Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Kisah Berakhir


__ADS_3

Saat kau marah pada ibumu


Ingatlah saat dia merasakan sakit melahirkanmu


Saat kau kesal pada ibumu


Ingatlah dia berjaga untuk sekedar menyusuimu


Saat kau malu tentang ibumu


Ingatlah bagaimana dia tak pernah malu mengakuimu meskipun tingkahmu sudah membuatnya malu


Jikapun ibumu melakukan satu kesalahan


Ingatlah bahwa maafnya seluas samudera menghadapi kenakalan masa kecilmu


.


Reffan kembali mengguncang tubuh Safira, wajah pucat Safira membuatnya berteriak membuat gaduh ruang bersalin.


"Pak, tenang dulu." Perawat yang masih di ruangan itu mencoba menghentikan Reffan yang sudah seperti orang kehilangan akal.


Dokter yang tadi sudah keluar masuk kembali ke ruang bersalin.


"Bangun Safira!" Reffan masih terus memanggil nama istrinya.


"Pak Reffan tenang dulu. Bu Safira hanya pingsan." Ujar dokter setelah mengecek kondisi Safira.


"Apa dok?" Reffan baru tersadar. Dilihatnya dada Safira yang bergerak naik dan turun menandakan Safira masih bernafas.


"Bu Safira hanya pingsan saja pak. Sebentar lagi bangun." Dokter tersenyum


"Kenapa wajahnya pucat sekali?" Reffan terus memandangi wajah istrinya.


Bu Safira kelelahan dan kekurangan asupan. Beberapa jam menunggu persalinan ditambah proses melahirkan menguras energinya. Setelah makan dan minum jika sudah sadar nanti, kondisinya akan pulih.


"Istri saya benar tidak apa-apakan dok?" Reffan masih menyakinkan dirinya sendiri, rasa kuatir masih menyelimutinya.


"Benar pak. Setelah ini kami akan pindahkan ke ruang perawatan. Jika masih belum sadar kami akan memberikan cairan infus." Dokter memberikan arahan.


Reffan bernafas lega. Beberapa perawat datang untuk memindahkan Safira ke ruang perawatan.


Setelah dokter keluar.


"Kamu ini bikin mama jantungan aja!" Mama Raisa memukul pundak Reffan.


Reffan mengusap pundaknya. "Aduh ma!"


"Bikin orang panik aja! Harusnya kamu cek dulu. Malah teriak-teriak yang didahulukan." Mama Raisa memukul lengan Reffan lagi.


"Aku panik lah ma, Safira langsung gak sadar, wajahnya juga pucat. Pikiranku sudah kemana-mana." Reffan membela diri.


"Hiiihhh.." Mama Raisa mencubit pinggang Reffan.


"Aduh ma." Reffan mengusap-usap bekas cubitan mamanya.


"Rasain! Mama sudah mau pingsan tadi." Mama Raisa masih menghadiahi cubitan gemas di lengan anaknya.


Suara lirih Safira menghentikan aksi mama Raisa menganiaya putranya.


"Sayang!" Reffan langsung mendekat ke samping brankar. "Sudah bangun?"

__ADS_1


"Mas.." Suara Safira terdengar sangat pelan.


"Kamu minum dulu ya." Reffan membantu Safira minum susu dari sedotan. "Sekarang kamu makan dulu ya biar gak lemes."


Safira mengangguk, mengunyah setiap suapan dari suaminya.


"Mama keluar dulu ya sayang. Papa tadi nunggu di mushola." Sela Mama Raisa


"Iya ma." Jawab Reffan


"Nanti mama bawakan makanan biar kamu bisa berpikir jernih." Lirik mama Raisa tajam ke arah Reffan kemudian mendekat ke arah Reffan berbisik, " Safira punya hutang apa?"


"Mama buruan deh. Nanti papa kasihan nunggu mama kelamaan." Reffan mendorong tubuh mamanya keluar daripada urusannya jadi panjang.


Setelah ibu dan anak menjauh...


"Mama jangan bahas hutang Safira lagi karena ini hanya bisa dibayar khusus Safira padaku." Reffan mengerlingkan sebelah matanya pada mamanya.


Sejenak mama Raisa nampak berfikir baru menyadari maksud dari anaknya.


Sekarang mama Raisa yang tersenyum. "Terserah kamulah. Selamat berpuasa!" Mama Raisa sudah tertawa berlalu dari Reffan.


.


Menjelang pagi Safira beranjak ingin turun dari brankar. Reffan yang sedang duduk di samping Safira melihat ponselnya segera berdiri. Tadi Reffan melihat email laporan perusahaan dari Bayu.


"Mau kemana?" Reffan masih saja kuatir pada istrinya yang tadi pingsan.


"Aku mau mandi mas. Gak enak rasanya badanku." Safira sudah berdiri dengan Reffan yang menggenggam lengannya.


"Aku bantu." Reffan sudah hendak menuntun Safira.


"Gak usah mas aku bisa sendiri." Safira menghindari Reffan yang akan menuntunnya.


Setelah melahirkan tekanan darah Safira memang drop.


"Jangan mas!"


"Kenapa? Masih malu? Sudah ada anak kita lagipula bagian tubuhmu yang mana yang belum aku lihat?" Reffan mengangkat dagu Safira agar melihat wajahnya.


"Tubuhku sekarang jelek mas." Lirih sekali Safira berkata tapi Reffan masih dapat mendengarnya dengan jelas.


"Astaghfirullah sayang. Kok kamu bisa mikir ke situ sih? Aku sudah seperti orang gila saat kamu pingsan tadi. Aku yang sudah merusak tubuhmu." Reffan mengecup bibir Safira. "Jangan katakan itu lagi!"


Reffan sudah meraih tas berisi pakaian ganti Safira bersiap ke kamar mandi bersama istrinya.


"Mas..." Safira menahan langkahnya.


"Apalagi? Mau dimandiin gak? Atau sekalian mandi bareng?" Reffan gemas sendiri melihat Safira yang malu-malu.


"Masih ada darah yang keluar mas. Mas gak jijik?"


"Gak, mana mungkin aku begitu. Kamu kelamaan ah." Reffan sudah membopong istrinya masuk ke kamar mandi.


.


"Mas gak papa?" Reffan masih duduk mematung setelah membantu istrinya mandi. "Mas gak perlu ikut ke kamar mandi. Aku bisa sendiri, kalaupun pusing aku akan duduk." Sekarang Safira yang kuatir melihat suaminya.


Tadi Reffan terhuyung melihat darah yang masih keluar dari jalan lahir. Bukan karena jijik tetapi membayangkan apa yang dirasakan istrinya.


Reffan naik ke tempat tidur istrinya. Sudah memposisikan tubuhnya di samping istrinya membuat Safira sedikit bergeser.

__ADS_1


"Mas mau apa?" Safira langsung mode waspada ingatan tentang apa yang dilakukan Reffan dulu tiba-tiba muncul.


"Memangnya kamu minta diapain?" Reffan malah tersenyum nakal.


"Jangan aneh-aneh deh mas. Gak boleh!"


"Aku hanya ingin tidur memelukmu. Aku ngantuk." Reffan memejamkan matanya dengan tangan yang memeluk istrinya. "Terimakasih telah berkorban untukku dan anak kita. Tidurlah denganku kamu juga harus istirahat sebelum perawat mengantar bayi kita kemari."


Reffan memejamkan mata dengan pelukan yang semakin erat membuat Safira yang merasakan kehangatan dari suaminya ikut terlelap ke alam mimpi.


.


.


.


"Rafka tunggu..!"


Rafka langsung berlari keluar saat mobil berhenti padahal papanya masih belum menemukan tempat parkir yang kosong.


Rafka berlari kencang meninggalkan mobil orangtuanya.


"Hei. Jangan ganggu dia!" Rupanya tadi Rafka melihat seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun yang mengejar bola dikerjai beberapa anak laki-laki berusia sepuluh tahunan.


"Anak kecil jangan ikut campur." Ucap salah satu diantara mereka.


"Injak jari-jari kakinya. Putar genggaman tanganmu dan arahkan ke ulu hati." Suara mamanya terngiang di kepalanya.


"Auw..."


"Aduh.."


Dua orang anak yang tadi mengganggu sudah tersungkur ke belakang. Saat sudah akan berdiri dan membalas Rafka, kedua orangtua anak perempuan itu datang. Dan dari arah lain mamanya yang menggendong seorang balita juga datang.


"Mama Papa..." gadis kecil yang ditolong Rafka berlari memeluk orangtuanya. Diapun menceritakan kejadian tadi. Mereka bertiga sebenarnya sedang liburan ke Jakarta dan saat ini sedang jalan-jalan ke salah satu taman kotanya.


"Rafka, kamu gak papa? Jangan diulangi lagi! Mama kuatir melihat kamu tadi." Safira berlutut di depan putranya. "Mama mengajarimu bela diri untuk mempertahankan diri bukan untuk berkelahi."


"Dan mama juga bilang, kita harus membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Anak perempuan itu tadi diganggu sampai menangis." Rafka mencium adek perempuan dalam gendongan mamanya yang masih berusia empat tahun. Gadis kecil itupun tersenyum senang mendapatkan ciuman di pipi dari kakaknya.


"Safira!" Sepasang orangtua gadis kecil yang ditolong Rafka menghampirinya.


"Ira.. pak Bagas." Safira terkejut melihat siapa orangtua yang ditolong putranya tadi.


"Ah, ternyata anakmu yang menolong Zakia tadi." Bagas mengusap kepala Rafka.


"Terimakasih ya jagoan." Sekarang Bagas menepuk lembut pundak Rafka.


"Zakia, ayo bilang terimakasih sama abang Rafka." Ira menunduk berbisik pada anaknya.


"Telima kaci." Suara Zakia terdengar sangat imut.


"Sama-sama. Jangan pergi jauh-jauh sendiri ya! Kamu masih anak-anak bahaya!" Rafka berkata bijak.


Sementara ketiga orang dewasa hanya nyengir mendengarnya.


"Kamu juga masih berusia tujuh tahun Rafka tidak boleh pergi jauh dari mama dan papa." Reffan mengangkat tubuh Rafka tinggi-tinggi kemudian menurunkannya dan menggelitikinya. Membuat Rafka tertawa dalam pelukan papanya. "Papa akan menggelitikimu sepanjang hari jika kamu meninggalkan papa dan mama lagi."


.


.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2