Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Tulang Rusuk


__ADS_3

“Kenapa Safira kau tidak percaya? Mana yang tidak kamu percaya, Reffan yang dingin pada wanita atau Reffan yang jatuh cinta padamu?” Mama Raisa tersenyum menatap lekat manik coklat Safira.


“Ehm.. dua-duanya tante.” Safira menunduk sebentar karena malu isi pikirannya diketahui mama Raisa. Namun matanya langsung menatap tajam tak percaya saat mama Raisa mengatakan tentang dirinya,


“Kamu memang menggemaskan Safira, benar kata Reffan.”


“Apa?” Safira benar-benar terkejut Reffan mengatakan itu pada mamanya.


“Mama menjaga Reffan agar tidak melampaui batas. Jangan sampai dia mempermainkan perempuan. Mama mengatakan padanya bahwa mama adalah seorang perempuan, apakah dia rela mamanya atau anak perempuannya kelak dibuat mainan oleh seorang pria. Mama tidak menyangka hasil didikan mama malah membuatnya menolak dekat-dekat dengan perempuan, dia tidak suka melihat wanita agresif yang mendekatinya, bahkan dia menolak mama kenalkan dengan anak-anak teman mama yang kecantikannya di atas rata-rata. Saat mama tanya komentarnya tentang anak perempuan teman-teman mama dia hanya menjawab biasa saja, tidak ada yang spesial. Lalu saat mama tanya kamu mencari yang seperti apa, cantik dan smart. Dan saat mama melihatmu, mama bisa melihat itu semua pada wajah dan matamu.”


Safira hanya terdiam mendengarkan penjelasan mama Raisa, entahlah hatinya tak sepenuhnya percaya, namun sebagian hatinya yang lain sudah terbang merasa tersanjung dengan penuturan mama Raisa.


“Tapi tante, tak mungkin dalam kehidupan Reffan dia tidak menemukan wanita yang cantik dan smart kan? Dan mungkin malah sekelas dengannya.” Safira mencoba mengutarakan pemikirannya karena baginya mustahil seorang Reffan tidak tertarik pada wanita-wanita cantik dan terpelajar di lingkungan belajar dan bekerjanya.


“Sayang, bukankan wajar jika Reffan mengenali tulang rusuknya? Dan itu adalah kamu? Tidakkah kamu juga mengenalinya sebagai pemilik tulang rusukmu Safira?”


Dadanya berdebar-debar mendengar pertanyaan mama Raisa, tidak serta merta Safira menjawab pertanyaan mama Raisa. Dia perlu menguji dirinya sendiri, apa yang dirasakan terhadap Reffan. Safira memilih menunduk, takut jika mama Raisa meminta menjawabnya.


“Mama tahu kamu butuh waktu, tapi kamu juga harus tahu Reffan tidak biasa menunggu. Jika kau masih ragu, bertanyalah pada Reffan apa yang membuatmu ragu dan terakhir bertanyalah pada dirimu apakah keraguanmu itu sebanding dengan usaha yang dilakukannya untuk mendapatkanmu.” Mama Raisa tersenyum meraih tangan Safira menyentuhnya lembut.


“Ah, aku jadi rindu ibuku.” Mata Safira berkaca-kaca mengucapkannya dalam hati.


“Sayang mama ke hotel dulu ya, kamu bisa menghubungi mama kapanpun kamu mau?”


“Ponsel saya disita Pak Reffan.” Safira tidak bisa menahan bibirnya yang keceplosan.


“Benarkah? Haha....” Mama Raisa malah tertawa mendengarnya. “Mama semakin yakin, Reffan benar-benar jatuh cinta padamu. Bersiaplah dia sanggup melakukan hal-hal yang tidak kamu duga. Tapi jangan takut dia tidak akan menyakitimu.”


Safira menelan ludah yang terasa berat di kerongkongannya, ada hawa dingin yang membelai tengkuknya.


Setelah memeluk Safira. Mama Raisa pamit pada Safira. Matanya menatap lekat wanita yang berhasil mencairkan kebekuan hati anak kesayangannya. Dalam hatinya dia bersyukur mendapati anaknya jatuh cinta pada wanita seperti Safira. Wanita baik-baik yang cocok menjadi ibu dari cucu-cucunya kelak. Soal status sosial, mama Raisa tak menilai ada masalah Safira gadis terpelajar, dia akan mudah beradaptasi dengan kehidupan Reffan dan dia yakin justru nantinya kehadiran Safira dalam hidup Reffan akan menghadirkan warna-warna baru yang indah walaupun tak selalu mudah.

__ADS_1


Setelah mama Raisa pergi, Safira teringat kembali rencananya, apapun yang terjadi dia harus keluar dari rumah sakit hari ini juga. Safira yang sendirian di kamar meraba dadanya yang dalam beberapa hari terakhir ini sering berdebar-debar membuatnya lambat berpikir. Perasaan yang aneh yang sudah lama tak dirasakannya. Jatuh cintakah aku pada sifat memaksanya? “Tulang Rusuk, apakah benar dia ....”


Setelah berpikir dan merenung sedirian tidak kurang dari satu jam Reffan masuk ke kamarnya. Safira melihatnya sekilas kemudian berbicara tanpa melihatnya.


“Pak Reffan, saya harus pergi dari sini. Tolong biarkan saya pergi!”


“Kenapa?”


“Saya bisa mengurus diri saya sendiri, tolong jangan mempersulit saya!”


Reffan mengambil tumpukan kertas di meja dan menggulungnya, Safira yang melihatnya segera mengambil sikap siaga dia tidak mau dipukul untuk kedua kalinya.


“Saya memang masih sedikit sakit tapi saya bisa mengurus diri saya sendiri dan anda jangan memukul saya lagi.”


Safira sudah duduk menghadap Reffan bersiap jika Reffan mengayunkan tangan ke arahnya. Reffan yang ada di hadapannya tersenyum melihat tingkah Safira. Namun tidak disangkanya gulungan kertas di tangan Reffan justru digunakannya untuk mengangkat dagu Safira agar menatapnya. Tubuh Safira mendadak lunglai, debaran di dadanya semakin kencang.


“Tatap aku Safira, jika sekarang aku melamarku lagi, apa jawabanmu?”


Tiga detik manik mereka bertemu. Safirapun tersadar kemudian mengibas gulungan kertas di dagunya dengan tangannya dan menundukkan kepalanya. Dia mencoba menguasai dirinya yang seolah menjadi mangsa yang siap diterkam oleh hewan buas di depannya. Di ruangan itu hanya ada mereka berdua, keadaan itu sudah cukup menjadi alasan bagi Safira untuk merasa tidak nyaman dan sekarang mata elang laki-laki itu hanya berjarak kurang dari satu meter menatapnya tak berkedip.


“Seorang pria jika serius ingin menikahi seorang wanita maka dia akan mendatangi walinya.” Safira bersuara pelan namun terdengar jelas di telinga Reffan.


“Jika aku mendatangi orangtuamu bukankah jawabannya tetap terserah padamu?”


“Hanya laki-laki yang punya keberanian dan serius membina rumah tangga yang akan mendatangi wali dari seorang wanita. Jawabannya memang terserah jawaban si wanita. Namun orangtua dari wanita tersebut pasti mempunya penilaian untuk calon suami anaknya dan itu bisa membantu wanita tersebut memutuskan jawabannya.” Safira berbicara tanpa menatap Reffan.


Reffan nampak memikirkan sesuatu. Wajahnya masih lekat menatap Safira mencoba mencari tahu apa yang Safira pikirkan saat ini.


“Karena sejujurnya aku masih belum punya jawaban.” Safira menatap tangan di pangkuannya yang saling meremas.


Reffan tersenyum pada akhirnya, dia sudah mengerti arah pikiran Safira. Safira masih ragu dan dia berharap orangtuanya bisa membantunya untuk meyakinkan keputusannya. Bukankah ini lampu hijau bagi Reffan yang sekarang harus dilakukannya adalah meyakinkan orangtua Safira.

__ADS_1


“Istirahatlah, habiskan makanan yang diantar kepadamu dan minum obatmu.”


“Aku harus keluar dari sini hari ini juga.” Suara Safira meninggi, suara rendah yang digunakannya tadi lenyap entah kemana.


“Jangan membantah Safira, besok kau boleh pulang. Hari ini aku ada urusan mungkin sampai malam. Jangan membuat ulah atau aku akan berubah pikiran untuk tidak memulangkanmu.”


Safira mendengus kesal namun tak bisa melakukan apapun untuk melawan keputusan Reffan.


“Ini ponselmu.” Tangan kanannya mengulurkan sebuah benda pipih di hadapan Safira.


Tentu saja wajah Safira mendadak langsung berbinar menyambut ponselnya.


“Terima kasih.” Ucapan yang tanpa disadari karena mengapa Safira harus mengucapkan terimakasih untuk barang miliknya sendiri.


“Bahagia sekali kamu mendapatkan ponselmu. Memang siapa yang ingin kau hubungi?”


“Orang tuaku, adikku dan temanku.”


Reffan tersenyum saat Safira menyebutkan siapa yang akan dia hubungi tapi kemudian senyumnya pudar saat mendengar kata yang terakhir. “Teman yang mana?” tanyanya penasaran.


“Bukan urusan anda kan?” jawab Safira asal sambil menghidupkan ponselnya.


“Kau mau aku mengambilnya lagi, hah.”


Spontan Safira langsung menyembunyikan ponsel miliknya di punggungnya.


“Jangan menghubungi teman laki-laki dan jangan membuat ulah saat aku pergi. Mengerti?”


Safira menganggukkan kepalanya. Dia tak mau Reffan mengambil ponselnya pasti dia akan kesusahan untuk mengambilnya lagi.


“Bagus istri pintar.” Safira melotot takpercaya dengan apa yang diucapkan Reffan dan Reffan malah tertawa keras membalikkan badannya menuju pintu.

__ADS_1


“Hahaha.....”


__ADS_2