Jodoh Berawal Dari Mimpi

Jodoh Berawal Dari Mimpi
Kamu Istimewa


__ADS_3

"Ini mall yang kita datangi tadi siang kan?" Bagas menunjukkan berita di ponselnya pada Ira.


Kini mereka ada di tepi pantai di kawasan Jakarta. Duduk berdua menikmati angin laut yang menerpa tubuh mereka.


"Ah iya benar pak. Safira? Dia dan suaminya masih di sanakan tadi. Saya akan menelpon Safira." Ira mendadak panik membaca berita yang disodorkan Bagas.


Bagas menarik kembali ponselnya. Turun mencari artikel terkait.


Saat Ira mencoba menghubungi Safira, Bagas menahan ponselnya.


"Safira baik-baik saja. Kau pasti bisa mengenali wanita berjilbab biru ini!" Bagas menyodorkan lagi ponselnya.


Ira menutup mulut dengan telapak tangannya hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Ya Allah Safira..."


Wanita yang menuruni eskalator dengan cepat kemudian berlari menuju pintu lobby itu adalah sahabatnya. Pakaiannyapun sama dengan saat perjumpaan terakhir mereka.


Bagas tersenyum, "Dia baik-baik saja. Tapi bagaimana dia bisa melakukan hal itu. Kau lihat kan suaminya sangat...." Bagas tertawa mengingat kejadian tadi siang.


"Safira pasti kabur dari suaminya saat melihat anak kecil yang butuh pertolongan." Ira tersenyum manis membuat pria di sampingnya terhipnotis sejenak.


Bagas tersenyum, "Yah, semoga Safira selamat dari suaminya." Dia tertawa lagi menatap laut di depannya karena bahaya sekali jika terus menatap Ira.


"Ra..." Bagas menyebut nama wanita di sampingnya, tapi pandangannya masih ke arah laut. Ira menoleh ke Bagas seakan meminta kalimat Bagas dilanjutkan.


"Maaf jika ini terkesan mendadak. Tapi sebaiknya aku utarakan padamu." Bagas menoleh ke Ira yang menatapnya membuat Ira menunduk menghindari pandangan Bagas.


"Apa kamu mau memulai hubungan yang lebih serius denganku?" Tanpa kata-kata pembuka, dia langsung pada intinya.


Mata Ira menatap Bagas, mata yang mengisyaratkan keterkejutan bertemu dengan mata yang menatap tajam, terkunci pada dirinya yang sedang kebingungan menjawab pertanyaan dadakan.


"Saya tidak pacaran." Ira menjawab dengan menunduk.


"Apa artinya kamu memintaku untuk langsung melamarmu?" Bagas tersenyum melihat ekspresi Ira.


Ira kembali terkejut menatap wajah elok di sampingnya. "Apa pak Bagas bercanda?" Hatinya masih belum percaya.


"Jangan bercanda pak!" Ira mulai memasang perisainya takut hatinya akan terluka lagi karena pria.


"Hey... apa kamu pikir aku bercanda mengatakan itu semua padamu. Apa-apaan kamu Ira bahkan aku berusaha terlihat santai untuk menutupi debaran di dadaku." Bagas kesal juga mendengar perkataan Ira.

__ADS_1


Mereka saling pandang hanya sesaat karena ada hati yang berdesir hebat membuat keduanya mengalihkan pandangan ke pantai secara bersamaan.


"Kenapa saya?" Pelan Ira bertanya.


"Tanyakan pada hatiku kenapa dia membuat jantungku berdebar saat melihat senyummu." Bagas menjawab pelan juga.


"Apa Pak Bagas masih mencintai Safira?" Ira bertanya sambil melirik ekspresi Bagas


"Apa kamu masih mencintai Damar?" Bagas balik bertanya.


Ira kesal pertanyaannya dijawab dengan pertanyaan dan membuatnya bingung harus menjawab bagaimana.


"Kau tidak suka dengan pertanyaan itu? Aku juga tak suka Ra. Bukankah itu akan membuat kita kembali mengingat masa lalu. Saat aku mengajakmu memiliki hubungan yang serius itu artinya aku memilih untuk mencintaimu. Sekarang jawab pertanyaanku? Apa kau akan memilih untuk mencintaiku dan mau menjalani hidup bersamaku?" Bagas menatap Ira mencoba menerjemahkan setiap ekspresi yang muncul di sana.


"Saya hanya wanita biasa pak. Keluarga saya tinggal di desa." Ira tak percaya diri menjawab pertanyaan Bagas.


"Kamu wanita yang baik dan bagiku kamu istimewa." Bagas menimpali.


Ira tertegun, mengingat perkataan Safira padanya. Kamu istimewa, dan jodohmu yang bisa melihatnya. Ira mengerjap-ngerjap menahan cairan yang terasa akan tumpah dari sudut matanya.


"Apa diammu berarti ya?" Bagas bertanya lagi karena Ira hanya menunduk diam.


Ira menelan ludahnya. Kemudian mengangguk pelan dengan wajah merona.


"Sebelum halal sebaiknya kita menjaga diri masing-masing. Tidak saling bersentuhan pak." Ira menunduk.


Bagas tersenyum, ada rasa bahagia walaupun telapak tangannya hanya diterima udara. Ira gadis tepat pilihannya.


"Baiklah aku akan menjaga diriku dan dirimu sampai aku mengikatmu." Bagas menarik kembali tangannya yang tak disambut Ira. "Lagi pula aku juga tak mau sahabatmu itu memukul tanganku atau malah melayangkan tas di kepalaku."


Mereka berdua tertawa.


"Safira sangat menakutkan. Pak Fairuz saja ditonjoknya sampai tersungkur di lantai." Ira mengingatkan mereka kejadian itu lagi.


"Semoga masalah ini segera berakhir. Kasihan Safira, apalagi dia lagi hamil." Bagas menimpali.


Ira menatap Bagas sejenak kemudian menunduk lagi.


Bagas mengerti akan arti tatapan Ira.

__ADS_1


"Jika nanti kau melihatku membela Safira atau bahkan membantunya. Jangan salah paham, itu hanya perlakuan baik seorang saudara, seperti kakak pada adeknya. Bukankah Safira terlalu baik dan tak pantas untuk disakiti?" Bagas menjelaskan sebelum terjadi kesalah pahaman.


Ira mengangguk kemudian tersenyum. Bukankah dia juga akan membela Safira seperti Safira yang selalu baik padanya.


Senja berangsur pudar, matahari tak terlihat lagi hanya tersisa sedikit jingga jejak sinar yang memudar. Bagas dan Ira pergi meninggalkan pantai beralih tujuan ke masjid terdekat dari langkah kaki mereka.


.


Safira, Reffan, mama Raisa dan papa Rendra baru saja selesai makan malam. Saat ini mereka mengobrol sambil melihat televisi. Sejak sore tadi mama Raisa juga mengikuti berita di media sosial yang menampilkan sosok wanita misterius yang menyelamatkan anak perempuan.


Safira mencoba bersikap biasa saat bayangan dirinya muncul di layar televisi. Padahal mama Raisa dan papa Rendra juga sudah tahu tapi tak ingin membahasnya karena hal itu yang menyebabkan Reffan marah tadi.


Anak perempuan yang tadi ditolongnya juga muncul di televisi dengan dahi dan dagu memar tapi wajahnya terlihat bahagia. Nama gadis kecil itu Fira seperti namanya. Seorang reporter pria mewawancarainya.


Reporter : Hai adek kecil, apa ada yang sakit?


Fira : Sedikit (menyentuh dagunya)


R : Apa kau masih takut?


F : (menggeleng)


R : Wah hebat sekali! ( Reporter mengusap rambut anak itu gemas). Fira masih ingat kakak yang menolong tadi?


F : Ya, kakak cantik


R : Fira melihat wajahnya?


F : (mengangguk)


R : Ingin bertemu dengan kakak cantik?


F : Mauuuu (tersenyum bahagia)


R : Dimanapun kakak cantik berada, Fira gadis kecil yang telah kamu tolong mengidolakanmu dan ingin bertemu denganmu. Semoga kakak cantik melihat acara ini ya sayang! (mengusap rambut gadis kecil yang tersenyum manis di samping ibunya)


Safira, mama Raisa dan papa Rendra tersenyum melihat tayangan di televisi tapi tidak dengan Reffan.


"Apa-apaan reporter itu? Kakak cantik apanya?" Wajah Reffan terlihat masam. "Kenapa kamu senyum-senyum?" Reffan melirik ke arah Safira.

__ADS_1


"Anak itu imut sekali mas. Benarkan?" Safira mengusap lengan suaminya agar tenang.


"Anak kita lebih imut. Kamu mau berapa? Nanti kita bikin."


__ADS_2