
Perencanaan pembangunan resort berjalan lancar. Ini pertanda Reffan dan rombongan harus kembali ke Jakarta karena ada banyak pekerjaan lain yang menunggu di sana. Besok mereka akan kembali ke Jakarta, itu artinya sore ini adalah hari terakhir mereka menikmati langit senja di kawasan pantai ini.
Reffan, Safira, Bayu dan Tama sedang piknik di pinggir pantai menikmati angin sepoi-sepoi menunggu langit yang sebentar lagi berwarna jingga. Jangan membayangkan mereka berkumpul dalam satu tikar. Ada dua tikar di sana tentu saja karena Reffan tak mau Bayu dan Tama ikut menikmati pahatan wajah sang istri tercinta apalagi ikut mengaguminya.
Berulangkali Bayu dan Tama membuang nafas beratnya meratapi senja yang memukau di tepi pantai bersama manusia sejenisnya. Sesekali mereka melirik ke pasangan halal yang sedang tersenyum bahagia tak peduli penderitaan mereka.
Reffan dan Safira makan saling menyuapi, minum dari sedotan yang sama, saling mencubit mesra. Intinya berbagi kebahagiaan walau hanya sekedar bercerita. Deburan ombak dan langit yang hampir senja memang indah tetapi pemandangan sepasang insan tak jauh dari mereka menarik untuk dilirik. Dua hati pria yang sudah berusaha untuk tak peduli tetap saja timbul iri. Dua hati itupun sepakat akan bekerja keras mencari pelabuhan rindunya.
.
Selamat tinggal panorama pantai, selamat datang di kota tersibuk di Indonesia. Setelah turun dari bandara kini mereka berada di dalam mobil berbaur dengan kendaraan lain menikmati macetnya ibukota. Cukup lama mobil bergerak merayap bahkan seringkali berhenti menunggu giliran berjalan. Safira sudah tertidur di lengan Reffan tak peduli apa yang terjadi di luar mobil mereka.
Safira baru bangun saat gerbang pagar didorong untuk memberi jalan mobil mereka masuk ke dalam.
"Mas.. Ini kita kemana?" Safira mengamati rumah yang kini dapat dilihatnya dengan jelas dari dalam mobil.
Reffan hanya tersenyum.
"Maaf pak kami langsung balik." Ucap Bayu.
"Iya. Terimakasih sudah bekerja keras." Jawab Reffan.
"Sama-sama pak." Bayu dan Tama menjawab dan mengangguk hampir bersamaan.
"Ayo sayang!" Reffan mengajak Safira turun dari mobil.
Semua barang-barang Reffan dan Safira sudah diturunkan dari mobil. Security rumah tersebut menyeret koper masuk ke dalam rumah.
Safira masih heran memandang rumah dengan gaya minimalis yang terlihat megah dan kini berada di hadapannya. Sementara Reffan hanya tersenyum melihat wajah penasaran istrinya.
"Mas..." Safira menoleh ke arah suaminya berharap suaminya memberikan penjelasan.
"Selamat datang di rumah kita sayang." Reffan mengucapkan dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya.
Safira sedikit melebarkan matanya seolah tak percaya jika Reffan telah menyiapkan rumah untuk mereka.
"Kamu suka?" Reffan bertanya setelah sebelumnya menyadarkan Safira dengan kecupan di pipinya.
"Ehh.. iya mas. Aku suka dan....terkejut." Ada rona bahagia bercampur haru yang tersirat dari netranya yang berkaca-kaca.
"Ayo kita masuk!" Reffan merangkul pundak Safira membawanya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Senyum Safira merekah saat mereka melalui pintu untuk masuk ke dalam rumah.
"Mas Reffan sudah menyiapkan semuanya." Netra Safira mulai menikmati tatanan rumah gaya modern minimalis, semuanya terasa manis di tempatnya.
"Untuk istri dan anakku, ini juga baru selesai sayang. Masih fresh." Ucap Reffan berbangga. Tentu saja dia merasa bangga karena berhasil menyiapkan hunian yang nyaman untuk istri dan anaknya.
Safira tak sanggup lagi berkata-kata, netranyapun masih berkaca-kaca. Sungguh dia tak mengira Reffan sudah menyiapkan semuanya.
"Ayo kita lihat kamar kita!" Reffan kembali merangkul pundak istrinya.
Jika biasanya kamar utama berada di lantai atas, Reffan menyiapkan kamar utama di lantai bawah karena tidak ingin mengambil resiko apapun untuk Safira yang sedang hamil. Namun, di lantai dua juga ada kamar lagi untuk mereka jika ingin menikmati suasana balkon dari kamar.
"Nanti malam kita coba ya!" Ucap Reffan berkedip saat telapak tangan Safira menyentuh ranjang besar yang terlihat sangat empuk dan nyaman.
Safira tersenyum kemudian menyembunyikan wajahnya.
"Kamu ratu di rumah ini. Jika ada yang ingin kau ubah, silakan saja sesuai kehendakmu." Kini Reffan berdiri di depan Safira meraih tangannya dan mencium punggung tangannya. Mata mereka beradu dengan senyum yang masih tak ingin lepas dari masing-masing wajah.
Tangan Reffan sudah meraih pinggang istrinya, memeluknya dan membuang jarak yang mengganggu saja. Bibir mereka semakin dekat dan kini sudah saling menempel.
"Assalamu'alaikum... Reffan Safiraaa..." Suara seorang wanita yang tak asing mengejutkan adegan romantis yang baru saja tercipta.
Reffan menghembuskan nafas kasar sedangkan Safira menahan senyumnya.
"Senyum-senyum awas kamu ya!" Reffan menoel hidung istrinya.
"Udah ah, yuk kasihan mama!" Safira menarik tangan Reffan agar keluar kamar bersamanya.
Safira langsung melepas genggaman dari tangan Reffan saat melihat mama Raisa.
"Mama..!" Safira menghambur memeluk mama mertuanya. Mama Raisapun membalas pelukan menantu yang masih satu-satunya itu tapi lirikannya tajam ke arah Reffan membuat Reffan salah tingkah.
"Aku kira tadi kita mau ke rumah mama. Eh, aku bangun tidur malah sampai sini. Kami juga baru sampai ini tadi ma." Safira masih memeluk mama Raisa, dia juga merindukan mama mertuanya.
"Iya sayang. Tadi Reffan ngasih kabar dalam perjalanan kemari jadi mama langsung ke sini."
"Kita ngobrol di teras samping aja yuk!" Ajak Reffan pada kedua wanita kesayangannya.
"Mama sama mas Reffan duluan ya. Aku ke kamar mandi dulu." Ucap Safira sambil tersenyum karena dia memang ingin buang air kecil.
"Berani sendirian gak?" Tanya Reffan menggoda istrinya.
__ADS_1
"Apa sih?" Safira mencubit lengan suaminya.
Mama Raisa hanya menggelengkan kepala.
"Sudah ah sana!" Safira mendorong tubuh suaminya agar segera mengajak mama Raisa ke teras samping, lebih tepatnya agar Reffan berhenti menggodanya di hadapan mama Raisa.
"Bentar ya ma." Ucap Safira.
"Iya sayang." Ucap mama Raisa kemudian mengikuti langkah Reffan.
.
Entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya. Saat ini Safira lebih memilih untuk menghentikan langkah dan bersandar di balik dinding.
"Kenapa sih Fan kamu tega bener sama mama? Mama sudah membayangkan kalian akan tinggal bersama mama ditambah lagi cucu mama nanti jika Safira sudah melahirkan." Suara mama Raisa.
"Kan aku sudah bilang ke mama. Aku juga pengen punya rumah sendiri untuk anak dan istriku." Suara Reffan terdengar agak kesal.
"Mama janji mama akan baik sama Safira. Mama juga sayang sama Safira. Mama bukan mertua seperti di sinetron-sinetron."
Terdengar Reffan tergelak. "Mama masih suka nonton sinetron?"
"Kadang-kadang cuman lewat. Kalau drakor lebih sering."
Reffan semakin tergelak.
"Ah, kenapa jadi ngomongin drakor sih. Ayolah Fan, mama ini semakin tua masak kamu tega mama dan papa hanya berdua saja. Di kamar ketemu papa, di meja makan ketemu papa, di halaman ketemu papa."
"Aku gak bosan tuh ma ketemu Safira tiap hari." Jawab Reffan dengan senyum nakalnya.
"Ih.. anak ini." Mama Raisa sudah akan mencubit pinggang Reffan tapi Reffan keburu menghindar sehingga mama Raisa hanya bisa mengenai kaos putranya.
"Bentar ma. Safira kok lama ya. Aku lihat dulu ya!" Ujar Reffan dengan langkah meninggalkan mamanya.
Namun baru saja Reffan akan masuk ke dalam rumah lagi. Reffan sudah menangkap bayangan Safira yang tak sempat menghindar.
"Mas.." Safirapun melangkah mendekat karena sudah terlanjur ketahuan.
"Sayang, kenapa malah di situ?" Reffan nampak biasa saja saat melihat istrinya.
"Maaf mas. Gara-gara aku..." Ucapan Safira terhenti saat Reffan mendaratkan telunjuknya menempel di bibir Safira.
__ADS_1