Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Rindu yang Masih Ada


__ADS_3

Sejenak Bagas memandang Damar. Ragu meninggalkan temannya itu. Tapi saat Safira baru siuman pasti butuh minuman manis. Hanya sebentar saja pikirnya.


"Cepat Ira kasihan Safira." Bagas mengajak Ira mencari barang yang bisa digunakan segera untuk menyadarkan Safira.


"Iya, aku tanya di lobby mungkin mereka punya." Ira mengikuti langkah lebar Bagas.


Mereka menuju ke lift. Ira membuka aplikasi pesan kemudian menghubungi suami Safira.


R : Assalamu'alaikum sa..." Reffan menduga Safira yang menelponnya.


I : Wa'alaikumsalam. Saya Ira temannya Safira.. (Ira cepat memotong perkataan Reffan)


R: Ada apa dengan Safira? (Reffan langsung bertanya cepat)


I : Ehm.. Safira pingsan.


R : Sekarang dimana?


I : Di ruangan pelatihan


R : Saya segera ke sana terimakasih.

__ADS_1


Sambungan terputus.


Lift terbuka mereka berdua masuk ke dalam lift.


"Damar. Entahlah aku merasa aneh dengan sikap Damar pada Safira. Ada apa dengan Damar. Sebelum mutasi ke Yogyakarta bukankah Damar di Surabaya, dia bilang orang yang disukainya tak memberi kesempatan padanya dan sudah menikah dengan orang lain. Aih, apa orang itu Safira. Aku tak percaya pada Damar." Bagas kalut sendiri dengan perasaannya.


Lift terbuka. Ira sudah melangkah keluar.


.


Pria, makhluk ciptaan Allah yang tak suka direndahkan. Harga dirinya begitu tinggi, emosinya sering tersulut saat harga dirinya tergores. Saat dia merasa pantas untuk mendapatkan apa yang diinginkan tetapi tidak bisa meraihnya itu akan mencabik harga dirinya. Memang tak semua pria begitu, tapi kebanyakan dari mereka hatinya akan sakit menerima penolakan.


Damar adalah kebanyakan dari pria yang tak suka ditolak. Dia merasa pantas memiliki wanita yang diinginkannya. Tapi wanita yang sekarang sedang memejamkan matanya bahkan tak memberikan kesempatan untuk menunjukkan keseriusan kata-katanya.


"Safira aku mencintaimu. Aku tahu kamu tidak berpacaran, aku siap melamarmu kapanpun." Damar berdiri di samping Safira yang sedang menyaksikan keindahan sunrise dari Pananjakan di kawasan Bromo.


Safira terkejut. Dilihatnya Ira yang sedang asik memotret tak jauh dari tempatnya.


"Maaf... saya tidak bisa pak Damar." Safira panik saat Ira melihat ke arahnya.


"Kenapa? Kamu butuh waktu untuk berpikir? Berapa lama yang kamu butuhkan? Satu minggu dua minggu, aku bisa menunggu Safira." Damar masih belum menyerah.

__ADS_1


"Tidak pak Damar. Saya tidak bisa dengan anda. Maaf, sekali lagi saya mohon maaf." Safira meninggalkan Damar mendekat ke arah Ira yang juga berjalan mendekatinya tetapi langkahnya terhenti.


"Apa karena dia Safira?" Damar tiba-tiba sudah berada di antara Safira dan Ira. Telunjuknya mengarah ke Ira.


Safira dan Ira sama-sama mematung.


"Karena diakan kamu menolakku. Aku cinta kamu Safira bukan Ira. Tak bisakah kamu mengerti dan memberi kesempatan untukku. Kamu bahkan tidak berpikir terlebih dahulu untuk menjawab tidak. Secepat itu kamu menolakku." Damar menatap wajah Safira dengan marah.


Ira menangis, berbalik badan meninggalkan Damar dan Safira. Safira mengejar Ira, terus mengekorinya bahkan tak dihiraukannya Ira yang mengusir dan mendorong tubuhnya.


flashback off


Damar mengamati wajah pucat yang masih memejamkan matanya. Wajah cantiknya tetap mempesona saat pingsan sekalipun.


Wajah yang begitu ingin disentuhnya dulu bahkan saat ini masih tersisa rasa rindu yang terbungkus benci.


"Safira tak bisakah kau melihatku yang membawa niat baik untuk menikahimu. Bahkan setelah berbulan-bulan aku menetap di Yogyakarta kamu tak pernah membalas pesan atau mengangkat telpon dariku. Kamu malah menikah dengan orang lain." Damar bertumpu dengan lututnya bersimpuh di samping Safira yang berbaring di kursi.


Tangannya terulur menyentuh kelopak mata Safira mengusap lembut kemudian turun ke pipinya. Jantungnya memompa darah lebih cepat, Damar tak bisa menguasai dirinya sendiri setelah menyentuh pipi mulus Safira kini jemarinya menyentuh bibir pink yang tampak pucat. Hatinya tak bisa menolak pesona Safira, gadis yang membuatnya terpana sejak pertama kali melihatnya.


Wajah Damar semakin dekat dengan wajah Safira, dipandangnya bibir cantik yang terukir sempurna. Tangannya menyusuri hidung mancung di hadapannya turun kembali ke bibirnya. Deru dadanya semakin membuatnya ingin lebih dari sekedar menyentuhnya. Perlahan bibir Safira dibuatnya semakin tak berjarak, tangannya membingkai wajah ayu yang masih belum sadarkan diri.

__ADS_1


Bug!


__ADS_2