
Seorang pria dengan tas hitam berjalan dengan sangat gagah. Wajah yang biasanya murah senyum itu, kini menjadi sangat dingin.
Ucapan seseorang menjadi penyebab itu semua. Dia tahu dia salah. Tapi apakah penolakan kejan itu harus menjadi imbalan atas kesalahannya?
Pria itu adalah Shaka. Setelah memarkirkan motornya, dia segera menuju ke kelas. Hari ini dia tak memiliki niat untuk bolos.
"Ka!!" panggil seseorang yang membuat Shaka menghentikan langkahnya dan menoleh.
Shaka tak menjawab. Dia justru malah mencari sosok gadis yang biasanya datang bersama pria yang baru saja memanggilnya.
Abiseka Bagaskara, sahabat sekaligus sang presiden mahasiswa.
"Cari apa lo?" tanya Abi saat menyadari sepertinya Shaka sedang mencari seseorang.
"Lo sendiri?" Bukannya menjawab, Shaka justru malah balik bertanya.
"Iya. Emangnya kenapa?" tanya Abi heran.
"Tumben gak bareng Ara, ke mana dia?" Mereka berbincang sambil berjalan menuju kelas.
"Enggak. Gue berangkat duluan tadi, ada yang harus gue omongin sama Rektor," jawab Abi.
"Urusan apa lagi sih? Organisasi?" Shaka terlihat sedikit penasaran.
"Iya. Nanti aja kalau lagi ngumpul sama yang lain gue jelasin," ujar Abi.
"Shaka!!" Untuk kedua kalinya, namanya dipanggil oleh seseorang.
Kali ini orang yang memanggilnya tepat beberapa meter dari hadapannya.
Shaka melihat siapa orang itu. Stefani berjalan mendekat saat sadar Shaka malah menghentikan langkahnya.
"Ka, gue mau ngomong bentar," ujar Stefani.
"Berdua," lanjutnya saat Abi tak kunjung pergi dari sana.
"Ahh oke. Gue duluan Ka!!" Abi melambaikan tangannya untuk berpamitan pada kedua orang itu.
"Apa?" tanya Shaka singkat.
Stefani menarik tangan Shaka untuk berbicara di tempat lain. Gadis itu membawa Shaka ke bawah pohon lebat yang dibawahnya ada bangku.
"Jadi?" Shaka kembali bertanya.
"Gue minta maaf," cicitnya. Akhirnya setelah semalaman dia mencari kata permintaan maaf di mesin pencarian, dia hanya bisa mengatakan hal itu saja.
"Buat?" Shaka seolah bodoh dengan permintaan maaf Stefani.
"Ucapan gue kemarin. Gue kasar banget," jawab Stefani.
Shaka terdiam sambil memperhatikan wajah Stefani yang terlihat benar-benar menyesali perkataannya.
__ADS_1
"Ka," panggil Stefani sambil menggoyangkan lengan pria itu saat dia tak kunjung mendapatkan jawaban dari Shaka.
"Lupain, lagian gue juga yang salah," jawab Shaka pada akhirnya sambil berusaha melepaska pegangan tangan Stefani di lengannya.
"Enggak. Wajar kok lo ngajak gue jalan. Kita kan temenan. Gue yang gak berperasaan," lanjut Stefani.
"Udah lah lupain aja. Udah berlalu juga," jawab Shaka.
"Tapi lo masih marah sama gue." Stefani memasang wajah melasnya agar Shaka berhenti merajuk padanya.
"Enggak, gue gak marah."
"Terus ini apa? Lo jawab gue singkat-singkat gitu." Stefani masih tak percaya jika Shaka sudah tak marah padanya.
"Cuma lagi jaga jarak aja sama lo. Takutnya lo gak nyaman sama gue." Jawaban yang diberikan Shaka benar-benar sangat tak terduga.
Stefani tak menyangka jika Shaka berfikir seperti itu tentangnya.
"Ngaco lo! Kenapa gue harus gak nyaman sama lo?" jawab Stefani tak terima denga keputusan yang diambil Shaka.
"Ya buktinya kemarin lo bilang gak mau jalan sama gue. Berarti lo gak nyaman."
Stefani tak habis pikir dengan jalan pikiran Shaka. Dia sama sekali tak berpikir seperti apa yang dikatakan Shaka barusan.
Dia hanya sedikit tak nyaman karena Shaka harus mengajaknya pergi ketika Kris ada di rumahnya.
"Oh atau lo cuma mau jaga perasaa seseorang?" sindir Shaka yang membuat Stefani mengalihkan pandangannya pada Shaka dengan spontan.
Shaka terkekeh setelahnya. "Kenapa lo ketawa?" tanya Stefani.
"Gak apa-apa."
"Jadi, lo maafin gue kan?" Stefani kembali meminta kepastian dari pria itu.
Anggukkan Shaka membuat Stefani lega karena itu berarti Shaka sudah tak lagi marah padanya.
"Tapi ada syaratnya." Baru saja senyumnya mengembang, sebelum kemudian Shaka kembali merenggut senyum itu saat pria itu mengatakan syarat.
"Mau gak? Kalau enggak, ya gue gak bakal maafin lo," lanjut Shaka.
"Iya apa??" Akhirnya Stefani hanya bisa pasrah jika hanya itu yang bisa membuat Shaka memaafkannya.
"Satu minggu iyain kemauan gue," ucap Shaka yang membuat mata Stefani terbelalak.
"Lo gak akan macam-macam sama gue kan?" Stefani menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Jangan ngarep! Lo tepos!!" jawab Shaka yang seketika membuat Stefani menghela nafas.
Akhirnya keteposannya itu bisa jadi penyelamatnya juga.
"Oke asal jangan hal yang aneh-aneh," setuju Stefani.
__ADS_1
"Kalau gitu, sekarang lo bolos sama gue. Yuk!!" Tanpa menunggu persetujuan dari Stefani, Shaka menarik tangan Stefani begitu saja dan berlari ke arah parkiran.
"Aduh mau ke mana sih?" tanya Stefani saat mereka telah tiba di parkiran.
"Temenin gue ke suatu tempat dan lo gak bisa nolak. Naik!!"
Tanpa banyak protes, Stefani akhirnya naik dan membiarkan Shaka melajukan motornya ke tempat yang dia inginkan.
"Ngapain ke sini?" tanya Stefani. Netranya menangkap pemandangan sirkuit yang sangat luas. Tepat sekali, Shaka membawanya ke tempat di mana dulu Abi bermain saat Ara marah padanya.
"Tunggu gue main bentar ya," pintanya.
"Tunggu tunggu. Lo mau main tanpa pengaman apapun di tubuh lo?" Stefani sudah turun dari motor dan bertanya dengan serius pada Shaka.
Shaka mengangguk. Bukankah dia sudah biasa bermain seperti ini?
"Enggak! Balik sekarang! Gue gak mau," ucap Stefani hendak pergi dari sana sebelum tangannya dicekal oleh Shaka.
"Ayolah, bentar aja," mohon Shaka.
"Lo gila? Kalau lo jatuh terus kenapa-napa gimana?!" bentak Stefani yang membuat Shaka tersenyum tipis.
"Jadi, lo khawatir sama gue?" goda Shaka.
Stefani sontak salah tingkah dengan ucapan Shaka barusan.
"Enggak!! Enak aja. Gue cuma gak mau lo mati di sini dan nanti gue yang jadi tersangka!!" jawabnya dengan salah tingkah.
"Gak bakal kenapa-napa, percaya sama gue. Tunggu di sini oke." Sekali lagi Shaka meminta persetujuan pada Stefani.
Akhirnya dengan segala bujuk rayu yang dikeluarkan pria itu, Stefani mengangguk menyetujuinya.
"Lagian kenapa gue harus khawatir," ucapnya saat Shaka telah melajukan motornya.
Sirkuit ini milik Abi dan dia memiliki akses untuk ini karena Abi mengizinkannya.
Shaka melajukan motornya dengan kencang hingga Stefani yang melihatnya merasa ngilu.
Dia takut Shaka akan terjatuh atau apapun itu. Sepanjang Shaka bermain, Stefani hanya menggigit kuku jarinya untuk menghilangkan rasa gugup.
Beberapa menit Shaka bermain hingga akhirnya pria itu menepikan motornya tepat di hadapan Stefani.
"Gimana? Gak apa-apa, kan?" ucapnya dengan bangga.
"Iya. Udah ah ayo balik kampus!!" ajak Stefani.
"Kok jadi lo yang ngatur sih? Kan perjanjiannya lo iyain kemauan gue selama seminggu." Shaka kembali mengingatkan persetujuan yang mereka buat.
Stefani menghela nafas mengalah dan mengangguk.
"Gue punya dua tiket nonton buat nanti malam. Temenin ya."
__ADS_1