
"Apa yang harus kita maafkan, kami tak merasa kamu ada salah." Kini Bagas yang menjawab.
"Ah kalian..." Ada rasa lega di hati Safira tak henti-hentinya dia bersyukur atas kebahagiaannya hari ini.
Pintu terbuka..
"Yeay.... makanan datang." Bagas bersorak seperti anak kecil saat melihat beberapa orang datang menyajikan makanan.
Safira kembali terkejut saat melihat sebuah tumpeng berukuran jumbo dengan lauk yang beraneka ragam. Otaknya masih belum percaya jika mereka menyiapkan ini semua untuknya.
Ting ting.. Terdengar Bagas mengetuk gelas dengan sebuah sendok.
"Perhatian semua, jangan ada yang nyenggol tumpengnya dulu." Ucap Bagas menyadarkan semua mata untuk tertuju padanya padahal sepasang mata mereka sudah memandang takjub pada tumpeng yang meningkatkan produksi saliva.
"Hari ini kita akan mendoakan rekan kerja dan sahabat kita Safira Nadhifa Almaira, meskipun dia tak lagi bekerja bersama kita semoga Safira selalu mendapatkan kebahagiaannya." Suara riuh tepuk tangan menyambut suara Bagas yang sudah bertingkah layaknya presenter acara. "Dan yang terakhir, konsumsi hari ini disponsori oleh Reffan Satriya Bagaskara yang sekaligus meminta do'a dari kita untuk kesehatan istri dan anaknya yang masih dalam kandungan. Yang tak lain adalah suami Safira Nadhifa Almaira."
Suasana semakin riuh saat semua orang tahu Safira sedang hamil. Bibir mereka bergantian mengucapkan selamat dan mendo'akan Safira. Safira menitikkan air matanya mendapatkan semua yang ada di hadapannya.
"Ah mas Reffan. Kamu pasti berkomplot dengan Bagas." Hati Safira berseru, tangannya menghapus jejak airmatanya.
Ting Ting...
"Dan yang terakhir.... mari kita makan, jangan sungkan dan jangan lupa berdo'a." Kata-kata Bagas disambut sorakan teman-temannya.
Bagas tersenyum memandang Safira sejenak kemudian berganti memandang Ira yang berdiri di samping Safira.
"Kamu bukan jodohku Safira, tapi aku tak pernah menyesal mengenalmu." Bagas bergumam dalam hatinya.
.
Lift terbuka, seorang wanita berlari kecil saat melihat suaminya masih duduk di lobbi dengan mata yang tertuju ke layar ponsel canggihnya. Namun saat suara sepatu beradu dengan lantai terasa mendekat ke arahnya, Reffan segera berdiri hendak menghentikan langkah kaki yang terlalu cepat.
"Jangan lari Safira!" Reffan kalah cepat dengan langkah Safira. Sejenak mereka berpandangan, hanya dua detik, Safira langsung menabrakkan tubuhnya memeluk suaminya dengan air mata yang kembali menetes.
"Mas curang, kenapa tidak memberitahuku." Safira sesenggukan di pelukan Reffan. Sekarang dia tak malu lagi memperlihatkan sisi rapuhnya pada suaminya.
Reffan tersenyum mengusap lembut punggung istrinya.
"Jika memberitahumu apa masih bisa disebut kejutan?" Bisik Reffan. "Gak malu berpelukan di lobbi begini?"
Safira langsung melepas pelukannya kemudian mengedarkan pandangan pada resepsionis yang senyum-senyum melihat ke arahnya ada juga petugas keamanan, dan cleaning servis yang menghentikan aktivitasnya untuk melihat adegan drama romantis secara langsung.
Safira menunduk dengan pipi merona. Wajah-wajah mereka sudah tak lagi asing menatap Safira, bahkan resepsionis mengacungkan dua jempolnya ke arah Safira. Safira hanya tersenyum dengan wajah yang semakin memerah.
"Mas..." Safira mengharap ke arah Reffan lagi. "Terima kasih... terimakasih untuk semuanya..." Safira meraih tangan Reffan kemudian menciumnya. Reffan tak mencegahnya tapi kemudian menarik kembali tangan Safira kemudian balas mengecup berkali-kali jemari Safira yang digenggamnya.
"Mas..." Safira menarik tangannya tapi di tahan oleh Reffan.
"Kamu bahagia?" Reffan bertanya setelah selesai acara kecup-kecup tangan Safira.
"Sangat. Terimakasih." Jawab Safira dengan senyum merekah yang mengalahkan indahnya bunga.
"Aku tidak bisa membalas perlakuan Fairuz padamu karena tangan Allah sudah menggerakkan makhluknya untuk membalas perbuatan Fairuz padamu. Aku hanya bisa menyembuhkan luka di hatimu dan membuatmu tersenyum melupakan semua masalah yang mampir ke kehidupanmu."
__ADS_1
Flash back on
Reffan menggerakkan jemari di layar ponselnya.
R : Bagas apa kamu sibuk?
B : Tidak. Ada apa?
R : Apa aku bisa minta bantuan. Safira ingin ke kantor untuk meminta maaf pada teman-temannya besok.
B : Ah, aku mengerti maksudmu. Tunggu kabar dariku, aku akan mengkondisikan kantor dulu.
R : Sepertinya ini bisa membantu. (Reffan mengirimkan potongan rekaman suara Fairuz saat mengancam Safira)
B : Aku memang membutuhkannya agar lebih mudah meyakinkan mereka semua.
Reffan tersenyum, Bagas memang cerdik dan tanggap.
Ting...Ting... Suara sendok dan cangkir beradu.
"Perhatian sebentar semua." Suara Bagas mengundang semua mata melihat ke arahnya. Tepat tiga puluh menit sebelum jam pulang Bagas berniat meluruskan kesalah pahaman yang terjadi. Lagipula gendang telinganya sudah tak sanggup menangkap omongan buruk tentang Safira. Tanpa Reffan meminta, Bagas sudah berencara mengakhiri perbincangan rekan-rekannya tentang Safira.
"Saya Bagas sahabat Safira ingin meluruskan yang salah." Orang-orang mulai keluar dari kursi kerjanya dan bergerombol saling berbisik dengan sahabatnya.
"Apalagi sih Bagas. Tak mungkin istri Pak Fairuz bicara begitu jika tak ada apa-apa dengan Safira." Ujar Farida salah satu karyawati.
"Sudahlah pak Bagas jangan membela sahabatmu itu. Jangan-jangan kamu masih suka sama Safira. Cinta mati sampai matamu buta." Rekan yang lain menimpali.
Bagas melirik Ira yang menunduk.
"Aku saksinya saat si Viruz itu, ehm maksudku pak Fairuz yang menawarkan apartemen pada Safira." Bagas mulai bicara.
"Wah pantesan Safira tergiur. Imbalannya fantastis." Farida bersuara lagi.
"Woi diem, dengerin dulu. Lama-lama cangkir ini melayang juga nih!" Bagas mulai jengah dengan teman-temannya.
Semuanya langsung terdiam melihat kobaran api di belakang Bagas. Bagas menakutkan ternyata jika marah.
"Safira, wanita yang baik mana mungkin dia menerima tawaran itu. Dia justru jijik pada si Viruz itu. Aku lebih suka menyebutnya begitu, jangan ada yang protes. Aku dan Ira saksinya, Virus terjungkal ke lantai setelah ditonjok Safira yang baru bangun dari pingsannya." Bagas memandang ke arah Ira begitu juga orang-orang yang ada di sana
Ira mengangguk, "Itu benar."
"Safira hari ini tak masuk kerja bukan karena malu bertemu kalian. Tapi karena dia ada di rumah sakit akibat ulah Viruz yang membuntuti dan menganiayanya. Aku sendiri yang melihat Safira terluka dan hampir saja dibawa Viruz. Aku membuntuti Viruz yang membuntuti mobil Safira. Ah, kenapa jadi blibet bahasanya." Bagas bingung dengan susunan kata-katanya.
Semua orang terperangah mendengarkan Bagas, mulai ada yang percaya pada kata-kata Bagas. Tapi masih juga ada yang meragukannya.
"Kata-kata tanpa bukti. Hoaks!" Farida menyahut.
"Hah, apa kau tak punya hati?" Bagas membuang nafas beratnya. "Kalian jawab pertanyaanku, pernahkan Safira berbuat atau berbicara yang tidak semestinya?"
Semua orang tampak berpikir kemudian menggeleng hampir bersamaan.
"Apa pernah dia bertingkah genit?" Tanya Bagas lagi.
__ADS_1
Semuanya menggeleng dengan cepat
"Ah bahkan make up kalian lebih tebal darinya." Bagas tersenyum asimetris.
Para wanita saling berpandangan, sedikit tersentil dengan ucapan Bagas. Tapi itulah kenyataannya Safira hampir tak terlihat memakai make upnya.
Bagas memperdengarkan rekaman yang diberikan Reffan padanya.
F : Hebat sekali, kau punya berapa tangan bisa menyelesaikannya?"
S : Allah maha baik.
F : Seharusnya kamu iyakan saja tawaranku. Tanganmu tak perlu lelah seperti saat ini. Kau untung, akupun senang.
S : Interupsi! Saya merasa sama sekali tidak diuntungkan dengan tawaran anda.
F : Safira sebenarnya aku tidak suka menekan apalagi mengancam wanita secantik dirimu. Tapi aku sudah tidak sabar untuk mencicipimu.
Safira Nadhifa Almaira, kamu tahu kan aku memiliki kekuasaan untuk menilai kinerjamu dan memprioritaskan siapa yang akan di mutasi.
LDR-an mu akan semakin jauh jika kamu aku rekomendasikan mutasi ke seberang pulau. Kalimatan, Sulawesi atau bagaimana jika Maluku? Bukankah kau belum pernah ke sana? Aku tak yakin suamimu bisa membeli tiket setiap minggu untuk menemuimu. Kamu saja masih harus bekerja, apa suamimu keberatan menanggung biaya hidupmu? Kebanyakan suami begitukan, membiarkan istrinya bekerja agar istrinya tidak banyak menuntutnya?
S : Apa anda sedang membicarakan diri anda pak?
F : Untung kamu cantik Safira, jadi aku memaafkanmu. Tapi tidak setelah ini. Datang makan malam hari ini! Kamu akan segera tahu tempatnya. Jika kamu masih menolakku, aku akan sangat menikmati penderitaanmu.
S : Lakukan apa yang ingin anda lakukan. Saya juga akan melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Saya tidak takut pada manusia, pemilik bumi ini adalah Allah, penggenggam nyawa anda juga Allah. Saya hanya cukup berada di jalan yang lurus.
Ekspresi wajah teman-teman Safira sudah tak beraturan, ada yang geram bahkan mual mendengar perkataan Fairuz.
"Viruz membebani Safira dengan tugas-tugas yang mustahil dikerjakan seorang diri. Aku membantunya bukan karena aku pernah menyukainya tapi karena Safira layak dibela." Bagas menyimpan kembali ponselnya.
"Brengsek benar Viruz ini." Kini Farida geram bukan main. "Kemana si Viruz kita harus memberinya pelajaran."
"Dia tak akan kembali ke sini." Bu Dar muncul tiba-tiba. "Dia sudah menuai hasil perbuatannya."
.
Safira menatap bangunan tinggi yang ditinggalkannya dari balik kaca mobil. Tiga tahun dia mengabdi di sana, berbagai kenangan masih terekam dengan sempurna.
"Apa yang kamu pikirkan sayang?" Reffan meraih tangan istrinya.
Safira menggeleng dan tersenyum. "Maaf ya mas, mas pasti bosan menungguku tadi."
"Satu setengah jam, aku hampir menyuruh Bayu membawakan laptopku tadi." Reffan berpura-pura kesal.
Safira memeluk lengan suaminya. Mereka duduk berdua di bangku belakang. Ada sopir yang di kursi kemudi.
Reffan menatap Safira yang tersenyum manis padanya.
"Ada apa tersenyum begitu?" Tanya Reffan curiga.
Safira semakin erat memeluk tangan Reffan membuat tubuh Reffan merasakan lekuk tubuh bagian depan istrinya.
__ADS_1
Safira memasang wajah semanis madu, "Mas aku boleh ke Yogya? Aku rindu ibu dan ayah."