
"Jangan ada yang datang ke pernikahan Safira kalau Safira gak ikut." Ujar Pak David saat Safira baru saja mengatakan tidak bisa ikut acara ulang tahunnya di tempat karaoke.
Hari ini Pak David berulang tahun, beliau mentraktir seluruh karyawan di divisinya untuk merayakannya di tempat karaoke, waktunya setelah jam kerja.
Safira tidak suka berada di tempat karaoke. Kalau boleh memilih dia lebih suka ditraktir makan di restauran daripada ditraktir di tempat karaoke. Safira bahkan lebih suka tidak ditaktir daripada harus menghabiskan waktu sampai malam di tempat karaoke. Tapi apa daya dia yang termasuk karyawan junior harus menghormati seniornya dan itulah yang terjadi sekarang.
"Sebentar aja Fir. Nanti walaupun belum selesai kamu pulang duluan aja yang penting kamu sudah datang." Ira sahabatnya membujuk Safira.
Dan di sini sekarang Safira dan teman-temannya berada, di sebuah ruang karaoke yang sudah di sewa khusus untuk mereka. Teman-temannya bergantian menyanyikan lagu-lagu kesukaan mereka. Ada yang berdiri di depan menjadi tontonan seolah ini adalah konser mereka. Sementara Safira memilih menjadi penonton yang setia bertepuk tangan dan menikmati kentang goreng di depannya sambil sesekali menyeruput minuman sodanya.
Di sebuah ruang dengan design interior maskulin. Reffan terlihat gelisah. Sejak tadi pekerjaan di hadapannya hanya disentuh namun tak kunjung selesai bahkan hingga waktu menunjukkan hampir pukul tujuh malam.
"Kenapa sedari tadi aku begini ya. Pekerjaanku jadi tidak selesai-selesai. Apa yang membuatku gelisah begini? Perasaanku tidak tenang." Reffan berusaha meneliti dan mencari penyebab kegelisahan hatinya.
Pintu diketuk mengalihkan perhatian Reffan.
"Masuk." Suara Reffan menyuruh orang di belakang pintu untuk masuk.
"Maaf Pak. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Bayu membuka suara, asistennya ini memberanikan masuk ke ruangan Reffan karena tidak biasanya Reffan lembur sampai malam.
"Ah ya Bayu. Sepertinya pekerjaan di hadapanku tidak selesai-selesai dari tadi. "
"Apa ada yang bapak pikirkan?" Bayu mencoba bertanya karena biasanya Reffan adalah orang yang cekatan saat menyelesaikan tugasnya.
"Mungkin, tapi aku juga tak tahu apa itu."
"Mungkin Pak Reffan sedang memikirkan pernikahan bapak yang tinggal beberapa hari lagi."
"Safira." Reffan seketika teringat Safira. Dia mengeluarkan ponselnya melacak keberadaan Safira. Matanya fokus menatap sebuah titik yang ditunjukkan oleh smartphonenya. "Apa yang dilakukannya di tempat itu?" Ada nada tidak suka keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Seketika perasaan yang sejak tadi tidak nyaman semakin menjadi-jadi.
"Bayu, kamu ikut saya ya."
"Baik Pak."
Di tempat karaoke setelah Safira solat magrib di tempat yang sempit berbanding terbalik dengan keadaan ruang yang menjadi tempat karaoke, Safira berniat akan pamit pada teman-temannya untuk pulang lebih dulu. Awalnya mereka keberatan jika ada yang pulang duluan. Sampai Pak David berbicara.
"Ya sudah gak papa. Calon pengantin gak boleh pulang malam-malam. Hati-hati ya Safira."
"Terimakasih Pak. Saya balik dulu."
Safira keluar dari ruangan sendirian, sahabatnya Ira juga masih melanjutkan acara dengan yang lainnya. Safira melangkah keluar melewati lampu sorot warna-warni dan musik yang membuat debar di jantungnya. Ada perasaan tak nyaman yang seketika menyusup di hatinya. Buru-buru ditepisnya dengan beristighfar.
Setelah melihat mobilnya di tempat parkir, Safira mempercepat langkah kakinya. Saat ini yang ada di pikirannya hanya secepatnya sampai rumah.
Mobil milik Safira sudah berada di jalan mencari jalan tercepat untuk pulang. Saat berbelok Safira merasakan mobilnya tidak seimbang.
Di mobil Reffan terus mengecek lokasi Safira.
"Safira sudah ke luar Bayu, sekarang dia di jalan. Kenapa dia berhenti? Belok kiri, di perempatan depan Bayu."
"Baik Pak."
Safira memutuskan untuk mengecek kondisi rodanya karena mungkin berbahaya jika melanjutkan mengemudi dengan kondisi roda yang parah. Safira terkejut saat melihat kondisi rodanya hampir bersamaan dengan detak jantungnya yang berlarian.
"Ini jelas disobek benda tajam. Astaghfirullah..."
Safira segera meraih handle pintu untuk masuk kembali ke mobil, tangannya sudah meraih handle pintu kemudi namun seseorang sudah menahan pintu agar tetap tertutup.
__ADS_1
"Mobilnya kenapa ning?" Suara laki-laki dengan rambut berantakan.
"Tidak papa pak, teman saya akan kemari."
Seseorang sudah berdiri di samping laki-laki yang tadi.
"Kenapa buru-buru. Temani abang di sini saja." Tangan lelaki dengan tubuh yang lebih besar sudah hendak akan menyentuh dagu Safira. Tapi ditepis Safira.
"Anda mau apa?"
"Kita main-main dulu yuk."
Safira hendak meraih handle pintu lagi tapi pria dengan tubuh besar hendak meraih tangannya. Safira menghindar.
"Anda jangan kurang ajar."
"Memangnya kenapa ning? Ning teriak juga gak akan ada yang peduli."
Safira sudah memasang mode waspada dan siaga. Memikirkan cara tercepat pergi dari tempat ini. Safira memang melengkapi diri dengan ilmu bela diri karate tapi Safira bukan petarung yang suka berkelahi. Dia hanya bertarung sebagai latihan saja. Jarang sekali dia bertarung melawan laki-laki kecuali senpai atau pelatihnya. Dan sekarang ada dua orang laki-laki yang menghalangi jalannya. Safira mengingat titik kelemahan yang akan mempercepat pelariannya.
Safira mengincar posisi ulu hati, tulang kering di kaki dan tengkuk lawannya. Tengkuk adalah pusat keseimbangan, lawan akan mudah roboh saat dia bisa mengenai bagian itu tapi pasti tidak mudah untuk mencapainya.
Dua laki-laki brandalan itu sudah mengambil langkah semakin dekat, Safira reflek memundurkan langkahnya. Laki-laki dengan rambut acak-acakan akan meraih lengan Safira, Safira memukul tangan kurang ajar itu dengan keras. Mendapati pukulan yang keras di tangannya membuat bajingan itu beringas, tangannya mengayun akan menampar wajah mulus Safira. Safira menghindar dan memukul tangan itu lagi.
Laki-laki dengan tubuh besar mencengkeram tangan kiri Safira, tangan Safira yang bebas mengayun berputar mengenai ulu hati brandalan itu. Dua brandalan itu marah karena mendapatkan perlawanan dari gadis di depannya. Mereka menyerang hampir bersamaan berusaha memegangi tangan Safira. Namun Safira lagi-lagi bisa melepaskan tangan memutar keadaan. Safira menendang kaki mereka dan menginjak yang lainnya dengan bagian hak sepatunya.
Brandalan bertubuh besar meringis sambil memegangi kakinya dia mengepalkan tangannya ke arah wajah Safira. Safira tak sepenuhnya bisa menghindar, pukulan itu mendarat di bahu kiri Safira. Safira menarik resleting roknya dari ujung bawah hingga lututnya agar bisa bergerak bebas, dia selalu memakai celana panjang berbahan kaos di dalam roknya.
Pukulan bertubi-tubi mengarah ke tubuh Safira, Safira mengelak dan berusaha mempertahankan diri. Tangannya sudah ngilu karena banyaknya menahan pukulan yang dilancarkan laki-laki dengan tubuh besar. Hingga ada satu kesempatan Safira menendang bagian ulu hati lawannya lalu melengkapi dengan pukulan ke sasaran yang sama. Saat pria itu menunduk merasakan nyeri di perutnya. Safira segera menyatukan kedua tangannya dan memukul tengkuknya dengan sekuat tenaga. Pria itu tersungkur di depan Safira.
__ADS_1
Safira kelelahan, dia mengatur nafasnya. Namun seketika terlonjak saat sebuah tangan menarik kain jilbabnya. Saat berusaha mempertahankan kain itu sudah terlepas dari kepalanya. Safira berjongkok di samping mobilnya berusaha menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Tubuhnya mendadak bergetar, matanya memanas.
"Ya Allah aku mohon lindungi aurat dan kehormatanku. Aku lebih memilih kehilangan nyawaku daripada melihat auratku terbuka di hadapan mereka."