
Safira berpikir cepat saat Reffan berjalan mendekat. Sebelum semuanya terlambat Safira segera berlari keluar kamar. Reffan yang melihat reaksi istrinya tak bisa menahan tawa.
"Kamu lucu sekali Safira." Reffan memang hendak menjahili Safira tak disangka reaksi istrinya langsung berlari, Safira pasti takut gagal pergi kerja pikir Reffan.
Saat Reffan keluar rumah. Safira sudah berada di depan mobil. Reffan terus memandang istrinya sambil tersenyum hingga masuk ke dalam mobil. Dirasa sudah aman saat melihat Reffan masuk mobil, Safirapun mengunci rumahnya dan secepatnya masuk ke dalam mobil.
Baru saja menoleh setelah menutup pintu mobil dari dalam. Bibir Reffan sudah menempel di bibir Safira. Kedua tangan Reffan menahan kepala Safira sehingga kepala Safira terpaku tak bisa bergerak sedikitpun. Tangan Safira memukul-mukul lengan Reffan karena Reffan tak juga melepaskannya, nafas Safira sampai tersengal akibat ulah Reffan.
Reffan bahkan menggigit bibir Safira karena Safira terus berusaha melepaskan diri. Setelah puas baru Reffan melepas targetnya yang hampir kehabisan nafas.
"Hukuman! Kenapa tadi lari?" Ucap Reffan tegas.
"Kan buru-buru mas. Nanti aku terlambat." Jawab Safira sambil meraba bibirnya.
"Tetap saja tak boleh lari dari suami. Kalau lari lagi siap-siap ya!" Seringai Reffan menunjukkan giginya yang siap menggigit membuat Safira merinding memeluk tubuhnya sendiri. Ekspresi Safira justru terlihat lucu dan menggemaskan bagi Reffan. Jika tak ingat Safira bersikeras untuk masuk kerja pastilah Reffan sudah mengurung Safira di kamarnya bermain di ranjang seharian. Siapa juga yang ingin melewatkan masa-masa pengantin baru. Akibat ulah Claudia, Safira dan Reffan baru saja bertemu lagi dan sekarang Safira sudah meninggalkannya untuk bekerja.
Reffan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Reffan dapat merasakan Safira yang duduk di sebelahnya pasti kesal karena kuatir terlambat masuk kantor. Dalam hati Reffan senang sekali membuat istrinya jengkel.
Mobil yang dikendarai Reffan dan Safira masuk ke depan lobbi. Safira segera meraih tangan kanan suaminya menciumnya dan mengucapkan salam. Reffanpun menjawab salamnya namun saat Safira membuka handle pintu Reffan belum juga membuka kunci pintu mobilnya, wajah Safira sudah cemberut menahan kesal.
"Maaasss... nanti aku terlambat." Suara Safira memelas.
"Kau melupakan sesuatu." Ujar Reffan.
"Tidak." Jawab Safira dengan polosnya
"Ckk... aku selalu memintamu menciumku saat aku akan pergi. Kenapa kau tidak melakukan hal yang sama?"
"Maaass..." cicit Safira
"Ya sudah kalau gak mau, kita akan tetap di sini." Reffan merebahkan punggungnya bersandar di kursi kemudi.
"Mas..." Suara Safira terdengar malu-malu.
"Hhmm..." Reffan menjawab dengan nada malas.
"Mas lihat sini dong."
__ADS_1
Reffanpun menoleh ke arah istrinya. Safira menunjuk pipi kanannya dengan telunjuk, secepat kilat Reffan mengecupnya dalam. Safira menunjuk lagi pipi kirinya, Reffan beralih mengecup pipi kiri istrinya dengan kuat. Safira terdiam tapi akhirnya ditunjuk juga bibir pinknya dan dengan senang hati Reffan mengecupnya cukup lama kemudin dikecupnya puncak kepala Safira dengan lembut. Tangannya menekan tombol agar kunci pintu terbuka.
"Ingat sudah menikah! Jangan dekat-dekat Bagas atau makhluk sejenisnya." Reffan berkata dengan mimik serius.
"Iya.." Safira mengiyakan dengan tersenyum agar cepat bisa keluar dari mobil. Mereka tidak sadar sejak tadi sepasang mata memperhatikan mobil mereka.
Safira segera turun dari mobil, seseorang langsung menyambutnya.
"Safira, baru datang? Tiga menit lagi kamu terlambat." Suara Bagas langsung membuat debar di dada Safira.
"Ah, suamiku pasti melihat inikan. Sudahlah, lebih baik aku cepat kabur dari dua laki-laki ini. yang terjadi dipikirkan nanti saja." Batin Safira.
"Iya Pak, saya duluan." Safira segera berlari masuk meninggalkan mobil Reffan dan Bagas yang masih berdiri di sana.
Reffan mencengkram kemudi, dadanya terasa panas, baru hari pertama Safira masuk setelah pernikahan mereka, Bagas sudah menyambut kedatangan Safira. Ditatapnya mata Bagas dari kursi kemudi. Namun kemudian Reffan menginjak gas melajukan mobilnya meninggalkan kantor istrinya. Reffan yakin Safira istrinya tidak akan meladeni Bagas seandainya Bagas masih mendekatinya. Reffan percaya pada Safira bukankah landasan pernikahan adalah saling percaya.
Bagas sebenarnya cemas pada Safira, karena menurut Ira satu pekan ini Safira sama sekali tak menghubunginya. Saat Bagas menyuruh Ira menanyakan kabar Safira, Ira malah menolak.
Flashback on
"Gak maulah gangguin pengantin baru." Kilah Ira.
"Pasti baik-baik saja lhah pak kan ada suaminya, secara mereka kan pengantin baru ya pasti lagi romantis-romantisnya." Jawab Ira.
"Hubungi saja sendiri kalau tak percaya." Tambah Ira.
"Pasti tidak dijawablah, apalagi jika suaminya yang baca bisa salah paham nantinya." Jawab Bagas.
"Nah itu bapak sudah tahu kenapa masih memikirkan istri orang. Sudahlah pak jangan dekati Safira lagi." Ira gemas sendiri pada Bagas.
"Siapa yang mendekati, sayakan hanya mengkuatirkannya saja, entahlah perasaan saya tidak enak." Bagas masih membela diri.
"Sama saja pak." Irapun pergi meninggalkan Bagas dan tidak mempedulikannya lagi.
Flashback off
"Safira kakimu kenapa?" Bagas membuka suara karena dari tadi memperhatikan Safira yang berjalan tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Terkilir, tapi sudah baik-baik saja." Jawab Safira singkat.
"Baru menikah kok sudah terkilir, suamimu kemana?" Bagas tidak menyadari kata-katanya meluncur tajam menembus hati.
Sontak Ira langsung melotot ke arah Bagas.
Safira tersenyum lalu menjawab, " Gak kemana-mana pak. Kalau kemana-mana siapa yang gendong saya saat kaki saya terkilir. Ini juga kaki terkilir gara-gara saya yang bandel, gak nurut suami."
"Ahh, romantis banget.... mauuu..." seru Ira memeluk lengan Safira.
"Dasar perempuan.." Bagas pergi setelah melirik Ira yang terus memeluk lengan Safira. Sedangkan Safira hanya tersenyum saja.
.
Di ruang kerjanya, Reffan memeriksa data-data yang dikirimkan WO untuk acara resepsinya di Jakarta. Reffan tersenyum melihat foto baju pernikahan untuknya dan Safira. Semuanya adalah pilihan mama Raisa. Mama Raisa memang yang paling heboh untuk persiapan resepsi mereka, maklum saja ini adalah pernikahan putra pertamanya dan nanti tentu saja tamu orangtuanya akan mendominasi para undangan. Reffan mengikuti saja kemauan ibunya karena ibunyapun sudah tahu selera anaknya dan Safira yang kalem. Mungkin Safira akan terkejut nanti tapi biarlah saat Safira terkejut Reffan berencana akan menggenggam tangan Safira dan tersenyum padanya. Safira pasti akan bisa memahaminya.
Belum juga selesai melihat semua foto yang dikirimkan oleh WOnya, ponsel Reffan sudah bergetar.
"Hallo Ma.. Ada apa?"
"Assalamu'alaikum sayang..."
Reffan tertegun, tak biasanya mamanya mengucapkan salam lebih dulu. Tapi bibir Reffan tertarik membentuk senyuman.
"Wa'alaikumsalam Ma.."
"Gimana kabar Safira..."
"Ya Allah Ma, anaknya kenapa gak ditanyain dulu kabarnya."
"Haha... lhah kamu kan sudah mama dengar suaranya, dari suara kamu saja mama sudah tahu kamu baik-baik saja."
Reffan tersenyum, sebenarnya Reffan bersyukur mamanya menerima dan menyayangi Safira istrinya.
"Safira lagi kerja ma..."
"Uh kasihan anak mama ditinggal istri kerja, padahal lagi hangat-hangatnya... haha..." Tanpa rasa bersalah Mama Raisa malah tertawa di seberang.
__ADS_1
"Ma... mama telpon cuman mau ngledekin Reffan ya.."
"Enggak dong sayang, eh tapi kamu berencana ngajak Safira tinggal di Jakarta kan?"