Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Hari H


__ADS_3

"Astaghfirullah."


Spontan Safira mundur karena kaget.


Orang yang duduk di ranjang menoleh ke arah Safira, tersenyum.


"Lama sekali sayang mandinya." Sekarang Reffan sudah berdiri menatap istrinya yang masih kaget mencengkeram handuknya di depan dada.


"Mmaasss.. kok, kok bisa di sini?" Suara Safira terbata.


"Wangi sekali di sini... hmmm..." Reffan menghirup dalam udara di kamarnya. Matanya terus melihat pemandangan indah di depannya, Reffan berjalan mendekat ke arah istrinya. Detak jantung Safira sudah tak karuan, padahal sudah beberapa kali mereka menghabiskan waktu bersama tapi kali ini seperti pertama kali mereka bersama. Mata elang Reffan terus mengincar buruannya, nafasnyapun memburu.


Melihat netra Reffan, tubuh Safira bergetar, diapun terus mundur sejauh mungkin padahal kakinya saja berat untuk digerakkan.


"Darimana aroma harum ini berasal?" Reffan kembali menghirup aroma menyegarkan semakin dalam. Bagian tubuh prianya semakin menegang mendapati Safira yang kesulitan menelan ludahnya sendiri. Reffan berjalan lambat seolah menikmati posisi istrinya yang semakin terpojok.


"Aromanya semakin kuat." Reffan sudah berdiri di depan Safira yang meremas handuk di dadanya. Reffan mengendus-endus udara di sekitar tubuh Safira. Kemudian tangannya dengan cepat meraih pinggang istrinya, memutar tubuh istrinya kemudian memeluknya dari belakang.


"Ternyata dari sini asalnya. Kamu harum sekali Safira." Reffan menciumi bahu Safira yang terbuka, naik ke lehernya hingga belakang telinganya. Tubuh Safira sudah membeku, suara-suara halus begitu saja lolos dari bibirnya.


"Mas..." Susah payah Safira menahan tangan Reffan yang sudah menjalar kemana-mana.


"Hmm.." Reffan menyingkirkan tangan Safira agar tidak mengganggunya dan kembali melanjutkan penjelajahannya. Bibirnya terus menelusuri leher dan bahu istrinya yang sangat menggoda.


"Mas, kan kata mama...." Belum juga kalimatnya selesai, Reffan sudah memutar tubuh Safira dan membungkam bibir istrinya dengan bibirnya. Pelukannya semakin erat, mengangkat tubuh istrinya dan menjatuhkannya di ranjang.


.


Tok tok.. tok tok..


Reffan menggeliat kesal, dengan terpaksa tangannya melepaskan pelukan pada istrinya. Dilihatnya jam dinding yang masih menunjukkan pukul dua lewat lima menit. Bukankah ini masih dini hari.


"Siapa yang berani mengetuk pintu dini hari begini." Gerutunya sambil memakai celana dan kaosnya. Langkahnya dengan tergesa segera menghampiri pintu karena kuatir istrinya ikut terbangun.


Emosinya sudah naik ke ubun-ubun saat membuka pintu karena Reffanpun masih ingin memejamkan mata setelah pertempuran yang sangat lama.


"Ada a---" Suara Reffan langsung tercekat saat mengetahui sosok yang mengetuk pintunya.

__ADS_1


"Mama.." Reffan langsung salah tingkah.


"Reffan kamu bener-bener ya.." Suara mama Raisa ditahan agar tidak menimbulkan kekacauan di dini hari. Kaki mama Raisa menginjak kaki anaknya. Kemudian didorongnya tubuh Reffan menjauh dari pintu.


Mama Raisa masuk ke dalam kamar, dilihatnya Safira tertidur pulas dengan selimut yang hanya memperlihatkan kepalanya. Mama Raisa tersenyum melihat wajah polos menantunya. Tapi kemudian wajahnya berubah garang saat membalikkan badan menghadap ke anaknya.


"Kamu ini ya. Semalam saja tidak bisa menahan diri. Bagaimana kalau wajah kalian terlihat lelah nanti apalagi Safira. Bener-bener ya..." Mama Raisa mencubit pinggang Reffan.


"Auw.. aduh ma. Justru tadi Reffan bikin Safira bisa tidur nyenyak." Reffan melompat menghindari mamanya yang sudah melotot ke arahnya.


"Awas ya... Jangan senggol Safira lagi." Mama Raisa melangkah keluar kamar, tangannya memperagakan adegan mengulek sebagai ancaman untuk anaknya. Namun yang diancam hanya meringis tak merasa bersalah sedikitpun.


Reffan mengunci lagi pintu kamarnya dan kembali masuk ke dalam selimutnya.


"Ada makanan enak banget, ya masak dibiarin aja apalagi pas laper-lapernya." Reffan mengecup puncak kepala Safira membuat istrinya menggerakkan kepalanya. Namun setelah Reffan mengusap-usap punggungnya, Safira kembali lelap dalam mimpinya. Reffanpun memejamkan matanya dengan tangan yang terus memeluk sang istri.


.


Safira dan Reffan baru saja menunaikan solat Subuh berjamaah. Setelah merapikan perlengkapan solat, Safira meraih ponselnya meneliti pesan yang masuk. Wajahnya begitu serius membaca pesan yang semalam belum dibukanya.


"Mas.." Safira membuka suara.


"Ehmm... mas maaf, apa bisa jika temanku datang nanti saat resepsi. Ada teman kerja dulu yang sekarang di Jakarta, dia marah karena aku tidak memberitahu dan mengundangnya saat pernikahan." Safira berbicara hati-hati.


"Suruh datang saja, semuanya sudah dilebihkan, akan kuhubungi WO agar membiarkan temanmu itu masuk tanpa undangan." Jawab Reffan santai.


"Terima kasih ya mas." Safira tersenyum bahagia, memeluk lengan Reffan.


"Godain nih?" Reffan mengangkat kedua alisnya menatap wajah istrinya. Safira langsung melepaskan tangannya dari lengan Reffan, kepalanya menggeleng.


Saat Reffan hendak menyentuh dagu istrinya. Ponselnya berdering. Wajahnya langsung kesal, namun tetap mengangkat panggilan di ponselnya.


"Cepat turun Reffan. Sarapan sekarang!" Suara mama Raisa sudah seperti guntur yang menyambar membuat Reffan sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Iya ma, sebentar lagi kami turun." Jawab Reffan santai sambil berkedip ke istrinya.


"Sekarang Reffan, sebentar lagi yang merias Safira akan datang. Safira harus sarapan dulu." suara mama Raisa sudah menggema di telinga Reffan.

__ADS_1


"Iya mama sayang." Reffan menjawab dengan penuh penekanan.


Setelah ponsel di tutup. Reffan meraih tangan istrinya mengajaknya turun sebelum mamanya naik ke atas menggedor pintu.


"Mas, tadi malam bagaimana caranya mas masuk kamar?" Safira masih penasaran dengan cara suaminya masuk ke dalam kamar padahal dirinya sendiri yang mengunci pintu kamar.


"Ini kan kamarku, jelas aku yang paling tahu caranya masuk." Reffan menjawab ringan seringan kecupannya di pipi istrinya. Tak ada yang tahu Reffan menyimpan kunci cadangan di kotak yang diambilnya sebelum keluar kamar.


"Ih mas, bagaimana caranya?" Safira masih penasaran.


"Masuk kamar lagi baru aku kasih tahu. Mau?" Reffan memainkan alisnya.


Safira cemberut mempercepat langkahnya mendahului Reffan.


.


Saat ini Safira dan Reffan sudah sampai hotel. Mereka menunggu di dalam mobil. Selama perjalanan tak ada suara yang keluar di antara mereka hanya tangan yang saling menggenggam mengungkapkan ketegangan yang dialami Safira.


Kemarin Safira sudah melihat ruangan yang akan dipakai resepsi, kemegahan dekorasi, banyaknya lampu sorot, juga karpet yang akan menuntunnya ke pelaminan. Mustahil Safira tak gugup, semua orang akan memandangnya.


"Sebenarnya aku tak rela kamu dilihat banyak orang, apalagi dengan dandanan secantik ini. Apa aku boleh memukul kepala laki-laki yang melihatmu nanti?" Reffan membuka suara, tangannya meraih dagu Safira agar memandangnya. Karena sedari tadi Safira terus memandang keluar kaca.


Safira tersenyum.


"Aku lebih suka hanya aku yang memandangimu tapi aku harus mengenalkanmu ke semua orang bahwa perempuan ini adalah milikku." Reffan mengecup sekilas bibir Safira.


Safira menunduk mendapat perlakuan dari suaminya.


"Kau pernah presentasi di hadapan banyak orang?" Reffan bertanya pada istrinya.


Safira mengangguk.


"Anggaplah seperti itu, bukankah sama saja saat kamu presentasi semua mata akan tertuju padamu kan?" Reffan berbicara serius pada istrinya.


"Dan jika kamu masih gugup juga.... Remas saja tanganku. Pandang wajah tampanku, aku akan menyalurkan energi yang akan membuat hilang gugupmu." Reffan dengan percaya diri mengatakannya.


Safirapun tersenyum.

__ADS_1


Reffan ikut tersenyum melihat senyum istrinya. "Angkat kepalamu Safira, jangan menunduk nanti. Kamu istri Reffan Satriya Bagaskara, wanita pilihanku, kutitipkan nama dan hatiku padamu Safira, tolong jagalah dengan baik."


__ADS_2