
“Safira, dia melamarmu?” perkataan ibunya masih memenuhi otaknya membuat saraf-saraf di tubuhnya melemah hingga tak sanggup menopang tubuhnya.
“Bagaimana bisa? Tadi pagi Reffan masih di sini. Ah, tadi pagi Reffan melamarnya bukan. Dan sekarang dia benar-benar melamarku pada orangtuaku? Secepat ini? Apakah dia benar-benar serius padaku? Aku...aku...” Safira kebingungan dalam hatinya mencerna apa yang terjadi hari ini.
“Sayang kamu mendengar ibu nak? Safira... Safira....”
Safira tersadar dia masih menggenggam ponsel di tangannya dan ibunya masih berbicara di seberang sana.
“Iya Bu Safira dengar.” Ucapnya segera setelah sadar
“Sayang, ibu mau tanya? Bagaimana menurutmu?”
“Apa?”
“Safira, jawablah dengan kata-kata lain, dari tadi kamu terus menjawab dengan kata apa!”
Safira bisa merasakan ibunya tersenyum walaupun tidak melihat wajahnya. Safira jadi malu terdengar bodoh di depan ibunya.
“Maaf Bu, Safira terkejut.”
“Jadi bagaimana menurutmu?”
“Safira tidak tau Bu, bisakah ayah dan ibu saja yang memutuskan?” Wajah Safira memerah sekarang, debaran di dadanya sudah tak terkendali, rasanya jantungnya sudah ingin melompat saja dari tempatnya. Seandainya ada yang melihatnya, Safira pasti akan lebih malu lagi.
“Kamu yakin nak?” suara ibunya terdengar sangat lembut mencoba menyelami apa yang dirasakan anaknya. “Kamu menyukainya?”
“Ehm... tidak tahu Bu.” Pelan sekali Safira menjawab pertanyaan ibunya tapi masih terdengar cukup jelas di telinga ibunya.
“Apa ada alasan bagimu untuk menolak lamarannya?” ibu bertanya lagi
“Tidak ada Bu.”
__ADS_1
“Baiklah... tapi walaupun ayah dan ibu yang memberikan jawaban tetap kamu yang akan menikah. Kemarilah akhir pekan ini. Ibu akan meminta nak Reffan kembali lagi akhir pekan ini. Bisakan Safira? Hari Senin juga libur nasionalkan jadi kamu bisa kemari agak lama tanpa cuti.”
“Iya Bu, Safira akan pulang ke Yogya akhir pekan ini.”
“Ya sudah, ibu mau ke depan dulu ya menemui nak Reffan. Kamu jaga diri baik-baik ya sayang. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Sambungan telepon sudah terputus. Safira menggenggam ponselnya erat. Wajahnya jelas terlihat cemas bercampur malu.
“Kenapa anda secepat ini datang ke orangtua saya Pak Reffan, Aaahhhh!” Safira yang gusar mengacak-ngacak jilbab yang menutupi puncak kepalanya.
Sementara di sebuah rumah di Yogyakarta, Reffan dan ayah Safira masih berbincang di ruang tamu sambil sesekali menyeruput teh hangat dan menikmati bakpia yang dihidangkan oleh ibu Safira tadi.
Reffan berbicara dengan sopan pada orangtua Safira tidak terlihat sama sekali pancaran kesombongan dalam nada bicaranya walaupun dia memiliki segalanya yang bisa dibanggakannya. Reffan jelas tahu, bagaimana orangtua Safira yang tidak akan tertarik saat dia memakai jubah kekayaannya karena Safira justru lari menghindar saat mengetahui siapa dirinya dan hal itu jelas hasil didikan orangtuanya. Maka Reffan datang kepada orangtua Safira sebagai laki-laki yang serius ingin menjadikan Safira pendamping hidupnya dengan segala kekurangan dan kelebihannya dia akan menjaga Safira di sampingnya.
Ibu Safira kembali ke ruang tamu setelah menghubungi Safira. Ibu duduk di sebelah ayah yang sedang asyik mengobrol dengan Reffan.
“Bagaimana Bu, ibu sudah bicara dengan Safira? Ayah bertanya menatap lekat ibu mencoba menangkap ekspesi yang terpancar dari wajah istrinya.
“Sudah yah.” Jawab ibu sambil tersenyum.
“Safira menyerahkannya pada kita?”
Ayah tersenyum mendengar jawaban istrinya,
“Biasanya dia akan menolak jika tak suka. Benarkan Bu?”
“Iya yah. Apakah itu berarti....?”
Ayah melirik Reffan yang cemas mendengar percakapan dua orang di depannya.
“Ibu meminta Safira pulang kemari akhir pekan ini yah.”
__ADS_1
“Iya betul sebaiknya memang begitu Bu. Jadi kita bisa langsung melihat putri kita bicara.”
“Nak Reffan tidak keratan kan jika kembali akhir pekan? InsyaAllah kami akan memberikan jawabannya saat itu.”
“Tentu saja tidak Bu. Saya akan kembali lagi kemari akhir pekan ini.”
Malam telah datang menyelimuti bumi bersiap mengantarkan penghuninya terlelap melupakan aktivitas melelahkan seharian. Namun, di sebuah ruangan ber-AC seorang gadis masih terjaga dan sejak tadi meremas tangan-tangannya yang dingin. Sedari tadi dia mondar-mandir di depan ranjangnya setelah kakinya terasa nyeri dia mengakhiri adegan mondar-mandirnya kemudian naik ke ranjangnya dan memeluk lututnya. Dingin, sangat dingin yang dirasakannya padahal tak ada yang menurunkan suhu AC, di luarpun tak turun hujan.
"Bagaimana aku bersembunyi darinya saat dia kemari. Ah, apa yang harus aku lakukan? Kenapa dia secepat itu melamarku pada orangtuaku. Bagaimana aku menyembunyikan wajahku yang pasti memerah di depannya." Safira gusar sendiri malam ini. Rasa kantuk yang dirindukannya tak juga menyapanya sejak tadi.
"Apa aku baik-baik saja. Jantungku bahkan terus berdegup kencang sejak tadi. Ah, tubuhku tenanglah! Jangan membuatku terlihat gugup di depannya. Ya Allah, semoga dia tidak ke sini lagi malam ini."
*Kl*ek
Sayang sekali Safira terlambat berdoa. Reffan sudah di depan pintu dan memegang handle pintu.
Buru-buru Safira menarik selimutnya hampir menutupi seluruh tubuhnya bahkan seluruh wajahnya. Namun terlambat gerakannya sudah terlihat oleh Reffan yang membuka pintu.
"Assalamu'alaikum." Reffan mengucapkan salam sambil tersenyum menatap punggung Safira yang tertutupi selimut dengan sempurna.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Safira, tentu saja di dalam hatinya.
Reffan tahu Safira belum tidur dan sebenarnya dia sangat ingin melihat wajah Safira. Namun malam sudah larut dia tidak ingin Safira merasa tak nyaman atas kehadirannya. Reffanpun pergi ke kamar mandi sebentar kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa, diapun ingin beristirahat. Mata elangnya masih menatap tubuh Safira yang tertutup selimut dengan posisi yang sama seperti saat dia masuk tadi. Senyum menghiasi bibir Reffan.
"Tidurlah Safira. Akupun juga akan tidur." Suara datarnya membuat Safira meremas selimut semakin kuat.
"Ah, dia tahu aku belum tidur. Tapi baguslah jika dia tidur. Setidaknya aku bisa bersembunyi darinya malam ini di bawah selimut. Aku sungguh tak sabar menantikan hari esok. Terlepas dari pandangannya." Safira bergumam di dalam hatinya.
Reffan sudah mencari posisi ternyamannya di sofa, perlahan matanya terpejam tetapi senyumnya masih terus mengembang dari sudut bibirnya. Ada perasaan lega di hatinya karena hari ini dia telah bertemu dengan orangtua Safira dan melamarnya. Dia senang orangtua Safira bersikap hangat kepadanya. Perkataan ayah Safira masih melekat kuat dalam memorinya.
"Sebenarnya ayah sudah lama menginginkan Safira segera menikah. Ayah dan ibu terkadang bingung harus menjawab apa jika ada yang datang melamar. Namun Safira terus saja menolak. Dan tadi Safira bilang menyerahkan jawabannya pada kami. Ini pertama kalinya dia mengatakan itu. Ayah rasa Safira malu untuk mengatakan iya. Ayah dan ibu tidak mempermasalahkan siapa yang akan menjadi suami anak kami asalkan dia beriman dan taat pada Allah kami akan menyambutnya dengan tangan terbuka. Karena jika ada iman di dalam dadanya dan taat di kesehariannya, insyaAllah dia akan setia pada Allah dan setia pada anak kami, tidak akan menyakitinya karena takut Allah murka padanya. Nak Reffan, jika nanti Safira benar menerima lamaranmu ada syarat yang ayah ajukan padamu. Pertama, berjanjilah menjadi imam yang baik untuknya, membimbingnya dengan lembut. Kedua, setialah padanya dan jangan kau sakiti dia, jika dia salah peringatkan dengan baik. Seorang istri seperti gelas kaca, saat hatinya pecah takkan pernah kembali seperti semula. Apa nak Reffan bersedia menerima persyaratan dari ayah?"
__ADS_1
"InsyaAllah saya siap ayah."
Reffan tersenyum mengingat percakapannya dengan ayah mertuanya. Bukankah itu sama artinya dengan mereka merestui Reffan sebagai calon menantunya. Ini adalah malam terindah bagi Reffan.