
“Pulang yuk!” ajak Stefani. Cukup lama mereka ada di sana, di belakang kampus di mana Ara menenangkan hatinya.
Ara mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Stefani. Lagipula ini sudah sore. Pada akhirnya dia bolos kelas hari ini karena masalah yang tak dia duga sebelumnya.
Mereka berjalan menuju kelas untuk mengambil barang-barang mereka yang tertinggal seperti tas dan juga buku mereka. Sepanjang perjalanan, semua orang memperhatikan Stefani dan Ara. Hal itu tentu saja membuat Stefani geram.
“Apa lo liha-lihat?! Mau gue colok mata lo?!” sentak Stefani sesekali pada orang yang memperhatikan mereka denga sorot tidak suka.
“Kurang ajar banget mereka lihat kita. Emang dikira kita ini apa?” kesal Stefani. Ara hanya tersenyum. Dia sedang tak punya tenaga untuk meresponn ucapan temannya itu.
Hatinya masih sakit dan otaknya terus saja mengingat ucapan kasar Abi yang pria itu lontarkan padanya. Sampai hati pria itu berkata demikian.
Setidak sopannya Ara pada Stefani, dia tak pernah ingin mengatakan hal buruk seperti itu. Tapi kenapa Abi justru dengan mudah mengatakan hal itu padanya. Padahal status Ara bagi Abi adalah kekasihnya.
“Hiks.” Lagi-lagi Ara terisak ketika mengingatnya.
“Sshhtt udah ya. Malu loh dilihatin orang. Jangan gini, kalau lo kaya gini orang-orang justru malah bakal beranggapan kalau yang diucapin Abi itu benar. Kaya biasa aja, lo gak salah jadi lo harus kuat,” ucap Stefani.
Ara kembali mengangguk. Walau sangat sulit untuk menahan air matanya, tapi dia berusaha semaksimal mungkin untuk melakukannya.
Tiba di kelas, sudah kosong karena mereka memang sudah pulang. Stefani mengambi tas miliknya dan juga tas milik Ara.
“Biar gue aja.” Ara meminta tasnya agar dirinya saja yang membawanya. Mereka berjalan menuju parkiran.
“Besok gak udah ke kampus kalau lo gak mau,” ucap Stefani setelah mereka masuk ke dalam mobil.
“Kan lo sendiri yang bilang kalau gak salah gak usah takut. Gue harus buktiin sama mereka kalau bukan gue yang ngomong gitu,” jawab Ara.
Mendapat jawaban seperti itu membuat semangat Stefani kembali membara. “Oke kalau gitu besok kita ngampus kaya biasa, gue jemput lo!” ucapnya dengan semangat.
Ara mengangguk sambil terseyum simpul. Dia harus bertahan setidaknya untuk orang-orang yang mendukung dan selalu ada di sampingnya.
Dua gadis itu tiba di rumah Ara setelah beberapa menit berlalu mereka habiskan dalam perjalanan.
“Makasih ya Fan,” ucap Ara.
“Pake terima kasih segala, biasanya juga enggak,” candanya. Ara terkekeh.
__ADS_1
“Sana pulang takut kesorean,” ucap Ara. Stefani mengangguk dan segera berlalu dari sana.
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Stefani mendapatkan telpon dari kekasihnya. Seharian ini rasanya mereka tidak bertemu dan Stefani juga lupa tak memberikan kabar pada gadis itu.
“Halo?” sapa Stefani saat dia mengangkat telpon.
“Lo di mana? Kenapa di kampus udah gak ada?” tanya Shaka khawatir. Awalnya dia akan berbicara pada Ara dan sedikit menguatkan gadis itu. Tapi sejak tadi dia mencari dua gadis itu sama sekali tak ketemu. Makanya jalan terakhirnya dia sekarang menelpin Stefani.
“Gue udah pulang, baru aja antar Ara ke rumahnya. Maaf gak ngasih kabar, lupa,” ucap Stefani.
“Ya udah kalau emang udah pulang. Tadi gue nyari di kampus.”
“Sorry ya,” ucapnnya.
“Gak apa-apa. Gimana keadaan Ara?” Shaka langung bertanya pada tujuannya tadi.
“Gue yakin sekarang dia gak baik-baik aja. Tapi dia lagi berusaha buat kelihatan baik-baik aja.” Stefani menjawab sesuai dengan yang dia lihat tadi.
“Tetap ada di samping dia. Gue gak mau dia down,” ucapnya.
“Ya udah lanjutin kalau mau pulang. Gue juga mau pulang. Bye.”
“Bye.” Stefani menutup sambungan telepon dan kembali melajukan mobilnya.
Sementara itu Ara ketika tiba di rumahnya di sambut oleh seyuma Bundanya yang sangat dia rindukan belakangan ini. Etah kenapa itu bisa terjadi, padahal selama ini Bundanya selal tersenyum, tapi dia merasa sangat rindu.
“Kok sore banget Ra?” tanya Bundanya.
“Iya Bun. Tadi ada rapat rutin dulu tapi agak lama,” jawab Ara dengan berbohong. Tak mungkin juga dia mengatakan pada Bundanya apa yang terjadi di kampus tadi.
“Mata kamu kok kaya bengkak gitu? Kenapa? Abis nangis?” Ara dihujam beberapa pertanyaan dari Bundanya.
“Enggak Bun, Ara gak nangis kok. Lagian kenapa juga Ara nangis. Mungkin karena tadi kelilipan terus Ara kucek,” jawabnya.
“Pakai tetes mata Ra, jangan dikucek nanti iritasi,” ucap Bundanya.
“Iya Bun nanti Ara pakai.”
__ADS_1
“Ara ke kamar dulu ya, mau bersih-bersih,” pamitnya yang dibalas dengan anggukan oleh Bundanya.
****
Hari kemarin berlalu dan dengan mudah Dion bisa menemukan orang di balik semua yang terjadi pada Abi dan Ara.
Seperti apa yang dia ucapkan kemarin, sekarang adalah hari di mana Karin harus melakukan apa yang gadis itu janjikan.
Karin tengah berdiri menunggu seseorang yang kemarin menemuinya. Sudah terhitung dua puluh menit gadis itu menunggu tapi orang yang dia tunggu tak kunjung datang.
“Yon!!” teriaknya saat dia sudah melihat pria itu. Dari kejauhan Dion memasang senyum puasnya. Ternyata gadis itu sangat mudah dikendalikan.
Dion mendekat. “Jadi gimana? Udah siap?” tanya Dion.
“Hemm gue udah siap. Tapi lo bisa pastiin kan kalau gue gak bakal kena imbasnya?” tanya Karin masih khawatir.
“Tenang aja, sesuai sama kesepakatan kita. Kalau lo berhasil minta maaf sama Ara di depan semua orang dan bersihin nama baik dia, lo bakal aman,” jawab Dion dengan yakin.
“Tapi kayanya Ara belum datang ya?” tanya Karin.
“Nanti aja nunggu anak-anak banyak,” jawab Dion yang diangguki oleh Karin.
Cukup lama mereka menunggu, sebenarnya Ara sudah datang tapi sesuai dengan yang dikatakan oleh Dion tadi jika mereka menunggu anak-anak datang.
“Udah saatnya,” ucap Dion. Setelah itu Karin mengangguk dan mulai beranjak dari sana. Langkah pertama yang harus dia lakukan adalah membawa Ara keluar dari dalam kelas.
“Ra, bisa ikut gue bentar?” tanya Karin. Ara yang duduk mendongakan kepalanya untuk melihat siapa yang berbicara.
“Mau apa?” tanya Ara.
“Ada yang mau gue omongin sama lo. Tapi gue mau kita ngomong di luar,” jawabnya.
Stefani yang saat itu berada di samping Ara memandang Karin dengan sedikit curiga karena selama ini mereka bahkan jarang berinteraksi dengan gadis itu.
“Lo jangan macam-macam ya.” Stefani bangkit dan mengigatkan Karin agar tidak macam-macam pada Ara.
“Gue gak macam-macam. Gue mau ngomong baik-baik sama dia,” nadanya mulai khawatir karena dia takut Ara tak mau dan dia akan celaka jika Dion melaporkannya ke polisi.
__ADS_1