
Safira mulai resah setelah melihat jam di ponselnya.
"Maaf ya saya duluan karena akan membeli barang di supermarket depan." Damar lebih dahulu berpamitan pada semuanya.
"Baiklah. Saya juga tidak bisa terlalu lama, ada istri yang lagi hamil." Hans tersenyum.
Damar sudah pergi lebih dulu.
"Besok acara sudah selesai. Balik lagi lah kita kerja." Ira cemberut lucu sekali.
"Aku gak mau balik ke Surabaya." Safira asal bicara mengingat apa yang menunggunya di tempat kerja.
"Pasti karena virus jahanam itu kan?" Bagas reflek menimpali.
Safira melotot karena di situ ada Hans yang sekarang memandang mereka bertiga bergantian mengisyaratkan permintaan penjelasan.
"Ada apa dek?" Tatapan netranya berhenti di Safira karena wajah Safira yang paling terlihat panik.
"Gak papa bang. Ini pak Bagas asal aja bicara." Safira menghindar dari tatapan Hans.
"Baiklah jika tak mau memberi tahu. Berarti kalian sudah tidak menganggap aku abang kalian." Hans mulai kesal.
"Bukan begitu bang. Tidak penting sama sekali. Lagipula ini sudah hampir jam delapan aku harus segera kembali, suamiku pasti sudah menunggu " Safira mulai panik saat pukul delapan malam hanya tinggal enam menit lagi.
"Ah iya, nyonya Hans juga sudah menunggu." Hans mulai menghabiskan minumannya. "Besok hari terakhir kalian kan, aku akan ke sini setelah pelatihan selesai."
"Ya sudah balik aja yuk semuanya." Ira berkata dan bersiap juga meninggalkan tempat.
"Ok. Sampai jumpa besok bang. Terimakasih banyak traktirannya." Hans mengernyit Bagas memanggilnya dengan sebutan bang juga.
"Bolehlah bang saya dianggap adek juga?" Wajah Bagas pura-pura memelas.
Semuanya tertawa, Hans menepuk pundak Bagas mereka turun bersama dalam satu lift. Tapi keluar bergantian, Safira keluar lebih dulu karena kamarnya yang paling atas.
.
20.01
"Apa aku terlambat?" Safira bertanya dalam hati, berjalan pelan masuk ke dalam kamar.
Dilihatnya Reffan sedang duduk menghadap laptop.
"Assalamu'alaikum mas." Safira mendekat ke arah suaminya yang tak meliriknya sama sekali.
"Wa'alaikumsalam." Reffan menjawab tanpa menoleh.
"Mas...." Safira menyentuh lengan suaminya
Tidak ada jawaban, Reffan masih fokus menatap laptopnya.
"Mas..." Safira mulai kuatir suaminya tak merespon.
__ADS_1
"Hmmm..."
"Mas aku mandi dulu ya...."
"Hmm..."
Safira melangkah ke kamar mandi. Beberapa kali kepalanya menoleh ke suaminya tapi netra sang suami tak sedikitpun meliriknya.
"Ah, mas Reffan pasti marah." Batin Safira.
Safira lekas masuk kamar mandi sambil memikirkan cara agar suaminya tak marah lagi. Untung tadi dia solat Isya' dulu setelah mendengar adzan di mushola.
Dua puluh menit berlalu, Safira ragu akan menemui suaminya. Dia malu sendiri melihat bayangan tubuhnya berbalut gaun tidur tipis yang bahkan tidak berfungsi sebagai pakaian sama sekali. Wajahnya sudah memerah, diurainya rambut yang masih lembab. Debaran di dadanya sudah bertabuh tak beraturan sejak tadi.
Aroma segar langsung semerbak memenuhi kamar saat langkah kaki Safira keluar dari kamar mandi. Aroma yang jelas menusuk indra penciuman Reffan yang membuat tubuhnya menegang.
Safira berjalan pelan mendekati suaminya membuat tubuh suaminya semakin menegang. Tangan Safira meraih pundak Reffan meraba lembut di sana.
"Mas..." suara Safira lembut. "Mas marah padaku?" Kini tangannya sudah turun ke lengan Reffan membuat Reffan memejamkan matanya.
"Marahlah mas tapi jangan tak peduli padaku." Safira merajuk, tangannya sudah hampir meraba dada Reffan tapi tangan Reffan dengan cepat mencekal tangan istrinya.
Reffan menarik tangan Safira membuatnya terhuyung jatuh ke pangkuan suaminya. Cengkraman tangan Reffan begitu kuat di pergelangan tangan Safira menyalurkan debaran yang berlomba antara keduanya.
Reffan menutup laptopnya, netranya memandang tajam netra istrinya yang mulai resah berada di pangkuan sang suami.
"Kau mulai pandai menggoda rupanya." Reffan menyeringai yang membuat Safira tersenyum takut. Reffan melepaskan genggaman tangannya meraba bagian favorit di tubuh istrinya.
"Ah, mas... sakit." Safira menjerit saat tangan Reffan meremas tubuhnya.
"Mas...." Wajah Safira sudah memerah dan lemas menikmati tangan suaminya yang tak berhenti menjamah tubuhnya. Kini lehernya sudah menjadi sasaran bibir suaminya membuat Safira resah dan menggerak-gerakkan tubuhnya membuat Reffan tak tahan lagi dengan gerakan istrinya.
Dengan cepat Reffan menggotong tubuh Safira menjatuhkannya di ranjang dan langsung menindihnya.
"Kamu yang memulai jadi aku tidak akan berhenti sampai kamu kehabisan suara untuk berteriak." Reffan berbicara menatap tajam netra sang istrinya yang terengah-engah karena ulahnya seperti Reffan yang nafasnya sudah semakin memburu.
"Mas..." Wajah Safira sudah sayu apalagi mendengar perkataan suaminya.
"Berapa menit kamu terlambat?" Reffan berbicara setelah menggigit telinga istrinya.
"Sa satu menit mas." Jawab Safira susah payah karena tangan Reffan terus bergerilya di tubuhnya.
"Itu atinya satu malam kamu tidak akan tidur."
Safira melotot mendengar perkataan suaminya. Bibirnya terbuka hendak protes tapi Reffan lebih dulu melahap bibirnya. Selanjutnya hukuman dari Reffan terus berlanjut. Hukuman yang melenakan dan menghangatkan di malam yang sunyi dan dingin.
Matanya sudah hampir terpejam karena rasa lelahnya yang luar biasa menghadapi suaminya di ranjang.
Reffan masih di atasnya baru saja menebar benih yang entah keberapa kali. Reffan masih terus mencumbu tubuh istrinya tak membiarkannya istrirahat sebentar saja.
"Sepertinya kamu senang sekali di rooftop bersama para pria sampai melupakanku." Reffan berkata sambil terus menyusuri leher istrinya.
__ADS_1
"Aku tidak lupa mas. Aku sudah secepatnya kemari. Aku hanya terlambat satu menitkan mas?" Safira berusaha menguasai dirinya yang terus mendesah karena ulah suaminya.
Reffan langsung melotot, "Hanya satu menit kamu bilang? Itu artinya kamu sudah terlambat enam puluh detik Safira. Satu menit dibayar dengan satu malam, jadi jangan berharap kamu bisa tidur malam ini sayang."
Tapi kenyataannya dua menit kemudian Safira sudah terlelap dengan cantiknya meninggalkan Reffan sendirian.
Reffan ambruk di samping Safira. Bibirnya menciumi wajah istrinya yang tak bergerak sama sekali, Reffan tersenyum mendapati wajah istrinya yang kelelahan karena ulahnya. Reffan tahu Safira ada di rooftop bersama teman-temanya dan tak dipungkiri dadanya memanas melihat Safira dikelilingi pria yang pernah mencintainya. Tapi diyakinkan dirinya bahwa istrinya bisa menjaga diri dan kepercayaan darinya.
.
Hari terakhir pelatihan peserta yang ditunjuk harus mempresentasikan idenya di depan. Semua peserta sudah siap jika harus maju ke depan. Beberapa orang sudah mempresentasikan pendapatnya dan harus siap dengan pertanyaan peserta lain.
Deg!
Nama Safira dipanggil. Safira sudah biasa presentasi tapi entahlah, jantungnya berdebar kencang saat ini.
Safira maju mempresentasikan idenya, cukup jelas dan tegas seperti biasanya walaupun bibir dan tenggorokannya terasa kering. Peserta lain bertepuk tangan saat Safira menyudahi presentasinya. Tibalah sesi tanya jawab, satu-satunya orang yang mengangkat tangan adalah Damar.
"Terimakasih atas kesempatannya. Saya hanya ingin sedikit menganggapi ulasan yang baru disajikan Bu Safira...." Damar bertanya namun terkesan menjatuhkan.
Safira menjawab dengan baik. Damar masih menimpali.
"Seharusnya jika anda tahu ide ini memiliki kelemahan, anda tidak perlu mempresentasikan ide anda." Damar masih terus memojokkan Safira. Bagas memandang Damar tajam.
"Setiap rencana punya kelemahan pak, hanya rencana Allah yang sempurna. Tapi kita diberikan akal untuk menyusun kemungkinan yang akan terjadi beserta solusinya." Safira berpegangan pada meja di depannya, keringat dingin keluar dari pori-porinya.
Tepuk tangan riuh menutup presentasi dari Safira. Safira menguatkan dirinya untuk mencapai kursinya lagi walaupun pandangannya sudah mengabur.
"Fir kamu pucat." Ira meraih tangannya menarik lengan Safira untuk duduk.
Safira menggeleng karena sudah tak sanggup bicara.
Damar menatap Safira dan terkejut juga melihat wajah pucat Safira saat berjalan tadi.
"Fir kamu gak papa?" Bagas mulai kuatir, bukankah sebelumnya Safira pernah pingsan juga.
"Kita balik terakhir aja ya Fir." Ira menyentuh telapak tangan Safira yang terasa dingin.
Safira mengangguk, matanya benar-benar kabur sekarang selain itu kepalanya terasa berat.
Acara pelatihan sudah ditutup, peserta pelatihan pun bergantian meninggalkan tempat. Setelah sepi Ira hendak membantu Safira kembali ke kamarnya.
Safira berdiri tapi dia gagal menopang tubuhnya, pandangannya menggelap. Tubuh Safira terduduk lagi di kursi tapi tak sadarkan diri di samping sahabatnya.
"Ya Allah Fir kamu kenapa?" Ira memegangi tubuh Safira. Ditepuk-tepuknya pipi Safira berusaha membangunkan wanita cantik yang kini wajahnya pucat dengan mata tertutup.
Bagas dan Damar mendekat. Bagas menyusun kursi berderet agar bisa merebahkan tubuh Safira. Perlahan Ira merebahkan tubuh Safira.
Ira dan Bagas berpandangan sejenak menyalurkan kebingungan.
"Aku cari minyak kayu putih." Ira berkata dengan panik. "Aku juga akan menghubungi suaminya." Ira mengambil ponsel Safira dan membukanya dengan menempelkan telunjuk Safira.
__ADS_1
"Aku akan mencari minuman manis yang hangat. Aku akan mencari teh hangat." Bagas mengangguk bingung.
"Aku di sini menjaga Safira."