
“Kau ingin makan apa Safira?” Tanya Reffan lembut pada wanita di depannya.
Namun yang ditunggu jawabannya tak segera menjawab malah akhirnya menggelengkan kepala.
Reffan menghembuskan nafas kasar tampak kecewa dengan jawaban Safira, “Seperti yang saya pesan tadi.”
“Baik Pak.” Suara pelayan disertai bungkukan badannya mengiyakan pesanan Reffan.
“Safira, apa kau kesal padaku?”
Safira masih juga diam tak menjawab pertanyaan Reffan, namun dalam hatinya dia mengumpat, ”Ya jelaslah, kenapa masih bertanya.”
“Sejujurnya aku tidak suka ditolak olehmu, apalagi kau menghindar dariku. Kenapa kau dengan mudah ingin pergi begitu saja dariku, tanpa memberikan kesempatan untukku sama sekali? Berlakulah bijak Safira, kau tidak bisa begitu saja memutuskan pergi. Sekarang katakan apa kesalahanku padamu sehingga kau tak ingin memberiku kesempatan untuk membuktikan keseriusanku padamu?” Reffan menatap Safira berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan untuknya.
“Anda tidak salah Pak Reffan, saya yang salah karena terlambat menyadari seharusnya saya tidak ada di sini.” Ucapan Safira begitu tenang sangat berbanding terbalik dengan jantungnya yang berdebar sangat cepat bahkan Safira takut Reffan menyadari kegugupannya.
“Dan sekarang kau malah menyesali kedatanganmu kemari, kamu luar biasa Safira!” wajah Reffan sudah sangat kesal mendengar pengakuan Safira, Reffan tidak menyangka Safira sama sekali tidak senang dengan apa yang telah disiapkan untuknya.
“Pak Reffan, anda seharusnya mengerti jika tidak seharusnya anda berlaku seperti ini terhadap saya. Saya hanya orang biasa yang merasa nyaman dengan kehidupan saya. Lalu tiba-tiba anda mengatakan ingin menikahi saya. Maka saya harus berpikir bagaimana selain anda ingin mempermainkan saya. Saya mengerti anda terbiasa mendapatkan apa yang anda inginkan bahkan soal wanita, tapi tolong jangan saya. Hidup saya memang biasa saja Pak Reffan tapi saya sangat mensyukurinya.”
Reffan mengepalkan tangannya, Safira yang menyadarinya mulai takut kata-katanya menyinggung Reffan.
“Kau bahkan mengatakan sesuatu seolah kamu begitu mengerti kehidupanku Safira. Kamu pikir aku hanya akan mempermainkanmu. Kamu pikir aku laki-laki seperti itu...” Belum sempat Reffan melanjutkan kata-katanya seorang pelayan datang membawa makanan untuk Reffan dan Safira.
Tidak banyak makanan yang datang, Reffan sengaja hanya memesan makanan dalam porsi kecil dan tidak banyak pilihan karena dia yakin Safira sedang tidak nyaman makan bersamanya.
“Makanlah Safira, ini tidak banyak jadi seharusnya kau bisa menghabiskan tanpa alasan apapun.”
__ADS_1
Safira masih belum menyentuh apapun di atas meja, pandangannya beralih ke kolam renang.
Reffan membuang nafas kasar mendapati perintahnya tidak segera dilakukan oleh Safira.
“Cepat makan Safira, atau kau menungguku menyuapimu?” wajah Reffan berubah tersenyum nakal menatap Safira.
Spontan saja Safira yang wajahnya memerah karena malu menoleh ke kanan dan kiri takut ada yang mendengar ucapan Reffan, padahal meja mereka berada jauh dari meja yang lainnya. Tentu saja ini sengaja dilakukan oleh Reffan.
Reffan sudah bersiap memotong omelet milik Safira
“Jangan, aku bisa sendiri!" Safira terkejut Reffan benar-benar akan melakukan yang dia katakan.
Reffan tersenyum menikmati wajah Safira yang masih merah malu-malu. “Jika kamu tidak menghabiskan, saya dengan senang hati akan menyuapimu Safira.”
Mata Safira melotot sebal ke arah Reffan dengan pipi yang sedikit menggembung karena makanan di dalamnya dan jangan lupakan wajahnya yang masih memerah.
Safira sungguh tak nyaman menikmati makanan dengan tatapan Reffan yang tak mau lepas darinya. Kemarin malam adalah pertama kalinya dia makan hanya berdua dengan laki-laki dan sekarang dia mengulanginya lagi. Safira sungguh merasa berdosa telah melakukan ini apalagi tatapan Reffan yang terus fokus padanya.
Bagaimana aku bisa segera pergi dari sini, batin Safira. Dia benar-benar pria pemaksa dan aku berada di wilayah kekuasaannya sekarang. Aku tak ingin dia lebih gila lagi, ah, apa yang harus kulakukan.
Karena sedari tadi Safira sibuk dengan pikirannya sendiri tanpa sadar makanan yang di hadapan sudah berpindah ke perutnya. Dia benar-benar ingin segera pergi sekarang. Lepas dari tatapan manusia pemaksa seperti Reffan.
“Aku sudah selesai, sekarang aku harus segera pergi.” Sebuah pernyataan keluar dari mulut Safira.
“Sekarang, katakan kenapa kau mau pergi? Lebih tepatnya kenapa kau mau pergi dariku?”
“Pergi darimu? Apakah kata-kata itu tidak berlebihan, bahkan saya tidak pernah berada di sisi anda, seolah saya pernah menjadi milik anda!”
__ADS_1
Reffan tersenyum dengan jawaban Safira yang terlihat sangat kesal, entah kenapa Safira terlihat menggemaskan dengan mimik muka seperti itu.
“Ok, baiklah. Safira kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk dekat denganmu dan menikahimu?”
“Saya tidak mengenal anda dengan baik.”
“Saya Reffan Satriya Bagaskara pemilik hotel ini Safira.”
“Saya tidak ingin dekat dengan orang kaya seperti anda.”
“Kenapa?” wajah Reffan berubah serius karena ingin mendengar jawaban Safira.
“Pak Reffan bukankah anda orang kaya dan berkuasa yang bisa mendapatkan wanita yang anda inginkan lalu kenapa saya. Saya hanya orang biasa yang berharap hidup tenang dan jauh dari gemerlap kehidupan mewah anda.”
“Kenapa kamu? Karena aku menginginkan kamu Safira. Memangnya kamu pikir bagaimana kehidupanku?”
Safira tersenyum kesal mendengar jawaban Reffan, orang sepertinya, ah semua orang juga tahukan. Orang kaya sepertinya mana tahu hidup susah, apa yang mereka inginkan jelas mudah sekali terwujud. Barang-barang mewah sudah menjadi makanan sehari-hari. Wanita, harta dan kekuasaan bukankah itu selalu melekat seperti sebuah mantel yang terus mereka pakai. Dan tadi malam tanpa rasa bersalah dia mengatakan ingin menikahiku. Apakah dia menginginkan seorang wanita seperti menginginkan hidangan yang ingin dinikmatinya. Hidangan, ah kenapa sekarang aku yang ngeri sendiri.
“Pak Reffan, saya bukan seperti yang anda bayangkan. Saya yakin anda bisa mendapatkan wanita yang anda inginkan, tapi bukan saya. Tolong mengertilah.”
Tangan Reffan mengepal di atas meja. Safira yang melihatnya juga terkejut, mimiknya berubah ketakutan. “Ah, aku membuatnya marah, bagaimana ini?” pekiknya dalam hati.
“Pergi Safira, selagi kau bisa pergi!” Safira mematung tak bergeming.
“Pergi Safira!” Suara Reffan sudah meninggi matanya menatap tajam Safira.
Dengan cepat Safira berdiri dari tempat duduknya, “Maafkan saya.” Pelan suaranya seperti bergumam, Safira berpikir tetap harus minta maaf jika kata-katanya menyinggung orang di depannya walaupun dia berharap ini terakhir kalinya melihat wajah Reffan. Tubuhnya segera berbalik dan mengambil langkah seribu lari dari Reffan, hanya itu yang ada dalam benaknya sekarang.
__ADS_1