Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Fitnah


__ADS_3

Setelah makan bersama tadi, Ara dan Abi kembali ke kelas mereka. Tentang rapat organisasi yang dikatakan oleh Abi tadi hanya sebuah alasan agar Alda segera naik ke motornya dan mereka bisa cepat sampai di kampus.


"Fan, berangkat sama siapa tadi?" tanya Ara begitu dia sudah tiba di kelas. Ternyata Stefani sudah tiba di sana lebih dulu dan sedang memainkan ponsel di kursinya.


"Gue tadi berangkat sama Shaka. Kan lo yang bilang kalau nggak usah dijemput," jawab Stefani. Apa yang dikatakan gadis itu memang benar.


"Terus lo tadi berangkat sama Abi?" sambung Stefani yang dijawab dengan gelengan oleh Ara.


"Terus lo berangkat sama siapa?" tanya Stefani.


Ara duduk di kursinya tepatnya di samping Stefani. "Naik taksi," jawabnya dengan singkat.


"Kok bisa? Bukannya Abi udah janji mau jemput lo?" tanya Stefani.


Jika tahu begitu mungkin tadi dirinya akan memilih berangkat bersama Ara. Walaupun dia sudah memiliki kekasih tapi menurutnya sahabat adalah yang nomor satu.


"Gue juga nggak tahu kalau dia bakal batalin janjinya. Tiba-tiba aja sebelum berangkat tadi dia kirim pesan kalau dia gak jadi jemput." Ara memberitahukan apa yang terjadi tadi pagi pada Stefani.


"Emangnya kenapa dia gak jadi jemput? Atau dia nggak masuk kampus?" Stefani menjadi penasaran.


"Biasalah jemput yang satu. Dia akan manja, jadi maunya dijemput sama pacar orang terus," sindirnya. Stefani tentu saja tahu siapa yang dimaksud oleh Ara.


"Emang benar-benar keterlaluan ya tuh ular yang satu. Nggak tahu diri banget. Gue tahu tuh pasti dia datang ke sini cuma mau deketin Abi lagi bukan mau belajar," ucap Stefani karena sudah gemas.


"Udahlah mungkin emang udah keturunannya dari sana kayak gitu."


"Nggak bisa gitu dong Ra. Lo kan yang pacar Abi kenapa jadi dia yang punya kendali penuh atas Abi?" Stefani yang sama-sama wanita merasa sakit.


"Terus gue bisa apa kalau pada kenyataannya Abi juga kayaknya nggak keberatan direpotin sama dia," jawab Ara.


"Seenggaknya lo marahin dia atau enggak ingetin dia supaya enggak terlalu dekat sama ular itu. Gemes banget gue sama pacar lo. Udah berapa kali coba dia sakitin lo kayak gini?" tanya Stefani.

__ADS_1


"Ya udah udah tenang dulu, tarik nafas buang, tarik nafas buang." Ara meminta Stefani untuk tenang.


Stefani juga menurut dan mengikuti gerakan yang dicontohkan oleh Ara. Setelah cukup tenang Ara kembali membuka suaranya.


"Udah tenang?" tanya Ara. 


"Udah!" jawab Stefani dengan kesal.


"Udah ya. Mungkin Tuhan emang lagi siapin kejutan buat gue di balik rasa sakit ini. Kita lihat aja ke depannya nanti bakal gimana," ucap Ara.


Sampai saat ini Stefani tak habis pikir terbuat dari apa hati temannya itu sampai bisa sabar sedalam ini.


**** 


Dalam waktu sesingkat itu saja rekaman suara Ara dan Stefani sudah menyebar ke seluruh fakultas. Sementara itu seseorang yang punya suara sama sekali tak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana.


Dengan cepat Abi berjalan menuju kelas kekasihnya. Rahangnya sudah mengeras dan wajahnya memerah.


Namun senyumannya itu tak bertahan lama karena kemudian senyuman itu terganti dengan raut wajah takut. Tentu saja siapa yang tak takut melihat wajah Abi yang sudah mengeras seperti itu.


Abi berjalan mendekat kepada Ara. "Kamu itu sebenarnya ada masalah apa sih?!" tanya Abi.


"Eh lo yang ada masalah apa? Kenapa tiba-tiba teriak kayak gini?" Stefani tentu saja maju paling depan untuk melindungi Ara.


"Lo jangan ikut campur, ini urusan gue sama Ara."


"Urusan Ara urusan gue juga. Dia temen gue, mau apa lo?" Stefani sama nyolotnya dengan Abi.


Abi yang tak mungkin memukul wanita akhirnya hanya bisa memejamkan matanya dengan erat menahan amarah yang ada di hatinya.


"Tuh dengerin sendiri!" Abi melemparkan ponselnya setelah dia memutar rekaman yang tersebar itu.

__ADS_1


Ara mendengarkannya dengan seksama. Suara yang ada dalam rekaman itu adalah suaranya dengan Stefani yang tadi sedang membicarakan Alda.


"Gitu ya kelakuan kamu di belakang aku? Di depan aja ngomongnya halus, di belakang ternyata kamu kayak gini? Sampai hati kamu bawa-bawa keluarga dia? Dia cari muka? Dia sakit. Asal kamu tahu dia sakit parah," ucap Abi panjang lebar.


Pertengkaran mereka ditonton oleh semua orang yang ada di kelas itu termasuk orang-orang dari kelas lain yang mendengar suara keributan. Ara melihat ke sekelilingnya.


Malu, tentu saja dia sangat malu tapi rasa sakit di hatinya lebih dalam karena ucapan pedas Abi padanya.


"Emang kenapa kalau kita ngomong kayak gini? Emang kenyataannya kok." Bukan Ara yang menjawab melainkan Stefani.


"Fan udah Fan." Ara mencoba menenangkan Stefani dan menarik gadis itu. Sekarang Ara yang berhadapan langsung dengan Abi.


Dia agak mendongakan kepalanya agar bisa menatap pria itu. "Aku minta maaf kalau ucapan aku nyakitin hati kamu. Tapi kayaknya ada hal yang gak aku ucapin ada di rekaman itu. Demi Tuhan itu bukan aku."


Ketika berbicara dengan Stefani tadi Ara memang mengatakan jika sifat Alda yang seperti itu adalah sebuah keturunan. Tapi dia tidak menjelaskannya secara rinci jika Ibu dari gadis itu juga berperilaku yang sama untuk mendekati pria lain selain suaminya. Itulah yang Ara dengar di rekaman tersebut.


"Buktinya udah ada Ara, jangan coba bohong deh," ucap Abi.


"Terserah kamu mau percaya atau enggak Bi. Yang jelas aku nggak pernah ngomong kayak gitu, aku cuma ngomong kalau sifat Alda yang kayak gitu itu adalah keturunan, cukup sampai di situ setelah itu aku sama sekali gak ngomong. Bukan aku yang ngomong."


Arah hendak pergi dari sana sebelum tangannya kembali dicekal oleh Abi. "Mau ke mana kamu? Mau kabur karena kamu udah ketahuan kayak gini?" Mata arah sudah mengabur karena air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


"Bisa nggak sih kamu ngomong baik-baik? Udah aku bilang kalau bukan aku yang ngomong kayak gitu." Akhirnya tangis Ara pecah. Wajahnya memerah. 


"Ra udah jangan didengerin mending kita pergi dari sini." Stefani hendak membawa arah untuk menjauh dari Abi.


"Oh atau jangan-jangan Bunda kamu yang nggak becus ngajarin kamu sampai mulut anaknya berkata kotor kayak gitu?" kekeh Abi.


Ara yang sudah sampai di ambang pintu kembali menuju arah Abi dengan sedikit berlari. Kemarahannya menumpuk dan dia meluapkannya dalam sebuah tamparan.


Plak

__ADS_1


Ara menambah pipi Abi dengan sangat keras.


__ADS_2