
"Ah!" Reffan mengacak rambutnya, sebal karena ada yang mengetuk pintu di saat yang tak tepat. Tapi kakinya tetap berjalan untuk membukakan pintu.
"Maaf pak, ini tadi pesanan bapak!" Bayu langsung menciut saat melihat sangarnya wajah Reffan bahkan suaranya terdengar pelan seperti cicitan.
"Kamu ini mengganggu saja!" Ucap Reffan dengan wajah yang masih kesal. "Sudah sana, terimakasih." Tangan Reffan meraih bungkusan yang berisi makan malam dirinya dan Safira. Kemudian langsung menutup pintu.
Reffan sudah menutup pintu kemudian meletakkan bungkusan di meja begitu saja. Secepat mungkin dia menghampiri istrinya yang masih berdiri di tempat tadi.
"Yuk lanjut sayang!" Tangan Reffan sudah menggandeng tangan istrinya menuju ke kamar mandi tak peduli hal apapun lagi.
Safira.. tentu saja hanya pasrah mengikuti kemana Reffan membawanya.
Bayu hanya bengong. Tapi tiga detik kemudian dia sudah berbalik arah menuju rumah sebelah.
.
Safira mempunyai kesibukan baru sekarang, memasak untuk suami tercinta. Dia sudah menyiapkan menu makanan spesial untuk dinner dengan dengan pemilik hatinya. Berbekal internet Safira menyimak dengan teliti semua langkah dalam menyiapkan menu kesukaan Reffan.
Dan... saat matahari beranjak pulang di ufuk barat meninggalkan hari ini. Menu hasil kerja keras Safira sudah terhidang cantik di meja tinggal menunggu disiram saos panasnya saja.
"Assalamu'alaikum..." Suara insan yang dirindu sampai juga di indra pendengaran Safira. Dengan senyum sumringah dan langkah seringan kapas Safira membukakan pintu untuk orang yang sudah ditunggunya sejak tadi.
"Wa'alaikumsalam mas." Safira memberikan senyum tercantiknya menyambut kedatangan suaminya, tadipun dia sudah berdandan lebih dari biasanya, aroma segar parfum menemaninya menyambut sang suami.
Reffan langsung terpana, netranya belum juga berkedip. Jika dengan wajah polosnya saja sudah menggoda apalagi dengan riasan natural ditambah warna bibir yang lebih berani.
"Sayang..." Satu kata yang masih bisa terucap mewakili kekaguman yang membuat pita suara Reffan tercekat.
Reffan langsung masuk. Tak ingin ada pria lain yang sempat melihat istrinya. Diapun menutup pintu dengan cepat. Tangannya langsung menyambar pinggang istrinya, menarik tubuh Safira menempel ke tubuhnya. Dan tentu saja bibir Safira adalah sasaran pertamanya, memolesnya dengan warna menggoda sama saja memancing gairah dalam diri Reffan untuk **********.
"Mmmmm.... masss." Susah payah dengan nafas tersengal Safira bisa memisahkan bibirnya yang terasa tebal dari sang pemangsa.
"Mandi dulu dong mas, setidaknya cuci tangan dan kaki." Safira cemberut menatap Reffan yang baru saja datang sudah menerkamnya.
Reffan tersenyum, "Kamu cantik sekali sekali sayang, mana tahan." Masih mencuri kecup ke bibir istrinya.
"Mas ih. Jilbabku jadi lecek semua. Ini tadi kan sengaja pakai begini agar makan malamnya spesial." Safira masih cemberut.
Reffan melirik meja yang sudah ditata cantik oleh istrinya dengan menu kesukaannya.
"Kamu yang masak?" Reffan beralih menatap wajah cantik di depannya.
Safira mengangguk mantap. Tadi dia sudah mencicipi saos bikinannya, dia yakin rasanya sudah enak.
"Makan malam spesial bukan seperti ini bajunya. Sini aku pilihkan baju." Reffan menarik tangan Safira masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Safira bertambah cemberut setelah Reffan menyerahkan gaun seksi berwarna merah marun.
"Cepat ganti baju, aku mandi dulu ya cantik." Reffan berkedip sambil melangkah ke kamar mandi. "Jangan lupa, gelung rambutmu!"
"Ih!" Safira sudah semakin manyun lagi yang membuat Reffan tertawa bahagia.
Bukankah rencananya Safira ingin memanjakan lidah Reffan dengan masakannya. Tapi kenyataannya makanannya hanya dilirik sebentar, Reffan malah fokus pada penampilan istrinya. Walau kesal Safira berganti baju juga dengan gaun pilihan Reffan kemudian menggelung rapi rambutnya. Pikirannya langsung dipenuhi bayangan Reffan yang akan memakan lehernya. Setelah dirasa penampilannya sempurna Safira memejamkan mata berdo'a. Semoga menu dinner malam ini tidak berganti menjadi dirinya.
.
Reffan melangkah gagah dengan handuk di tangannya yang masih mengusap-usap rambut basahnya. Senyumnya terus tersungging melihat istrinya yang lebih cantik dan menggoda dari penampilannya tadi. Bibirnya, leher mulusnya, pahatan tubuhnya, paha yang mengintip karena tak tertutup sempurna. Yang ini lebih menggoda dari makanan kesukaannya di meja.
"Kita makan sekarang ya mas?" Ujar Safira sambil menarik bawah gaunnya hendak menutupi pahanya yang terus dilirik Reffan.
"Kalau kamu gak hamil sudah aku banting di ranjang sekarang." Kalimat Reffan membuat rona kesukaannya terbit di wajah pipi mulus Safira. Safira langsung berlari ke luar kamar sebelum Reffan menariknya ke ranjang.
Safira sudah duduk menghadap meja makan. Netra Reffan masih terus mengawasinya tak melesat sedikitpun bahkan menu kesukaannya tidak mampu mengalihkan pandangannya.
"Maass..." Safira merengek karena Reffan terus memandangnya, hasil kerja kerasnya memasak menu kesukaan Reffan belum juga menarik perhatiannya.
"Ada apa sayang?" Reffan masih belum sadar, istrinya mulai kesal.
"Mas gak ingin mencoba masakanku. Ini pertama kalinya aku bikin steak dan itu khusus untuk mas Reffan?" Safira mengucapkan dengan wajah serius menahan kesal.
"Ok kita makan ya!" Reffan mulai menyiramkan saosnya yang masih hangat, saos bewarna kecoklatan itu mulai menyelimuti daging steak dengan aroma yang menggoda tapi sayangnya Safira lebih menggoda dari hidangan di depannya. Walaupun tangannya menyiram saos, pandangannya tetap menargetkan istrinya.
Reffan mulai memotong daging steak menjadi ukuran kecil yang siap dilahap, sejenak matanya fokus pada daging steak kemudian saat mengunyahnya, matanya kembali mengarah ke Safira.
Safira menatap wajah Reffan penuh harap, berharap sang suami menyukainya dan memujinya.
"Not bad." Ucap Reffan ringan.
Namun ringannya ucapan Reffan membuat tubuh Safira lemas seketika. Not bad bagi Safira jelas bukan pujian itu sama artinya dengan biasa saja.
"Apa rasanya tidak enak? Setidaknya jika memang tidak enak kenapa mas Reffan tidak menutupinya dengan sedikit memujinya?" Safira menggerutu di dalam hati.
Safira mulai memotong daging steak miliknya setelah sebelumnya menyiramkan saos di atasnya. Tadi dia hanya mencicipi saosnya saja.
"Ah benar, dagingnya tidak seempuk buatan restauran. Ini biasa saja. Apalagi untuk mas Reffan sang pemilik hotel, lidahnya pasti sensitif terhadap makanan." Safira masih berkata di dalam hati, harapannya tadi Reffan memuji masakannya yang merupakan menu kesukaannya sudah terbang melayang.
Reffan masih memakan makanan buatan istrinya dengan netra yang tak pernah melesat dari sasarannya. Nampaknya kini dia mulai menangkap wajah murung istrinya.
"Sayang... kenapa?" Tanya Reffan tak merasa bersalah sedikitpun.
"Mas gak suka ya steaknya?" Ucap Safira pelan.
__ADS_1
"Ini sudah mau habis lho sayang. Coba lihat!" Reffan mengarahkan pandangan istrinya untuk melihat steak yang tinggal dua potong di piringnya.
"Tapi gak enak kan?" Safira sudah memasang wajah sedih.
"Siapa yang bilang tidak enak?"
"Tadi mas bilang not bad."
"Itu bukan berarti tidak enak sayang."
"Biasa saja kan maksud mas?"
Reffan tersenyum. Kini steak di piringnya sudah habis tak bersisa. Sebenarnya memang dia cepat menghabiskannya karena tak tahan melihat istrinya.
"Kemarilah!" Reffan mengulurkan tangannya memaksa Safira meraihnya dengan tatapannya.
Reffan mendudukkan Safira di pangkuannya.
"Maaf membuatmu kesal. Aku terlalu jujur dan sudah membuatmu kecewa. Tapi kamu lihat kan piringku sudah kosong itu tandanya aku menyukainya."
Safira hanya diam.
"Not bad itu lebih mengarah ke hal positif sayang. Aku menyukai semua yang kau lakukan untukku. Tapi aku tidak ingin memaksamu membuatkan apa yang aku suka." Ujar Reffan.
Reffan menarik piring Safira, kemudian menyuapkan ke mulut Safira.
"Ini luar biasa karena pertama kali kau membuatnya kan. Bagaimana rasanya menurutmu?" Reffan bertanya.
"Biasa saja. Dagingnya tidak seperti di restauran." Safira menjawab juga.
"Kamu juga merasakannya kan jadi jika aku memujimu berlebihan kamu akan tahu aku berbohong." Reffan mengecup leher istrinya.
"Para chef belajar khusus untuk membuatnya dan mereka sudah berkali-kali membuatnya jadi wajar jika steak mereka sempurna. Dan kamu baru pertama kali membuatnya dan ini sangat luar biasa." Reffan berbicara sambil mengecupi leher istrinya.
"Aku ingin belajar dari mereka mas. Aku ingin bisa membuat menu kesukaan mas Reffan." Safira mulai bisa mengusir kesedihannya.
"Chefku laki-laki semua. Kamu mau mereka aku pecat." Reffan sekarang yang nampak kesal.
"Eh.. Kok gitu sih mas?"
"Sudahlah sayang. Masaklah apa yang kau bisa selama ini aku sangat menyukainya. Sayur lodeh, soup apapun itu yang sudah biasa kamu masak. Lakukan saja keahlianmu!" Ujar Reffan yang tangannya sudah menyuapkan potongan terakhir ke mulut istrinya.
"Keahlianku?" Safira nampak berpikir.
"Menggodaku di ranjang." Bisik Reffan di telinga istrinya.
__ADS_1