
Hening.. Tak ada suara di ruangan rapat begitu juga di ruangan rawat Safira. Semuanya terdiam setelah mendengar perkataan Safira.
"Dek..." Hans bersuara.
"Iya bang." Safira menyahut.
"Baik-baiklah di sana, bahagialah selalu." Hans tersenyum di ponsel yang masih dipegang Safira.
"Terimakasih bang." Safira membalas tersenyum.
"Aku tutup ya."
Safira mengangguk.
Video call-pun terputus.
Sejujurnya Hans tak rela dengan penuturan Safira. Dia yang melihat rekaman CCTV saja sangatlah marah apalagi Safira yang mendengar kata-kata Fairuz secara langsung.
Hans menatap ke arah pak Cahyadi dan pak David. Pak Cahyadi mengangguk seakan mengerti arti tatapan Hans, tangan kanannya.
"Kita sudah mendengar penuturan Safira. Safira mungkin menganggap ini selesai tapi tidak dengan perusahaan yang menjunjung attitude semua orang yang terlibat dalam perusahaan. Kamu masih bisa bekerja di perusahaan ini Fairuz tapi kamu tak perlu kembali ke perusahaan di Surabaya. Persiapkan kepindahanmu ke Nusa Tenggara Timur sebagai karyawan biasa dan selama tiga tahun tidak ada promosi jabatan untukmu." Pak Cahyadi menatap tajam Fairuz yang duduk lemas di hadapannya.
Fairuz yang lemas hanya bisa mengangguk, sekejap apa yang disombongkannya hilang. Dia mengancam Safira namun kini ancamannya kembali pada dirinya sendiri, dia yang dimutasi ke wilayah timur Indonesia. Tapi bukankah seharusnya dirinya masih bersyukur karena masih bisa bekerja di perusahaan.
"Renungkan perbuatanmu. Bukankah otakmu masih bisa bekerja untuk memikirkan perkataan Safira tadi. Sebagai seorang laki-laki seharusnya kamu memikirkan nama baikmu sebelum melakukan sesuatu. Hal bodoh yang kamu lakukan bisa sekejap saja membuatmu hancur." Pak David berdiri dari kursinya diikuti oleh pak Cahyadi. Hans menundukkan badan pada kedua atasannya. Sementara Fairuz menundukkan kepalanya.
Kini hanya ada dua orang di ruangan rapat, Hans dan Fairuz. Hans berjalan mendekati Fairuz membuat Fairuz menyadari langkah Hans yang terhenti di depannya. Tanpa kata-kata Hans menarik kerah kemeja Fairuz sehingga tubuh Fairuz berdiri keluar dari kursi. Kepalan tangan Hans dengan cepat mendarat di rahang Fairuz membuat sudut bibir Fairuz robek.
"Balasan untukmu. Kau berani membuat Safira terluka maka kau juga siap menerima hal yang sama." Setelah menghantam wajah Fairuz, Hans pergi begitu saja menyisakan penasaran di dalam kepala Fairuz tentang hubungan Hans dan Safira.
.
__ADS_1
Bagas dan Ira sudah berpamitan kembali ke kantor. Kini hanya ada Reffan dan Safira di dalam ruangan. Safira melirik ke arah Reffan yang masih memandangi laptopnya.
"Mas Reffan marah gak ya, aku video call-an dengan Hans." Risau hati Safira melihat ekspresi dingin suaminya yang terus menatap layar laptop di depannya.
Spontan Reffan menoleh ke arah Safira membuat pandangan mereka saling mengadu.
"Lihat apa?" Reffan berdiri mendekat ke arah Safira.
Safira hanya menggeleng dan menunduk. Reffan duduk di samping Safira menatap lekat wajah istrinya.
"Kamu terpesona padaku, hingga mencuri pandang ke arahku?" Reffan berbicara dengan percaya diri.
Safira langsung menggeleng salah tingkah.
"Aku yang terpesona padamu sayang. Aku yang lebih dulu menginginkanmu dan sekarang aku semakin jatuh cinta padamu." Reffan mengecup puncak kepala istrinya, kecupan yang membuat hangat hati Safira. Namun sedetik kemudian Reffan meraih tubuh Safira masuk ke dalam pelukannya. Berdua menikmati rasa nyaman yang diberikan pasangannya.
Pelukan mereka terlepas saat ada yang membuka pintu membawa menu makan siang. Merekapun makan bersama setelah yang mengantarkan makanan keluar dari ruangan.
"Hmm...."
"Mmmm..... mas boleh gak aku ke kantor besok hanya untuk berpamitan." Ucap Safira pelan.
"Untuk apalagi sih sayang, kamu bilang kan teman-temanmu salah paham. Jadi untuk apa lagi kamu ke sana?" Terlihat jelas Reffan tak menyukai permintaan Safira.
"Kesalahan pada manusia harus minta maaf pada manusia mas. Hanya itu tujuanku karena mungkin aku tidak akan bertemu mereka lagi. Tapi hanya jika mas mengizinkan." Ucap Safira lemah. "Ada sebuah kisah, mas mau dengar?" Safira mulai tersenyum.
"Ceritakan!" Reffan beralih duduk di belakang Safira menyandarkan tubuh Safira ke dadanya sementara tangannya memeluk Safira dari belakang.
"Kisah ini terjadi pada era Sultan Murad II. Dia adalah ayahanda dari Sultan Mahmud al-Fatih atau dikenal dengan Muhammad Al Fatih, sosok yang memimpin penaklukan kaum Muslimin atas Konstantinopel yang sekarang menjadi Istanbul. Ayah dan anak terkenal sebagai pemimpin yang taat kepada agama dan amat peduli pada rakyatnya.
Sultan Murad II memiliki kebiasaan yang baik, yakni menyamar sebagai orang biasa. Dengan begitu, dia dapat berjalan-jalan ke luar istana serta mengetahui keadaan rakyatnya. Biasanya, dia melakukan hal itu bersama dengan dua penasihatnya, yang juga berpakaian orang biasa. Suatu malam, Sultan dan dua penasehatnya menyusuri jalan-jalan untuk melihat langsung kondisi kaum Muslimin. Tiba-tiba, seorang yang membawa banyak botol minuman keras lewat di depan mereka. Saat itulah, pria tadi terpeleset dan kemudian meregang nyawa.
__ADS_1
Sultan terkejut karena melihat seseorang meninggal dunia di depannya. Yang lebih mengherankannya, tidak ada satu pun masyarakat yang menolong pria itu. Bahkan, setelah dia dipastikan tidak lagi bernyawa.
"Wahai kaum Muslimin, bukankah pria ini seorang Muslim? Mengapa kalian tidak peduli?" seru Sultan kepada orang-orang yang berlalu lalang. Mereka tentunya tidak tahu, yang berkata itu adalah pemimpin negara.
Tiga kali berturut-turut Sultan mengimbau masyarakat, tetapi tidak ada yang menanggapi. Semuanya tampak tidak peduli, bahkan ada yang mencibir almarhum. Lalu, seseorang keluar dari rumahnya dan memberi tahu jika orang yang meninggal di hadapannya ini terkenal gemar membeli minuman keras. Tidak hanya itu, dia juga suka mengunjungi tempat pelacuran. Karena itulah orang-orang tidak mau mengurusnya.
Orang tadi masih tampak tidak acuh. Kemudian, datanglah beberapa orang mendekati Sultan dan para penasihatnya. Mereka berinisiatif mengantarkan ketiganya ke rumah almarhum, sehingga dapat mengurus jasadnya.
Singkat cerita, sampailah Sultan ke rumah duka. Kedua penasihatnya menggotong jasad tersebut yang kini ada dalam keranda. Ketika di tujuan, orang-orang yang tadi menunjukkan jalan kemudian pergi begitu saja.
Sultan pun mengetuk pintu. Dari dalam rumah, muncul seorang perempuan yang tidak lain istri almarhum.
Sultan mengabarkan bahwa dia menemukan almarhum meninggal dunia saat sedang berjalan. Begitu mengetahui keadaan suaminya, perempuan itu menangis. Dia sangat sedih melihat suaminya yang kini tidak lagi bernyawa.
Setelah agak tenang, sultan bertanya perihal orang-orang yang enggan mendekati suami wanita tersebut, mereka mengatakan bahwa almarhum ini seorang yang gemar membeli minuman keras dan mengunjungi tempat pelacuran.
Tak disangka justru perempuan itu malah bersaksi suaminya termasuk orang-orang yang sholeh. Mereka yang mengatakan itu hanya tidak mengetahui.
Sultan yang heranpun bertanya lagi mengapa seperti itu. Istri almarhum mulai bercerita, setiap malam, suaminya selalu pergi ke tempat penjual minuman keras. Suaminya membeli minuman haram itu dan membawanya ke rumah, tetapi bukan untuk diminum. Dia lantas membuang seluruh isi botol ke lantai kamar mandi. Sesudah itu, dia selalu berkata, 'Alhamdulillah, malam ini ada anak-anak muda muslimin yang tidak jadi minum minuman keras. Aku sudah membelinya, sehingga tidak bisa sampai ke mereka'
Selain ke kedai minuman, suaminya tiap malam ke tempat pelacuran. Namun, dia tidak mendatangi si pelacur. Kepada penjaga rumah pelacuran, dia berkata, 'Wahai fulan, ada berapa perempuan yang tersedia?'
Ketika si pemilik prostitusi itu menyebutkan jumlah mereka, maka suamiku membayar sejumlah uang senilai biaya sewa para pelacur itu. Kemudian, dia pulang ke rumah dan berkata kepadaku, 'Alhamdulillah, malam ini ada para pemuda muslimin yang tidak jadi berzina, lantaran kebutuhan ekonomi para pelacur itu malam ini terpenuhi,'
Perempuan itu bercerita jika dia pernah mengeluh pada suaminya karena jika suaminya terus begitu orang-orang akan mengecapnya sebagai orang fasik. Kelak ketika suaminya meninggal, tidak ada yang mau mengunjunginya.
Tapi suaminya malah menjawab, 'Tidak, demi Allah, aku berdoa semoga Allah membuat jasadku diurus sultan Turki dan para penasihatnya serta seluruh alim ulama Kesultanan.
Mendengar itu, Sultan menitikkan air mata.
Sultanpun mengatakan jika sebenarnya dia adalah Sultan penguasa Turki Ustmaniyah dan dua orang di sisinya adalah para penasihatnya. Akhirnya Sultan mengimbau para penasihatnya dan seluruh ulama Turki untuk datang menshalati jasad almarhum."
__ADS_1
Safira melanjutkan ceritanya, "Bunda Aisyah juga pernah terkena fitnah dituduh berzina saat tertinggal rombongan. Jika wanita sholihah istri Rosulullah saja bisa terkena fitnah, apalah aku mas yang keimananku masih sering kali terjun payung."