
"Oh Hans.." Safira menjawab sambil melirik suaminya. Terlihat jelas wajah Reffan tidak bersahabat.
"Siapa dia, katanya teman kerja dulu di Surabaya. Kenapa memanggilnya bang? Dia juga kenapa memanggilmu dek? Kamu bilang sendiri jika memanggil teman kerja laki-laki pak semuanya." Reffan menjatuhkan tubuhnya di sofa sebelah Safira dan memberondongnya dengan pertanyaan panjang. Dia mengingat saat awal pertemuannya dengan Safira. Safira bersikeras memanggilnya pak Reffan.
"Dia itu..." Safira akan menjelaskan, Reffan langsung memutar badan menatapnya dengan tatapan elang.
"Hans gak mau dipanggil pak, dia..." Pelan-pelan Safira menjelaskan.
"Saat itu aku juga menolak kamu memanggilku pak tapi kamu tetap memanggilku begitu." Reffan mulai menunjukkan wajah kecewanya.
"Jangan diputus dulu dong ceritanya." Safira melirik Reffan yang memotong ceritanya.
Akhirnya Reffan diam walaupun wajahnya masih ditekuk.
"Saat awal aku diterima kerja. Aku hanya berteman dekat dengan Ira, berteman juga dengan yang lain tapi hanya berteman biasa. Kemana-mana ya sama Ira. Kemudian Hans mendekati kami, aku dan Ira. Dia melarang kami memanggilnya pak, Hans menyuruh aku dan Ira memanggilnya nama saja, Hans. Dia mengajak kami berteman dengan tulus karena katanya kami orang baik dan tidak punya maksud terselubung. Entah bagaimana dia bisa menilai begitu. Aku menolak memanggilnya nama karena tidak sopan, karena bagaimanapun dia lebih tua. Kemudian dia bilang, kalau begitu panggil aja aku abang, kalian aku anggap adek. Jadilah kami berdua memanggilnya bang dan dia memanggil kami dek."
"Benarkah hanya berteman? Apa bisa laki-laki dan perempuan hanya berteman saja?" Reffan menanggapi penjelasan Safira.
"Beberapa bulan kemudian dia menikah, kan mas dengar sendiri kemarin dia bilang istrinya hamil anak kedua. Lagipula kami beda keyakinan mas. Jadi kami benar-benar berteman bertiga, Hans yang biasanya pasang badan saat ada yang menggodaku. Jadi sopir juga saat kami ada acara di luar. Sampai akhirnya dia dimutasi ke Jakarta." Safira mengakhiri ceritanya.
"Oh..." Reffan menanggapi singkat. "Apa dia selalu memujimu seperti tadi?"
Safira berpikir sejenak, dijawab pasti salah, tidak dijawab pasti didesak. Safira kemudian tersenyum.
"Mas kenapa sih nanyain Hans melulu? Kan sudah aku jelasin tadi. Malah tanya terus." Safira gantian sewot, sebelum dimarahin mending marah dulu, begitu pikir Safira.
"Lhah kamu senang sekali dia datang pakai panggil bang segala, spesial sekali kedengarannya." Reffan mulai melunak melihat wajah kesal Safira.
"Mas Reffan mau dipanggil abang juga." Mata Safira berkedip-kedip pada Reffan.
"Ehm... Coba sih kamu panggil bang." Reffan tersenyum melihat Safira dengan ekspresi imutnya.
"Aabang Reffan.." Safira mengikuti kemauan suaminya, kemudian Safira berdiri dengan cepat.
"Samaan sama abang tukang bakso dong." Safira tertawa kemudian melangkah menjauh dari Reffan.
"Wah ngajak duel kamu ya.. " Reffan langsung beranjak dari sofa mengejar Safira yang menghindarinya. Dengan mudah Reffan menjatuhkan tubuh Safira di ranjang mengunci tangan dan kakinya.
"Sudah berani ngeledek ya sekarang? Terima ya akibatnya." Tangan kanan Reffan mencengkeram dagu Safira agar tidak bergerak-gerak. Wajahnya semakin dekat dengan wajah cantik Safira. Selanjutnya Safira sudah pasrah dengan apapun yang dilakukan suaminya pada tubuhnya.
.
Pagi hari Safira dan Reffan yang menginap di hotel sarapan bersama dengan keluarga Safira yang akan kembali ke Yogyakarta. Hasna memeluk manja lengan Safira, walaupun kakaknya sudah menikah Hasna tetap ingin menempel pada kakaknya tak peduli lirikan kakak iparnya.
"Mas, aku jalan-jalan sebentar ya di sekitar kolam renang sama Hasna." Safira meminta izin pada suaminya.
__ADS_1
"Iya sayang." Reffan memperbolehkan tapi matanya tetap mengintai istrinya.
Reffan berbincang dengan orangtua Safira, Pak Salman dan Bu Sofi. Sementara Safira dan Hasna berjalan menjauh dari mereka mendekati sisi kolam renang.
"Mbak..." Hasna membuka kata, tangannya tetap memeluk lengan kakak satu-satunya.
"Hmm... kenapa?" Safira balik bertanya.
"Apa mbak baik-baik saja?" Hasna memberanikan diri bertanya.
"Kenapa tanya begitu?" Safira menanggapi dengan santai.
"Aku melihat bermacam-macam ekspresi dan mendengar gunjingan orang saat resepsi kemarin." Hasna mulai mengkuatirkan kakaknya.
Safira tersenyum menanggapi adeknya. "Lalu? Apa yang kamu cemaskan? Kamu lihat kakakmu ini baik-baik saja kan?"
"Dan Claudia juga keluarganya itu. Aku dengar dari Raffi, mereka sempat akan dijodohkan." Hasna mulai meneliti ekspresi Safira.
"Dek, kita tidak bisa membuat semua orang sesuai dengan kehendak kita.Tapi kamu jangan kuatir, mbak baik-baik saja. Mas Reffan dan keluarganya juga baik sekali sama mbak. Kamu kemarin juga pasti dengarkan perkataan orangtua mas Reffan tentang keputusannya." Safira berusaha menghilangkan kegelisahan adeknya.
Hasna mengangguk menyetujui pernyataan kakaknya karena kemarinpun dia mendengar jawaban Pak Rendra atas pernyataan Pak Candra, papa Claudia.
"Setiap manusia akan diuji entah diuji dengan orangtuanya, mertuanya, pasangannya, anak-anaknya, temannya, ekonominya atau orang lain yang mengganggu kehidupannya atau ujian yang lainnya. Kapan ujian berakhir? Saat kedua kaki menginjak surga." Safira tersenyum pada adeknya.
"Namun setiap ujian tak pernah melewati batas kemampuan hamba-Nya. Dan yakinlah saat ujian datang, saat kesulitan melanda selalu ada kemudahan yang membersamainya." Tambah Safira yang mendapat pelukan erat dari adeknya.
"Iya mbak." Hasna kembali memeluk kakaknya erat.
.
Setelah mengantar keluarganya ke bandara. Safira dan Reffan kembali ke rumah papa Rendra. Sepanjang jalan Reffan berusaha menggenggam tangan Safira. Tapi Safira selalu mengembalikan tangan Reffan ke kemudi.
"Fokus nyetir mas." Untuk kesekian kalinya Safira mengembalikan tangan kiri Reffan ke kemudi.
"Lampu merah tuh." Tangan Reffan meraih dagu Safira agar memandangnya.
Tidak ada kata yang terlontar, untuk sekian detik mata mereka yang berbicara sampai lampu berubah menjadi hijau.
Mobil mereka sudah sampai di halaman rumah. Ada sebuah mobil asing di halaman rumah. Saat kaki sudah akan masuk ke rumah.
"Ah, aku lupa mas. Oleh-oleh dari ibu buat mama. Ibu kelupaan memberikan langsung ke mama. Aku ambil dulu ya." Safira berhenti melangkah.
"Biar aku ambilkan." Ujar Reffan bersiap membalikkan badan tapi ditahan Safira.
"Aku aja mas. Mas masuk dulu aja." Safira langsung meraih kunci di tangan Reffan dan berlari ke arah mobil yang mereka kendarai tadi.
__ADS_1
Reffanpun akhirnya masuk ke rumah lebih dahulu. Baru saja tubuhnya masuk ke ruang tamu.
"Reffan lama sekali, aku sudah menunggumu dari tadi. Lihat aku bawa apa?" Claudia berjalan mendekat ke arah Reffan.
Reffan diam saja tak menanggapi perkataan Claudia, matanya sibuk mencari mamanya yang tak terlihat.
"Mama..." Reffan memanggil mamanya, matanya sama sekali tak melihat Claudia. Reffan bahkan tak menyadari Claudia yang semakin dekat dengannya. Reffan diam di tempat sebenarnya untuk menunggu Safira karena dia tidak ingin Claudia menyentuh Safira.
"Aku membuat puding. Coba kamu lihat? Cantikkan bentuknya, rasanya juga enak banget. Kamu coba ya." Claudia semakin mendekat.
"Tidak, aku sudah makan dengan istriku." Tolak Reffan.
"Setelah kamu coba pasti suka. Anggap saja ini hidangan penutupnya." Claudia memotong pudingnya lalu menyendokkan ke Reffan.
Reffan membuang wajahnya. Namun Claudia terus mencari celah agar bisa menyuapi Reffan. Pudingnya jatuh ke baju Reffan, Claudia minta maaf dan mengusap-ngusap dada Reffan. Reffan mundur dan mencekal tangan Claudia. Tapi pemandangan itu di tangkap lain oleh Safira yang berdiri terpaku di belakang Reffan.
Bersamaan dengan kehadiran Safira. Mama Raisapun ikut menyaksikan kejadian tersebut.
"Reffan, Safira." Mama Raisa menyadarkan Reffan akan kehadiran Safira.
"Wanita tak tahu malu." Reffan membuang kasar tangan Claudia yang menyentuhnya tadi.
Safira yang salah paham berbalik badan menjauh berjalan semakin cepat ke arah pagar. Oleh-oleh dari ibunya ditaruhnya begitu saja di lantai.
"Safira berhenti!" Reffan mengejar Safira. Namun tak dihiraukan istrinya.
"Pak, tolong buka pagarnya." Safira memohon pada pak Rudi dan pak Jali satpam di rumah mertuanya untuk membuka pagar.
Rudi dan Jali hanya berpandangan karena mereka juga melihat Reffan yang berlari mendekatinya.
"Jangan dibuka, Rudi Jali." Seru Reffan yang semakin dekat.
"Maaf Bu Safira. Kami tidak bisa membuka pagarnya." Jali menjawab permohonan Safira.
"Mau kemana? Kenapa lari?" Reffan meraih lengan Safira. Tapi Safira memalingkan wajahnya.
"Tolong pak bukakan pagarnya." Safira masih merayu kedua satpam mertuanya.
"Mereka tidak akan membuka pagar Safira. Ayo masuk!" Reffan mengajak Safira masuk.
"Tidak! Mas teruskan saja di dalam. Aku tidak mau menonton." Safira berbicara tanpa melihat Reffan.
"Trus kamu mau apa di sini. Mau manjat pagar?!" Reffan berdiri santai di depan Safira.
Tak disangka Safira benar-benar memanjat pagar dengan sangat lincah walaupun memakai rok, Safira terbiasa memakai dalaman celana panjang.
__ADS_1
Aksi istri majikannya membuat Rudi dan Jali melotot.
"Heh kalian berdua balik badan! Berikan kuncinya?"