
Jemari Safira melingkar kuat di lengan Reffan saat mereka melewati karpet merah. Safira terus berusaha tersenyum walaupun mendapati beberapa orang menatapnya tajam, ada juga beberapa wanita yang tersenyum sinis. Safira menatap wajah suaminya, suaminyapun menatapnya balik dengan sayang dan senyum yang tampan. Dan benar saja Safira seperti mendapatkan energi positif yang menguatkannya, Safira kembali tersenyum tulus menatap ke depan dan sekali-kali mengedarkan pandangan ke para undangan yang berdiri di dekat karpet merah.
Senyum Safira terkembang sempurna saat melihat sesosok yang dikenalnya di depan kue tart pernikahan yang menjulang tinggi. Seorang laki-laki melambaikan tangannya kemudian mengacungkan jempolnya ke arah Safira. Perubahan Safira ditangkap oleh Reffan, pegangan pada lengannya yang mengendur membuat Reffan memperhatikan wajah Safira yang senyumnya mengembang sempurna. Reffanpun menatap laki-laki yang melambaikan tangan pada istrinya.
"Siapa dia?" Gumamnya dalam hati. "Para undangan adalah tamuku dan tamu mama papa. Oh ya, Safira bilang ada satu temannya yang akan datang. Apa laki-laki itu. Ah, aku pikir temannya perempuan!" Reffan kalut sendiri dengan pikirannya.
Senyum laki-laki tadi mempengaruhi pikiran Reffan. Dia melihat lagi wajah Safira yang ternyata juga sedang melihatnya. Safira tersenyum menatapnya mengusap lembut lengannya. Beban yang tadi dilihatnya sebelum masuk ke tempat resepsi seakan sirna, kini wajah Safira terlihat lebih tenang.
"Apa karena laki-laki itu? Kenapa Safira bisa langsung berubah melihat laki-laki itu. Siapa sih dia?" Reffan mulai sibuk berpikir sendiri.
"Mas, terimakasih." Safira yang duduk di sampingnya membuatnya menoleh.
"Terimakasih untuk apa?" Reffan tersenyum menatap rona bahagia di wajah istrinya.
"Terimakasih membolehkan temanku datang. Aku senang ada satu orang yang kukenal di acara ini."
"Iya sayang." Reffan mengusap lembut tangan istrinya dengan tangannya yang bebas.
"Jadi karena ada yang kau kenal diantara para undangan kamu jadi bahagia, kamu merasa tidak seperti orang asing di acara ini. Ah, ternyata Safira hanya merasa begitu. Kenapa aku mikir macam-macam. Lagipula tak mungkinkan Safira, ah aku terlalu jauh berprasangka." Reffan mengutuk sendiri dirinya di dalam hati.
Pesta berlangsung meriah. Para undangan silih berganti mengucapkan selamat. Ada yang tulus mendo'akan dan ada yang hanya bersalaman dengan wajah tak bersahabat.
__ADS_1
"Dek, selamat ya. Semoga selalu bahagia. Senang sekali abang melihatmu sekarang. Kamu hebat Safira, selalu luar biasa." Laki-laki dengan mata agak sipit memberikan ucapan pada Safira.
"Terimakasih bang. Sendirian bang?" Safira menjawab dengan senyum tulusnya.
"Iya nyonya lagi mual hamil adeknya Ethan." Jawab laki-laki itu ringan tanpa beban.
"Selamat ya bro, semoga kalian selalu bahagia." Laki-laki itu menepuk lengan Reffan dengan akrab.
"Thanks bro." Reffanpun menjawab dengan santai.
Reffan melirik wajah Safira yang masih tersenyum sempurna. Ada rasa penasaran di dalam hatinya. "Bukankah Safira memanggil teman kerja laki-laki dengan sebutan pak. Lalu mengapa laki-laki tadi dipanggil abang dan laki-laki itu memanggil Safira dek. Ah, bukankah ini tak wajar. Tapi tak mungkin aku menanyakannya sekarang." Suara hati Reffan.
Sekarang Safira dan Reffan sudah turun dari pelaminan. Mereka sedang duduk di depan meja bundar menikmati beberapa makanan dan minuman.
"Ah Reffan, aku bukan ingin mengucapkan selamat untuk kalian, aku hanya berterimakasih sudah mengundangku menikmati jamuan makan." Claudia dengan percaya diri mengibaskan rambut yang dibuat bergelombang hampir mengenai wajah Safira.
"Aku tidak mengundangmu. Mungkin mama yang mengundangmu atau malah sebenarnya orangtuamu yang di undang dan kamu ikut datang." Reffan berbicara santai mengusap lembut pipi istrinya, pandangannya tak beralih dari wajah cantik sang istri.
"Sampai kapan sih kamu sadar Reffan, wanita ini hanya akan membuatmu malu. Apalagi penampilannya yang..." Claudia memutus ucapannya, pandangannya menghina mengarah dari ujung kaki hingga kepala Safira."
"Ada apa dengan penampilan Safira Claudia? Apa maksud kamu penampilan seperti tante ini memalukan?" Mama Raisa tiba-tiba muncul bersama tante Andin mama Claudia.
__ADS_1
"Tante, bagaimana bisa?" Claudia terperangah melihat penampilan mama Raisa yang memakai jilbab, pantas saja sejak tadi Claudia tidak menemukan mama Raisa karena penampilannya sangat berubah dengan pakaian tertutup. Claudia datang terlambat bersama mama papanya, saat di pelaminan kedua orangtua mempelai sudah turun terlebih dahulu.
Hari ini untuk pertama kalinya mama Raisa menutup rambutnya. Resepsi pernikahan putra pertamanya memantapkan dirinya untuk menutup seluruh auratnya. Reffan dan Safira tersenyum melihat kedatangan mama Raisa.
"Artis saja hijrah, masak tante enggak. Tante gak mau ketinggalan zaman Claudia. Terimakasih sayang, kamu hadiah terindah bukan hanya untuk Reffan tapi juga untuk kami." mama Raisa menatap wajah Safira penuh kasih sayang.
"Mama sangat cantik." Reffan memuji mamanya sambil memeluknya.
Tak lama papa Rendra muncul bersama dengan om Candra papa Claudia.
"Sayang sekali Rendra, anak kita tidak jadi berjodoh. Kau lihat putriku, dia sempurna." Om Candra masih berbicara seolah tidak ada banyak telinga yang mendengarnya. Claudia tersenyum mendengar pujian dari papanya.
Papa Rendra tersenyum menimpali, "Kau tahu sendiri bagaimana aku memperjuangkan Raisa, lalu bagaimana mungkin aku tidak membiarkan Reffan memilih pendampingnya sendiri." Perkataan papa Rendra membungkam mulut om Candra.
Safira menunduk, Reffan meraih tangannya kemudian menciumi jemarinya. Safira menatapnya tersenyum. Mereka berdua hanyut sendiri dengan dunia mereka tak mempedulikan kawanan yang datang mendekat.
Dua pasang mata memperhatikan semua yang terjadi dari meja sebelah. Yang satu meremas tangannya dan satu lagi mengepalkan tangannya. Raffi dan Hasna, keduanya sama-sama menahan emosi pada keluarga Claudia. Saat dilihatnya Reffan dan Safira yang tak mempedulikan percakapan orangtuanya, Raffi dan Hasna yakin semuanya tetap baik-baik saja.
Claudia yang jengkel kehadirannya tak dianggap oleh Reffan sempat hendak menarik jilbab Safira tapi segera diurungkannya karena melihat Bayu memainkan gunting di tangannya dari seberang meja sambil menatapnya tajam seolah berkata, "Bukankah Anda sudah berjanji untuk tidak mengganggu Safira, Anda ingin gundul atau masuk penjara?" begitulah kira-kira yang diterjemahkan Claudia dari tatapan Bayu. Claudia reflek menyentuh rambut indahnya, diapun mundur dan pergi menjauh.
Hari yang berat bagi Safira, Safira sadar pesta ini bukan kelasnya. Beberapa memori pandangan sinis masih tersimpan di otaknya, namun buru-buru ditutupinya dengan senyum dan ucapan tulus orang-orang baik yang menghargainya. Bukankah kita tidak akan pernah bisa membuat semua orang menyukai kita. Akan selalu begitu, kita hanya bisa tetap berjalan di jalan yang benar. Safira tersenyum menasehati dirinya sendiri. Lamunannya di kamar hotel membuatnya tak sadar, Reffan yang sudah selesai mandi terus menatapnya yang tersenyum sendiri.
__ADS_1
Reffan berjalan pelan ke arah Safira yang sedang duduk di sofa.
"Apa yang membuatmu tersenyum? Siapa yang kau panggil abang dan memanggilmu dek tadi?"