
Ira dan Bagas saling berpandangan, yang dipikirkan sama. Apa tidak papa semakin banyak orang yang tahu? Bagaimana Safira nanti?
"Kenapa masih pada diam sih? Ya sudahlah saya pergi saja." Hans kesal dan sudah mengangkat pantatnya dari bangku.
"Bang.." Bagas menarik lengan Hans sehingga duduk lagi. "Kami gak enak sama Safira bang. Safira sangat terpukul karena hal ini."
"Kamu gak percaya padaku? Aku juga ingin menjaga Safira. Sebelum kamu mengenalnya aku sudah mengenalnya lebih dulu. Safira dan Ira sudah kuanggap seperti adekku." Hans berkata menggebu-gebu.
Bagas melirik Ira, meminta persetujuannya. Kalo disalahkan berdua kan lebih mending daripada menanggung kesalahan sendirian. Begitu pikirnya.
"Tapi abang janji ya. Ini tidak akan menyebar kemana-mana. Kasihan Safira." Ira mulai berbicara.
"Aku akan menjaga Safira dan kalian semampuku." Hans bicara mantap.
Ira melirik Bagas, memberi isyarat padanya untuk bercerita.
Bagas menarik nafas panjang.
"Pada awalnya aku juga tak sengaja mendengar virus mengatakan hal menjijikkan itu pada Safira. Aku bisa membelikannya untukmu asalkan....." Bagas mulai bercerita, tentang tawaran virus, hancurnya Safira saat Bagas menemuinya di danau kampus, tugas-tugas yang diberikan virus di kantor dan saat Safira pingsan di depan ruangan virus juga ketika Safira meninjunya.
Gemeretak gigi Hans terdengar, kepalan di tangannya menguat. Dadanya ikut terbakar saat Bagas menceritakannya.
"Fairuz Saputra. Itu nama pria brengsek itukan?" Hans mengucap nama Fairuz dengan mata berkilat.
"Bang.." Ira sedikit takut melihat kepalan tangan Hans di atas meja.
"Aku akan mengurusnya." Hans berbicara dengan pandangan lurus ke depan.
"Abang mau ngapain?" Ira mulai takut dengan apa yang akan dilakukan Hans.
"Melakukan yang harus dilakukan. Ini tidak bisa dibiarkan kan?" Hans memandang Bagas dan Ira bergantian.
"Bagaimana Safira? Ini jangan menyebar bang." Bagas mulai ikut kuatir.
"Percayalah padaku. Aku juga akan menjaga Safira. Sejak aku melihatnya panik di koridor club karaoke, ada perasaan ingin menjaganya muncul begitu saja. Gadis polos itu kebingungan, wajahnya pun lucu sekali." Hans tersenyum mengingatnya.
Flashback on
Hari itu seorang senior berulang tahun, mengundang seluruh karyawan di ruangannya datang ke club karaoke. Semua harus ikut termasuk Safira dan Ira yang baru satu bulan mulai bekerja.
Mereka berangkat bersama-sama menggunakan tiga mobil. Saat tiba di sana. Sepasang gadis mulai bingung terlihat jelas tak nyaman dengan koridor yang didesain dengan lampu berkedip-kedip berbagai warna juga musik ala club malam.
"Apa yang akan kita lakukan?" Safira bertanya cemas pada Ira.
"Aku juga baru pertama kali ke tempat seperti ini Fir." Ira menimpali sambil berbisik.
"Apa kita pergi saja? Aku takut masuk ke tempat begini." Wajah Safira sudah panik sekarang.
"Kalian berdua ngapain di sini? Yang lain sudah masuk kan." Hans yang baru keluar dari toilet berjalan ke depan lagi saat melihat dua orang karyawati baru tak juga menyusul rombongan.
__ADS_1
"Kami mau pulang saja pak." Safira yang menjawab.
"Kenapa?" Hans mengernyit
"Kami tak biasa ke tempat seperti ini?" masih Safira yang menjawab.
Hans tersenyum, di dalam hatinya sudah tertawa melihat dua gadis lugu di depannya.
"Masuklah. Aku temani, aku yang menjamin keselamatan kalian. Di sini kita ramai-ramai di dalam ruang karaoke yang sudah dipesan, hanya bernyanyi dan makan saja." Hans melangkahkan kakinya terlebih dahulu tapi saat tak mendengar langkah kaki yang mengikutinya dia kembali berbalik. "Ayo Safira Ira!"
Safira dan Ira mengikuti langkah Hans. Saat pintu terbuka pemandangan sofa berjejer dengan meja di depannya langsung terlihat. Dua orang sudah berdiri memegang mic siap bernyanyi. Merekapun duduk bertiga di sebuah sofa yang masih kosong tak lama kemudian ada yang masuk mengantarkan makanan dan minuman.
"Hanya minuman soda, kalian gak perlu kuatir." Hans menenangkan dua gadis di sampingnya.
Safira dan Ira tersenyum kaku. Antara malu dan lega.
Sejak saat itu Hans dekat dengan Safira dan Ira. Jika ada acara atau makan siang mereka pergi bersama, semakin dekat dengan mereka, Hans semakin tahu kebaikan dan kepolosan mereka. Dan perasaan untuk melindungi mereka semakin kuat, karena tak sedikit yang ingin memanfaatkan mereka.
Flashback off
.
Reffan terus menunggu di samping Safira sementara Bayu menunggu di luar ruang tindakan.
Bibirnya tak berhenti tersenyum memandang wajah istrinya dan mengusap lembut perut Safira.
Aroma khas rumah sakit langsung menusuk hidungnya. Tak perlu bertanya Safira sudah tahu apalagi ada selang oksigen di hidungnya.
"Sudah bangun?" Reffan berganti menggenggam tangan Safira yang menyentuhnya.
"Iya mas. Maaf mas." Safira berusaha untuk duduk.
"Kenapa minta maaf?" Reffan membantu Safira duduk.
"Jadi merepotkan mas."
"Kesalahanmu bertambah satu." Reffan duduk di tepi ranjang menatap wajah istrinya.
Safira mengerjap-ngerjap bingung.
"Pertama, tidak mengatakan pada su-a-mimu pernah pingsan setelah keluar dari ruangan Fairuz. Kedua, menganggap su-a-mi repot mengurusi istrinya." Reffan mengatakan dengan menekan suku kata suami sambil mengecup pipi kanan dan kiri Safira.
"Maaf mas." Wajah Safira memerah.
"Sekarang kesalahanmu ada tiga karena meminta maaf lagi." Reffan menyentil hidung Safira.
Safira langsung terdiam.
"Tapi karena aku sedang bahagia hari ini, aku akan menghukummu lain waktu." Reffan tersenyum mengecup puncak kepala Safira.
__ADS_1
"Mas, bahagia kenapa?" Safira memandang lekat netra suaminya.
Reffan mencium perut Safira membuat Safira terkejut.
"Mas?" Safira heran menatap Reffan
"Ada anakku di sini." Reffan mengusap perut Safira lembut.
"Anak?" Netra Safira berkaca-kaca. "Ada anakku di sini mas?"
"Anakku sayang! Aku yang bekerja keras." Reffan tersenyum penuh makna.
"Anakku mas aku yang mengandung, dia ada di perutku." Safira tidak mau kalah.
"Jika aku tidak lembur memang bisa?" Reffan mencubit hidung mancung istrinya.
"Jika tak ada ovum yang dibuahi juga gak akan jadi kan?" Safira mencubit pinggang Reffan.
Kemudian keduanya tersenyum dan saling memeluk.
"Anak kita sayang. Anugerah terindah untuk kita." Reffan mengecupi wajah Safira yang berada dalam pelukannya.
"Selamat sore pak dan bu Reffan." Seorang dokter perempuan masuk ke dalam ruangan.
"Sore dok." Safira menjawab dengan wajah merona.
"Maaf saya mengganggu sebentar ya pak bu." Dokter tersebut tersenyum karena datang di waktu yang tidak tepat mengganggu kemesraan dua orang di depannya. "Perkenalkan, saya dokter Erina, dokter kandungan yang hendak memeriksa bu Safira."
Reffan mempersilakan dokter Erina untuk memeriksa Safira dibantu oleh seorang perawat perempuan.
Saat ini dokter Erina menggerakkan alat usg di perut Safira dengan sedikit menekannya.
"Usianya akan masuk empat minggu ya pak bu. Alhamdulillah kondisi kandungannya baik, mudah-mudahan kondisi Bu Safira selalu sehat dan bayinya berkembang dengan baik."
"Aamiin.." Ucap Reffan dan Safira hampir bersamaan. Reffan dan Safira saling menatap, apa yang mereka pikirkan sama. Usia hampir empat minggu itu artinya penyerangan pertama langsung berhasil. Wajah Safira langsung merona mendengarnya.
"Kecil sekali dok?" Reffan bertanya sambil melihat layar yang menampilkan hasil usg.
"Iya pak masih sangat kecil dan usia trimester pertama masih rawan jadi kondisi bu Safira harus dijaga." Dokter menjelaskan sambil tersenyum.
"Apa ada larangan dok?" Reffan terlihat sangat antusias dengan kehamilan Safira.
"Diusahakan selalu makan-makanan yang bergizi, jangan terlalu lelah dan stress. Saya akan meresepkan vitamin juga untuk bu Safira." Dokter memandang wajah Reffan dan Safira bergantian.
"Apa tidak masalah melakukan penerbangan?" Reffan kembali bertanya.
"Saya akan meresepkan obat penguat kandungan jika bu Safira akan melakukan penerbangan. InsyaAllah aman melihat kondisi kandungan Bu Safira saat ini." Dokter Erina menjawab dengan tetap tersenyum.
"Apa masih boleh berhubungan?" Reffan bertanya dengan wajah datar. Dokter Erina tersenyum. Safira langsung menunduk dengan wajah merona tak terhingga.
__ADS_1