Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Keputusan yang Salah


__ADS_3

Reffan terpaku menatap wanita di depannya yang telah menggunakan gaun pengantin, tak banyak detail pada gaun pengantinnya namun justru membuat pemakainya terlihat sangat elegan.


"Lama ya perempuan dandan." Bukan kalimat pujian yang keluar dari mulut Reffan malah kalimat yang menunjukkan protes.


"Bukan dandan, tapi didandanin." Safira berusaha meralat perkataan Reffan.


Reffan tersenyum, sejatinya dia tak ingin ada banyak mata yang melihat Safira dengan penampilan seperti ini. Tapi ini adalah hari bersejarah untuk mereka, Reffan ingin mengenalkan pernikahan mereka kepada banyak orang.


Di dalam mobil tak ada kata yang menghiasi perjalanan mereka ke hotel. Hanya genggaman tangan yang tak sedetikpun lepas yang membersamai perjalanan mereka. Saat sudah sampai dan sopir keluar meninggalkan mereka berdua. Reffan meraih pinggang Safira membuat Safira berjingkat karena terkejut. Reffan berbicara di dekat telinga Safira.


"Kamu cantik sekali Safira. Semoga acara ini cepat selesai jadi kita bisa..." Reffan menggantung kata-katanya.


Safira yang awalnya tersenyum mendadak kaku mendengar kalimat Reffan, dia tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.


"Kenapa tegang sekali?" Reffan mengusap-ngusap tangan Safira. "Semoga acara ini cepat selesai jadi kita bisa segera istirahat dan makan." Reffan meneruskan kalimat yang digantungnya tadi, sambil tersenyum menikmati semburat rona di wajah Safira. Sepertinya membuat Safira tersipu malu akan menjadi rutinitas baru yang disukai Reffan. Reffan keluar dari mobil terlebih dahulu kemudian membukakan pintu untuk Safira. Mereka berjalan beriringan menuju ruang resepsi.


Tidak banyak undangan yang menghadiri resepsi di Surabaya. Sebagian besar adalah teman-teman Safira dan kenalan orangtua Safira, hanya sebagian kecil undangan Reffan dan keluarganya.


Saat di tengah acara Safira tiba-tiba berubah tidak nyaman dia membetulkan beberapa kali posisi duduknya.


"Kenapa Safira?"


Kecemasan Safira tertangkap Reffan.


"Eh gak papa pak."


"Kenapa masih panggil pak?" Reffan mendengus kesal.


"Ehm... panggil apa ya...?" Safira bertambah bingung.


"Panggil sayang."


"Apa?"


"Sayang Safira bukan apa."


"Aku kasih contoh, Sayang kamu lelah ya?" Ucap Reffan mudah sekali mengucapkannya sambil mengelus pipi Safira dengan punggung tangannya.


Safira tercekat. Dia malu sekali memanggil Reffan begitu.


"Gak mau?" Reffan menatap tajam Safira.


"Belum terbiasa. Jadi kerasa aneh."


"Kalau begitu cepat coba."


"Nanti saja. Malu kita lagi dilihatin banyak orang." Safira membuang muka mengedarkan pandangan ke para undangan.


"Sekarang Safira sayang."


"Sayang. Sudah."


"Kamu lucu banget Safira. Baiklah nanti aku akan melatihmu mengucapkannya dengan mesra."

__ADS_1


Reffan menggenggam tangan Safira seakan ingin mengatakan pada dunia. Ini adalah miliknya yang akan selalu dijaganya.


Saat acara sudah selesaipun Safira masih terlihat tidak nyaman. Dia bahkan mengajak Reffan untuk segera pulang.


"Kita nginep di sini?" Safira mengedarkan pandangan ke kamar hotel dengan dekorasi untuk pengantin baru.


"Sengaja tidak kukasih tahu biar surprise."


"Saya ke kamar mandi dulu." Safira buru-buru melangkahkan kakinya ke kamar mandi masih lengkap dengan baju pengantin dan segala atributnya. "Ah, benarkan! Bagaimana ini tidak bawa baju ganti dan tidak bawa pembalut." Safira mondar-mandir di depan kaca kamar mandi. "Bagaimana aku mengatakannya, aku kan malu."


Akhirnya Safira keluar kamar mandi setelah menyusun kata-kata yang akan diucapkannya pada Reffan.


"Tidak jadi mandi? Baju gantimu sudah ada di paper bag di dalam." Reffan tersenyum penuh makna. "Atau butuh bantuan?" Reffan sudah mendekat ke arah Safira.


"Pak, eh mas Reffan saya..." Kata-kata yang disusunnya tadi tiba-tiba ambyar begitu saja.


Reffan tersenyum mendengar Safira memanggilnya mas Reffan.


"Kenapa Safira?" Sekarang Reffan sudah berhadapan dengan Safira.


"Saya mau keluar sebentar. Beli sesuatu."


"Kamu butuh apa? Biar karyawanku yang belikan."


"Jangan pak saya malu. Saya sendiri saja"


"Memangnya kamu mau beli apa?" Netra Reffan menatap netra Safira yang terus menunduk.


"Pembalut."


Safira melirik ke Reffan melihat ekspresi wajah Reffan yang nampak frustasi.


"Saya beli dulu ya pak."


"Dengan pakaian seperti itu. Biar saya belikan."


"Jangan pak nanti bapak malu." Safira tidak sadar memanggil Reffan pak lagi.


"Tadi mas sekarang pak lagi." Reffan memandang tajam Safira.


"Maaf."


"Sudah biar saya belikan. Di dekat sini ada swalayan 24 jam. Butuh cepat kan? Sekarang kamu mandi saja dulu. Saya keluar sebentar." Reffan melangkah menuju pintu.


"Bapak tahu mau beli pembalut yang mana?" Tanya Safira malu-malu.


"Memang ada berapa macam?" Reffan mengerutkan dahinya


"Banyak."


"Ya udah kamu kirim fotonya saja."


Setelah Reffan pergi Safira masuk ke kamar mandi membersihkan seluruh tubuhnya. Sementara Reffan dengan wajah cemberut pergi ke swalayan di seberang hotelnya.

__ADS_1


"Begitu banyak hari kenapa harus hari ini dia datang bulan." Frustasi dia mengacak rambutnya saat sudah berada di depan etalase penuh dengan berbagai macam pembalut. Reffan meneliti satu persatu mencocokkan dengan gambar di ponselnya. "Safira butuh berapa ya?" Reffan menegakkan kembali tubuhnya yang tadi membungkuk. "Semuanya saja." Reffan meraih semua yang ada di etalase yang berjumlah tujuh buah. Saat membayarnya di kasir, mbak kasir sangat penasaran dengan banyaknya pembalut yang dibeli Reffan namun tak berani bertanya, rasa penasarannya terlupakan saat melihat wajah tampan Reffan.


"Vitamin A." Pekik mbak kasir di dalam hatinya sambil tersenyum manis untuk Reffan. Sementara Reffan tetap berwajah dingin.


Reffan mengetuk pintu kamar mandi. "Safira, sudah aku belikan." Pintu kamar mandi terbuka menampilkan gadis cantik dengan handuk mandi di atas lutut, rambutnya tertutup gulungan handuk juga.


"Terimakasih." Secepat kilat Safira menyambar bungkusan tas plastik dari tangan Reffan. Reffan yang bengong manatap Safira baru sadar setelah pintu kamar mandi tertutup lagi.


"Ya Allah, ini ujian yang sangat berat. Sudah halal tapi gak bisa disentuh. Sabar Reffan." Reffan mengelus dadanya sendiri.


Safira masih sibuk mengeringkan rambutnya, dia tersenyum sendiri saat melihat berapa banyak pembalut yang Reffan belikan tadi. Sekarang tangannya meraih paper bag di dekatnya.


"Kenapa harus baju seperti ini." Sebuah gaun satin berwarna merah dengan punggung terbuka dan beberapa bagian yang transparan. Namun seketika Safira tersenyum, bukankah aku aman malam ini, satu pekan ke depan." Safira memakainya lalu keluar dengan mengendap-ngendap. Bagaimanapun dia malu memakainya di depan laki-laki yang tadi pagi baru saja menjadi imamnya.


Reffan yang duduk di sofa meliriknya. Kemudian beranjak berdiri menghampiri Safira.


"Aku mandi dulu ya." matanya menatap nanar Safira yang memakai gaun malam pemberiannya. Safira hanya menunduk dan mengangguk.


Safira menunggu Reffan di tempat tidur dan menutupi hampir seluruh tubuhnya. Sepuluh menit kemudian Reffan sudah keluar kamar mandi dengan celana santai selutut dan dada yang belum memakai apa-apa.


"Astaghfirullah.." Safira spontan menutup wajahnya dari pemandangan indah di depannya. Jantungnya berdegup kencang mendapati suaminya sendiri menampakkan pahatan tubuhnya bagian atas.


Reffan tersenyum. Jiwa jahilnya memang sedang aktif. Dia ingin menggoda Safira, setidaknya malam ini dia ingin membuat Safira juga tidak tenang seperti dirinya. Dia ingin melihat wajah Safira yang terus merona.


"Sayang, tolong pakaian kaos ini. Aku ingin dipakaikan istriku." Goda Reffan.


Safira membuka kedua tangannya yang menutupi wajahnya tapi tubuhnya masih menegang belum mampu beranjak dari tempatnya bersandar.


Reffan tersenyum jahil dan semakin mendekati Safira kemudian menyodorkan kaos berwarna hitam miliknya.


Ragu Safira menerimanya kemudian menopang tubuhnya dengan lututnya dan memakaikan kaos Reffan. Netra mereka bertemu memancarkan rasa tersendiri yang sulit dimengerti. Reffan menginginkan Safira dan Safira ingin merasakan pelukan laki-laki di depannya.


Reffan langsung menyambar pinggang Safira, mengecupi bibir pinknya yang berubah menjadi ciuman penuh hasrat. Aroma tubuh Safira yang segar membuatnya hilang kendali.


"Ah, sial." Umpat Reffan di dalam hatinya menghentikan serangannya. Maksud hati menggoda Safira, justru dia sendiri yang tergoda. Wajahnya berubah cemberut menatap gadis miliknya yang menunduk malu. Malam ini adalah keputusan yang salah. Surprise malam pertama adalah pertama kalinya Reffan membuat keputusan yang salah. Sekarang dia hanya bisa menatap Safira yang memakai gaun yang dibelikannya.


"Aku membuatkan mas teh hangat tadi. Apa mas mau?" Safira berusaha mencairkan ketegangan.


"Iya, bawa kemari."


Safira berjalan mengambil teh yang sudah dibuatnya lalu kembali menghampiri Reffan yang sudah bersandar di tempat tidur dengan wajah yang sangat lucu menurut Safira. Seperti wajah anak kecil yang menginginkan sesuatu tapi tak dikabulkan oleh ibunya.


Reffan memberikan kembali cangkir yang sudah kosong ke Safira. Safira meletakkan kembali di meja. Seluruh gerakan Safira tak luput dari pandangan Reffan dan itu semakin membuatnya frustasi. Safira kembali mendekat ke tempat tidur, menatap kembali wajah frustasi milik Reffan yang sangat lucu menurut Safira. Safira menyadari malam ini sudah dipersipkan dengan sangat indah oleh Reffan untuk malam pertama mereka tetapi menjadi meleset dari rencananya karena kedatangan tamu rutin bulanannya.


"Mas, apa sebaiknya saya ganti baju saja?" Safira mengutarakan keinginannya karena tak tega melihat Reffan yang seperti tersiksa saat melihatnya.


"Tak ada baju lain Safira." Reffan berucap dingin.


Tak bisa ditahan lagi, tawa kecil Safira begitu saja lolos dari bibirnya. Reffan terkejut mendengar tawa Safira, hatinya menjadi sejuk melihatnya.


"Beraninya kamu tertawa Safira, lihat aku akan membuatmu tidak bisa bangun dari tempat tidur nanti."


Seketika tawa Safira lenyap. Reffan segera menarik tangan Safira membuatnya jatuh terlentang dan memenjarakan tubuh Safira di antara kedua lengannya.

__ADS_1


"Sudah tertawanya? Kenapa berhenti? Apa sekarang kamu takut sayang?" Reffan meneliti ekspresi wajah Safira yang memucat. "Aku akan menghukummu nanti karena menertawakanku." Reffan menempelkan dahinya di dahi Safira.


__ADS_2