
Ara masih diam di sana dengan cup es krim yang dia pegang. "Kemana pacarnya Neng," tanya Si Bapak penjual es krim yang tadi menyaksikan Abi pergi.
Ara tak menjawab, gadis itu hanya bisa tersenyum simpul pada yang bertanya.
Ara juga tak tahu ke mana Abi pergi dan alasannya apa. Dia hanya bisa menunggu di sana karena itu pesan Abi padanya tadi.
Sambil menunggu Abi datang kembali, Ara menyimpan satu cup es krim dan mulai memakan miliknya.
Walau rasanya enak, tapi Ara memakannya dengan tidak nikmat karena pikirannya yang melayang pada Abi.
"Ke mana sih dia? Pergi gak bilang-bilang," ujarnya sambil terus menyuap es krim ke mulutnya.
Entah sudah berapa lama Ara menunggu di sana. Bahkan kini es krimnya pun sudah habis dan berpindah tempat ke perutnya.
Namun Abi tak kunjung datang. Untuk menghilangkan rasa bosannya, Ara akhirnya mengeluarkan ponselnya dan mulai memainkannya.
Tak banyak yang dia lihat di sana, hanya membuka sosial media dan aplikasi WhatsApp siapa tahu Abi menghubungi lewat WhatsApp.
Namun tidak ada satupun notifikasi yang masuk. Hingga pada akhirnya dia mendengar suara derap langkah mendekatinya.
"Maaf ya aku lama," ucap Abi dengan nafas yang terengah. Entah apa yang telah pria itu lakukan sampai dia terlihat sangat kelelahan.
"Dari mana kamu? Kenapa lama banget?" tanya Ara. Dia tak menaruh sedikitpun curiga pada kekasihnya.
"Tadi aku lihat teman lama makanya aku samperin dia. Kita cuma ngomong bentar terus aku balik lagi ke sini," jawabnya.
Ara mengangguk mengerti. Pantas saja sangat lama meninggalkannya. Jika sudah berbicara dengan teman lama waktu berjalan memang tak terasa.
"Udah habis es krimnya?" tanya Abi. Pria itu mengambil posisi duduk di samping kekasihnya.
"Punya aku udah habis, kamu lama banget sih jadi aku makan duluan," jawab Ara sambil memperlihatkan cup es krimnya yang sudah kosong tak tersisa.
"Iya maaf aku juga gak ngira bakal selama itu," ucapnya sambil mengusap surai Ara.
"Nih punya kamu makan dulu," ucap Ara sambil menyodorkan cup es krim milik Abi.
__ADS_1
"Kamu masih mau nggak?" tanya Abi.
"Mau sih tapi perut aku udah kenyang," jawabnya.
"Nggak apa-apa kalau kamu masih mau. Kamu bisa beli lagi nanti aku yang bayar sekalian," ucap Abi.
Senyum Ara mengembang saat dia telah mendapatkan izin dari Abi untuk membeli es krim lagi.
Ara beranjak untuk mendekati Bapak penjual es krim itu "Pak mau ya satu lagi," pesannya.
Sementara itu Abi di belakang Ara mengikutinya. "Ini uangnya ya Pak sekalian sama yang tadi." Abi memberikan uang lembar lima puluh ribuan pada tukang es krim itu. Mereka kembali setelah mendapatkan kembalian dan juga es krim milik Ara.
“Emang teman lama kamu waktu kapan? Padahal kalian bisa ngomong di sini,” ucap Ara sambil memakan es krimnya.
“A-ah i-tu waktu SMA,” jawab Abi dengan tergugup. “Lagian dia buru-buru tadi makanya cuma sebentar,” lanjutnya.
Ara hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan Abi. “Mau ke mana lagi sekarang?” Abi bertanya setelah seharian ini mereka pergi bersama ke sana dan kemari.
“Kayanya pulang deh. Kaki aku udah pegel,” jawab Ara. Tak ada lagi tempat yang ingin dia kunjungi setelah ini.
****
“Tunggu di sini bentar ya, aku ke sana dulu.” Setelah mengatakan itu, Abi segera pergi untuk menghampiri orang itu.
Beberapa kali dia sampai kehilangan jejak karena saking ramainya orang yang berlalu lalang di sana. “Gue yakin lihat dia tadi,” ucapnya.
Ketika dia akan menyerah dan hendak kembali kepada Ara, ada seseorang yang menyentuh pundaknya hingga membuat Abi terlonjak.
Abi membalikan badannya untuk melihat siapa orang itu. Nafasnya terhenti untuk sejenak, di saat dia akan menyerah, orang itu justru sekarang ada di hadapannya.
“Gimana kabarnya?” tanya seorang gadis yang sangat manis itu.
“Alda,” panggilnya. Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan gadis itu, Abi justru malah memanggilnya saking terkejutnya dia.
“Hmm ini aku, gimana kabar kamu?” Gadis yang dipanggil Alda itu kembali bertanya diiringi dengan senyum manisnya.
__ADS_1
“B-baik,” jawab Abi gagap.
“Kita ngomong bentar di sana,” ajak Alda sambil menarik pelan tangan Abi menuju sebuah bangku taman yang kosong.
Genggaman tangan itu sangat nyata dan lembut. Abi sampai terpaku dan melihat tangannya yang digenggam oleh Alda.
“Kamu ke mana aja?” tanpa sadar bibir Abi berucap demikian.
Sebelum menjawab, Alda tersenyum simpul. “Aku belajar di luar kota makanya jarang pulang. Kemarin baru pulang karena aku udah selesia belajar,” jawabnya.
Kening Abi mengeryit saat dia mendengar hal itu. Dia sedikit bingung karena Alda satu angkatan dengannya, lalu bagaimana gadis itu bisa sudah selesai belajar?
“Aku berhasil kejar pendidikan aku cuma dua tahun setengah,” ucapnya seolah tahu dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Abi.
“Ahh. Gak heran sih, dari dulu kamu pintar.” Abi menimpali dan mengangguk. Entah kenapa, ada rasa bangga di hatinya saat dia mendengar hal itu dari Alda.
“Kamu juga hebat. Gak nyangka kamu bisa jadi Presiden Mahasiswa,” ucap Alda.
“Dari mana kamu tau?” tanya Abi. Dia merasa sudah putus kontak dengan gadis itu jadi mustahil gadis itu akan mengetahui kehidupannya.
“Aku lihat di sosial media kampus kamu. Keren banget,” jawabnya. Abi mengangguk dan tersenyum salah tingkah ketika dipuji oleh Alda.
“Oh iya, aku mau minta maaf.” Ucapan Alda kembali membuat Abi menoleh dan terdiam.
“Buat apa?”
“Perlakuan Papah aku yang seenaknya sama kamu. Sebenarnya udah lama aku mau minta maaf. Tapi waktu itu aku langsung berangkat ke luar kota jadi gak ada waktu buat ketemu kamu. Kemarin waktu pulang aku juga udah niat mau nemuin kamu dan minta maaf, tapi kebetulan sekarang kita ketemu di sini,” jelasnya.
“Papah kamu gak salah. Dia lakuin itu juga karena mau yang terbaik buat putrinya. Terbukti sekarang kamu bisa banggain Papah kamu,” jawab Abi.
“Selain Papah, ada orang lain juga yang mau aku bikin bangga,” ucap Alda tiba-tiba.
Abi merasa kecil hati karena itu berarti perannya sudah tergantikan oleh orang spesial yang dimaksud oleh Alda barusan.
“Beruntung banget pasti orang itu,” ucap Abi. Lagipula Abi sudah tak terlalu berharap karena sekarang dia sudah punya Ara.
__ADS_1
“Aku harap orang itu juga berpikir kaya gitu. Dan semoga dia gak keberatan kalau aku mau balik sama dia.” Dari sini Abi mulai tak enak hati.
“Hmm, orang itu kamu.”