
Hari sudah semakin sore, senjapun mulai menampakkan semburatnya di langit yang sebelumnya berwarna biru. Hasna masih merengek ke kakaknya agar mau menuruti keinginannya, dia ingin menaiki mobil pancal atau sepeda mobil yang dihiasi lampu warna warni di alun-alun, tapi Safira enggan menaikinya. Masih di halaman masjid seusai solat magrib, Hasna menarik-narik lengan Safira merengek seperti anak kecil kepada ibunya.
"Kamu ini ya, katanya tadi kalau mbak mau pulang gak papa. Sekarang malah merengek kayak anak kecil, inget umur Hasna!" Safira masih enggan mengabulkan keinginan adeknya.
"Ayolah mbak. Sekali putaran aja. Mbak kan sudah mau nikah sama mas Reffan, nanti pasti jarang jalan-jalan lagi sama aku kan." Hasna masih menarik-narik lengan Safira.
"Kenapa harus sepeda mobil sih, kita jalan ke tempat lain ajalah. Ya?" Safira bernegosiasi. Sebenarnya Safira malas mengayuh, kakinya sudah capek seharian ini. Dan satu lagi dia malu kalau nanti belum satu putaran dia sudah tidak kuat mengayuh.
Reffan yang merasa namanya disebut Hasna akhirnya menunjukkan dirinya.
"Sama mas Reffan dan Raffi aja ya dek Hasna. Gimana? Nanti dek Hasna jadi gak susah jugakan ngayuhnya ada kita berdua."
"Gak mau kalau mbak Fira gak ikut. Ayolah mbak." Hasna menarik-narik lagi lengan Safira.
Reffan dan Raffi tersenyum geli melihat tingkah kakak adek yang tarik-tarikan lengan.
"Iya iya ah, sudah tarik-tariknya jilbab mbak ketarik juga nih." Hasna langsung menghambur memeluk erat Safira. Safira balas memeluk adeknya.
Reffan dan Raffi tersenyum melihat pemandangan kakak adek yang saling menyayangi. Memang benar Safira bersikap dingin hanya pada laki-laki saja, tapi dia sangat penyayang pada keluarganya dan teman sesama perempuan. Itu hal yang disimpulkan Reffan dan Raffi saat melihat Safira dan Hasna.
Hasna tertawa senang duduk di bangku belakang sepeda mobil bersama Safira. Safira tidak protes saat Reffan dan Raffi duduk di bangku depan, karena sebenarnya dia malas mengayuh. Jadi dengan adanya mereka berdua Safira dan Hasna bisa bermalas-malasan dan berfoto-foto ria.
Setelah puas keinginannya dikabulkan sekarang Hasna mengajak kakaknya makan bakmi godog. Tidak mempedulikan dua orang yang kepayahan mengayuh karena Hasna minta nambah sampai tiga putaran. Safira sampai tidak bisa menahan senyum melihat ekspresi dua orang laki-laki di belakang Hasna.
"Mas, seharusnya kita mendukung Safira bukan Hasna. Ini pasti alasannya kenapa Safira tadi enggan menaikinya." Raffi meringis berbisik pada Reffan saat melihat senyum Safira. Sementara Reffan hanya mengangguk setuju dengan pendapat adeknya sambil melihat senyum Safira.
"Setelah ini kita pulang ya dek. Sudah malam." Ujar Safira setelah memesankan bakmi godog dan minuman hangat untuk empat orang.
"He em." Hasna manggut-manggut sambil tersenyum terlihat jelas wajahnya yang bahagia.
Tak lama pesanan mereka datang dengan cepat mereka menghabiskan makanan di depannya karena perut mereka sudah berisik sejak tadi meminta diisi.
Reffan mengantarkan Safira dan Hasna dengan mobilnya. Sementara Raffi membawa mobil Safira. Mereka bertemu dan berpisah di depan rumah. Karena sudah malam, Reffan dan Raffi tidak mampir ke rumah orangtua Safira.
Hari yang melelahkan tapi membahagiakan. Besok sore Safira akan kembali ke Surabaya, bekerja seperti biasanya. Tapi akankah semuanya bisa seperti biasanya. Apa yang akan terjadi saat dia bertemu Bagas nanti. Safira menghirup nafas dalam menahannya beberapa saat kemudian menghembuskan perlahan berusaha menguasai kekuatiran dalam dirinya. Dia berharap semuanya akan baik-baik saja, karena sungguh dia tidak ingin menyakiti siapapun.
Safira melangkahkan kakinya ragu menaiki anak tangga kantornya. Di tangannya ada sekresek bakpia berbagai rasa hanya saja rasa keju yang paling banyak karena Ira sahabatnya sangat suka bakpia keju. Baru saja dia masuk merasakan hawa dingin yang terhembus dari AC, tangannya sudah ditarik seseorang.
__ADS_1
"Safira... jelaskan padaku apa yang terjadi di Yogya. Apa benar kamu sudah punya calon suami?" Suara Ira pelan tetapi penuh penekanan.
"Apa Bagas..." Lirih suara Safira yang langsung dipotong sahabatnya.
"Bagas datang ke tempatku mengajakku bertemu, penampilannya sangat kacau. Dia menanyakan padaku apa betul kamu sudah akan menikah?"
Safira terdiam. Pikirannya sedang memikirkan Bagas.
"Kamu bahkan tak bilang apapun tentang calon suami dan pernikahanmu padaku Safira." bibir Ira mengerucut memandang tajam Safira.
"Maaf, tapi semuanya begitu cepat. Sabtu kemarin lamaranku dan pekan depan aku akan menikah Ira."
"Apa?" Ira terkejut mendengar penuturan sahabatnya. "Jadi kepulanganmu kemarin karena ini? Kenapa kamu gak pernah cerita sih Fir?"
"Maaf karena sebelumnya aku sendiri juga tak yakin."
"Lalu Bagas, bagaimana dia bisa?"
"Aku juga gak tahu Ir, bagaimana dia bisa muncul di acara lamaranku. Sepertinya dia mengikutiku pulang ke rumah Yogya."
"Ayuk masuk dulu." Ajak Ira. Safira dan Ira berjalan beriringan memasuki ruang kerja mereka. Semua orang menyambut kedatangan Safira yang membawa oleh-oleh untuk mereka. Tentu saja kecuali satu orang yang menatap tajam Safira dari kejauhan tatapan kekecewaan yang sangat dalam bercampur amarah yang ingin diluapkan.
"Nanti saja, biarkan dia dulu." Jawab Ira sambil mengelus lengan Safira. Ira tahu ini bukan kesalahan Safira karena Safira tak pernah terlibat hubungan apapun dengan Bagas, bahkan Safira terkesan menghindar saat Bagas mendekatinya. Tapi sahabatnya ini sungguh merasa tak enak hati atas kejadian di rumah Yogya kemarin.
Di tengah pekerjaannya. Ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk. Pak Reffan.
Mama minta kamu siang ini datang ke hotel bertemu WO untuk pernikahan hari Minggu.
Bisakah tidak hari ini? Sepertinya istirahat nanti saya tidak bisa keluar. Masih ada banyak pekerjaan yang belum selesai.
Tidak bisa diusahakan?
Maaf. Bagaimana jika Pak Reffan dan Tante Raisa saja yang memilih semuanya. Karena saya baru bisa keluar setelah pulang kerja.
Reffan mendengus membaca balasan pesan dari Safira. Reffan lupa jika Safira hanya karyawan biasa yang tidak bisa seenaknya sendiri keluar kantor dan meninggalkan pekerjaan sesuka hati.
Saat istirahat siang Safira hanya solat dan makan di meja kerjanya setelah memesan makanan dari aplikasi ojek on line.
__ADS_1
Di tengah makannya, ponselnya bergetar lama menandakan ada yang menelpon. Pak Reffan.
"Assalamu'alaikum." Ucap Safira
"Wa'alaikumsalam. Mama mau bicara." Jawab Reffan datar.
"Safira sayang, kamu sedang apa sekarang?"
"Sedang makan siang tante. Maaf tante, Safira tidak bisa datang siang ini karena Safira belum bisa meninggalkan kantor."
"Iya sudah gak papa. Tante mau tanya beberapa hal kesukaan kamu untuk resepsi setelah akad nikah nanti....."
Safira dan Mama Raisa mengobrol beberapa hal. Dari obrolan mereka, mama Raisa bisa menarik kesimpulan jika Safira suka kesederhaan namun tetap elegan. Mama Raisa menyukai cara berpikir Safira.
"Ok Safira, tapi besok sepulang kerja kamu ke butik teman mama ya. Kamu harus mencoba baju pengantin yang sudah mama pesankan untuk kamu."
"Iya, insyaAllah tante. Terima kasih tante. Maaf Safira merepotkan." Ucap Safira sopan.
"Kamu ini bicara apa. Mana mungkin mama repot yang ada mama bahagia."
Safira mendongakkan kepalanya saat menyadari ada seseorang di depan meja.
"Pppak Bagas." Suara Safira tercekat melihat pria di depannya. Safira meletakkan ponselnya di meja dan segera berdiri. Safira lupa ponselnya masih terhubung dengan panggilan dari seseorang.
"Safira. Aku ingin bicara denganmu." Bagas menatap tajam mata Safira.
"Silakan Pak." Safira mengedarkan pandangan di ruang kerjanya. Tak ada orang lain di dalam ruangan hanya ada mereka berdua. Tapi bukankah sebentar lagi jam istirahat habis, orang-orang pasti akan segera datang begitu pemikiran Safira.
"Siapa calon suamimu kenapa kamu menerimanya?"
"Kenapa menanyakan hal seperti itu pak. Maaf itu privasi saya."
"Kamu benar-benar keterlaluan Safira. Tak bisakah kamu melihatku yang berbulan-bulan mencintaimu dan menunggu kamu membalasnya. Kenapa kamu memilih orang lain?"
"Pak Bagas saya minta maaf. Tapi bukankah kita memang tidak ada hubungan apa-apa selain hanya teman. Saya minta maaf."
"Maaf. Aku tidak butuh permintaan maafmu Safira. Yang aku butuhkan adalah dirimu."
__ADS_1
"Anda jangan kurang ajar Pak!" Safira tidak sengaja menyenggol ponselnya sampai jatuh saat menangkis tangan Bagas yang akan menyentuhnya.
Mama Raisa sengaja mengeraskan suara di ponsel Reffan saat berbincang sengan Safira agar Reffan juga mendengarkan percakapan mereka. Hal yang disesalinya karena saat ini Reffan mengeram dan mengepalkan kedua tangannya setelah mendengar kata-kata terakhir Safira sebelum suaranya menghilang.