
Beruntungnya, ketika Stefani tiba di rumah Ara, gadis itu baru saja datang.
“Loh, kalian dari mana?” tanya Stefani saat melihat Ara turun dari motor Abi dan membuka helm-nya.
“Abis jalan-jalan lah. Emangnya lo, diem terus di rumah,” jawab Ara dengan percaya diri.
Sambil berkata seperti itu, Ara sambil menarik pelan tangan Abi untuk ikut dengannya duduk di kursi yang ada di teras rumahnya. Sementara itu Stefani hanya mengikuti Ara dari belakang.
“Ngapain ke sini?” tanya Ara.
“Mau main aja. Emangnya gak boleh?” kesal Stefani yang mendapat pertanyaan seperti itu dari Ara.
“Gak gitu. Ya udah, tunggu bentar ya. Gue mau ganti baju sekalian bikin minum buat kalian.”
Suasana di sore hari sangat memanjakan mata. Di mana di sana mereka bisa melihat langit senja yang sangat indah.
“Indah ya langitnya,” ujar Abi tiba-tiba.
“Hmm.” Stefani hanya menjawab singkat karena takt ahu lagi apa yang harus dia katakana.
“Kayanya kalian emang dekat banget ya?” tanya Abi.
“Sepenglihatan lo aja gimana.”
Sebenarnya tanpa mereka jelaskan kedekatan mereka pun, orang-orang pasti tahu seberapa dekat mereka karena Ara dan Stefani memang selalu bersama kemanapun itu.
“Ya kali aja kalian cuma dekat karena masuk organisasi bareng,” ujar Abi yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Stefani.
“Yang kemarin itu cowok lo?” Stefani merasa heran dengan berbagai pertanyaan yang diajukan Abi sedari tadi. Dia tak merasa begitu dekat dengan pria itu hingga dia harus menjawab jujur setiap pertanyaan yang dilontarkan padanya.
“Mau itu cowok gue atau bukan, kayanya itu bukan urusan lo deh. Kenapa lo peduli?” tanya Stefani mulai rishi.
“Gak penting juga sih. Gue cuma cari topik pembicaraan aja biar gak garing-garing amat,” jawab Abi.
Stefani merotasikan matanya karena kesal dengan pria itu. Tak lama setelah mereka saling diam dan Stefani masih dengan ekspresi kesalnya, Ara datang dengan dua gelas jus jeruk dan beberapa toples kue kering di atas nampan.
“Nih minum dulu, biar segar,” ucap gadis itu sambil menyimpannya di atas meja.
“Makasih loh. Padahal gak usah repot-repot, toh aku juga gak bakal lama,” ujar Abi.
“Ga kapa-apa. Kamu pasti capek abis bawa motor seharian.”
Stefani yang gemas dengan percakapan dua orang yang ada di hadapannya itu mulai menguk jus jeruk itu hingga tandas.
__ADS_1
Hal itu membuat Ara menganga. “Lo kenapa sih?” tanya Ara.
“Kalian beresin dulu deh mesra-mesraannya, gue enek liatnya!” Setelah mengatakan itu, Stefani segera beranjak dari sana.
“Bunda!!! Fani datang, lagi apa nih?!!” teriak gadis itu saat memasuki rumah Ara.
Sementara itu, Ara dan Abi hanya memandang Stefani dengan aneh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Teman kamu kenapa sih?” tanya Abi.
Ara menggeleng sambil terkekeh. “Aku juga gak tau dia kenapa,” jawab Ara.
Mereka melanjutkan percakapan mereka sementara Stefani masuk ke dalam rumah Ara dan menemui Bundanya.
“Bunda lagi apa?” tanya Stefani saat gadis itu menemukan Bundanya Ara di ruang keluarga.
“Ini nih lagi bungkus kado.” Wanita paruh baya itu masih berkutat dengan kertas kado dan beberapa perekat di tangannya.
“Mau Fani bantu gak?” tawarnya sambil mendudukkan dirinya di hadapan Bunda Ara.
“Boleh, emang kamu bisa?” tanya Bunda Ara.
“Bisa dong. Apa sih yang Fani gak bisa?” ucapnya dengan percaya diri.
“Wihh keren. Tau gini, lain kali Bunda minta bantuan kamu aja ya,” ucapnya.
Stefani mengangguk dengan senyuman lebar di wajahnya.
“Eh kamu ke sini mau ketemu Ara, kan?” tanya Bunda baru sadar.
“Iya. Tapi dia lagi sibuk bucin sama pacarnya,” jawab Stefani kesal. Sang Bunda hanya terkekeh mendengar ucapan Stefani.
“Makanya kamu juga cari pacar biar gak sendirian mulu,” jawab Bundanya.
“Sebenarnya yang mau sama Fani itu banyak, Bun. Cuma emang standar Fani aja yang tinggi. Jadi kebanyakan Fani tolak deh,” curhatnya.
“Ohh gitu. Kirain emang cowok-cowok pada takut sama kamu,” candanya.
“Mana ada. Orang Fani ini lemah lembut banget.” Mereka berdua tertawa dengan lepas karena beberapa hal lainnya hingga tak terasa waktu berlalu.
Ara memasuki rumahnya dengan gelas minuman dan toples makanan yang dia bawa tadi.
“Bantuin kenapa sih?” tanya Ara yang kerepotan.
__ADS_1
“Ah gak perlu. Tadi juga lo bawa itu sendiri. Masa sekarang harus dibantu sih,” jawab Stefani.
Gadis itu malah kembali fokus pada layer ponsel di hadapannya. Posisi tidur di pangkuan Sang Bunda memang sangat nyaman dan Stefani sangat menyukai itu.
“Bunda, yang anak Bunda itu aku atau dia sih? Kenapa malah manjain dia?” rengek Ara sambil menyimpan barang-barang yang dia bawa di meja.
“Kasian Fani gak ada yang manjain. Kalau kamu kan dimanjain Abi,” jawab Bundanya yang membuat pipi Ara bersemu.
Dia salah tingkah dengan ucapan Bundanya sendiri. “Bunda bisa aja. Tapi kan beda, kalau Abi ya Abi, kalau Bunda ya Bunda,” lanjutnya merengek.
“Ya udah sini. Fani di paha kiri, kamu di kanan. Udah kan gak usah iri,” ucap Bundanya.
Ara tersenyum dan segera menghampiri Bundanya untuk kemudian tidur berbaring di pangkuan Bundanya.
“Bunda, harusnya Ara tuh gak diizinin pacarana. Dia suka lupa waktu dan lupa segalanya kalau lagi sama Abi,” saran Stefani.
“Dih, kok gitu sih? Enggak kok Bun. Dia aja yang berlebihan karena iri gak punya pacar,” jawab Ara membela dirinya.
“Iya deh yang punya pacar.”
“Udah gak usah bertengkar. Kalian ini ada-ada aja.”
Akhirnya mereka kembali diam saat sang Bunda sudah memarahinya.
“Ngapain lo ke sini?” tanya Ara saat ingat kedatangan Stefani ke rumahnya padahal hari sudah sore.
“Mau curhat. Tapi lo-nya malah lagi bucin,” jawab Stefani.
“Aduh, stop bilang bucin-bucin itu karena gue gak bucin.” Ara mencoba membela dirinya.
“Ya terus apa namanya kalau bukan bucin?”
Ara terdiam kalah. Tapi akhirnya dia kembali menanyakan maksud kedatangan Stefani ke sana.
“Ya udah ayo ke kamar gue. Tapi tunggu gue mandi dulu,” ajak Ara sambil bangkit dari posisi tidurnya.
Stefani juga melakukan hal yang sama. “Bunda, Fani ke atas dulu ya. Kalau perlu bantuan tinggal panggil Fani aja,” ucap gadis itu dengan percaya diri.
“Iya sana. Bunda juga mau masak buat makan malam. Nanti jangan dulu pulang, makan malam di sini aja,” ucap Bunda Ara.
“Kalau soal makan, Fani nomor satu deh. Pasti Fani makan di sini,” jawabnya dengan semangat.
Ahirnya mereka menuju ke kamar Ara sementara Bunda-nya pergi ke dapur untuk memasak.
__ADS_1