Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Eksekusi


__ADS_3

Hari ini adalah hari di mana mereka para anggota organisasi harus mengeksekusi kegiatan yang selama ini sudah mereka rencanakan.


Pekan Raya Kampus, menjadi salah satu acara besar yang mereka adakan. Cabang lomba yang akan dilaksanakan pada hari pertama ini adalah Basket dan menulis essay.


Mereka yang bertugas menjadi penanggung jawab mata lomba wajib datang ke lokasi sebelum acara di mulai.


Ara yang masih sibuk untuk mengontrol rasa kantuknya di pagi hari ini datang ke kampus.


“Aduh, gimana lagi car ague bikin lo sadar?!” ucap Stefani frustasi.


Melihat temannya yang mengantuk dan tak fokus dalam kegiatan mereka membuat Stefani bingung harus melakukan apa.


“Aduh Fan, kayanya gue gak bisa deh. Ngantuk banget,” ucap Ara.


Kegiatan kemarin dengan Abi membuat tenaganya terkuras hingga dia sangat kelelahan pagi ini.


“Ya udah ini mau gimana? Lo penanggung jawab Basket, masa gak hadir di sana sih?” tanya Stefani. Posisi mereka saat ini masih berada di secretariat.


“Lo gantiin gue dulu deh bentar di sana. Gue mau tidur dulu, nanti gue nyusul,” jawab Ara. Dia benar-benar tak bisa menahan rasa kantuknya.


“Ck, nyusahin aja lo jadi teman!” Walaupun berkata seperti itu, pada akhirnya Stefani tetap pergi dari sana untuk menggantikan Ara.


Kini, di secretariat hanya menyisakan Ara karena yang lainnya sudah menyebar untuk mengurus hal lain yang berkaitan dengan acara mereka.


Ara berbarin di sofa panjang yang ada di secretariat. Perlahan matanya memejam dan kesadarannya hilang.


Sementara itu, Abi baru saja datang. Sudah menjadi kebiasaan dan menjadi rahasia umum jika Abi selalu terlambat dan itu selalu menjadi maklum bagi semua orang.


“Loh, kenapa dia?” bisiknya saat melihat Ara berbaring di sofa.


“Sakit, kah?” Pria itu mendekat ke arah Ara dan menempelkan punggung tangannya di kening Ara untuk mengecek suhu tubuh gadis itu.


“Gak panas kok,” ucapnya sebelum kemudian seseorang membuka pintu secretariat.


Abi menoleh untuk melihat orang itu.


“Stt, dia lagi tidur bentar. Capek kayanya.” Gadis yang baru saja datang adalah Stefani. Ada beberapa berkas yang harus dia bawa, jadi dia kembali ke sana.


Abi yang mengerti dengan maksud dari perkataan Stefani hanya mengangguk.

__ADS_1


“Gue gantiin dia dulu di Basket.” Setelah mendapatkan anggukan dari Abi, Stefani keluar dari sana menuju lapangan Basket.


“Emangnya abis apa sih bisa sampai capek gini?” tanya Abi sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Ara.


Cukup lama dia memperhatikan wajah tidur Ara hingga akhirnya Ara merasa terganggu denga gerakan tangan Abi yang mengelus rambutnya.


“Hhhngg, kamu udah datang?” tanyanya saat dia melihat Abi ada di hadapannya.


“Udah. Kamu kenapa tidur di sini?” tanya Abi walaupun dia sudah tahu jawabannya dari Stefani tadi.


Sebelum menjawab, Ara bangun dari posisi tidurnya dan duduk dengan benar menghadap Abi yang berada di bawah.


“Ngantuk banget. Padahal aku gak tidur malam loh,” jawabnya. Abi berpindah untuk duduk di sofa di samping Ara.


“Kalau ngantuk, kenapa gak tidur dulu aja di rumah?” ucap Abi.


“Gak bisa. Stefani teriak-teriak terus dari luar katanya kalau telat bisa dihukum,” jawab Ara.


Abi yang mendengar itu hanya terkekeh. Dia memang mengatakan itu pada anggota-anggotanya, hanya saja itu sebuah ancaman. Dia tak mungkin menghukum temannya sendiri.


“Fani gantiin aku jadi penanggung jawab dulu kok. Nanti kalau aku udah sadar aku gantiin dia.” Ara terlebih dulu menjelaskan daripada Abi salah paham padanya.


“Iya, tadi aku udah ketemu sama Stefani kok, dan dia bilang itu juga.” Ara mengangguk leg ajika Stefani sudah mengatakan hal itu pada Abi.


“Tadinya sih mau langsung mantau, tapi kayanya ada hal yang lebih penting yang harus aku pantau,” godanya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Ara.


Ara yang salah tingkah akhirnya melayangkan pukulan ringan ke lengan Abi.


“Kok dipukul sih?” protes Abi.


“Udah ah, sana pergi! Aku juga kayanya mau langsung ke lapangan,” ucap Ara.


Dia membenarkan letak ikat rambutnya yang sedikit longgar karena dia tertidur tadi.


“Ya udah bareng aja, lagian aku juga mau ke sana kok,” ujar Abi. Ara mengangguk dan mulai mempersiapkan diri.


“Bentar aku cuci muka dulu.” Abi mengangguk dan menunggu kekasihnya selesai dengan urusannya.


“Yuk!” ajak Ara ketika dia sudah selesai.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua berjalan beriringan menuju lapangan Basket. 


Rupanya pertandingan sudah dimulai dan suara riuh penonton sangat mendominasi di sana hingga berbicara pun harus sangat keras.


**** 


“Dengan ucapan syukur, kegiatan kita buat hari pertama ini udah selesai ya. Semoga di hari kedua dan ketiga nanti tetap lancar kaya hari ini.” Abi memulai percakapan ketika semua anggotanya sudah berkumpul di sekretariat.


“Gimana? Ada yang mau disampaikan dari setiap penanggung jawab atau yang lainnya?” lanjutnya.


Mereka mengobrol dan mengevaluasi kegiatan hari ini dari hal yang kecil hingga kesalahan fatal yang beruntungnya hari ini masih bisa mereka handle.


Cukup banyak hal yang mereka bicarakan hingga memakan waktu kurang lebih satu jam. Hari mulai malam dan mereka semua sudah sangat kelelahan.


“Oke, makasih ya buat hari ini. Semoga kalian sehat-sehat!” Abi mengakhiri evaluasi mereka.


Semua bubar untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Yang tersisa di secretariat adalah Abi, Rangga dan Shaka. Mereka bertiga sepertinya sudah seperti penunggu tetap secretariat. Sementara Ara dan Stefani baru bersiap untuk segera pulang ke rumahnya.


“Kalian mau nginep di sini?” tanya Ara tak habis pikir.


“Iya. Besok kan masih harus datang pagi, kalau pulang aku gak bisa jamin buat datang tepat waktu,” jawab Abi.


Ara mengangguk. “Tenang aja, kita berdua yang bakal jagain pacar lo biar gak jelalatan,” timpal Shaka.


“Bukan gitu ih. Ya hari ini kan kalian abis cape, masa mau tidur di sini yang bahkan gak ada kasur.”


“Kita udah biasa tidur di mana aja. Yang penting bisa istirahat,” jawab Rangga.


“Ya udahlah terserah kalian aja. Kita pulang dulu,” pamit Ara.


“Kamu pulang berdua doang sama Fani? Gak dijemput?” tanya Abi.


Ara mengangguk begitupun Stefani. “Udah biasa juga kok.” Kali ini Stefani yang menjawab.


“Mau diantar gak?” tawar Rangga.


“Apaan lo?!! Kalaupun diantar, gue yang bakal antar pacar gue,” timpal Abi tak terima yang langsung dibalas oleh kekehan dari mereka semua.


“Apaan sih. Kita juga udah besar, gak usah diantar. Kita bisa sendiri kok,” jawab Ara.

__ADS_1


“Yakin?” Abi meyakinkan kekasihnya itu.


Ara mengangguk. “Kita pulang dulu ya.” Akhirnya mereka pulang untk beristirahat.


__ADS_2