
"Ada apa Safira? Ada sesuatu di kuemu?" Suara Bagas menyadarkan Safira jika Bagas masih ada di dekatnya memperhatikannya sejak tadi.
"Tidak Pak. Tidak ada apa-apa." Safira cepat menjawab agar Bagas tidak semakin curiga.
"Baiklah, aku balik ke mejaku ya." Bagas akhirnya melangkah menjauh tapi pikirannya masih menaruh curiga pada ekspresi Safira yang terkejut saat membuka kotak kuenya. Pasti ada sesuatu pikirnya tapi percuma mendesak Safira karena Safira pasti tidak akan mengatakan pada dirinya. "Apapun itu semoga kau baik-baik saja Safira." Harap Bagas di dalam hatinya.
Safira tidak menyentuh lagi kotak kuenya, dia meminggirkan kotak kuenya ke tepi meja membiarkan begitu saja, menepis semua pikiran yang merusak kebahagiaannya hari ini.
Mungkinkah kue itu salah masuk kotak. Apa aku perlu menanyakannya pada pak Fairuz. Tapi aku tak sanggup memikirkan jika jawaban pak Fairuz tidak seperti keinginanku. Lupakan! Safira memilih melupakan kue yang dilihatnya tadi, bersikap seolah tak ada sesuatu yang aneh pagi ini. Safira berusaha memenuhi otaknya dengan kedatangan suaminya hari ini, memenuhi pikirannya dengan kebahagiaan. Hari ini dia akan bertemu suaminya dan tak ingin ada masalah lain yang mengganggunya.
.
Ponselnya bergetar pukul satu siang. Safira segera mengangkatnya setelah melihat nama yang muncul di layarnya.
Assalamu'alaikum mas.
Wa'alaikumsalam sayang. Sayang, nanti pulang kerja langsung ke hotel ya. Nanti kamu ikutin saja semua yang karyawanku siapkan.
Mas sampai di sini jam berapa? aku kan mau jemput mas.
Tak perlu, ada sopir hotel yang menjemputku. Tugasmu hanya langsung ke hotel sepulang kerja. Dilarang mampir kemanapun!
Mas..
Tidak menerima interupsi.
Mas ih.
Sudah ya sayang. Sampai jumpa nanti. I miss you... Assalamu'alaikum..
Wa'alaikumsalam..
Tuutt*..
Sudah diputus... namun senyum merekah di bibir Safira. Tinggal beberapa jam lagi, Reffan akan ada di depannya. Sungguh dia sangat rindu berada di pelukan suaminya.
"Ah, aku benar-benar kasmaran." Cicitnya dalam hati.
Reffan Satriya Bagaskara, laki-laki yang telah berhasil memporak-porandakan pertahanannya. Laki-laki pemaksa yang tak ingin dibantah. Dan entah bagaimana Safira selalu kehilangan kata-kata dan kalah telak saat berhadapan dengannya. Kapan Safira mulai jatuh cinta? Entah! Safira sendiri tak tahu kapan mulai dia jatuh cinta. Sejak awal pertemuan mereka, Safira sudah tak bisa mengkondisikan irama jantungnya yang berdebar hebat. Logikanya luruh saat ada di hadapan Reffan. Dia ingat bagaimana sakit hatinya melihat foto Reffan dengan wanita lain. Padahal dia bukan orang yang mudah percaya pada suatu berita. Tapi tentang Reffan bahkan Safira tak bisa menahan kakinya untuk menunggu penjelasan Reffan, hatinya terlalu sakit dan tak bisa menerima ada perempuan lain di dekat Reffan. Kaki yang ingin bertahan tak sanggup melawan gerak tubuh yang dibakar api cemburu untuk segera berlari. Pun saat Claudia menyentuh tubuh Reffan. Sungguh bukan sifat Safira bertindak bodoh dan ceroboh tapi dia malah memanjat pagar rumah Reffan karena dadanya yang memanas terbakar api cemburu. Sekali lagi, logikanya menghilang saat berhubungan dengan Reffan.
"Astaghfirullah... sangat memalukan!" Safira menangkupkan telapak tangan ke wajahnya sendiri karena malu mengingat kelakuannya.
"Jangan ulangi lagi Safira, jangan pernah diulangi!" Titahnya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Seseorang memperhatikannya dari jauh. Sejak tadi dia tidak melihat Safira menyentuh kotak kue di mejanya. Pada saat ruangan sepi di jam istirahatpun Safira sama sekali tak menyentuhnya. Safira malah memesan makanan dari aplikasi online. Dia tersenyum kecut, saat tiba jam pulang Safira hampir melupakan kotak kuenya. Safira akhirnya meraih dan membawanya dengan tangan kiri begitu saja. Saat tiba di tempat parkir, Safira menoleh ke kanan dan ke kiri dilihatnya petugas sampah yang akan mengangkut sampah di depan parkir. Safira mendekatinya dan memberikan kotak kuenya.
"Safira... rasanya pasti luar biasa saat bisa mendapatkanmu!" Gumamnya dari dalam kaca lobbi menatap mobil Safira yang keluar dari area parkir.
.
Sore hari di kota terbesar setelah ibukota. Macet sudah menjadi hiasan di jam pulang kerja. Namun karena hari bahagia, Safira tetap tersenyum walau mobilnya bergerak merayap. Mobilnya sudah memasuki area lobbi hotel, seorang petugas keamanan menghentikan mobilnya.
"Saya saja yang memarkir mobil Ibu Safira." Ucapnya sopan sambil menundukkan punggungnya.
"Terimakasih ya pak!" Safira tersenyum keluar dari mobilnya.
Seorang petugas keamanan yang lain membukakan pintu kaca lobbi sambil menunduk dibalas ucapan terimakasih dan senyuman manis dari Safira. Petugas lobbi tersenyum namun tak berani menegakkan tubuhnya sebelum Safira melaluinya.
Seorang karyawan wanita mendekatinya.
"Selamat sore Bu Safira, saya Rosa, mari ikuti saya."
"Sore." Balas Safira.
Safira hanya diam saja mengikuti langkah Rosa. Semua yang dilakukan karyawan Reffan pasti adalah perintah suaminya jadi dia hanya perlu mengikutinya saja.
Langkah mereka terhenti di depan ruang spa.
"Mari Bu silakan!" Rosa membukakan pintu untuk Safira.
"Mereka akan membantu Bu Safira menyegarkan badan kembali." Ucap Rosa.
"Eh iya... terimakasih." Ucap Safira yang tertegun dengan apa yang disiapkan Reffan.
"Saya tinggal ya Bu Safira, Bu Safira bisa mengatakan pada mereka jika membutuhkan sesuatu. Permisi Bu." Ucap Rosa berpamitan.
"Ok. Terimakasih ya."
Safira terlonjak kaget saat seorang karyawan meraih tasnya dan meletakkan di loker. Kemudian Safira diarahkan ke ruang lain.
"Permisi ya bu saya bantu untuk membuka bajunya." Ucap karyawan wanita.
"Eh tidak perlu. Saya sendiri saja." Safira meraih kain yang dipegang karyawan lain seperti membawa bendera di upacara. "Tunjukkan saja dimana ruang gantinya!"
"Apa-apan mereka ini! Mau melihatku hampir telanjang." Gerutu Safira di dalam hatinya kemudian menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya kuat.
Dimulailah rangkaian perawatan tubuh yang memakan waktu tak kurang dari dua jam. Massage, totok wajah, creambath dan entah apalagi Safira sudah pasrah saja mengikuti arahan mereka. Sejujurnya diapun menikmatinya bahkan sempat tertidur. Ritualpun diakhiri dengan mandi air shower yang hangat setelah berendam. Secangkir minuman rempah hangat mengakhiri sesi perawatan dengan sempurna. Saat mereka mengarahkan Safira untuk duduk di depan cermin besar untuk dirias.
__ADS_1
"Tunggu mbak jam berapa ini? Sudah magrib ya."
"Jam enam lewat sepuluh menit Bu." Jawab salah seorang dengan cepat.
"Saya solat magrib dulu ya. Dimana saya bisa solat?"
Ketiga karyawan spa saling pandang. Salah satunya segera tersadar dan menjawab.
"Mari Bu ikuti saya."
Safirapun mengikutinya setelah mengambil mukena travel di tasnya.
Kedua karyawan di depan meja rias saling pandang kemudian tersenyum.
.
Safira memandang pantulan dirinya di depan cermin. Gaun berwarna coklat lembut sudah melekat di tubuhnya dengan jilbab berwarna senada yang salah satu sisinya terjuntai hingga perutnya. Wajah cantiknya telah dirias natural, karyawan yang meriasnya juga membantunya mengenakan jilbab agar lebih cantik dan terlihat spesial. Ketiga karyawan tersenyum puas melihat hasil kerja mereka.
"Bu Safira memang sudah cantik dari lahir. Dipoles dikit aja sudah wow banget." Ucap mereka di dalam hatinya.
Rosa masuk ke ruangan dan tersenyum menatap Safira yang kecantikannya semakin bersinar.
"Ibu Safira sungguh sangat menawan. Sempurna!" Puji Rosa pada istri bosnya.
"Apa penampilan saya tidak mencolok." Safira masih memandang gaun dan wajahnya bergantian dari cermin.
"Bu Safira memang sudah mencolok dengan wajah cantik Bu Safira walaupun tanpa riasan. Riasan ini sudah sangat natural." Ujar Rosa.
"Ah, jangan berlebihan!" Safira merasa pujian Rosa sangat berlebihan.
"Mari Bu Safira saya antar." Rosa membukakan pintu untuk Safira.
"Kita kemana ya mbak Rosa?" Tanya Safira.
"Sebentar lagi Bu Safira akan segera tahu." Jawab Rosa.
Safira membuang nafas tak mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya.
Dua buah kursi menghadap ke sebuah meja di samping kolam renang yang berhias lampu dengan warna dan bentuk yang cantik.
Safira tersenyum dengan satu lagi kejutan dari Reffan.
"Silakan Ibu tunggu dulu di sini." Ujar Rosa yang akan pamit.
__ADS_1
"Apa Pak Reffan sudah di sini?" Tanya Safira.
"Kau mencariku?" Sepasang tangan sudah melingkar di perut Safira dari belakang membuat pemiliknya sangat terkejut.