
Safira mendongakkan kepalanya untuk mengetahui wajah laki-laki tinggi di sampingnya.
“Pak Reffan!” pekiknya. Safira tetap terkejut melihat laki-laki di sampingnya walaupun dia sudah menduga jika Reffan akan makan di tempat yang sama dengannya.
“Aku putuskan untuk pindah meja di sini saat melihatmu. Aku sudah pesankan juga hidangan penutup milikmu agar diantar bersama milikku ke sini.”
“Tapi saya sudah selesai.”
“Belum Safira, kau bahkan belum melihat hidangan penutupnya.”
“Saya sudah sangat kenyang sekarang.” Safira salah tingkah melihat Reffan sudah menarik kursi dan meletakkannya di sisi samping mejanya. Saat ini Reffan sudah duduk dengan tenang di kursinya, hanya nampak tenang karena sejatinya jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya sama seperti milik Safira yang membuat Safira tidak bisa menutupi kegugupannya.
“Saya tak mungkin menghabiskan punyamu juga Safira. Makanlah dulu, atau kamu mau saya kekenyangan dan tertidur di sini gara-gara menghabiskan makanan milikmu?” Safirapun tersenyum menahan tawa.
“Jangan pergi sayang!” harap Reffan di dalam hatinya.
Dua mangkuk puding dengan remahan coklat dan es krim vanila akhirnya hadir diantara Safira dan Reffan. Reffan sudah menyendokkan es krim ke mulutnya, sementara Safira masih tampak ragu untuk menikmati hidangan di depannya.
“Cobalah Safira, ini sangat enak.”
Melihat es krim di depannya, sungguh menggoda, sayang sekali jika es krimnya harus meleleh sebelum dinikmati. Safirapun tak tahan untuk tidak menyendokkan es krim ke mulutnya.
“Enak kan?” Tanya Reffan
“Iya.” Jawab Safira tanpa menoleh ke Reffan. Mata Safira hanya menatap ke makanan yang sedang dinikmatinya.
“Bagaimana kabarmu Safira? Senang sekali kita bisa bertemu lagi di sini.”
“Alhamdulillah. Saya baik Pak.”
“Safira, tolong dong jangan panggil saya pak!”
“Maaf, saya benar-benar tak ingat pernah bertemu anda dimana jadi panggilan pak menurut saya yang paling aman.”
__ADS_1
“Aman?!”
“Ya, saya rasa panggilan Pak yang paling sopan.”
“Ok, bagaimana... jika kita berkenalan sekarang. Semoga setelah ini kamu tidak memanggilku pak lagi.”
“Safira Nadhifa Almaira, perkenalkan saya Reffan Satriya Bagaskara usia saya masih 29 tahun. Perbedaan usia kita tidak terlalu jauh kan?”
Terkejut, Safira jelas terkejut laki-laki di depannya mengetahui nama lengkapnya, “Sebenarnya dimana kita pernah bertemu?”
“Ruang dan waktu yang berbeda pastinya.”
“Apalagi yang anda tahu tentang saya?”
Reffan tersenyum mendengar pertanyaan Safira, “Tak banyak Safira, kau pasti lebih banyak tahu tentang dirimu daripada aku. Kenapa kau malah menanyakan tentang dirimu? Kenapa tidak kau tanyakan tentang diriku saja?”
Safira jelas gugup mendengar pertanyaan dari Reffan, “Ah, apa yang ingin aku ketahui darinya. Aku terlalu penasaran dengan dirinya sehingga bingung harus bertanya apa.” Pekiknya dalam hati.
Reffan mendengus kesal mendapati Safira masih juga memanggilnya dengan sebutan pak.
“Suatu saat kau akan mengetahuinya Safira. Tapi tidak malam ini, karena akan banyak waktu nanti untuk kita bercerita.”
Safira mulai mencerna kata-kata Reffan, diapun menatap sepasang manik di sampingnya. Reffanpun sedang memandangnya. Tapi Safira buru-buru menunduk karena dia merasakan tubuhnya menegang saat menatap Reffan.
“Safira, kau percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini?” Tanya Reffan dengan pandangan yang terus melekat pada Safira.
“Tentu saja, tidak ada yang kebetulan bahkan dedaunan yang gugurpun atas seizin-Nya. Pun apa yang terjadi dalam kehidupan kita.” Safira menimpali.
“Juga pertemuan kita?” Reffan justru bertanya balik
“Iya!” Jawab Safira singkat
“Bagaimana menurutmu jika pertemuan kita kemarin adalah cara Tuhan untuk membuat kita hidup bersama suatu hari nanti? Jika pertemuan kita adalah cara Tuhan menyatukan kita apakah kamu akan memberiku kesempatan Safira?” Reffan masih melanjutkan kata-katanya,
__ADS_1
Safira jelas terkejut mendapati laki-laki di depannya mengatakan hal yang tidak dia duga. Bagaimana mungkin bahkan Safira baru tahu namanya beberapa hari yang lalu.
“Saya tidak pacaran Pak.”
Reffan tertawa kecil mendengar pengakuan Safira. Pengakuan yang sudah diketahui Reffan.
“Apa saya seperti sedang mencari pacar? Safira, saya ingin menikahimu bukan memacarimu!”
Mendengar pengakuan Reffan tentu saja membuat Safira sangat terkejut. Matanya mencari kebenaran di dalam mata Reffan. Tapi harapannya mendapatkan jawaban jika Reffan sedang bercanda tidak di dapatkannya. Reffan menatapnya sangat serius dan itu membuat Safira bingung harus melakukan apa. Tubuhnya membeku namun tidak dengan jantungnya yang bahkan terasa ingin melompat dari tempatnya.
“Safira...” Panggil Reffan, “Kamu mendengarku Safira?” Reffan berusaha menyadarkan Safira yang membeku di hadapannya
“Maaf Pak Reffan, saya harus kembali ke kamar saya. Ini sudah terlalu malam untuk saya. Permisi.”
Safira beranjak pergi meninggalkan Reffan yang sekarang gantian membeku. Reffan bingung karena tidak mendapatkan tanggapan dari Safira. Namun buru-buru dia tersadar dan segera bangkit mengikuti Safira.
Safira yang sudah masuk ke dalam lift terkejut saat Reffanpun ikut masuk bersamanya.
“Saya juga akan kembali ke kamar saya yang letaknya di sebelah kamar kamu.”
Safira hanya menunduk dan merutuki dirinya sendiri. Mengapa dia begitu berani menginap di hotel ini sendirian. Lihat apa yang terjadi sekarang, dia kembali berduaan dengan laki-laki asing di dalam lift. Laki-laki yang baru saja mengajaknya menikah beberapa menit yang lalu.
Ya Rabb, maafkan aku, tolong lindungi aku, aku sadar aku salah. Tak seharusnya aku di sini, seorang perempuan sendirian menginap di hotel. Maafkan aku Ya Allah, sungguh engkaulah yang Maha Tahu apa-apa yang tersembunyi yang tidak aku ketahui.
Pintu lift terbuka, Reffan melangkahkan kakinya diikuti Safira. Safira memberikan jarak agar tidak terlalu dekat di belakang Reffan. Tepat di depan pintu kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Safira, Reffan berhenti dan membalikkan tubuhnya menghadap Safira. Safira yang melihat Reffan menghadap ke arahnya ikut berhenti karena ingin memberikan jarak bagi mereka berdua.
“Kamu pasti terkejut dengan apa yang aku ucapkan tadi. Jika saat ini kamu ragu, kamu harus tahu seberapa yakin aku padamu. Dan aku akan membuatmu ikut yakin sepertiku. Jika aku gagal membuatmu yakin, kamu harus tahu Safira, aku tidak suka menunggu. Aku tidak akan buru-buru untuk meyakinkanmu tapi aku tidak akan menunda untuk segera memilikimu.”
Kalimat yang diucapkan Reffan membuat Safira merinding. Kalimat itu lebih mirip sebuah ancaman daripada rayuan. Reffan sendiri sudah masuk ke dalam kamarnya. Safirapun segera masuk ke kamarnya karena jujur saat ini ada sedikit ketakutan yang menyusup dalam hatinya.
“Apa-apaan dia, kenapa bisa mengatakan hal semacam itu padaku!” Safira kebingungan dengan apa yang harus dilakukannya. “Apa aku pergi sekarang? Tapi ini sudah malam, tak pantas rasanya seorang wanita keluar dari hotel selarut ini.”
Matanya menyusuri kamarnya dan berhenti di secarik kertas dengan tulisan RSB CEO, RSB apakah itu??
__ADS_1