
Setelah Reffan benar-benar menghilang di balik pintu. Safira menghubungi ibunya, dia menggunakan panggilan telepon biasa bukan video call seperti biasanya karena tak ingin ibunya mengetahui dimana dia berada sekarang.
“Assalamu’alaikum.. Sayang.”
“Ibuuu.... Safira kangen!”
“Iya sayang, ibu juga kangen. Gimana acara? Lancar semua?”
“Acara?” Safira mengernyitkan dahinya berfikir apa maksud ibunya.
“Acara di hotel, kan kemarin kamu bilang ada acara di hotel.”
“Apa Reffan menggunakan hpnya untuk menghubungi orangtuanya agar tidak kuatir. Lancang!” Safira geram sendiri.
“Sayang...” Suara ibunya membuyarkan kekesalannya.
“Ah iya Bu.. semuanya lancar dan baik-baik saja. Ayah lagi ngapain Bu?”
“Ayah kamu biasa di halaman belakang. Eh sayang sebentar ya.. Ibu tadi lagi nggoreng ikan.”
“Teleponnya jangan dibawa ke dekat kompor Bu. Ya sudah nanti Safira telpon lagi aja Bu. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.. iya sayang jaga diri kamu baik-baik ya.”
Safira mengakhiri teleponnya. Kemudian berpindah ke aplikasi hijau mencari nama temannya di sana. Dia terkejut melihat isi terakhir chat dengan sahabatnya.
Ira, aku baik-baik saja
Sekarang lagi belum bisa telpon nanti aku kabarin lagi ya.
Oh ya tolong kabarin Bagas juga aku baik-baik aja.
“Reffan beraninya dia membuka-buka ponselku, apalagi mengirim pesan atas namaku.”
Safira kemudian mengetikkan pesan pada sahabatnya.
Safira: Ira...
Ira : Hai Safira...... Kamu kemana aja sih?
Belum sempat Safira mengetik balasan, ponselnya sudah bergetar menandakan ada panggilan video call yang masuk. Safira ragu untuk menerima panggilan dari Ira karena sahabatnya itu pasti sedang di kantor sekarang. Namun akhirnya dia tetap menerimanya..
“Assa....” salam Safira terhenti mendengar teriakan sahabatnya.
“Ya Allah Safira....... kamu mau bikin aku gila hah? Kamu dimana sekarang?” Layar ponsel segera menampilkan wajah Ira yang terlihat cemas sambil memperhatikan Safira.
“Kamu dimana ini Ir?”
“Di kamar mandi, kamu lagi dimana sih, kayak asing gitu tempatnya?”
“Di rumah sakit.”
“Jadi bener kamu sakit. Tadi ada orang yang ngirim surat sakit ke sini atas nama kamu katanya. Tapi aku gak tahu pasti isinya apa. Ya Allah kamu di rumah sakit mana, kenapa bisa masuk rumah sakit sih Fir. Dan kenapa juga gak bilang aku?”
“Aku gak papa kok. Ceritanya panjang banget. Ntar deh aku ceritain.”
“Kenapa ntar sih? Kamu tahu aku bingung banget gak ada kabar dari kamu. Ditambah lagi Bagas yang udah kayak orang gila nerorin aku mulu. Pusing tahu!”
“Kamu kan lagi di kantor! Mana bisa lama-lama di kamar mandi.”
__ADS_1
“Ya udah ntar aku ke sana ya. Kamu di rumah sakit mana sih? Kamu sendirian ini?”
“Gak usah Ir. Besok insyaAlloh aku bisa pulang kok, jadi gak usah ke sini malah ribet ntar.”
“Kok ribet sih, maksudnya ribet gimana? Kamu baik-baik aja kan?”
“Yah, ntar kan kamu bilang Bagas bikin pusing. Ntar kalo dia ikutan ke sini, malah aku juga ikutan pusing.”
“Aku ke sana sendirian lah Fir. Udah ah cepet bilang kamu di rumah sakit mana sekarang? Buruan!”
“Gak usah Ir. Beneran deh besok aja kita ketemunya. Aku gak yakin kamu bisa tetep tutup mulut kalo Bagas maksa pengen tahu. Atau mungkin dia malah mbuntutin kamu.”
“Haha iya juga sih. Kamu tuh Fir, udah bikin dia bener-bener gila. Tanggung jawab sana!”
“Ih, kenapa jadi aku yang tanggung jawab sih?”
“Haha... Tapi Fir, kamu pasti sendirian kan? Aku ke sana ajalah, gak tega aku lihat kamu sendirian di rumah sakit.”
“Aku baik-baik aja. Gak usah kuatir.”
“Yakin? Kalo kamu butuh apa-apa hubungi aku ya.”
“Iya.. ya udah kamu balik kerja deh, ntar dicariin bos besar.”
“Kamu tuh yang dicariin. Bikin orang bingung aja!”
“Hehe... Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Safira menghembuskan nafas lega akhirnya bisa menghubungi sahabatnya. Berbeda dengan Ira yang baru saja keluar kamar mandi mendapati sesosok laki-laki berwajah tampan dengan sorot mata mengintimidasi.
“Siapa yang menghubungi Ir? Safira kan?” Suara cemas laki-laki menghujani Ira yang masih menggenggam ponselnya.
“Jawab Ir, Safira kan yang menghubungi kamu. Dimana dia sekarang?”
“Eh, ehm.... tadi...”
“Ira, jangan berbelit-belit. Dimana Safira?”
“Safira bak-baik aja kok... diaaa...”
“Dimana Safira?”
Ira bingung harus menjawab apa.... beruntung tadi Safira tidak mengatakan dimana rumah sakitnya, jika tidak dia pasti tidak tahan diintimidasi Bagas dan dia akan merasa bersalah pada Safira.
“Iraaa!” Suara Bagas sudah meninggi menahan kekesalannya karena tidak mendapatkan jawaban dari Ira.
“Aku gak tahu. Safira gak mau bilang dia ada dimana. Tapi dia baik-baik aja katanya.”
“Dia beneran sakit?”
“Iya..”
“Sakit apa?”
“Aku gak tahu, dia belum cerita.”
“Safira dengan siapa?”
__ADS_1
“Sepertinya sendirian.”
“Masak sih dia gak bilang ada dimana sama kamu. *I*mposible!”
“Terserah deh kalo gak percaya, dia beneran gak bilang ada di rumah sakit mana? Upss!” Ira langsung menutup mulutnya.
“Apa rumah sakit? Safira di rumah sakit?”
Ira merutuki kebodohannya yang bisa keceplosan mengatakan Safira ada di rumah sakit.
“Ira jawab? Safira kenapa? Dan dengan siapa dia di rumah sakit. Keluarganyakan gak ada yang di Surabaya.”
“Aku gak tahu Pak Bagaass. Safira gak mau bilang dia ada di rumah sakit mana. Dia hanya bilang besok sudah pulang.”
Mata Bagas masih menatap tajam Ira, mencoba mencari tahu apakah ada yang disembunyikan sahabat Safira itu.
“Benar Pak Bagas. Jadi kita tunggu saja sampai besok ya. Saya juga kuatir dan penasaran apa yang terjadi pada Safira tapi saya juga tidak bisa berbuat apa-apa.” Ira kemudian berlalu pergi meninggalkan Bagas yang masih mematung menebak-nebak apa yang terjadi dengan Safira.
Sementara di ruang perawatan Safira yang sendirian tidak banyak melakukan aktivitas. Namun dia cukup senang karena ponselnya telah kembali. Tangan dan pikirannya berkelana di dunia maya memeriksa media sosialnya. Walaupun saat ini dia terkurung di dalam ruang perawatan sendirian, ah apakah kata terkurung tepat menggambarkan kondisinya entahlah... karena sebenarnya dia tahu pintu ruang perawatannya tidak terkunci namun dia tetap tidak bisa keluar dari rumah sakit ini tanpa Reffan.
“Ah, setidaknya Reffan berjanji besok aku bisa keluar dari tempat ini, aku harap dia menepati janjinya.” Gumam Safira sendirian.
Tiba-tiba dia mengingat perkataan mamanya Reffan tentang tulang rusak, Reffan mengenali tulang rusuknya dan itu adalah dirinya. Safira merinding mengingat perkataan mama Reffan.
“Apakah benar kami adalah jodoh, ah kenapa aku takut sih sekarang?” Safira meraba tengkuknya kemudian menarik kakinya dan memeluknya.
Perempuan diciptakan dalam keunikan dan keistimewaan oleh Sang Pencipta. Dari Tulang rusuk. Bukan dari tulang kaki sehingga laki-laki bisa merendahkan dan menginjak sesuka hati. Bukan dari tulang ubun yang sungguh berbahaya membuatnya berada di atas dengan kesombongannya. Namun dari tulang rusuk yang dekat ke hati untuk dikasihi dan dekat ke tangan untuk dilindungi. Tulang rusuk yang bengkok sungguh berbahaya jika membiarkannya bengkok dalam kesesatan, namun sama bahayanya saat memaksa meluruskannya, patah. Itulah yang akan terjadi. Maka wanita makhluk unik dengan segala keistimewaan dan dinamika perasaannya adalah makhluk indah yang akan bersinar saat berada di tangan yang tepat, tangan yang lembut memperlakukannya dan tangan yang membimbingnya dengan santun.
Ah, Safira tahu itu dan sudah lama dia mendambakan laki-laki seperti itu dan dengan ikhlas Safira akan menyerahkan dirinya pada laki-laki dambaannya. Apakah laki-laki itu Reffan? Laki-laki pemaksa yang membuat jantungnya berdebar tak karuan. Saat ini Safira sudah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, dia sungguh takut sendiri dengan apa yang dipikirkannya. Beberapa saat kemudian nafasnya sudah teratur lagi, matanya sudah terpejam tubuhnya meringkuk di dalam selimut.
Sore hari ba’da Ashar setelah Safira membersihkan dirinya dan menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang muslim dia berjalan-jalan di dalam kamarnya yang cukup luas. Sebenarnya dia ingin sekali keluar dari kamar menghirup udara tak ber-AC di taman yang terlihat dari kamarnya. Namun keinginannya segera diurungkannya saat mengingat Reffan. “Sabar Safira, besok kau bisa menghirup udara di luar sepuasmu.
"Tangan dan kakiku sudah membaik yah walaupun kakiku masih sedikit nyeri saat digunakan berjalan.” Tentu saja Safira cepat membaik karena di rumah sakit ini dia hanya perlu istirahat, semua kebutuhannya sudah disiapkan.
Drrrttt...drrrttttt.....
Getar ponselnya menyudahi pandangannya yang tertuju pada taman di depannya. Safira hanya memasang mode getar, walaupun begitu getaran ponselnya di atas nakas sudah cukup membuatnya mengetahui jika ada panggilan untuknya. Safira tersenyum saat mengetahui siapa yang meneleponnya.
“Assalamu’alaikum Bu’....”
“Wa’alaikumsalam Safira...”
“Ah, ibu tahu aja kalo Safira kangen....”
“Sayang, ada yang ingin ibu beritahukan sekaligus tanyakan padamu.”
“Ada apa sih Buu, kok suara ibu begitu sih?”
“Nak, kamu kenal Reffan?”
“Apa?” Safira tekejut mendengar ibunya menyebut nama Reffan
“Dia bilang dia mengenalmu dekat, apa benar?”
“Apa?” Debaran di dada Safira sudah tak terkendali mendengar pertanyaan ibunya.
“Dia sedang mengobrol dengan ayahmu sekarang di ruang tamu.”
“Apa?” Otak Safira masih berusaha mencerna apa yang di dengarnya.
__ADS_1
“Safira, dia melamarmu.”
“Apa?” Sekarang tubuhnya sudah kehilangan kekuatan untuk sekedar berdiri. Dia jatuh terduduk di ranjang yang berada tepat di belakangnya.