Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Terbongkar


__ADS_3

Safira masih membelalakkan matanya menatap secarik kertas di hadapannya. Apa ini sebuah kebetulan, tapi.... RSB Reffan Satriya Bagaskara mungkinkan dia CEO hotel ini? Dengan cepat Safira mengambil ponselnya dari tas, jarinya dengan lincah mengetikkan sesuatu di layar pipih miliknya. Dan bibir pinknya terbuka menandakan dia sangat terkejut mendapati fakta sesuai dengan pemikirannya. Zaman yang serba canggih saat ini membuat kita mudah mengetahui sesuatu hanya bermodal ponsel canggih dan internet. Ini yang baru saja Safira lakukan untuk mengetahui CEO dari hotel tempatnya menginap.


“Ah, pantas saja aku mendapatkan semua ini, Reffan yang menyiapkan semua ini, dia menjebakku!”


Safira menatap lampu-lampu kota yang sangat indah dari jendela kamarnya, berbanding terbalik dengan hatinya yang sedang kacau. Dia kembali mengingat alasannya untuk menginap di hotel ini. Safira sudah menolak untuk menerima voucher yang diberikan kepadanya tapi wanita di depannya memaksanya dan mengatakan jika Safira tidak menerimanya dia akan dipecat. Safira sungguh tak ingin gara-gara dirinya seseorang kehilangan pekerjaannya. Tapi lihatlah sekarang rasa kasihannya membuat dirinya berada di wilayah kekuasaan Reffan.


“Aku harus segera pergi dari sini, besok pagi-pagi sekali aku akan pergi. Jika malam ini aku memaksa pergi, ini akan membuat karyawannya curiga dan malah menghubungi Reffan. Aku harus siap-siap sekarang.”


Safira ingin memejamkan mata sebentar namun gagal, karena saat ini dia benar-benar cemas dan pikirannya sudah melalang buana kemana-mana. Ya pikirannya telah dipenuhi tentang Reffan dan itu membuatnya tak mampu terlelap. Hingga dini hari Safira masih terjaga dan akhirnya dia beranjak dari kasur empuknya melangkahkan kakinya ke kamar mandi, satu menit kemudian Safira telah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah. Digelarnya sajadahnya dan dipakainya mukenanya, Safira memilih untuk solat malam menenangkan dirinya dan memohon perlindungan kepada Rabbnya. Baru saja tangannya mengusap wajahnya selesai berdo’a rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya. Safirapun tertidur di atas sajadahnya dengan posisi meringkuk dan mukena yang masih melekat di tubuhnya.


Dua jam lebih Safira tertidur, pukul empat Safira terbangun karena merasakan hawa dingin yang menusuk tulangnya. Ah, tentu saja Safira hanya beralaskan sajadah di dalam ruangan ber-AC. Safira terbangun dan merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Sekilas dia meraih ponselnya untuk melihat jam di sana, kemudian langkahnya berakhir di depan meja meraih botol air mineral dan membukanya lalu menuang ke sebuah teko berbahan stainless di depannya, Safira saat ini sedang membuat teh untuk dirinya demi menetralisir tubuhnya yang kedinginan. Tak butuh waktu lama untuk membuatnya dan secangkir teh dengan asap mengepul telah siap dihadapannya. Safira lalu beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu karena tehnya masih telalu panas untuk dinikmati. Setelah solat subuh, dia kembali mendatangi tehnya, dinikmatinya pelan-pelan teh hangat ditangannya sambil mengalirkan ke hangatan dari cangkir ke tangannya. Lalu dia teringat sesuatu, cake yang belum disentuhnya, diapun berdiri untuk mengambilnya dan kembali lagi ke tempat semula untuk menikmati makanan dan minuman hangatnya yang belum habis. Safira tidak suka menyisakan apalagi membuang makanan, mubazir adalah sesuatu yang dibencinya. Saat ini makanan dan minumannya telah telah berpindah ke perutnya, dirasakannya tubuhnya sudah lebih normal.


Sebelum pukul setengah enam Safira berencana untuk meninggalkan kamarnya, dia akan beralasan ada agenda di pagi ini pada front office jika mereka bertanya saat checkout. Reffanpun mungkin masih tertidur saat ini. Safira mengedarkan pandangan ke kamar yang akan ditinggalkannya, dia memastikan tidak ada barangnya yang tertinggal karena dia tak mau kembali ke ruangan ini dan hotel ini. Diraihnya hijabnya dan dipakainya di depan cermin, wajahnya polos tanpa make up sedikitpun tapi tak mengurangi kecantikan yang melekat pada dirinya. Diraihnya tas besar dan dilangkahkan kakinya ke pintu, Safira sudah meraih gagang pintu dan saat ini pintu sudah terbuka menampilkan tubuh gagah seorang laki-laki.


“Astaghfirulloh..” pekik Safira, yang mendapati Reffan sudah berdiri di depannya. Reffan justru tersenyum mendapati Safira yang terkejut melihatnya.

__ADS_1


“Mau kemana Safira, kau tidak akan melewatkan sarapanmu kan? Kau bahkan belum mandi!” ucap Reffan dengan pandangan tajam ke arah Safira.


Safira melebarkan matanya ke arah Reffan, dia tak menyangka Reffan mengatakannya. Safira memang masih memakai pakaian tadi malam, namun tak seharusnya Reffan mengatakan jika dia belum mandi, itu terdengar sensitif diucapkan seorang pria kepada seorang wanita.


“Kamu terkejut aku mengetahui rencanamu Safira?” ucap Reffan yang masih menatap lekat Safira.


Safira hanya diam, tanpa merasa perlu menjawab pertanyaan Reffan.


“Setidaknya kamu perlu sarapan sebelum pergi Safira.” Merasa tak mendapat tanggapan dari Safira, Reffanpun tak menyerah begitu saja.


“Tidak sebelum kamu sarapan terlebih dahulu.”


“Anda tidak bisa mengatur kehidupan saya Pak Reffan, bahkan jika Anda adalah pemilik hotel ini!” suara Safira meninggi mendengar Reffan yang tak kunjung membiarkannya pergi.


Reffan tersenyum melihat gadis di depanny marah padanya, bahkan saat marahpun Safira justru menggemaskan dan membuat Reffan membayangkan memeluk gadis itu saat marah dan mendapatkan penolakan darinya serta pukulan-pukulan yang akan mempererat pelukan Reffan padanya. Hanya angan-angan Reffan tentu saja.

__ADS_1


“Jadi kau sudah tahu, baguslah kalau begitu. Kamu harus tahu Safira, aku tidak mau tamuku ini pergi dari tempatku dengan perut kosong. Jadi sekarang letakkan kembali tasmu di dalam kamar dan ikut aku untuk sarapan.”


“Pak Reffan yang terhormat, saya sudah katakankan saya ada rencana pagi ini, saya harus segera pergi.” Safira menekankan beberapa kata dalam ucapannya berharap laki-laki di depannya segera membiarkannya pergi.


“Rencana apa Safira? Rencana untuk segera pergi dari tempat ini? Anggap saja rencanamu sudah gagal, dan mana yang kau pilih sarapan di restauran sekarang atau sarapan berdua denganku di kamar? Aku bisa menyuruh mereka membawa makanan kemari jika kau tak mau turun ke restauran.”


Safira menelan ludahnya mendengar kata-kata Reffan, Reffan benar-benar seorang pemaksa dan ini kesalahannya yang membuatnya harus terjebak di sini.


“Baiklah aku akan menyuruh mereka mengantar sarapan ke kamar, kamarmu... kita akan sarapan di kamarmu.” Reffan sudah meraih ponsel dari saku celananya.


“Tidak, aku tidak mau!” Safira buru-buru membantah ucapan Reffan


“Kalau begitu cepat letakkan tasmu dan ikut denganku.” Sekarang ucapan Reffan lebih mirip kalimat perintah yang tidak ingin dibantah.


Safira bukannya tidak ingin untuk menolaknya, tapi dia tahu saat ini apapun yang dilakukannya hanya akan sia-sia, dia justru tak ingin semakin terdesak dan semakin sulit melepaskan diri dari Reffan. Diapun terpaksa menurut dan meletakkan kembali tasnya di dalam kamar lalu menutup pintu dari luar.

__ADS_1


Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Reffan maupun Safira, Safira hanya mengekori Reffan yang membawanya ke sebuah meja di kawasan taman, dari tempatnya saat ini mereka bisa melihat beberapa orang yang menikmati kolam renang yang cukup luas. Pandangan Safira segera beralih saat seorang pelayan datang membawakan dua gelas minuman jus untuk mereka.


__ADS_2