cuma kamu?" tanya Abi. 


Nabila terdiam berusaha mencari kebohongan di wajah Abi. Namun nihil, dia tak menemukannya. 


Jangan bermain dengan Abi, dia seorang pemain. Hal seperti ini sudah sangat sering dia lalui dan tentu saja dia bisa dengan cepat mengatasinya. 


"Gimana kalau aku punya bukti?" 


"Bukti apa? Mana?" Abi kembali bertanya dengan percaya diri. 


Nabila mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah akun media sosial yang tadi diperlihatkan oleh gadis yang mengaku bernama Stefani. 


Abi tertawa setelah dia melihat postingan itu. Dia bisa melihat di sana ada fotonya dan Ara. Ara juga menambahkan caption dengan emoji love di sana. 


"Kenapa malah ketawa sih?" Nabila kesal karena dia sedang dalam posisi serius tapi Abi malah tertawa. 


"Kamu percaya cuma dengan lihat foto ini?" Nabila tak menjawab dan membiarkan Abi melanjutkan perkataannya. 


"Bil, cewek sama cowok emang kalau foto bareng bisa dibilang mereka pacaran?" tanya Abi. 


Tentu saja tidak. Nabila tidak setuju jika ada yang mengatakan demikian. Akhirnya dia menggeleng. 


"Terus captionnya? Ini udah nunjukin kalau kalian pacaran. Mana ada cewek yang upload foto sama cowok pake caption romantis kaya gini apalagi ada emoji love," ucap Nabila.


"Kamu ingat soal cewek yang aku bilang waktu itu? Cewek yang selalu telpon aku karena dia suka sama aku?" Nabila mengangguk. Dia merasa pernah mendengar hal ini. 


"Ya ini. Dia cewek yang aku bilang. Waktu itu aku foto sama dia juga terpaksa. Masa di depan teman aku kasarin sama jahatin dia sih? Di sana juga ada yang lain, gak cuma kita berdua," ujar Abi menjelaskan dengan penuh dusta. 


Nabila terdiam. Apa yang dikatakan Abi juga masuk akal. Lalu sekarang siapa yang harus dia percaya? 

__ADS_1


__ADS_2