Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Bertemu Bos Baru


__ADS_3

Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan bagi orangtua saat melihat anak-anaknya ada di hadapan mereka, pun dengan mama Raisa dan papa Rendra. Sinar hangat mentari masih malu-malu menampakkan diri di pagi hari, mama Raisa tak biasanya berada di dapur karena setiap pagi asistennya yang akan menyiapkan menu sarapan. Tapi hari ini, tangan lembut sang ibu ingin menyiapkan sendiri sarapan untuk anak-anaknya karena hari ini Reffan akan ke Surabaya bersama Safira dan Raffi kembali melanjutkan studi-nya. Asisten yang hendak membantu tidak diperkenankan, Safira yang turun bersama Reffan setelah solat subuh diminta menjauh dan pergi menikmati taman. Pagi ini mama Raisa ingin membuat sarapan spesial untuk anak-anaknya.


Nasi goreng, sandwich panggang, jus kombinasi beberapa buah, salad buah dengan warna cantik yang menggoda khas mama Raisa yang tidak akan ditemukan di tempat lain semuanya sempurna terhidang di meja.


"Mama...." Safira mendekat ke arah mama Raisa kemudian mencium pipi kirinya dan memeluk pinggangnya. "Safirakan juga ingin membantu mama."


"Kapan lagi mama masak buat kalian. Yuk duduk! Fan panggil adekmu." perintah mama Raisa pada Reffan.


Papa Rendra sudah terlihat berjalan mendekat ke arah meja makan.


"Sebenarnya mama pengen kamu lama-lama di sini sayang. Tapi kamu harus kerja lagi, ya sudahlah gak papa yang penting kalian semua anak-anak mama sehat dan bahagia."


Merekapun sarapan bersama, wajah bahagia sengaja ditampakkan untuk menutupi rona kesedihan yang terselip dalam hati karena akan segera berpisah dengan kehangatan berkumpul bersama orang-orang yang menyayangi dan kita sayangi.


.


Semburat langit jingga menemani kedatangan Reffan dan Safira kembali ke Surabaya. Mereka sudah berada di dalam kamar Reffan di hotel miliknya. Duduk berdua saling memeluk memandang langit yang mulai kelam namun menawarkan keindahan baru pengganti senja. Langit bertabur bintang dan kilau bulan yang tak silau dipandang mata.


"Gak papa ya mas aku tinggal di rumah aja?" Safira merajuk ke Reffan, besok Reffan harus kembali ke Jakarta karena pusat bisnisnya dikelola dari Jakarta. Reffan masih terasa berat meninggalkan Safira sendirian apalagi di rumah sendiri. Namun Safira merasa lebih nyaman tinggal di rumah apalagi jika Reffan tak ada.


Reffan membuang nafas beratnya, dipandanginya wajah istrinya. Belum satu bulan usia pernikahan mereka, namun dekat dengan Safira sang istri sudah seperti candu baginya, aroma tubuh Safira, suara Safira, senyum manisnya... Ah, sungguh berat rasanya jika tidak melihatnya berhari-hari.


"Sayang kenapa kamu ingin kerja?" Pertanyaan Reffan tiba-tiba membuat Safira terkejut untuk menyiapkan jawaban.


"Mas... gak mudah bagiku untuk berada di posisi saat ini. Aku termasuk yang beruntung bisa diterima kerja di tempatku yang sekarang." Safira memberikan jawaban yang aman menurutnya.


Reffan mengecup bibir istrinya sekilas, "Aku merasa menjadi laki-laki tak berguna melihatmu bekerja keras seperti saat ini." Reffan menarik kepala Safira menyandarkannya di dadanya.


Safira bisa mendengar detak jantung sang suami dengan jelas, dapat dirasakan iramanya yang lebih cepat.


"Maaf ya mas untuk saat ini aku harus melanjutkan kerjaku." Safira bergumam hanya dalam hatinya.

__ADS_1


"Apa jika ada Reffan junior di sini kamu akan berubah pikiran?" Reffan menegakkan tubuh Safira kemudian mengelus lembut perut istrinya, matanya menatap wajah sang istri yang berubah kikuk.


"Eh mas.. ehm.." Safira kebingungan harus menjawab pertanyaan suaminya. Wajahnya malah berubah memerah, wajah menggemaskan yang sangat disukai Reffan.


"Aku ingin tahu apa kamu akan berubah pikiran nanti?" Reffan semakin menggoda istrinya, tangannya sudah menyelusup ke dalam pakaian sang istri, membuat sang istri semakin kebingungan. "Lembur ya malam ini." Bisiknya lembut di telinga sang istri, tangannya dengan cepat menggendong Safira ke tempat yang lebih nyaman.


"Lembur berapa jam?" Malu-malu Safira bertanya saat tubuhnya sudah terbaring sempurna di bawah Reffan.


Reffan tersenyum mendengar suara istrinya, hatinya senang sekali karena Safira mau menggoda walau masih malu-malu. "Sampai tengah malam. Hitung aja rapelannya!" Wajahnya sudah menyusup di leher istrinya.


"Mas ih..." Suara Safira sudah terputus, bibirnya dilahap Reffan begitu lama.


.


Sinar mentari masih hangat menyentuh kulit, berbanding terbalik dengan hati Safira yang mendung. Wajah Safira sendu menatap mobil sedan hitam yang menjauh bahkan bayangannya sudah tak terlihat lagi. Reffan akan kembali ke Jakarta setelah mengantar Safira ke kantornya, sepekan ini mereka akan berpisah, LDR-an begitu bahasa kerennya.


Safira melangkah lunglai ke ruang kerjanya. Entahlah saat ini baru terasa sedihnya, padahal tadi malam Safira baik-baik saja saat bersama Reffan yang terus memeluknya sepanjang malam. Justru Reffan yang terasa begitu berat melepas Safira, namun setelah Reffan tak terlihat lagi bayangannya, matanya memanas. Sekuat tenaga ditahannya butir benih yang ingin lolos dari sudut matanya.


"Woiii.... Aduh pengantin baru kenapa melamun sih."


Safira yang akan duduk di bangku kerjanya terlonjak mendengar suara Ira sahabatnya.


"Ngagetin aja sih." Protes Safira


"Masih pagi nona... kenapa sudah melamun? Belahan jiwa baik-baik aja kan." Ira bertanya sambil mengedipkan salah satu matanya.


Safira membuang nafas kasar saat diingatkan lagi tentang suaminya.


"Balik Jakarta." Jawab Safira singkat.


"Aih, LDR-an nih ceritanya.... cup cup kasihan." Ira menepuk-nepuk bahu Safira. Safira malah manyun mendapatkan perhatian dari sahabatnya yang malah terkesan meledek.

__ADS_1


"Udah ah.. mau kerja." Safira duduk di kursi kerjanya tangannya meraih map biru yang ada di depannya.


"Eh Fir, manager baru sudah tiba. Pak Fairuz, kenal gak? Kemarin dah mulai masuk, pas kamu cuti ada penyambutan buat Pak Fairuz." Celoteh Ira.


Safira mengernyitkan dahi berusaha mengingat nama Fairuz tapi nihil, Safira merasa tidak familiar dengan nama yang disebutkan Ira.


"Gak, aku gak tahu Pak Fairuz." Jawab Safira setelah memutar ingatannya.


"Pindahan dari Semarang. Orangnya....." Belum selesai Ira menjelaskan Bagas datang menyapa Safira.


"Dah masuk nih Safira. Gimana acara resepsinya? Lancar semua?" Bagas bertanya dengan senyum manis di wajahnya. Sepertinya Bagas sudah bisa menerima dengan baik jika Safira sudah menjadi milik orang lain.


"Alhamdulillah Pak lancar." Seperti biasa Safira hanya menjawab singkat pertanyaan dari kaum pria.


Mereka bertiga mengobrol sejenak karena masih ada lima menit sebelum jam kerja. Obrolan ringan layaknya sahabat yang baru bertemu di pagi hari hingga suara seseorang membuat semua orang di dalam ruangan menoleh ke arahnya.


"Pagi semuanya."


"Selamat pagi pak." sahut orang-orang yang ada di ruangan hampir bersamaan.


"Saya lihat sudah datang semua ya. Bagus sekali." Laki-laki yang baru saja datang mengedarkan pandangannya. Langkahnya mendekat ke meja Safira.


"Pak Fairuz.." Ira berbisik ke arah Safira. Safira yang merasa atasannya berjalan ke arahnya segera berdiri.


"Kita belum bertemu kemarin. Sa-fi-ra itu nama kamu kan?" Ucap Fairuz memberikan penekanan disetiap suku kata nama Safira, Fairuz sudah berdiri di samping meja Safira.


"Betul pak saya Safira. Kemarin saya cuti pak, baru hari ini masuk setelah cuti." Safira berbicara menghadapkan badan ke arah Fairuz.


Safira menundukkan pandangannya setelah memandang wajah atasannya yang juga sedang memandang ke arahnya.


"Safiiiraaa... akhirnya saya tahu sekarang." Fairuz masih belum beranjak dari tempatnya. Netranya masih fokus pada Safira.

__ADS_1


Safira masih menunduk di belakang meja kerjanya, ada perasaan tak nyaman saat tak sengaja menatap netra atasannya tadi. Namun buru-buru dibuangnya semua perasaan dan prasangka buruk yang sempat mampir di otaknya. Tapi tidak dengan Bagas. Sepasang netranya menatap tajam netra Fairuz yang masih meneliti penampilan Safira.


__ADS_2