
"Terserah kamu sajalah, yang penting kamu milikku." Reffan memeluk Safira erat tidak membiarkan Safira bergerak sedikitpun.
Safira langsung cemberut. Ekspresi Reffan sungguh di luar imajinasinya. Ditatapnya wajah suaminya yang netranya sudah terpejam. Padahal tadi Safira membayangkan suaminya akan cemburu, menggoda suaminya di rumah sakit pastilah aman.
Safira yang kecewa terpaksa memejamkan matanya ikut terlelap dengan posisi tetap karena suaminya memeluk dengan tangan dan kakinya.
.
Dini hari Reffan bangun terlebih dahulu dengan posisi miring masih memeluk istrinya, dipandangi wajah yang terlelap tanpa bisa bergerak dalam pelukannya. Reffan meraih ponselnya kemudian keluar dari kamar dengan perlahan menelpon seseorang, dua puluh menit Reffan di luar kamar. Setelah seseorang datang, Reffan kembali ke kamar. Dipandangnya sekilas istrinya yang masih berada di bawah selimut, diapun menuju kamar mandi.
Wajah Reffan terlihat segar setelah keluar dari kamar mandi. Perlahan melangkah mendekati Safira yang masih terlelap menyingkap selimut kemudian naik ke tubuh istrinya mengunci kaki Safira.
Tangannya melepas jilbab istrinya perlahan. Kemudian membuka kancing baju Safira. Bibir Reffan mengecupi wajah istrinya membuat Safira bergerak-gerak namun masih memejamkan mata. Sekarang berganti leher Safira yang menjadi sasarannya.
"Apa masih mengantuk?" Reffan berbisik di telinga istrinya membuat kesadaran Safira terkumpul dan membuka matanya.
Reffan kembali melancarkan aksi di leher istrinya.
"Mas.." Suara serak Safira yang terkejut.
"Aku akan membuatmu hanya mengingat satu pria." Bisik Reffan yang membuat Safira merinding.
"Mas... kita di rumah sakit. Mas mau apa?" Tanya Safira dengan suara terengah.
Reffan mengangkat kepalanya menatap wajah Safira.
"Tak akan ada yang masuk sayang, ada yang berjaga di depan. Jadi sebelum jam tujuh pagi tak akan ada yang mengganggu kita." Reffan tersenyum menatap wajah Safira yang panik.
Tangan Safira menahan dada Reffan. "Tapi mas... aku ha..." Belum selesai Safira berbicara Reffan menarik tangan Safira ke atas dan menguncinya kemudian bibirnya membungkam bibir Safira. Safira mengerjap-ngerjap tak percaya, suaminya benar-benar melakukannya di brankar rumah sakit. Sekarang dia menyesal menggoda suaminya tadi malam, rumah sakit yang dirasanya aman untuk menggoda suaminya kenyataannya pikiran Safira salah, bahkan suaminya menyuruh orang untuk berjaga di depan kamar.
Safira bergerak gelisah karena ulah Reffan yang salah satu tangannya sudah bergerilya di atas tubuh Safira sementara tangan yang lain mengunci kedua tangan Safira ke atas.
Safira ingin bicara tapi selalu gagal...
"Mas.... aku...."
"Diam dan nikmati sayang..."
__ADS_1
Kenikmatan surga dunia baru saja diberikan Reffan pada Safira dan tentu saja Reffan juga sangat menikmatinya. Kini Safira yang lemas di bawahnya mengatur nafasnya membuat Reffan tersenyum penuh makna.
"Katakan siapa pria yang kamu cintai sayang?" Kini Reffan menatap wajah istrinya yang masih mengatur nafasnya.
"Bagas....kara..." Lirih Safira menjawab.
Reffan yang semula terkejut kemudian tersenyum setelah menyadari itu adalah nama belakangnya.
"Kamu mulai berani menggodaku hmmm...." Reffan meremas bagian favoritnya gemas.
"Aaahhh.... mas...." Safira terkejut.
"Sekali lagi sayang. Yang ini hadiah. Aku akan pelan-pelan." Reffan kembali menyusup ke leher istrinya membuat Safira menelan ludah yang terasa berat.
"Kapok... aku tak akan memantik api cemburumu lagi mas." Safira berteriak di dalam hatinya.
.
Pagi yang cerah sudah mengusir malam yang indah. Sinar hangatnya menembus celah, menghangatkan tubuh yang lelah memaksanya bangun menyambut hari yang baru saja akan dimulai. Dua kali Safira mandi pagi ini karena Reffan masih gemas padanya setelah solat subuh. Safira melirik suaminya yang tersenyum sumringah menatapnya yang masih berwajah lelah. Mau kesal tapi bagaiamana, dia juga yang memulai. Rumah sakit yang dikiranya aman dari perbuatan Reffan yang macam-macam malah menjadi saksi bisu macam-macam perbuatan Reffan padanya.
Safira meliriknya, "Memang karena siapa aku keramas mas." Sahutnya hanya di dalam hati.
Reffan tertawa melihat lirikan tajam Safira padanya.
"Aku sudah tahu kamu hanya mencintaiku. Tapi aku tetap cemburu mendengar kamu berani menyebut nama pria lain. Aku bahkan hampir lupa nama belakangku." Sekarang Reffan tertawa mencubit hidung Safira. Safira langsung manyun.
.
Pukul tujuh Reffan memakaikan jilbab instan ke kepala istrinya kemudian keluar kamar menemui orang yang berjaga di depan kamarnya. Setelah itu masuk lagi menemui Safira. Tak lama kemudian sarapan mereka datang. Mereka berdua menikmati sarapan dengan menu yang tak akan dijumpai di rumah sakit manapun karena memang sarapan mereka tidak dibuat di rumah sakit.
"Mas kapan boleh keluar dari sini." Pertanyaan Safira terlontar begitu saja saat mereka sedang mengobrol.
"Apa kamu tak nyaman?" Reffan mencoba meneliti wajah Safira mencari jawaban.
"Senyaman-nyamannya rumah sakit tak akan membuat kita betah mas."
Reffan tersenyum, "Nanti sore kita pulang."
__ADS_1
Reffan memang sudah berbicara dengan dokter yang memeriksa kondisi Safira tadi pagi. Dan dokter juga mengatakan kondisi Safira dan kandungannya baik-baik saja dan bisa pulang hari ini.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka membuat dua penghuninya menoleh bersamaan.
Terlihat wajah Bagas kemudian disusul Ira.
"Assalamu'alaikum.. " Bagas mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam.." Safira dan Reffan tersenyum menjawab salam bersamaan. Safira tersenyum karena teman-temannya datang sementara Reffan tersenyum kedatangan Bagas membuatnya teringat kejadian dini hari tadi.
"Bagaimana keadaanmu Fir." Ira mendekat ke samping Safira.
"Baik Ra.. aku baik-baik saja."
"Kamu masih kelihatan lemas." Suara Bagas membuat semua orang menatapnya.
Safira kemudian melirik suaminya, tersangka yang menguras energinya pagi-pagi buta. Reffan yang menyadari lirikan Safira tersenyum.
"Kata dokter sudah baik-baik saja. Sore ini juga sudah bisa pulang. Safira hanya belum terbiasa olah raga pagi." Reffan mengatakan dengan senyum penuh kemenangan tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Kalian mengobrollah, saya ada sedikit pekerjaan!" Reffan berjalan duduk di sofa kemudian membuka laptopnya.
Bagas menarik dua kursi untuknya dan Ira.
.
Sementara di kantor pusat Jakarta. Fairuz melangkah dengan percaya diri memasuki lift. Setelah sampai di lantai yang dituju, seorang wanita menyambutnya kemudian mengantarkannya ke sebuah ruangan rapat. Fairuz memberikan salam dengan sedikit membungkukkan badan. Ada tiga orang yang sudah menunggunya di sana. Dua orang dikenalinya sebagai Direktur utama dan salah satu komisaris. Seorang lagi dia tidak mengenalnya.
"Silakan duduk pak Fairuz!" pak Cahyadi direktur utama mempersilakan Fairuz untuk duduk.
"Apa yang Anda pikirkan saat mendapat undangan dari kami?" Pak David salah satu komisaris membuka pertanyaan.
Fairuz tersenyum, baru saja dia akan membuka mulutnya untuk berbicara.
"Sebelum anda menjawab, saya ingin bertanya pendapat anda dulu tentang sebuah kasus yang baru saja terjadi di perusahaan kita. Kasus ini penting bagi saya karena mempengaruhi kenyamanan karyawan yang bekerja.
Wajah Fairuz langsung berubah serius.
"Pak Hans, tolong ditampilkan videonya."
__ADS_1