
"Ayolah mas... kita jalan-jalan ya!" Safira merengek ke suaminya yang pura-pura memejamkan matanya. Matanya terpejam tapi bibirnya menciumi wajah Safira yang didekapnya.
"Mas...." Safira belum menyerah untuk mengajak suaminya bangun dari ranjang.
"Ada apa sayang. Kan lebih enak begini, katanya gak suka bermesraan di luar ya udah kita di dalam kamar aja kan enak begini." Masih menciumi wajah istrinya.
"Masak di kamar seharian mas?" Sekarang bibir Safira mengerucut.
Reffan malah mengecup bibir manis Safira sambil ikut mengerucutkan bibirnya.
"Mau kemana sayang?" Tanya Reffan yang akhirnya ingin menuruti kemauan istrinya.
"Kemana aja. Asal sama mas Reffan." Jawab Safira dengan wajah menggemaskan.
"Ya sudah di kasur aja sama mas Reffan kesayangan." Reffan semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas ih..." Safira cemberut lagi.
"Ya sudah tentukan dulu mau kemana." Reffan mulai serius.
"Mas suka ke tempat yang bagaimana sih?" Safira bertanya karena belum tahu tempat yang disukai Reffan.
"Yang dingin dan gak ramai jadi bisa berduaan sama kamu." Reffan menjawab datar.
Safira sudah melirik tajam.
"Kamar ini sebenarnya sangat sempurna, dingin dan gak ramai. Enak banget peluk kamu." Reffan memposisikan Safira di bawahnya, menatapnya dengan nafas yang mulai memburu.
"Setelah ini baru kita pergi, kemanapun yang kamu mau. Ini masih terlalu pagi untuk jalan-jalan." Kecupan di bibir, beralih ke belakang telinga, leher dan semakin turun.
Pasrah, hanya itu yang bisa dilakukan Safira. Padahal rambutnya masih terasa lembab, sejenak sebelum solat subuh dia baru saja mandi dan sekarang waktu masih belum beranjak dari pukul enam pagi. Setelah merasakan manisnya bercinta, bagaimana suaminya tak ketagihan saat kulit tak berjarak ditambah lagi ada rindu yang menggebu.
.
Rencana jalan-jalan setelah melepas rindu yang tak kunjung usai malah berakhir tidur saling memeluk. Mereka baru keluar kamar pukul sepuluh lewat sepuluh menit setelah sebelumnya sarapan di kamar.
Angin laut menerpa wajah Safira yang membuka jendela di sampingnya. Sekarang mereka sudah berada di atas jembatan Suramadu, jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura. Sangat panjang 5.438 m sehingga memuaskan melewati jembatan yang gagah berdiri di selat Madura sambil merasakan hembusan angin laut dan menikmati panorama laut yang indah.
"Tutup jendelanya Safira, nanti kamu masuk angin." Reffan tersenyum melihat istrinya yang tak berhenti memandangi riak air di bawahnya.
__ADS_1
Safirapun menuruti perintah suaminya.
"Mas sudah pernah ke sini? Hafal jalannya?" Tanya Safira
"Sudah." Jawab Reffan singkat menoleh ke istrinya lalu kembali fokus pada jalan di depannya.
Mereka memutuskan untuk makan siang di bebek legendaris di pulau Madura. Sebenarnya sudah ada beberapa cabangnya di Surabaya. Namun mereka ingin jalan-jalan menyeberang jembatan terpanjang di Indonesia untuk saat ini.
.
Pukul dua belas siang mereka sudah selesai menikmati bebek goreng dengan sambal pencit dan minum air kelapa dari buahnya langsung.
"Mau kemana lagi?" Tanya Reffan menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Terserah mas Reffan mau kemana." Safira memandang lekat wajah suaminya. Bahagia sekali hatinya bisa kencan dengan suaminya setelah menikah, Reffan terus menggandeng tangannya saat berjalan jika tidak Reffan akan meletakkan tangan Safira agar melingkar di lengannya.
"Kalau gitu kita ke kamar aja ya." Ucap Reffan mengerlingkan matanya, tangan kanannya menoel hidung istrinya.
"Mas ih." Safira langsung kehilangan senyumnya.
"Lho katanya terserah. Kok protes?" Reffan menggoda istrinya.
"Ya sudah kita ke kamar plus-plus. Kamu pasti suka. Jangan bertanya ikut saja." Reffan sudah menunjukkan sifat pemaksanya.
Reffanpun mengajak Safira kembali melewati jembatan Suramadu yang terlihat lenggang. Solat Dhuhur di masjid yang pertama mereka jumpai saat tiba di Surabaya. Melanjutkan perjalanan menaiki tol ke arah Prigen, mobil berbelok dan masuk gapura yang bertuliskan Taman Safari 2. Berhenti tepat di depan lobbi hotel.
Selama perjalanan Safira tak berani bertanya, hanya bolak balik menatap wajah suaminya yang mengemudi di sampingnya.
"Mas, kita menginap di sini?" Safira berwajah panik. Sementara Reffan hanya tersenyum.
"Mas, kan gak bawa baju ganti." Safira masih panik melihat suaminya yang santai saja malah senyum-senyum. Reffan malah keluar mobil membuka bagasi dan mengeluarkan sebuah koper kemudian menyerahkan ke petugas yang menyambutnya saat turun.
Reffan membukakan pintu untuk Safira dengan senyum yang menjengkelkan. Reffan sudah menyiapkan semuanya. Memesan kamar dan membeli baju untuk Safira. Beberapa pakaian baru Safira sudah diletakkan di lemari hotel miliknya dan beberapa dimasukkan koper tentunya setelah di cuci.
Safira membuka pintu kaca balkon saat melihat beberapa hewan menarik perhatiannya. Kawanan zebra terlihat berkumpul dan beberapa jerapah asik menikmati makanannya.
"Suka? Ini kamar plus plusnya." Reffan menyusul istrinya dan memeluknya dari belakang.
"Suka banget. Kita seperti punya zoo di halaman rumah." Jawab Safira menggenggam tangan Reffan yang ada di perutnya. "Makasi mas."
__ADS_1
Akhir pekan yang sangat istimewa. Walaupun Safira dan Reffan tahu rindu mereka bukannya semakin terobati tetapi malah bertambah tak terhingga.
.
Malam berhias lampu-lampu cantik menemani makan malam mereka, walaupun pengunjung cukup ramai karena akhir pekan namun Safira dan Reffan merasa tak terganggu justru suasana menjadi semakin meriah ditambah beberapa anak kecil yang berlarian di taman rerumputan dengan lampu berjajar panjang menghiasinya.
Angin bertiup cukup kencang dengan hawa dingin yang terasa menerpa wajah dan tangan. Safira dan Reffan memilih makan malam dengan kuah hangat untuk menghangatkan badan. Seperti biasa Reffan akan menyuapi berbagai macam makanan sampai Safira memelas untuk berhenti karena sudah kenyang.
Setelah puas menikmati suasana malam, Reffan mengajak Safira kembali ke kamar.
"Anginnya kencang dan dingin, besok pagi kita jalan-jalan lagi." Reffan menggandeng tangan istrinya erat karena dirasakan tangan istrinya yang dingin.
Dari kamar meski malam tetap bisa menikmati kawanan jerapah dan zebra karena penerangan yang memadai di setiap area. Safira masih memandang ke bawah dari balik kaca.
"Apa jerapah lebih manarik dariku?" Reffan duduk di tepi ranjang memandangi istrinya yang langsung ke arah jendela kaca saat mereka masuk ke kamar.
Safira tersenyum membalikkan badan. Reffan berdiri dan berjalan ke arah istrinya kemudian merapatkan tirai agar tak ada cahaya yang keluar dan masuk.
Diraihnya tangan Safira digenggamnya dengan erat.
"Tanganmu dingin, aku hangatkan ya?" Ucapnya datar tapi mengandung makna mendalam.
"Mas pasti capekkan seharian nyetir? Mau aku pijitin." Safira bertanya dengan wajah polosnya.
"Wah tambah seru nih." Batin Reffan.
Degup jantung Safira sudah tidak terkontrol lagi saat Reffan sudah mengambil posisi tengkurap dengan melepas pakaian atasnya.
Sudah hampir satu bulan, namun Safira masih malu sendiri saat melihat tubuh suaminya.
"Cepat sayang! Capek banget pundak mas." Reffan sudah tak sabar menunggu Safira yang masih berdiri di samping ranjang.
"Duduk di atas mas, biar gak miring-miring mijatnya." Ujar Reffan dengan senyum tersembunyi.
Safira menurut, tangannya semakin dingin saat akan menyentuh pundak suaminya, perlahan dia mulai memijat. Tangan dingin Safira yang menyentuh pundak Reffan terasa bagai air yang menyejukkan bagi Reffan, dia terlihat menikmati pijatan istrinya di pundak dan punggungnya. Lima menit berjalan, Reffan membalikkan tubuhnya, Safira yang hampir jatuh dipegangnya.
"Mas..." Safira gugup berada di atas suaminya.
"Pijitin yang depan juga." Ujar Reffan dengan mata yang sudah siap menerkam. Tangannya mengarahkan tangan istrinya yang bergetar.
__ADS_1
Selanjutnya. Semutpun tak berani mengintip apa yang mereka lakukan saat di luar bintang-bintang berkilau menghiasi langit yang semakin kelam.