Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Honey Moon 3


__ADS_3

Reffan tersenyum memandangi Safira yang tidur pulas. Matahari sudah hangat namun Safira masih tidur nyenyak di bawah selimut. Reffan teringat kembali malam panjang mereka, entah berapa kali mereka melakukannya Reffan benar-benar tak membiarkan Safira tertidur. Teriakan kecil yang lolos dari bibir Safira di dalam kamar mereka justru membuat Reffan semakin bergelora menyalurkan hasratnya. Bahkan setelah solat Subuh Reffan masih menyentuh Safira hingga istrinya lemas tak berdaya.


Ponsel Reffan di atas nakas bergetar, secepat kilat Reffan menyambarnya karena tak ingin mengganggu tidur Safira. Reffan keluar kamar menerima panggilan.


Saat Reffan kembali ke kamarnya Safira bangun dan bersandar di kepala ranjang.


"Ada telepon ya mas?" Tanya Safira dengan suara seraknya. Matanya masih mengerjap-ngerjap berusaha mengusir rasa berat yang menggantung di kelopak matanya. Sebenarnya dia terbangun karena getar ponsel, namun berat sekali membuka mata tapi setelah Reffan kembali, Safira ingin bangun juga.


"Iya mama yang telepon menanyakan kabar kamu dan memberi tahu persiapan resepsi kita di Jakarta." Mata Reffan terus menatap pemandangan di depannya. Rambut Safira yang acak-acakan, bahu yang terbuka karena Safira menjepit selimut di kedua ketiaknya. Saking lelahnya Safira tak kuat untuk mandi dulu atau hanya sekedar memakai bajunya. Reffan membiarkannya karena diapun suka Safira tidur hanya berbalut selimut. Bagi Reffan wajah polos Safira dan rambutnya yang acak-acakan ditambah bahu putih yang terpampang jelas sungguh sangat menggemaskan dan menggoda.


Reffan mendekati Safira. Safira yang menyadari mata tajam elang menatapnya tak berkedip membetulkan selimutnya sampai ke leher dan hampir membelitnya hanya menyisakan wajahnya.


Reffan tersenyum melihat ulah istrinya.


"Kenapa sekarang ditutupi? tadi sengaja menggoda kan?"


Safira menggeleng dengan cepat. Dia takut sekali merasakan wajah Reffan yang sangat dekat di wajahnya.


"Suka hukumannya?" Netra Reffan terus menikmati detail ukiran indah pada wajah Safira.


Safira semakin tertunduk dengan wajah merona menghindari tatapan Reffan. Rasanya untuk menelan ludah saja sulit dengan jarak yang sangat dekat dengan Reffan. Tangan Reffan meraih selimut Safira.


"Mas jangan!" Safira keceplosan karena takut.


Reffan semakin menggoda Safira menciumi leher indah di depannya. Tubuh tegang Safira semakin membuatnya bergelora.


"Sakit mas." Suara lirih Safira menghentikan aksi Reffan.


Safira memang merasakan tubuhnya nyeri apalagi di area pribadinya. Reffan benar-benar menikmati tubuh Safira menyisakan rasa perih di beberapa bagian tubuh mulusnya.


"Mana yang sakit?" Reffan menarik selimut yang membelit tubuh Safira. Safira menahannya membuat mereka tarik menarik selimut.


"Jangan mas." Safira merengek.


"Apalagi yang kamu tutupin, semuanya sudah saya nikmati. Lepas atau mau dihukum lagi yang lebih enak." Reffan menarik selimut yang sudah tidak ditahan lagi oleh Safira.

__ADS_1


Safira meringkuk menutupi tubuhnya. Reffan langsung menggendongnya ke kamar mandi.


"Lain kali jika pergi lagi hukumannya sehari semalam dua puluh empat jam." Reffan berbisik di telinga Safira yang sudah membeku tak bergerak.


Safira duduk bersandar di sofa, Reffan menyuapi Safira sarapan mereka yang sudah sangat kesiangan jam sepuluh pagi. Safira tak banyak bergerak pasrah menerima suapan dari Reffan. Tubuhnya terasa tak nyaman apalagi saat digerakkan.


Sampai makanan untuk mereka berdua habis tak tersisa, Safira tidak protes sedikitpun.


"Nurut sekali." Ucap Reffan mengacak rambut Safira yang masih terasa lembab. "Terimakasih menemaniku berbuka puasa yang sangat nikmat." Reffan mengecup kening Safira.


"Sekarang pasti mas kekenyangan." Celetuk Safira.


Reffan tertawa mendengar perkataan Safira. "Gak ada istilah kekenyangan kalau untuk yang itu, pengennya nambah terus."


"Mas iiihh.." Safira merasa salah ucap tadi. Bisa-bisa suaminya mulai lagi.


Tangan Reffan memeluk pinggang Safira. Tentu saja membuat Safira menegang.


"Istirahatlah. Aku tidak akan mengganggumu." Ucap Reffan lalu menggedong Safira ke ranjang menyelimutinya sebatas pinggang.


"Eh, kita mau balik sekarang ya?" Safira langsung terduduk.


"Kalau masih mau di sini juga gak papa?" Reffan tersenyum nakal.


"Cutiku sudah habis mas." Jawab Safira pelan berusaha menangkap ekspresi wajah Reffan.


Dan benar saja Reffan menampakkan wajah kecewanya tapi kemudian memaksakan senyum tersungging di wajah tampannya.


"Apa tidak sebaiknya kamu izin dulu. Kakimu baru saja terkilir kemarin?" Ucap Reffan.


"Sudah baik-baik saja mas, tidak sakit lagi." jawab Safira.


"Kalau bagian yang lain masih sakit gak?" Tanya Reffan dengan wajah serius namun tatapan mata yang tajam fokus pada target incarannya.


Safira terdiam mencerna pertanyaan Reffan namun setelah menyadari maksud pertanyaan Reffan tangannya secara refleks menaikkan dan memeluk selimut dengan erat.

__ADS_1


Reffan tersenyum mendapati ekspresi wajah istrinya yang merona. Dia segera bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Safira.


"Kamu semakin menggoda jika wajahmu begitu." Reffan sudah duduk di samping Safira, tangan kirinya meraih dagu Safira sementara ibujari tangan kanannya mengusap pipi Safira yang merona lalu turun ke bibir Safira yang sedikit bengkak karena ulahnya. "Masih sakit gak?" Reffan bertanya dengan jarak yang sangat dekat di telinga Safira. Safira terdiam tak sanggup menjawab pertanyaan Reffan karena hembusan nafas Reffan di belakang telinganya membuatnya membeku.


"Kenapa diam saja? itu artinya aku harus mencari jawaban dengan cara lain." Reffan menghujani leher dan bibir Safira dengan kecupan panjang. Tangannya sudah menyingkirkan selimut yang menjadi benteng pertahanan Safira.


"Mas, aku belum solat Dhuhur. Jam berapa sekarang?" Suara Safira akhirnya keluar juga saat Reffan berusaha melepas pakaian Safira.


"Sebentar saja." Jawab Reffan, tangannya bergerak cepat menyingkirkan kain yang menutupi tubuh istrinya.


Diusapnya kepala Safira yang bersandar di bahunya. Wajah cantiknya nampak lelah dengan mata terpejam. Namun bagaimana lagi, Reffan sudah kecanduan dengan tubuh istrinya apapun yang dilakukan Safira seolah memancingnya untuk bercinta.


"Kita langsung pulang ke hotel pak?" tanya Bayu di kursi kemudi mengagetkan Reffan yang sedang membelai wajah istrinya.


"Tentu saja, mau kemana lagi?" Jawab Reffan kesal.


"Ya barangkali Pak Reffan mau ganti penginapan yang lain lagi." Bayu menjawab sambil tersenyum kecil.


"Tidak usah memancing saya, jika saya berubah pikiran kamu yang tanggung jawab."


"Memang kenapa pak?"


"Safira besok sudah kerja lagi."


"Saya pikir Pak Reffan akan menyuruh Bu Safira berhenti bekerja."


"Saya tidak mau menyuruhnya apalagi memaksanya, saya mau dia melakukannya sendiri."


"Wah LDRan dong Pak, Pak Reffan kan harus mengurusi hotel bapak dimana-mana terutama yang di Jakarta. Kuat pak?" Bayu tersenyum namun ditangkap Reffan sebagai senyuman ejekan.


"Diam kamu. Belum ngerasain aja pake nyindir segala. Sana nikah dulu baru komentar." Reffan menjawab pertanyaan Bayu dengan kesal.


Bayu tertawa miris, jiwa singlenya tergelitik disindir bosnya.


"Saya kan bilang tidak akan memaksanya keluar dari pekerjaannya tapi saya yakin tidak butuh waktu lama untuk membuat Safira mundur sendiri." Reffan tersenyum kemudian mengecup puncak kepala Safira.

__ADS_1


__ADS_2