
"Sial. Kenapa wanita itu begitu beruntung." Bella melempar tas jinjingnya saat baru saja membuka pintu kamarnya.
"Laki-laki itu pasti buta bagaimana bisa dia tidak tertarik pada kemolekan tubuhku. Brengsek!" Bella mengacak rambutnya yang dicat pirang.
Flashback on
"Saya tidak terima bang. Abang kan sudah janji saya bisa mendekati Reffan dari Jakarta itu." Bella yang berdua dengan Bara di ruangan meluapkan semua kekesalan yang ditahannya tadi.
"Kamu kan tadi sudah dengar sendiri. Aku yang salah karena tidak mencari tahu tentang Pak Reffan. Aku pikir dia akan suka dengan yang telah kusiapkan untuknya, nyatanya dia telah mempersiapkan segala yang dibutuhkan sendiri." Bara berkata dengan pandangan yang menerawang.
"Nasib saya bagaimana dong bang. Saya sudah menyusun rencana untuk mendekatinya. Eh malah sekarang saya kehilangan jalan." Bella masih terus bersuara tak peduli kondisi Bara yang sedang resah.
"Sudah Bella bahkan kamu tidak kehilangan apapun. Kamu masih jadi karyawanku dan menerima gaji kan?" Bara kesal juga dengan Bella yang terus bicara. "Sekarang kamu keluar saya masih ada yang harus saya kerjakan."
"Kok abang jadi dingin begini sih?" Bella berjalan mendekat ke Bara.
"Stop Bella keluar sekarang! Dan mulai saat ini bersikaplah selayaknya karyawan, hormati saya selaku bosmu!" Bara sedikit mengeraskan suaranya.
Bella sungguh terkejut dengan perubahan sikap Bara tapi dia juga takut Bara akan semakin marah. Dia baru saja kehilangan jalan mendekati Reffan dia tak mau kehilangan pekerjaan juga. Dengan wajah kesal yang bertumpuk, Bella keluar dari ruangan Bara.
Flashback off
.
"Jangan bukakan pintu pada siapapun!"
"Iya mas."
"Segera hubungi aku jika membutuhkan sesuatu."
"Iya mas."
"Jangan kelelahan!"
"Iya mas."
"Jangan lupa nanti malam!"
__ADS_1
Safira hanya diam, netranya tajam melirik suaminya.
"Kok diam? Harusnya dijawab, Iya mas." Reffan tersenyum mengusap pipi istrinya.
"Baik-baik ya di rumah. Nanti siang aku pulang. Aku sudah bawa kunci. Kamu istirahat saja ya biar nanti malam gak capek." Bisik Reffan di dekat telinga Safira.
Safira menusukkan telunjuk tangannya ke pinggang Reffan.
"Auw." Reffan pura-pura tersakiti. "Jangan sekarang sayang, Bayu dan Tama sudah menunggu!" Ucap Reffan yang tangannya sudah mencekal kedua tangan Safira.
Safira cemberut, sebuah kecupan di bibir manyun Safira membuat wajahnya langsung merona.
"Mas, katanya sudah ditungguin." Safira mengingatkan kata-kata Reffan sebelumnya.
"Secepat mungkin aku akan pulang." Ucap Reffan kemudian mengecup pipi, bibir dan berakhir di puncak kepala sambil mengusap lembut perut Safira.
.
Safira sendirian di rumah. Matahari sudah terasa menyengat namun angin khas pantai membuat suasana hati membaik. Tidak banyak aktivitas yang dilakukannya karena Reffan melarang ini dan itu. Safira hanya solat Dhuha, mengaji, membaca buku tentang kehamilan yang dibelikan Reffan untuknya.
Tok Tok..
Safira melangkahkan kakinya mendekati jendela untuk melihat siapa yang datang. Dilihatnya seorang pria yang mungkin usianya tak berbeda jauh dengannya.
"Maaf ada apa pak?" Safira bertanya dari jendela.
"Saya mengantarkan makanan untuk nyonya Reffan." Jawab pria itu dengan senyum yang mengembang. Di dalam hatinya dia mengagumi kecantikan wanita yang berbicara dengannya. "Alamak cantik sekali wanita ini, sejuk benar memandangnya."
Safira berpikir sejenak. Suaminya tak menghubunginya jika menyuruh orang mengantar makanan.
"Tolong ditaruh meja di teras saja ya pak." Ucap Safira.
"Tapi saya diminta langsung untuk memberikan pada nyonya Reffan. Bisakah ibu menerima langsung agar saya bisa melaporkannya."
"Ditaruh di situ saja. Nanti saya akan mengambilnya."
"Kenapa tidak langsung diterima bu?"
__ADS_1
"Saya harus izin suami saya dulu untuk membuka pintu." Ucap Safira tenang.
"Bukankah lebih mudah ibu menerima langsung sehingga saya bisa mengatakan ibu langsung yang menerima sesuai pesanan pak Reffan?"
"Ditaruh saja di meja itu pak. Terimakasih." Perintah Safira tak ingin didebat lagi.
Pria itu dengan ragu meletakkan bungkusan makanan di meja teras.
Rumah yang ditempati Safira saat ini memang tanpa pagar jadi jika ada orang yang datang akan langsung mengakses pintu utama.
Safira melihat orang tersebut pergi meninggalkan teras. Namun Safira tak segera membukakan pintu karena sejujurnya dia ragu suaminya yang mengirimkan pesanan untuknya. Bukankah tadi pagi Reffan mengatakan akan pulang saat makan siang dan ponselnya juga tidak menerima pesan dari Reffan.
"Gagal!" Ucap pria yang tadi mengantarkan makanan ke Safira.
"Bodoh! Sia-sia saja aku menyuruhmu. Hanya masuk ke rumahnya saja kamu tidak berhasil." Ucap seseorang di seberang yang terhubung melalui panggilan di ponsel.
Seorang wanita yang kesal memukul meja di hadapannya membuat sendok yang berada di piringnya terjatuh. Nafsu makannya langsung lenyap karena rencananya gagal.
"Kau merencanakan sesuatu?" Ucap seorang pria yang berdiri tepat di hadapan Bella.
"Bang Bara!" Bella terkejut Bara tiba-tiba ada di hadapannya.
"Apapun rencanamu. Hentikan!" Ucap Bara Tegas.
"Aku tidak...." Ucapan Bella tak sampai usai karena Bara sudah memotongnya.
"Aku mengenalmu Bella. Hentikan apapun yang kamu rencanakan. Kamu tidak mengenal siapa yang kau ajak bermain. Berfikirlah sebelum bertindak sebelum kamu menyesali sesuatu namun sudah terlambat."
"Bang ini tidak adil. Kenapa abang Bara jadi dingin padaku sekarang?" Bella sudah memasang wajah memelas yang dibuat-buat.
Bara menarik kursi di depan Bella. Kemudian duduk menatap tajam Bella yang lekat memandangnya.
"Kau tidak ingat apa yang dikatakan Reffan kemarin. Reffan hanya bekerja sama dengan orang yang tak cacat profilnya. Dia lebih baik kehilangan investasinya daripada harus bekerjasama dengan orang yang seperti itu. Selama ini aku memperlakukanmu spesial karena memang aku mencari kesenangan di luar rumah tapi itu tak sampai ke ranjang. Aku sudah memutuskan akan mencontoh pak Reffan. Sejujurnya aku juga ingin bisnisku semakin berkembang meluas seperti pak Reffan." Bara panjang lebar mengurai pemikirannya.
"Lalu bagaimana denganku? Kenapa kehidupanku selalu saja begini. Ini tak adil, aku harus bekerja keras untuk menghidupi diriku sendiri. Kenapa aku tidak berkesempatan untuk bahagia seperti wanita itu. Dia enak sekali menikmati kekayaan suaminya sementara dia hanya tiduran di rumah saja." Bella mengeluarkan kekesalan hatinya.
"Lihatlah dirimu dan istri pak Reffan. Kenapa kamu membandingkan dirimu dengannya padahal jelas sekali perbedaannya. Dan satu lagi mungkin ada kebaikan istri pak Reffan yang mengantarkannya di posisinya saat ini." Bara menimpali keluh kesah Bella.
__ADS_1
Bella tercekat, "Kebaikan? Aku tak pernah memikirkannya. Selama ini aku hanya memikirkan untung dan rugi. Akan kulakukan jika itu menguntungkanku."
"Kamu mengerti maksudku kan? Pikirkan itu, kita perbaiki pribadi kita. Kamu masih bekerja padaku, tapi jika kamu melakukan perbuatan bodoh, jangan salahkan aku jika aku memecatmu!" Bara berdiri, berbalik badan dan meninggalkan Bella yang membesarkan pupilnya menatap tak percaya perkataan Bara.