Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Merawat Dion


__ADS_3

Setelah berbagai macam cara Abi lakukan untuk mendapatkan maaf dari Ara, akhirnya gadis itu luluh dengan janji Abi yang akan meminta maaf pada Dion dan juga sebuah es krim.


Mereka saat ini berada di sekretariat berdua. Tak banyak yang mereka lakukan, Abi hanya melihat Ara menikmati es krim sambil menunggu kabar dari Shaka tentang Dion.


“Udah ada Shaka hubungin?” tanya Ara sambil membersihkan tangan yang terkena lelehan es krim.


“Katanya dia masih di sana. Gatau lagi apa.” Abi menjawab seolah dia tak begitu peduli dengan keaadaan Dion.


“Kamu sih. Kalau ada apa-apa sama dia gimana?” tanya Ara kesal.


“Bi!!” Belum juga Abi menjawab, dari arah luar sudah ada yang berteriak namanya. Abi bisa menebak jika orang itu adalah Shaka.


“Apaan sih lo teriak-teriak!” kesal Abi yang merasa terkejut dengan kedatangan Shaka.


“Dia gak mau dijenguk kita. Tapi pas tadi dia keluar dari ruangannya, dia bilang kalau tangannya patah,” jelas Shaka dengan panik.


“Aduh bisa tenang dulu gak sih? Gue gak ngerti,” ucap Abi.


“Biar gue aja yang jelasin.” Stefani mengambil alih pembicaraan itu dan akan menjelaskannya pada Abi.


“Tadi Dion keluar dari ruangannya dengan lengan yang pakai penyangga gitu loh, pakai gips juga. Pas kita tanya tangan dia kenapa, katanya patah tulang,” jelas Stefani.


Abi mengerutkan keningnya kurang percaya dengan apa yang dikatakan oleh temannya itu.


“Lo yakin gak salah orang atau gak salah dengar, kan?” Abi berusaha menanyakan jika saja pernyataan mereka itu kurang tepat.


“Dia sendiri yang bilang.” 


Abi terlihat panik. Dia juga tak tahu akan separah ini. Seingatnya, tadi dia memukul wajah Dion bukan bagian lengannya.


“Temuin dia sekarang, Bi. Kamu harus minta maaf.” Ara tak kalah panik mendengar apa yang dikatakan Stefani.


Kali ini Abi mengangguk. Dia akan berbicara baik-baik, dia tak ingin berita ini sampai ke telinga orang tua atau bahkan dosennya.


“Aku ke sana sekarang,” jawab Abi. “Dia masih di sana kan?” Abi bertanya pada kedua temannya.


“Gue gak yakin. Kayanya dia udah pulang.”


Abi langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi pria itu dan menanyakan di mana keberadaan pria itu.

__ADS_1


“Aku berangkat sekarang. Dia masih di rumah sakit.” Abi hendak pergi sebelum lengannya dicekal oleh Ara.


“Aku ikut,” ujar gadis itu.


“Ngapain? Gak, kamu di sini aja,” tolak Abi.


“Aku ikut,” sentak Ara. Abi tak bisa lagi berkutik. Dia takut Ara akan kembali marah padanya jika dia tidak menuruti keinginannya itu.


Akhirnya Abi mengangguk dan membawa Ara ke rumah sakit. Sementara itu Shaka memilih untuk mengantarkan Stefani pulang karena hari juga semakin sore.


“Sampai di sana nanti, jangan emosi.” Ara mewanti-wanti Abi dari sekarang agar pria itu tak emosi ketika sampai di sana.


Mereka tiba di rumah sakit yang sama. “Dia di mana?” tanya Ara saat dia tak melihat Dion di tempat tadi.


“Katanya di taman rumah sakit.” Abi menjawab sesaat setelah dia membuka ponselnya da ada pesan masuk dari Dion.


Tak ingin membuang waktu lagi, mereka segera menuju taman yang dikatakan oleh Dion. Tepat sekali, di sana Dion sedang duduk dengan sebotol air mineral di tangannya.


“Jadi ...” Tanpa basa-basi, Abi langsung bertanya saat dia telah berada di dekat Dion. Sementara itu Ara memegangi lengan Abi takut pria itu lepas kendali.


Ara bisa melihat wajah Dion yang lebam dan seperti yang dikatakan oleh Stefani tadi, lengan kanan pria itu menggunakan gips.


“Duduk dulu lah, buru-buru amat,” jawab Dion. Abi menghela nafas dan duduk di samping Dion.


“Tadinya sih gue mau bawa kasus ini ke jalur hukum,” ucap Dion yang membuat Ara dan Abi membulatkan matanya tekejut.


“Tapi, kalau lo mau ikutin apa mau gue, gue gak akan lanjutin masalah ini,” lanjut Dion.


“Apa mau lo?” tanya Abi denga enggan. Jika bukan karena dia tak mau dipenjara, Abi tak akan mau menerima tawaran itu.


“Lo bisa lihat, kan lengan kanan gue udah gaak berfungsi?” ucap Dion sambil memperlihatkan tangannya yang memakai gips itu.


Abi tak menjawab, dia masih menunggu kalimat selanjutnya yang akan dilontarkan oleh Dion.


“Gue mau cewek lo ngurus gue sampai tangan gue sembuh.” Abi membulatkan matanya.


“Gila lo!!” Abi hendak menghajar pria itu lagi jika saja Ara tak menahannya. Dia meyakinkan Abi jika dia akan baik-baik saja.


“Kenapa lo mau cewek lo? Kan gue yang bikin lo kaya gini,” jawab Abi. Dia berusaha menahan amarahnya.

__ADS_1


“Gue yakin kalau lo yang rawat gue, bukannya malah membaik, malah makin parah luka gue,” ucap Dion.


Ada benarnya apa yang dikatakan pria itu. “Kalau gue gak mau?” tanya Abi.


“Ya berarti siap-siap aja mendekam di penjara.” Abi mengepalkan tangannya karena marah. Dia tak punya pilihan lain.


“Oke gue pilih dipenja –“


“Gue bakal rawat lo.” Ucapan Abi disela oleh Ara. Dia tak mungkin rela jika Abi sampai harus masuk penjara.


“Ra!” ucap Abi saat Ara menyetujui permintaan Dion begitu saja.


“Gak apa-apa. Cuma sampai tangan dia sembuh.” Ara berusaha menenangkan Abi.


“Gue bisa mulai dari kapan?” tanya Ara. Sementara Abi masih membisu.


“Sekarang. Antar gue pulang.” Abi hendak memukul Dion lagi, tapi Ara menahannya.


“Oke gue antar pulang.” 


“Kamu pulang ya. Aku gak apa-apa, kalau ada apa-apa nanti aku telpon kamu,” ucap Ara sambil menenangkan Abi.


Dengan terpaksa, akhirnya Abi meninggalkan Ara di sana berdua dengan Dion.


“Kita naik taksi?” tanya Ara yang diangguki oleh Dion.


Mereka berjalan beriringan menuju keluar rumah sakit dan menunggu taksi yang sudah dipesan oleh Ara sebelumnya.


“Dari kapan lo pacaran sama Abi?” tanya Dion tiba-tiba saat mereka masih menunggu taksi.


“Gue rasa itu bukan urusan lo,” jawab Ara tanpa memandang Dion sedikitpun.


“Oke,” kekehnya.


“Gue cuma mau kasih tahu aja sama lo. Hati-hati sama Abi, dia itu predator,” ucapnya.


“Lo bisa diem gak? Gak usah urusin hidup orang.” Ara mulai merasa kesal karena Dion menjelekkan Abi di depannya.


“Yahh kalau nanti sampai terjadi, jangan salahin gue karena gue udah bilang sama lo.” Ara tak lagi menjawabnya. Meladeni orang seperti itu hanya akan menguras tenaganya.

__ADS_1


Akhirnya taksi yang mereka pesan datang. Keduanya masuk ke dalam taksi itu dengan Dion yang mengatakan ke mana tujuan mereka.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam membisu. Tapi bukan berarti Ara tak memikirkn apa yang diucapkan Dion barusan.


__ADS_2