Janji Manis Presiden Mahasiswa

Janji Manis Presiden Mahasiswa
Emosi Sesaat


__ADS_3

Mereka berdua tiba di rumah sakit. Suasana di sana masih sama seperti kemarin. Tak ada orang lain di sana selain Mami Rachel.


“Apa gue boleh masuk ke dalam ya?” tanya Ara ragu. Dia yakin jika Mami Rachel tak akan membiarkan dia menemui Rachel. Tapi dia ingin menemui temannya itu meski temannya itu sedang dalam keadaan tak sadarkan diri.


“Coba aja dulu. Siapa tahu dibolehin,” jawab Dion.


Ara mengangguk saat mendengar jawaban dari Dion. Dengan pelan, dia mendekati ruangan Rachel. Dia mengetuk pintu sepelan mungkin tapi dia pastikan Mami Rachel bisa mendengarnya.


Benar saja, wanita paruh baya itu menoleh ke arah pintu sebelum kemudian dia bangkit dan mendekat.


Pintu terbuka dan Mami Rachel keluar. “Ngapain lagi kamu di sini?” tanya Mami Rachel dengan sinis.


“Ara mau jenguk Rachel, Tan. Sekalian Ara mau minta maaf dan terima kasih buat semuanya.” Akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Ara.


“Mending kamu pergi dari sana. Saya sudah bilang, jangan lagi deketin Rachel. Anggap aja kalian gak saling kenal. Dengan adanya kamu di hidup dia, cuma bikin dia jadi sial!”


Ara tersentak dengan kepala yang menunduk dalam. Dion mengambil posisi, memasang badannya di depan Ara.


“Tan, maaf. Kita datang ke sini dengan niat baik. Bukan untuk cari masalah atau apapun,” ujar Dion.


“Saya gak butuh niat baik kalian. Yang saya mau kalian pergi dari sini dan jangan pernah balik lagi.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Mami Rachel kembali ke dalam dan menutup pintunya dengan rapat.


Ara terdiam menyaksikan semua itu. Sepertinya Mami Rachel memang benar-benar benci padanya.


“Pulang aja ya. Kita ke sini lagi besok. Mungkin Maminya Rachel masih butuh ruang buat menyendiri,” bujuk Dion yang hanya diangguki dengan pasrah oleh Ara.


Mereka akhirnya kembali keluar, ke mobil mereka yang masih terparkir dengan rapi.


“Maaf gue jadi ngerepotin lo,” ucap Ara menyesal. Jika saja dia tak mamaksa datang ke sana, mungkin Dion tak harus membuang waktunya selama itu.


“Gak apa-apa. Lagian gue juga gabut di rumah. Sekarang mau ke mana?” Dion mencoba menawari Ara untuk kembali menyegarkan pikirannya.


“Boleh antar gue ke kampus?” tanya Ara. Daripada dia pulang ke rumah dan dia hanya tiduran, lebih baik dia membantu teman-temannya di kampus.


“Yakin lo mau ke kampus? Tadi Bunda bilang lo lagi sakit,” ujar Dion.

__ADS_1


Ara memandang Dion seolah meledek. “Dih, sejak kapan lo manggil nyokap gue ‘Bunda’?” kekehnya.


“Diem ah!! Jadi sekarang mau pulang atau ke kampus?” Dion kembali membahas ha lain untuk mengalihkan pembicaraan mereka.


Ara akhirnya terdiam dan mencoba untuk tidak tertawa melihat sikap Dion yang seperti itu.


“Ke kampus aja.” Ara memutuskan untuk ke kampus.


Dion mengangguk dan langsung mengantar Ara ke kampus. Mungkin dia juga akan bermain di sekitar sana sebentar untuk menghilangkan rasa bosannya.


Sepanjang jalan, mereka hanya diam. Terdengar suara musik yang Dion putar di mobilnya. 


“Sekali lagi, sorry ya karena udah ngerepotin lo.” Ara kembali menyampaikan permintaan maafnya. 


“Santai aja.”


Mereka tiba di parkiran kampus. Kebetulan sekali tepat di depan mereka memarkirkan mobil, Stefani sedang mengangkat sebuah kotak yang entah apa isinya.


Di sana juga ada Abi yang membantu Stefani. 


Stefani yang mendengar teriakan itu langsung menoleh dan melambaikan sebelah tangannya pada Ara.


Tanpa Ara sadari jika Abi yang saat ini berdiri tepat di belakang Stefani mengeratkan pegangannya pada kotak yang dia pegang.


Rahangnya mengeras dengan wajah yang memerah. “Pegang dulu,” ucapnya yang langsung menyimpan kotak yang dia pegang di atas kotak milik Stefani.


Gadis itu hampir saja kehilangan keseimbangan jika dia tidak dengan cepat mengeratkan pegangannya.


“Dari mana kamu?” tanya Abi. Ketika Abi mendekat ke arah Ara, Stefani juga mengikuti pria itu walau dengan beban yang sangat berat di kedua tangannya.


“Dari rumah sakit,” jawab Ara jujur. 


Tanpa menggubris jawaban Ara, Abi menoleh kepada Dion dengan tajam. Ara yang mengerti dengan tatapan itu langsung menjelaskan apa yang terjadi.


“Tadinya mau berangkat sama Stefani, tapi dia kan ada kerjaan di sini,” ujar Ara.

__ADS_1


“Tadi gue juga minta lo buat temenin dia ke rumah sakit, tapi lo nolak.” Stefani berusaha membela dirinya karena yang dia katakan memang benar adanya.


“Dengan gue nolak, bukan berarti lo bisa minta bantuan sama dia!” sentaknya sambil menunjuk Dion.


“Santai Bro. Gue cuma nganter dia doang kok gak lebih.” Ada nada mengejek dalam ucapan Dion. Tak lupa pria itu juga menyeringai ketika mengatakan itu.


“Ikut aku!” Karena tak ingin kejadian waktu di kantin terulang lagi, akhirnya Abi lebih memilih untuk membawa Ara pergi dari sana menjauhi dua orang itu.


“Lagian lo kenapa bawa dia ke kampus segala sih?” protes Stefani saat Ara dan Abi sudah tak terlihat lagi.


“Lo gak bisa seenaknya nyalahin gue dong. Dia yang minta gue buat antar ke kampus, ya gue antar. Mana mungkin gue turunin dia di jalanan,” jawab Dion.


Stefani diam karena membenarkan apa yang diucapkan Dion. “Terus sekarang lo ngapain masih di sini?” tanya Stefani.


“Lah, Ara kan datang sama gue. Bukannyaa pulangnya juga harus sama gue?” 


“Gila lo! Udah mending sekarang lo pulang atau Abi bakal ngamuk lagi kaya waktu itu,” ucap Stefani.


Gadis itu hendak meninggalkan Dion sebelum kemudian langkahnya kembali terhenti karena dia baru mengingat sesuatu.


“Thank’s ya udah bantuin gue,” lanjutnya. “Nanti gue yang jelasin sama Abi, sekarang lo pulang aja. Ara nanti pulang sama gue.” Setelah itu barulah Stefani pergi dari sana.


“Kayanya bakal ada drama baru nih?” desis Dion. Pria itu pergi dari sana setelah membuat keadaan runyam. Sebenarnya itu ketidak sengajaan, tapi Dion sangat menyukainya.


Lain halnya dengan Dion yang memilih pulang seperti apa yang dikatakan Stefani, Ara saat ini sedang berusaha melepaskan cengkeraman Abi dari tangannya.


“Sakit, Bi,” ringisnya. Bagaimana tidak, Abi menggenggamnya dengan sangat erat.


Satu kali, dua kali Ara meminta Abi untuk melepaskannya tapi tidak sama sekali digubris oleh pria itu. Ara yang kehabisan kesabaran akhirnya menghentakan tangannya sekaligus hingga cengkeraman Abi terlepas dari tangannya.


“Sakit tau gak!” sentaknya. Ara memandang Abi dengan nyalang. Sementara yang dipandang juga membalasnya tak kalah tajam.


“Ngapain kamu pergi sama dia?” tanya Abi dengan dingin.


Ara merotasikan bola matanya. Rupanya otak Abi sangat lemot hingga pria itu tak bisa mencerna apa yang dia ucapkan beberapa saat lalu.

__ADS_1


__ADS_2