
"Jangan dibahas sekarang lah ma, nanti masing-masing dari kita akan bisa merasakan tugas dan kewajibannya masing-masing. Kita kan baru saja menikah, biarkan Safira menyesuaikan diri dulu jika sekarang punya peran baru." Jawab Reffan.
"Baiklah jika menurut kamu begitu sayang, mama dukung kamu secepatnya punya anak."
"Mama kenapa jadi kearah situ sih bicaranya. Gak nyambung."
"Loh justru ini sangat erat sambungannya. Jika kalian segera punya anak Safira akan bertambah peran lagi dan dia pasti akan mementingkan anaknya dibandingkan pekerjaannya kan."
"Wah mama memang pinter."
"Gak sopan kamu. Memang dari mana kecerdasanmu menurun jika bukan dari mama."
"Wah, mama mau bilang papa gak pinter nih."
"Bukan begitu sayang, kecerdasan menurun dari ibunya 50 persen, sisanya baru dari ayah dan lingkungannya."
"Iya-iya terserah mama lah, yang jelas Reffan lebih cerdas dari mama dan papa, haha.. "
"Kamu ini narsis. Tuh kan mama sampai hampir lupa tadi telpon kamu mau bicara apa."
"Ada apa ma?"
"Kamu dan Safira kapan ke Jakartanya?"
"Hari Jumat lah ma, setelah Safira pulang kerja kami akan langsung ke sana."
"Mepet sekali ya.. Mudah-mudahan baju kalian langsung pas, mama kuatir juga nih."
"Yah mau bagaimana lagi ma."
"Ya sudahlah. Kamu sudah lihat konsep resepsi pernikahannya?"
"Sudah ma."
"Bagaimana menurut kamu?"
"Reffan ikut saja pilihan mama, gak ada masalah hanya saja bintang tamunya jangan ada penyanyi perempuannya ya ma."
"Kenapa sayang?"
"Reffan gak suka,."
"Ya deh mama atur nanti tinggal bilang ke WOnya aja."
"Ya sudah kamu baik-baik ya di sana, mama kangen banget sama kamu. Nanti setelah tiba di Jakarta langsung ke rumah ya. Jaga Safira baik-baik."
"Pasti ma, mama papa juga jaga kesehatan ya."
"Oke sayang. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam ma.." Sekali lagi Reffan tersenyum mendengar mamanya mengucapkan salam.
.
Safira baru saja keluar dari lift setelah mendapat pesan dari suaminya yang menunggu di lobbi kantor.
"Safira." Suara seorang laki-laki mengagetkannya.
"Pak Bagas." Suara Safira terdengar risau, pasalnya suaminya sudah menunggu di lobbi bisa saja Reffan melihat mereka berdua dan jadi panjang perkaranya.
"Ehm.. kamu beneran baik-baik saja."
"Maksudnya?" Safira belum memahami arah pembicaraan Bagas.
"Maaf, apa suamimu baik padamu?"
"Tentu saja pak. Maaf Pak Bagas sepertinya sudah tidak ada yang penting lagi ya. Suami saya sudah menunggu di lobbi. Permisi." Safira melangkah meninggalkan Bagas yang masih memandang Safira dari arah belakang.
Saat Safira mengedarkan pandangan mencari pendamping hidupnya. Sebuah tangan meraih telapak tangan Safira kemudian menggandengnya, saat Safira menoleh karena terkejut sang pemilik tangan mengecup puncak kepalanya.
"Aku sangat merindukanmu." Bisiknya di telinga Safira.
Safira hanya bisa tersenyum malu. Reffan menarik tangan Safira untuk mengikuti langkahnya.
Sesampainya mereka di mobil dan sudah duduk dengan nyaman.
"Senang bekerja hari ini?" Tanya Reffan membuka percakapan.
"Apa sekarang kamu punya asisten di kantor?" Reffan bertanya lagi dengan ekspresi datar.
Dahi Safira terlihat mengkerut menandakan dia sedang berfikir apakah suaminya serius bertanya atau ini adalah pertanyaan jebakan.
"Si Bagas, apa sekarang dia asistenmu yang menyambut kedatanganmu dan mengantarmu sampai keluar kantor." Reffan berkata datar tapi tatapannya sangat tajam.
"Ah benarkan, mas Reffan tadi lihat jadi panjang kan urusannya." Cicit Safira dalam hatinya.
"Pak Bagas hanya menyapa mas." Safira menatap netra tajam Reffan ingin meyakinkan suaminya.
"Sepertinya menyapamu sudah menjadi agenda kerjanya ya. Luar biasa waktunya begitu pas." Reffan semakin mendekatkan wajahnya ke istrinya.
"Mas, apa perlu.." Kata-kata Safira belum juga selesai. Reffan sudah menabrak bibir Safira **********. Saat Safira mulai membalas perlakuan Reffan. Reffan menarik bibirnya membuat Safira tersipu malu.
"Dilanjut nanti ya sayang." Reffan segera melajukan mobilnya tak sabar segera sampai di hotel. Sementara wajah Safira terus menunduk malu selama perjalanan pulang.
Safira segera berlari ke kamar mandi saat memasuki kamar. Reffan segera mengunci pintu kamarnya dan menyusul Safira. Aksi saling mendorong pintupun terjadi.
"Mas bukannya gak kuat dorong pintu ini tapi kalau sampai dahi kamu kebentur kan benjol. Biarkan suamimu ini masuk atau saya suruh orang melepas pintu kamar mandi sekarang juga."
Pintu pun perlahan terbuka, memperlihatkan wajah Safira yang nampak cemberut.
__ADS_1
"Safira mau mandi mas, badan berasa gak enak habis kerja." Safira berkata lemah.
"Emang kamu pikir aku mau ngapain, mandi juga lah. Dari habis kerja kan belum mandi juga." Reffan tersenyum penuh makna sambil mendorong pintu terbuka lebar untuk tubuhnya.
.
"Mas, boleh gak pulang ke rumah?" Safira bertanya setelah ritual mandi bersama mereka yang lama.
"Kenapa sayang? kamu gak suka di sini?"
"Kangen suasana rumah saja. Di rumah kan Fira bisa masak."
"Ya sudah dua hari saja ya. Sekarang kan kamu jadi tanggung jawabku, bagaimana bisa istriku yang menyiapkan rumah. Biar aku melakukan tugasku sebagai suami ya sayang. Tempat tinggalmu, makananmu dan semua keperluanmu biar aku yang menaggungnya."
"Iya mas." Jawab Safira sambil menunduk, Safira sadar setelah dirinya menikah dia harus mengikuti suaminya.
.
Pagi berganti siang, mataharipun rela terbenam tergantikan bulan. Keesokan harinya matahari kembali terbit membawa kehangatan dan kehidupan. Matahari dan bulan tahu kapan saat mereka harus terlihat dan mengalah sebentar untuk memberikan kehidupan kembali. Demikianlah siklus kehidupan, ada saatnya kita harus maju memberikan andil dalam kehidupan, pun ada saatnya kita rehat sejenak mengisi energi untuk bangkit kembali.
Reffan mengikuti keinginan Safira untuk pulang ke rumah walaupun hanya dua hari. Tapi nampaknya Safira sangat antusias, bahkan sepulang kerja Safira membeli beberapa bahan untuk atraksi memasaknya.
"Masak apa ini sayang?" Dilihatnya wajah istrinya yang lelah dengan rambut yang masih lembab. Kemudian netranya berganti melirik ke mangkuk berisi kuah santan dengan sayuran, ada juga piring berisi lauk.
"Ehm.. maaf ya mas aku tak pandai masak seperti koki mas, aku baru bisa masak makanan rumahan yang biasa-biasa aja." Ucap Safira lembut.
"Kenapa bilang begitu sih. Kamu ini istriku bukan tukang masak. Sebenarnya tugas seorang suami itu memberi makan istrinya, itu artinya aku yang harus menyiapkan makanan matang untuk kau makan, tidak masalah jika kamu tidak memasak sayang. Asal senam di ranjang rutin karena itu yang penting."
"Mas ah.. apaan sih."
"Tuh kan mesum, kamu yang dipikirin yang kalimat terakhir aja sih. Poin pentingnya kelewatan. Maksud mas itu segala pekerjaan rumah bisa didelegasikan ke oranglain dan itu tugas suami untuk mencukupi segala kebutuhanmu tapi melayani suami dan mendidik anak tidak bisa didelegasikan, kamu harus selalu siap." Reffan mengangkat alisnya sambil tersenyum menggoda.
Wajah safira menunduk dalam semburat merah yang mulai terlihat di pipinya.
"Masaklah sekali-kali jika kamu suka tapi jangan menjadi keharusan. Apapun yang kamu masak tentu istimewa dan rasanya pasti membekas di ingatanku. Jadi masak apa ini?" Suara Reffan membuat kepala Safira tegak kembali.
"Ini sayur lodeh mas, udang goreng tepung, dadar jagung dan sambal. Aku ambilkan ya mas." Safira meraih sebuah piring kemudian mulai mengambil nasi beserta lauknya.
Reffan memandangi wajah istrinya sambil tersenyum.
"Enak sayang..." Suapan pertama sudah ditelannya. Reffan tidak menyangka makanan berkuah santan yang belum pernah dimakannya terasa begitu enak di mulutnya."
"Beneran mas? Mas hanya bikin Safira senang ya?" wajah Safira berbinar namun berubah datar .
"Enak beneran. Istriku pinter masak, sudah cantik, solehah, masakannya enak lagi." Reffan memasukkan lagi sendok berisi makanan ke mulutnya namun pandangannya tak bisa lepas dari wajah merona istrinya.
Tiba-tiba Reffan terbatuk-batuk sambil mengibas-ngibas tangannya.
Safira kebingungan karena wajah suaminya memerah.
__ADS_1
"Huh, pedes..." Mata Reffan melotot karena sambal yang tadi ada di bagian pinggir sudah lenyap.